
Selama berada di Amrik, Zio tidak pernah sekalipun luput untuk memperhatikan perkembangan dan keseharian Clarisa. bahkan Zio rela membayar mahal seorang pelayan khusus untuk bekerja ditempat kos-kosan Clarisa.
Di adalah Najwa , seorang wanita paruh baya. yang senantiasa memberikan informasi yang akurat mengenai keseharian Clarisa. bahkan Najwa dengan mudahnya memperoleh foto-foto Clarisa yang sedang lari pagi, atau ketika Clarisa hendak pergi kuliah.
Clarisa tidak pernah menyadari, jika kehidupan pribadi nya tengah dipantau seseorang, bahkan Clarisa tidak curiga sama sekali terhadap sikap Najwa yang seolah-olah selalu berusaha untuk mendekatinya. dibandingkan dengan penghuni kos-kosan lainnya.
Begitupun dengan Mentari, saat pertemuan pertamanya dengan Presdir yang bernama Farrel itu. kehidupannya yang aman dan nyaman seolah-olah sudah terusik kembali.
"Oh Tuhan kenapa bisa begini, kenapa aku harus bertemu kembali dengan pria itu, sekian lama aku mencoba untuk menata kehidupan ku yang baru. tapi aku pikir-pikir sekaranglah saatnya bagiku untuk membalas pria brengsek itu. aku akan memainkan cara ku dengan menjadi Kejora. aku yakin sekali Farrel tidak akan mengetahui identitasku yang sesungguhnya."
Mentari mengambil tas kerjanya, bersiap untuk pulang. Dirga yang kebetulan lewat, menghampiri Mentari.
"Kejora, pulang bareng yuk.!" ajak Dirga
__ADS_1
"Maaf Aa, aku harus minimarket dulu belanja kebutuhan sehari-hari, lagi pula jalur tempat tinggal kita tidak searah." tolak Mentari lembut.
"Ngak papa kok Kejora, aku sangat senang jika bisa antar jemput kamu. apalagi jika itu setiap hari.!" buku Dirga.
Mentari bingung harus bagaimana, karena sudah sering sekali dia menolak ajakan Dirga. namun dia tidak bisa memungkiri jika dia benar-benar tidak nyaman jika jalan bareng Dirga. Mentari lebih bahagia dan merasa bebas jika bisa melakukan apapun sendiri.
"Aa Dirga, lokasi Apartemen ku tidak terlalu jauh dari sini. sementara lokasi tempat tinggal Aa lumayan cukup jauh, sebaiknya Aa pulang duluan saja ya.! Mentari masih berusaha untuk menolak.
Farrel memperlihatkan Mentari secara diam-diam melalui celah gorden ruangan kerjanya.
"Baik Bos,"
Dita yang paham maksud sang Presdir segera berjalan keluar ruangan. dengan langkah bak seorang pria sejati. Dita menghampiri meja Kejora. dimana Dirga juga masih berdiri disana.
__ADS_1
"Dirga, aku harap kamu mulai sekarang jauhi Nona kejora. dan jangan pernah dekati dia lagi.!" ucap Dita angkuh.
Dirga mengerutkan keningnya bingung,
"Aku tidak mengganggu nya, dan sesama karyawan perusahaan ini. jadi sewajarnya jika kami saling dekat." ucap Dirga.
"Tapi ini perintah Presdir langsung, karena menurutnya tingkah kamu yang seperti ini bisa menganggu kinerja Nona Kejora." Dita maju hendak menghadang Dirga.
"Baiklah aku akan pergi." ucap Dirga yang masih terlihat kesal dan tidak terima dengan alasan Dita. namun dia merasa takut juga jika Dita marah. karena wanita bak pria itu, benar-benar ahli ilmu beladiri.
Giska yang sempat menguping perdebatan mereka itu, merasa jiwa keponya meronta-ronta. ditambah lagi sekretaris Dita yang banyak disegani dan ditakuti di kantor ini memangil seorang wanita yang hanya karyawan baru bekerja hitungan hari itu dengan sebutan Nona. bahkan terlihat sangat melindungi Kejora.
"Dasar wanita jadi-jadian, pelet apa yang telah kamu berikan pada Bos Farrel, bahkan para ajudan setia dan kepercayaan nya ikut-ikutan menghormati mu. lihat saja pembalasan ku. wanita ganjen." Giska mengepalkan tangannya geram
__ADS_1
Kejora masih mematung, menyaksikan keributan antara asisten Dirga dan Dita.
"Kenapa Dita memperlakukan ku seperti ini, dan tatapan Farrel beberapa hari ini. seperti tatapan mata yang pernah ditunjukkan kepada Clarisa dulu, wanita yang pernah begitu dicintai Farrel. tapi Kenapa tatapan itu sekarang ditunjukkan padaku. apa dia tidak mencintai Clarissa lagi. atau jangan-jangan dia sudah mengetahui siapa aku sebenarnya. tidak...tidak. itu tidak boleh terjadi sebelum aku berhadil membalas kan dendam ku." gumam Mentari dalam hati saja.