
"Kakek Leora!"
Saat jelas itu suara dan penampakan Shinta di kejauhan. Lena langsung menutupi wajah menggunakan tas. Mata Lena menyipit ke kanan dan kiri, berpikir mau lompat kursi. Namun, diurungkan saat mata biru kakek itu terus mengamati.
"Ada apa, Amore?"
"Kakek, aku harus berjaga lagi. Terimakasih untuk roti dan permen coklatnya. Semoga kita bisa bertemu lagi." Lena mengintip dari balik bahu dan terlihat Shinta menuju kemari.
Lena membalas senyuman kakek untuk terakhir kali, lalu lewat depan kakek. Beberapakali Lena juga terpaksa melangkahi kaki penonton yang panjang. Arah itu berlawanan hingga dia tak perlu berpapasan dengan Shinta.
Lena mengelus jantungnya yang tidak terkendali. Dia bersandar ke dinding di area ticketing dan menghela nafas berat karena temannya kewalahan menangani pengunjung yang mulai antri. Dia ikut memeriksa tiket pengunjung.
Kali ini dia beruntung lolos dari Shinta. Namun, bila lain waktu kejadian seperti ini lagi. Apa Shinta akan mengenali, lalu memarahinya?
...----------------...
Lena menghirup udara malam yang hangat di luar stadion, setelah terus menggigil di dalam, gila bahkan dia masih belum terbiasa tersentor AC. Akhirnya jam pulang. Selalu saja setiap hari bertemu banyak orang luar biasa. Seperti kakek tadi.
Coklatnya sangat enak. Coklat italia dengan aroma rempah khusus, yang makin menggunggah selera dan dibungkus dengan kemasan ekslusive. Lena hanya menyicipi satu saat bersama kakek. Biar sisanya yang 19 akan jadi oleh-oleh untuk keluarga di rumah.
Baru saja melewati parkiran, Lena langsung tertunduk malu. "Niko, kamu nggak bilang-bilang." Jantung Lena berdebar karena sekarang dia tidak berdandan.
"Kerjaanku baru selesai, mumpung bisa, aku harus ketemu kamu, kan?" Niko langsung melangkah dan Lena mengikutinya.
Seperti bermimpi saja dijemput pacar. Lena terus memegangi jari Niko saat menuju mobil dari fasilitas kantor Niko. Dia tak pernah memalingkan muka saat Niko mengemudi. Ini obat kerinduan yang sesungguhnya. "Iko, jadi kapan seminarmu selesai?"
"Seminggu lagi, Sayang."
"Setelah itu itu kamu kembali ke Palembang lagi?"
"Iya, dong. Sepertinya diperpanjang setengah tahun ke depan. Kamu bisa sabar, kan?" Niko menoleh sedikit karena Lena membisu.
Perempuan itu merem4s jaket. Ciuman pertama diambil David, bahkan hari ini sudah dua kali. Bukankah ini kesalahan besar dan tidak bisa diperbaiki?
"Len? Ngelamunin apa?" tanya Niko saat menepikan mobil. "Sepanjang jalan kamu kayak banyak pikiran gitu."
"Iko, maaf," kata Lena ragu-ragu. Dia menarik handle dan mendorong pintu, loncat dari mobil. Jantungnya semakin berdebar. Bersiap-siap untuk yang terburuk.
Niko menyusul, lalu berjalan di samping Lena. Matanya memutar ke belakang, dengan penuh banyak pertanyaan. "Kamu tadi bilang maaf, untuk apa?"
Lena menarik napas dalam-dalam dan langkah kakinya melambat. Mengapa tidak bisa dia lebih berani lagi, lalu mengatakan yang sebenarnya. Kemudian pasrah jika Niko membatalkan niat untuk ke jenjang lebih serius.
Bibir Lena terkunci rapat bagai dilem. Masa depan yang digadang-gadang indah terancam pupus dalam sekejap mata. Gara-gara seorang turis yang patah hati, yang setelah 13 hari nanti, atau mungkin tidak sampai hari itu, bahwa David juga akan pulang ke Italia. Lalu dia akan merana karena mungkin Niko akan minta putus, jika tahu bibirnya tidak peraw4n.
Tetep! Aku tidak boleh membohongi Niko! Gimana aku bilang ke dia? Mana Niko mau percaya jika aku hanya dipaksa? apalagi sampai 3x!
Lena menjadi bernapas sering, kala jari Niko menempel di dagu, pria itu lalu menarik dagunya hingga terangkat, tetapi Lena nasih melirik ke bawah.
"Memang kamu melakukan apa? Katakan," gumam Niko pelan dan mampu membuat apa yang ada di dalam diri Lena langsung menyusut. Niko melirik Lena yang merem4s tali pegangan tas.
