
"Belok kiri kak, setelah tikungan depan kita lurus paling jarak satu kio kita sudah sampai di rumahku." ucap Clarisa membantu menunjukkan arah jalan kerumahnya, mengingat ini pertama bagi Zio datang kedaerah tersebut.
"Sayang, ternyata tempat kelahiran mu sangat indah ya, penuh dengan pemandangan alam yang masih asri dan daerah perbukitan yang indah." ucap Zio
"Iya kak, aku mersa bangga dengan kampung halaman ku sendiri." balasnya sambil menatap takjub keluar jendela mobil mereka yang melaju membelah jalanan yang tidak terlalu ramai.
"Itu lihatlah kak Zio, gerbang utama rumah besar keluarga papaku sudah kelihatan, sedangkan arah sebelah kanan merupakan arah kerumah keluarga mama." Clarisa nampak bahagia, senyum tidak pernah luput dari bibir mungilnya.
"Jadi kita sekarang haus kerumah papamu atau keluarga mamamu dulu ?"
"Papa dulu kak, karena Mama tinggal dirumah besarnya Oma. karena ini permintaan Oma yang tidak ingin kesepian mengingat papaku yang anak semata wayang." Clarisa mulai bercerita banyak mengenai keluarganya.
"Kalau mamamu apa dia juga anak tunggal ?"
"Tidak, mamaku mempunyai seorang kakak perempuan yang tinggal di Jakarta, dan Kakek nenekku ikut Tante Larasati tinggal disana, sedangkan rumah nenek hanya ditempati pelayan."
__ADS_1
"Namanya Larasati ?" ulang Zio seperti pernah mendengar nama itu.
"Iya kak."
"Mirip Nama temannya mami, tapi mungkin kebetulan saja." jawab Zio
"Ya kak, sebab Jakarta itu luas pasti banyak nama yang mirip."
Zio melaju memasuki gerbang utama, dari kejauhan nampak keluarga Clarisa keluar Menuju hala depan. karena semua sudah tahu kedatangan mereka.
"Mama, Oma." Clarisa langsung memeluk dua wanita yang disayangi nya itu, setelah itu papa dan menyalami Opa yang sudah lama duduk dikursi roda akibat penyakit nya.
"Hey kamu anak nakal, sini peluk kakak." menunjuk adiknya yang ngambek karena dia yang paling terakhir disapa.
Zio menyalami satu persatu keluarga Clarisa, mereka semua menyambut hangat kedatangan Zio. yang terlihat sopan dan sangat tampan.
__ADS_1
"Ayo nak, kita masuk." ajak Cantika, sementara Gilang mendorong kursi roda Opa untuk ikut masuk kedalam.
"Jadi namamu Zio Alexander?" tanya Gilang.
"Ya Om." jawab Zio saat semua sudah berkumpul diruangan keluarga.
Gilang dan Cantika terlihat mulai curiga, saat melihat wajah Zio yang sangat mirip dengan Anyelir dan Rama. ditambah lagi dengan nama Alexander, yang mereka tahu jika nama itu nama dari Rama Alexander. Dengan sedikit ragu Gilang bertanya kembali.
"Apa kamu anak dari Rama Alexander, yang merupakan pimpinan dari MNCR Groups?"
"Betul sekali Om, apa Om mengenali papaku?" ucap Zio.
Jawaban Zio membuat Cantika dan Gilang tercekat, kedua tidak mampu mengeluarkan kata-kata lagi selain hanya mengangguk pelan. sedangkan Cantika dia hampir menitikan air matanya, dia sangat syok.
"Ya Tuhan apa kak ini karma atas perbuatan ku, dulu aku sangat tergila-gila pada Rama bahkan menjebaknya atas bantuan laki-laki yang menjadi suamiku sekarang. aku sangat menyesali perbuatan dan tindakan bodohku itu termasuk mas Gilang, kami juga sudah menetap tinggal disini dan mengubur kenangan buruk Mada laluku itu, tapi sekarang semua terulang kembali, menimpa anak-anak kami yang saling mencintai.
__ADS_1
Haruskah aku merusak kebahagiaan kedua pasangan ini, hanya ingin Mada laluku yang buruk tidak diketahui mereka. ya Tuhan bantu aku keluar dari masalah ini." gumam Cantika yang langsung berlari menuju kamar karena tidak sanggup menahan air matanya.