Anyelir Istri Bayaran II (Zio Aleksander)

Anyelir Istri Bayaran II (Zio Aleksander)
Meminta pertanggungjawaban


__ADS_3

Clarisa merasa lega setelah Oma mengatakan jika namanya tengah istirahat, Clarisa akhir ikut berbaring tidur diranjang tidak begitu lama dia pun tertidur pulas.


Mentari yang melirik Cantika yang sudah tertidur, beranjak membersihkan tubuhnya dan berpakaian tertutup. Mentari kembali menghubungi Farrel dan meminta nya untuk ketemuan di luar asrama sore ini.


Semula Farrel enggan untuk mengangkat panggilan itu, namun karena kesal Mentari terus-menerus menghubungi nya. Akirnya Farrel menekan tombol berwarna hijau itu


"Hallo apalagi sih Tari, saat ini aku lagi malas" ucap Farrel dengan nada suara penuh penekanan


"Kak Farrel aku ingin ketemu, karena ada sesuatu yang penting yang aku ingin beritahukan kepada kak Farrel"


"Gimana ya Tari, saat ini aku lagi sibuk banget, kamu tahu sendiri kan bentar lagi kami bakal menempuh ujian akhir dan tamat dari sekolah ini"


"Tapi kak .... Tari mohon untuk kali ini saja, karena.... karena...." Tari bingung menyampaikan itu melalui ponsel takut terdengar oleh Clarisa.


"Karena apa ?" ucap Farrel sedikit kasar


"Aku hamil kak" Menteri mengecilkan nada suara nya, namun Farrel mampu mendengar dengan jelas ucapan nya itu


"Apa ?"


Tubuh Farrel bergetar dengan mulut ternganga, dia seolah-olah tidak percaya dengan pendengaran nya barusan.

__ADS_1


"Ka.....kamu...ha....jam...hamil, tidak...? tidak mungkin"


Ucap Farrel terbata-bata, serta perasaan takut menghadapi masalah ini. ditambah lagi teringat ancaman papanya yang akan mencabut semua fasilitas untuk Farrel dan dicoret dari hak waris harta kekayaan keluarga. jika dia membuat masalah baru lagi., termasuk sekolah disini yang merupakan kesempatan terakhir dari papa. semenjak banyak nya kasus yang dibuatnya selama ini.


"Baiklah kita ketemuan di tempat biasa" Farrel menutup panggilan telepon nya


Yuda dan Ricky yang baru sampai di kamar, menggelengkan kepalanya heran melihat tingkah aneh Farrel. namun mereka tidak berani menanyakan masalah temanya itu, yang terlihat sangat kacau dan emosi.


"Huss...Napa lagi tuch anak" bisik Yuda


Ricky mengangkat bahunya heran " lagi pms kali" celetuknya asal


Mentari mondar-mandir kebingungan menunggu Farrel didepan pintu kamar Hotel tempat mereka biasanya menghabiskan waktu berbuat sesuatu yang belum pantas mereka lakukan.


"Kk Farrel...."


Mentari menghambur kedalam pelukannya, sambil menangis menumpahkan kesedihannya dan ketakutan untuk menghadapi masalah ini. Farrel tidak membalas pelukan Mentari malah dia berusaha untuk melepaskan pelukannya itu


"Mentari kita harus mengugurkan kandungan mu itu, sebelum kita ketahuan"


"Apa gugurkan, aku tidak mau kak. kita sudah berbuat kesalahan dan dosa besar, aku tidak mau menambahnya lagi kak. Dengan membunuh janin yang tida berdosa ini hu....hu..." tangis Mentari kembali pecah

__ADS_1


"Kamu jangan bodoh Mentari, pikirkan masa depan kita dan keluarga kita yang akan ikut menanggung malu atas kehamilan mu itu"


"Tapi kita bisa menikah kak, dan kakak harus mempertanggungjawabkan semua ini"


"Apa tanggung jawab, tidak Mentari.....perlu kamu tahu jika kita menikah. papaku akan mengusir ku dari rumah. dan aku akan kehilangan segalanya" ucap Farrel meremas kepalanya frustasi.


"Mentari ini uang dengan jumlah yang sangat banyak, dengan uang ini kamu bisa pergi jauh. atau kamu gunakan untuk mengaborsi bayi itu. semua terserah kepadamu. dan jangan pernah kamu hubungi dan temui aku lagi. jika tidak nyawa mu serta kedua adik kecilmu itu yang menjadi taruhannya" sambil menarik rambut panjang Mentari dan mengibaskan nya kasar.


Mentari hanya bisa menangis dan menyesali perbuatannya, sambil melihat kepergian Farrel.


"Kak Farrel tunggu kak.....hu....hu...."


Capek menangis Mentari melihat tumpukan uang yang dilemparkan Farrel barusan, ingin sekali dia melemparkan balik uang itu ke wajah Farrel, namun melihat emosi dan kemarahan Farrel serta Ancaman Farrel yang ingin menyakiti dirinya dan keluarganya itu, membuat nyali menciut.


"Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan, aku hancur dan bergelimang dosa hu...hu... ampunilah aku"


Malam itu Mentari menghabiskan waktunya dengan menangis di kamar hotel, sambil memikirkan nasibnya dan bayi dalam perut nya itu.


"Bagaimana pun juga aku tidak akan membunuh mu nak, kita harus kuat. suatu saat kita akan membalas perbuatan lelaki yang tidak bertanggung jawab itu"


DenganMentari penuh kemarahan dan kebencian. perasaan cinta dan sayang yang semula begitu kuat dan besar terhadap Farrel kini telah berubah menjadi denda dan amarah yang menggebu-gebu.

__ADS_1


Mentari mengumpulkan jumlah uang yang tidak sedikit itu, dan memasukkan kedalam tas ransel yang dilemparkan Farrel itu.


"Farrel dengan uang ini aku akan membesar kan anakku, serta membalas mu suatu saat"


__ADS_2