
Zio menatap kagum, pada pantulan wajah dan tubuhnya di cermin besar yang terdapat ditengah-tengah ruangan besar itu. pakaian yang dirancang Clarisa benar-benar pas dan melekat sempurna ditubuh Zio. termasuk mami, papi,opa dan kedua adiknya Humaira dan Zaki.
"Penampilan anak mami sangat tampan dan gagah," puji Anyelir seraya memperbaiki posisi dasi Zio yang agak miring.
"Makasih pujiannya mi." ucap Zio.
"Tentu dong sayang, selain acara ulang tahun perusahaan kita. nanti Zio juga akan diperkenalkan sebagai seorang CEO baru, pada seluruh kolega bisnis dan investor perusahaan." Rama ikut menimpali percakapan ibu dan anak itu.
"Tu kan, mami cuma muji penampilan kak Zio doang, padahal dunia telah mengakui jika Zaki lah anak mami yang paling gagah, bahkan mengalahkan papi dan kak Zio." Zaki tidak mau kalah, dia sekuat tenaga menggeser tubuh Zio dari cermin besar.
"Udah gantian, selama apapun kak Zio berdiri di cermin. kalo jelek ya tetap jelek." Aira ikutan menjahili sang kakak.
"Baiklah kedua adik-adikku sayang, sebenarnya kak Zio tidak suka lama-lama didepan cermin. cuma mami dari tadi ngak puas- puas membetulkan pakaian kakak." Zio membela diri. padahal dia sebenarnya sangat bahagia, karena pakaian yang melekat ditubuhnya adalah rancangan dari wanita yang sangat dicintainya selama ini.
"Oya mi, Pi. sebenarnya Zio ngundang teman Zio diacara perusahaan kita.!"
"Siapa Zio.?" tanya Anyelir penasaran, sementara Rama mengulum senyum. karena dia sudah menduga teman yang Zio maksud.
__ADS_1
"Temannya cewek apa cowok kak.?" tanya Aira kepo.
"Dia,...dia adalah wanita yang merancang pakaian kita ini mi." ucap Zio agak ragu.
"Apa.? Clarisa wanita cantik perancang ternama Itu, kapan kalian sahabatnya."
"Udah lama mi, dia teman semasa sekolah Zio diasrama dulu."
"Jangan-jangan dia wanita yang mempunyai scandal dan permasalahan dengan mu dulu nak." ucap Anyelir dengan wajah dingin, teringat kembali kejadian dulu.
"Mi sebenarnya Clarisa juga korban sama seperti Zio, kami berdua sama-sama dijebak. oleh laki-laki brengsek yang saat itu begitu terobsesi dengan Clarisa. sehingga dia melakukan hal apapun untuk mendapatkan cinta Clarisa." terang Zio, hatinya masih sakit dan kesal jika mengingat dan menyebut nama Farrel.
"Kapan kita berangkatnya, Opa sudah tidak sabar dan juga rindu dengan suasana perusahaan dan juga karyawan Opa yang dulu." ucap Opa tidak sabaran.
Membuat semua tertawa mendengar penuturan Opa, dan segera berjalan menuju mobil. Zio merasa tersenyum melihat wajah ceria kedua adiknya dan rasa bahagia berkumpul dengan keluarga kembali. moment inilah yang selalu dirindukan Zio selama berada diluar negeri.
"Asyik Kita sampai" ucap Humaira sambil mengatupkan tangannya senang, mengingat dia akan menyaksikan band kesayangannya akan tampil diacara pembuka ulang tahun nanti.
__ADS_1
Mobil yang dikendarai Zio dan keluarga sudah sampai diarea parkir khusus, saat semua sudah turun. namun Zio masih duduk dibalik kemudi.
"Zio kok ngak turun.?" tanya Anyelir menatap heran putra sulung kebanggaan keluarga itu.
"Mi, Zio pamit jemput Clarisa dulu ya.!"
"Baiklah nak, hati-hati ya." ucap Anyelir ldan memperhatikan mobil Zio yang sudah pergi, hingga hilang dari pandangan matanya.
"Kok mami gitu amat natap mobil kak Zio." Zaki bergelayut manja di lengan sebelah kirinya. sementara Rama sudah membimbing Anyelir untuk masuk ke area gedung.
"Mami merasa, anak mami sudah mulai bucin." gumam Anyelir pelan, namun terdengar jelas oleh Rama.
"Zio udah dewasa' mi, sudah saatnya dia menemukan wanita yang dicintainya." balas Rama.
Zio melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia begitu berbunga-bunga. rasanya Zio ingin menembus ruang dan waktu, agar segera bertemu dengan wanita pujaannya.
Begitu juga dengan Clarisa, sudah hampir keluar sebagian baju dilemari pakaian nya, karena dia begitu ingin tampil sempurna dihadapan Zio dan keluarga.
__ADS_1
Monic menggelengkan kepalanya pelan, dia seakan tidak percaya dengan penglihatannya. Nona muda nya itu sudah berubah drastis, biasanya dia tampil sederhana dan apa adanya. sekarang dia sudah mil sibuk dengan dandannya.
"Cinta memang gila, dan bisa merubah segalanya." gumam Monic