"Bukankah kita harus saling terbuka pada setiap masalah kecil?" Niko menatap Lena dengan penuh ketegasan.
"Maksudku, kenapa kamu tidak mengantarku ke mess dimana timku tinggal?" gumam gadis itu kesal pada dirinya sendiri.
"Kenapa, Len?" Niko memutar bola mata ke belakang. "Kamu terus menghindari kontak mata denganku, kenapa?"
"Tidak, aku hanya tidak enak badan." Lena menarik cengkeraman Niko, lalu berjalan lebih dulu. Dia takut Niko minta putus. Tangan Lena ditarik dan Niko kembali melihat lebih dekat.
Lena pikir Niko akan memaksanya sampai dia tidak memiliki pilihan selain jujur. Ternyata Niko hanya menatapnya dengan begitu lama, lalu mengajak Lena ke arah yang berlawanan.
"Kamu harus lihat tempat tinggal sementaraku." Niko terus mengamati Lena, lalu mendahului.
"Katanya kamu tinggal di hotel?" Lena menaiki anak tangga dan menatap punggung sang kekasih. Di sini tidak ada lift?
"Itu pas awal datang saja, karena saat itu penginapan penuh. Setelahnya kami diberi mess ini." Niko menunggu di ujung tangga pada Lena yang berjalan dengan susah payah. "Ayo, dong sayang, kamu lambat."
"Huh, aku capek tahu! Sudah jalan 10 km bahkan lebih." Dia ngos-ngosan setelah melewati dua lantai. Tubuhnya terasa remuk seperti baru dipukuli orang.
Sampai di sebuah kamar, Niko menempelkan kunci elektrik ke pintu. Kemudian Lena mengintip ke dalam kamar dengan hati-hati begitu pria itu mempersilahkan masuk. Lena berdiriterdiam sejenak karena belum pernah berduaan dengan Niko di kamar atau tempat sepi. Jadi ini hal baru bagi Lena.
"Ayo, sayang, masuk." Niko melepas sepatu, lalu menyimpan di lemari sepatu di dekat pintu.
"Ah, apa tidak apa-apa aku di sini?"
"Maxudmu?" Niko menarik lengan Lena hingga tubuh mungil melewati garis pintu, lalu pintu didorong Niko.
Tubuh Lena tersentak, lalu merinding karena suara pintu tertutup. Dia berbalik menghadap ke pintu, apa bisa dia mengurungkan niat? langsung pulang saja.
Lena melangkah ragu-ragu di dekat pintu. Ruangan dengan tipe studio dengan wellpaper bunga sakura. Ada satu tempat tidur single, microwave, kompor listrik dan kamar mandi kecil.
Niko menebarkan selimut tebal di lantai parket. Gadis itu melepas sneaker hijau, lalu kaus kakinya dan duduk dilantai sesuai arahan Niko Dingin menerpa saat kaki yang akhirnya terbebas dari pengap. Lena berusaha menselonjorkan, lalu pergelangan kaki ditekuk ke dalam. "Aku pulang ke mess saja, Iko."
"Ada satu kasur, itu cukup untuk kamu. Aku harus bergadang jadi tidak tidur. Kerjaanku banyak, Sayang." Niko pergi ke kamar mandi sambil membawa pakaian ganti.
Lena menaruh sneaker di rak sepatu. Suara guyuran shower dari dalam kamar mandi membuat Lena tersipu. Dia duduk menunggu Niko sambil memeriksa ponsel. Sebuah pesan masuk dari nomer baru yang kode negaranya sama dengan nomor David.
-Dimana anda, Nona?
Ini Axel.-
Dia menghapus pesan Axel tanpa membalas. Dia rasa tidak memiliki kewajiban pada mereka. Jadi, dia memilih membuka instagram dan berselancar di dunia maya.
"Sayang, ngapain?"
Lena beralih menghadap Niko sambil meletakan ponsel. "Ti-dak."
__ADS_1
"Sini aku lihat, berikan ponselmu." Alis Niko berkerut karena wajah tegang Lena. Niko sampai duduk dan merebut ponsel yang digenggam erat tangan Lena. Dia memeriksa, lalu mengembalikan. "Untuk apa kau main Instagram? mau liat cowok-cowok?"
"Tidak, Niko," suara Lena gemetar. Dia memandang tak berkedip pada Niko yang mengenakan legging dan kaos orange, warna kesukaan Niko.
Kaos dan celana yang dibawa Niko langsung dijatuhkan ke atas pangkuan Lena. "Ganti bajumu."
