Anyelir Istri Bayaran II (Zio Aleksander)

Anyelir Istri Bayaran II (Zio Aleksander)
Perasaan Devan


__ADS_3

"Davina kita balik kedalam kelas yuk..., bentar lagi jam istrahat akan berakhir" ajak Sasha sembari berdiri. gadis itu sesekali melirik kearah Justin.


"Okey"


Davina ikut berdiri bertepatan dengan Justin yang lewat dari arah belalang, refleks dia menabrak tubuh kecil Davina yang hampir jatuh, namun tangan kekar dan panjang Justin dengan sigap menahan tubuh itu


Tatapan mata keduanya bertemu, Justin seakan terhipnotis dengan tatapan lembut itu, pesona Davina begitu membuat nya ketagihan dan tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini.


"Mimpi apa aku semalam. hingga bisa menyentuh dan menatap bidadari pujaan ku ini dari jarak yang begitu dekat... Davina kamu begitu cantik"


Justin merasakan detak jantung nya seakan berlomba-lomba ikut berpacu seiring tangannya yang bergetar, hingga sebuah suara menyadarkan kedua nya


"Wah...., romantis banget."


"Ma...Ma..maaf" ucap Davina gugup dan canggung, begitu juga Justin yang langsung meninggalkan Davina dan Sasha yang masih mematung, melepas kepergian nya.


"Aku juga pengen disentuh Justin meskipun dia bakal memejamkan matanya jika melihat ku." ucap Sasha.


"Kamu suka sama dia,?"


"Ya iyalah Davina, sejarah jastin merupakan salah satu cowok tertampan disekolah ini setelah saudaramu Devan."


"Tentu dong, kakakku laki-laki itu memang tampan dan pintar, meskipun otak kami tidak sama, malah bertolak belakang." ucap Davina.


"Iya juga sih, bahkan kalian jika diperhatikan tidak ada mirip-mirip nya." ucap Sasha.


"Sembarangan kamu," Davina terlihat sewot.


Lara dari lantai dua kelas meremas jemarinya kesal menyaksikan semua itu, sudah lama dia menyukai Justin. namun Justin tidak pernah mengabaikan nya. malah jatuh cinta pada Davina yang merupakan perempuan yang paling dibencinya.

__ADS_1


"Brengxxxx kamu Davina, kamu selalu selangkah diatas ku bahkan laki-laki yang aku sukai pun lebih tertarik melihat mu dibandingkan aku yang jauh lebih cantik dariku." gumam Lara sambil mengepalkan tangannya.


"Hai Jastin," sapa Lara mencoba mencari perhatian Jastin sewaktu melewati nya.


Jastin cuma tersenyum, dan berlalu dari hadapan Lara, pikiran nya cuma ada Davina. yang sudah mulai mencuri hatinya semenjak dulu.


"Sasha aku ke toilet wanita dulu, kamu duluan masuk ke kelas" Davina berjalan meninggalkan Sasha tanpa mendengar jawaban sahabatnya itu.


Davina dengan santainya tanpa curiga masuk, namun Saat hendak meninggalkan toilet, Davina tiba-tiba panik


karena pintu itu tidak bisa dibuka sama sekali, susah payah dia mencoba membuka namun tetap tidak bisa.


"Tolong...,, tolong...,, siapapun itu tolong aku. bantu aku keluar dari toilet ini" air mata Davina tiba-tiba lolos di kedua pipinya. saat lampu toilet wanita itu ikut mati, sehingga ruangan terlihat gelap tanpa cahaya. Davina mulai ketakutan sekali, meringkuk duduk diatas toilet sambil sesungukkan menangis.


"Aku yakin pasti seseorang sengaja mengurungkan fiini." gumam Davina yang sempat mendengar suara bisik-bisik dan bayangan seseorang berjalan dari luar toilet, namun saat Davina meminta tolong, mereka seperti langsung pergi.


Dikelas Lara tersenyum puas saat mendapat Notifikasi pesan masuk, beberapa orang teman prianya sudah berhasil membekap Davina dalam toilet, serta menempel kan tulisan " toilet rusak, sedang diperbaiki." sehingga orang tidak akan ada curiga jika Davina berada dalam toilet tersebut.


"Okey, saya sangat senang dan merasa puas sekali"


Lara penutup ponselnya kembali saat guru masuk ke kelas dan akan memulai pelajaran mereka.


Sasha mulai merasa cemas dan khawatir melihat sahabatnya Davina belum juga balik dari toilet, Sasha mulai curiga saat matanya tidak sengaja melirik Lara yang terlihat senang dan senyum sendiri memasukkan ponselnya kedalam tas.


"Lara pasti merencanakan sesuatu yang buruk lagi terhadap Davina, aku tidak habis pikir kenapa dia begitu membenci Davina selama ini. padahal Davina tidak pernah membalas perbuatan nya."


Sasha mengirimkan pesan singkat ke ponsel Devan, yang kelas mereka berbeda. Sasha mengajak ketemuan di depan toilet wanita. tidak begitu lama pesan dibaca dan dibalas.


" Aku sekarang menuju kesana"

__ADS_1


Sasha pun meminta izin guru yang tengah mengerang kan pelajaran.


"Bu...,, Sasha izin keluar sebentar"


"Silahkan Sasha, tapi jangan lama-lama, seperti Davina dari tadi belum balik juga" ucap Bu Meri


"Ya Bu" ucap Sasha belari keluar menuju toilet, nampak Devan tengah sibuk ingin mendobrak pintu.


"Kak Devan" Sasha berlari dan berdiri di depan Devan dengan wajah cemas.


"Sasha aku yakin sekali Davina berkurung didalam, dan sepertinya seseorang dengan sengaja melakukan itu" ucap Devan yang langsung mendobrak pintu dengan kasar.


Davina kaget dan mengangkat kepalanya saat melihat pintu terbuka dan lampu kembali menyala.


"Kak Devan, aku takut sekali kak" berlari memeluk kakaknya dengan terisak-isak menangis


"Tenang dek, kamu tidak perlu takut lagi, kakak dan Sasha selalu bersama mu" Devan mengusap punggung kembaran nya yang kata orang-orang tidak terlalu mirip dengan nya.


"Kenapa kamu sampai basah kuyup seperti ini?"


"Tadi aku disiram air dari atas, serta banyak nya tikus yang berkeliaran, aku begitu takut kak." Davina kembali menangis.


"Tapi ruangan ini masih terlihat bersih, dan seperti tidak akan ada tikus yang bersarang." Devan mencoba melihat sekeliling.


"Benararan kak, bahkan jumlahnya hampir ratusan ekor." terang Davina bergidik ngeri teringat akan hal itu kembali.


"Kita harus lapor pihak sekolah." ucap Sasha.


Devan terdiam, meskipun dia tahu jika semua ini adalah ulah Lara. tapi dia juga bingung dengan perasaan nya. dimana setiap bertemu dengan Lara. Devan merasa seperti mempunyai ikatan yang sangat kuat. bahkan dia tidak berani melaporkan atau membentak Lara jika dia ketahuan mengerjai Davina.

__ADS_1


Sementara Jeni, tertawa bahagia begitu mendapatkan laporan jika anaknya hidup bahagia. sementara anak Clarissa malah sebaliknya.


__ADS_2