
"Mhmm''hhh," Rama mendehem, untuk mengusir perasaan canggung dan risih. lalu berjalan kearah mereka berdua. yang sudah terlihat begitu gugup. dan salah tingkah.
"Kamu pasti desainer terkenal itu." ucap Rama yang ditujukan kepada Clarisa.
"Iya Om." Clarisa menyalami tangan Rama.
"Silahkan duduk, kita ngobrol-ngobrol di sofa ini saja." Rama berjalan menuju sofa. sambil terus memperhatikan tingkah Zio yang terlihat beda.
"Apa kalian sudah saling mengenal sebelumnya, karena Om merasa kalian terlihat dekat dan akrab sekali." Rama melirik Zio yang terlihat malu-malu meong.
"Iya Pi, kebetulan dulu kami pernah satu sekolah. kebetulan Clarisa ini adik kelas ku." ucap Zio.
Rama mengangguk pelan, dia tidak mau mengungkit-ungkit kembali masalah yang pernah dialami Zio, selama tinggal diasrama. lagian pihak sekolah juga sudah meminta maaf dan mengakui kelalaian dan kesalah pahaman mereka terhadap Zio.
"Sepertinya Zio tertarik sekali dengan desainer muda ini. aku dapat melihat dari tatapan dan gerak-gerik Zio, yang sangat berbeda dari biasa. sebaiknya aku memberi mereka waktu untuk saling dekat. " gumam Rama.
"Zio hari ini, papi harus keluar dulu. karena ada pertemuan penting dengan klien disalah satu restoran. sebaiknya kalian ngobrol-ngobrol saja diruangan ini. Om yakin pasti banyak cerita yang ingin kalian ungkap, mengingat kalian sudah cukup lama tidak bertemu."
"Iya, terimakasih Pi. karena telah memberikan kami waktu." ucap Zio.
__ADS_1
"Tentu dong Zio, ya sudah papi tinggal dulu." Rama bangkit dari duduknya sambil merapikan jas. dan berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
Kecanggungan, kembali hadir ditengah-tengah mereka berdua. begitupun dengan Clarisa. dia merasa mulutnya seakan ikut terkunci. hanya tatapan mata mereka yang sesekali bertemu saat keduanya sama-sama mengangkat wajahnya.
"Ternyata setelah sekian lama berpisah, kak Zio ternyata bertambah tampan, dia terlihat jauh lebih dewasa. kenapa denganku sekarang. aku begitu grogi dan salah tingkah, sementara jantung ini seakan-akan tidak mau diajak untuk kompromi. malah dia berdetak lebih kencang dari angin ****** beliung." bathin Clarisa
"Hey Clarisa... gimana kabarmu selama ini.?" Zio bingung harus dimulai dari mana dulu obrolannya.
"Aku baik kak, satu hal yang selalu menganjal dilubuk hatiku, sehingga membuat rasa bersalah yang selalu mengikutiku..." Clarisa kemudian terdiam, dia ragu melanjutkan ucapannya.
"Apa itu Clarisa.?" Zio mengerutkan keningnya.
"Bukan kah waktu itu kamu marah padaku, dan lagipula setahuku kamu dekat dengan Farrel sibrengsek itu." ucap Zio meskipun dia sudah tahu jika Clarisa juga korban sama sepertinya.
"Tidak kak Zio, aku tidak pernah dekat dengan Farrel, bahkan aku masih menyimpan rasa kesal dan amarahku terhadapnya. ditambah lagi saat Farrel secara sadar mengakui kesalahan nya. disaat kak Zio sudah pergi jauh." Clarisa terlihat kesal.
"Apa kamu memaafkan kesalahan Farrel itu.?"
"Tidak kak, permintaan maaf nya datang terlambat. termasuk sahabat baikku Mentari, yang ikut hancur dan rusak karena keegoisan nya." Clarisa tiba-tiba menangis.
__ADS_1
"Kamu kenapa Clarisa.?"
"Aku sangat merindukan Mentari kak, entah bagaimana keadaannya sekarang.?"
"Tenang Clarisa, aku akan membantumu sebisaku. mencari dan mempertemukan kalian."
Senyum manis mengembang disudut bibir Clarisa, paling tidak dia merasa lega mendengar penuturan Zio, yang akan mempertemukan dia kembali dengan Mentari.
"Clarisa, satu hal yang membuat ku selalu merindukanmu." Zio mengulum senyum sambil mengingat momen indah yang pernah mereka lalui berdua.
"Apa.?" tanya Clarisa.
"Kenangan, dimana kita naik motor berkeliling area perkebunan teh, sewaktu studi sekolah dulu." Zio pun akirnya tertawa lepas. ingatan nya berputar saat dia memboncengi sekor monyet betina besar. yang dikiranya masih Clarisa yang duduk manis dibelakangnya.
Clarisa juga ikut tertawa, bahkan lebih keras dibandingkan dengan Zio. dia tidak sanggup membayangkan wajah Zio yang kaget saat membonceng seekor monyet.
"Clarisa, aku ingin mengulang masa itu, kamu mau nggak jika kita kembali berboncengan berdua, memakai sepeda motor berkeliling." ucap Zio antusias.
"Mau....mau banget kak."
__ADS_1
Tanpa terasa cukup lama mereka berdua ngobrol, sehingga jam makan siang terlewati begitu saja. termasuk mengukur tubuh Zio. agar pakaian yang dirancang Clarisa nanti benar-benar pas melekat ditubuhnya.