Lena dengan patuh langsung ke kamar mandi. Dia tidak mandi, hanya membasuh wajah, kaki dan ketiak. Apa tidak apa-apa berduaan dengan Niko malam hari.
Perempuan itu keluar dari kamar mandi dengan rambut diikat cepol. Niko sibuk di depan laptop sambil menyeruput kopi. Didekatnya juga ada segelas teh dan sebotol air mineral dingin.
"Kamu tidur sini saja, besok pagi aku anterin ke Mess," kata Niko. Dia meneliti rambut Lena dan turun ke leher, lalu menyipitkan mata pada kaos putih yang kebesaran. Matanya terbuka lebar dan sudut mulutnya sedikit terangkat. "Minum, tehmu."
Lena duduk di samping Niko. "Nik .... "
"Hm?" Niko memandangi Lena lagi, tidak biasanya gadis itu memanggil 'Nik' dan bukan 'Iko' saat berdua. "Apa ada masalah denganmu?"
"Tidak ada." Lena mengambil dua bantal dan selimut dari kasur, lalu memindahkan ke dekat Niko. Dia tengkurab dengan jarak satu meter dari Niko, dengan wajah menghadap Niko. "Nik .... "
"Apa, si?" Niko berhenti mengetik dan menjauhkan jari dari keyboard. "Katakan."
"Iko, kamu kapan ada waktu main ke rumah. Ayah dan Ibu, nanyain kamu."
"Sabar, ya. Aku masih sibuk, Len. Itu, rambutmu, diluar jangan gitu, ya!"
"Gitu gimana?" gerutu Lena karena Niko seperti mengalihkan obrolan tiap kali membahas soal ini.
"Tak usah dikuncir bila diluar."
"Kan, panas."
"Ya sudah tutupi pakai syal."
"Maksudku gerah."
"Kamu tuh harus ngebiasain diri bagian-bagian itu ditutupi. Ntar kalau ada orang jahat gimana?"
Lena langsung membeku. Orang jahat seperti David, kah? "Iko, di sini kan negara teraman untuk perempuan, bahkan di malam hari. Apalagi dengan adanya acara besar ini, keamanannya meningkat-"
"Lena?" gumam Niko pelan dan mampu membuat Lena diam membeku. "Aku bilang tutupi lehermu saat diluar, bandel banged, si."
Giliran Lena mau beralasan, pasti Niko langsung tidak terima. "Iya, iya! Nanti, aku tutupin yang rapat." Lena memutar b0k0ng dan tidur terlentang memandang lampu led di atasnya. Dia menarik selimut hingga menutupi mulut, lalu senyum-senyum sendiri karena bisa satu ruangan dengan Niko.
Kenapa si selama tiga tahun, kamu tidak pernah mengecup bibirku. Apa kamu jijik denganku ? (Lena)
Lena menggigit bibir bawah, boro-boro mau ciuman, kalau setiap pergi selalu saja di keramaian. Dari awal Niko tidak mau pergi ke tempat sepi dan berduaan, katanya yang ketiga setan.
Lena tengkurab, lalu bolak balik terlentang, tengkurab lagi. Pipinya kini terbenam di bantal dan menatap wajah Niko yang selalu serius dan sibuk menginput angka-angka. "Niko!"
"Apa, sayang? Kau tidak lihat aku sedang kerja? Kapan aku selesai jika kau terus menggangguku."
"Katakan kenapa? Kamu aneh banged, deh. PMS?"
"Cium!"
"What ? " Niko memutar bola mata ke atas, langsung merangkak untuk mengurangi jarak. Memang selimut itu menutupi sampai ke hidung Lena, tetapi Niko masih dapat menangkap ketegangan di wajah kekasihnya.
"Jadi, pacarku mulai nakal?" Niko memandang mata hazel yang terbelalak, lalu kepala mungil geleng-geleng hingga pipi itu makin memerah saat selimut masih menutupi bibir.
"Tidak, Niko!" sergah Lena, lalu berbicara lirih takut kena getok seperti biasanya. "Aku tidak nakal."
CUP!
Kecupan mendarat di kening Lena, mata hazel membelalak. Niko memberi waktu Lena, saat gadis itu menyembunyikan wajah setelah memiringkan tubuh ke arah lain.
"Sudah! Sana kembali kerja!" pekik Lena yang kegirangan di dalam hati.
Niko tersenyum gemas saat Lena tersenyum malu-malu. "Jangan, perlihatkan lehermu, di depan umum atau kamu mulai membuatku cemburu?"
"Iya, Iko!" suara kecil itu sangat unyu hingga Niko masih senyum-senyum sendiri walau sudah belasan menit telah berlalu.
"Len?"
"Hm." Mata Lena sudah kiyip-kiyip.
"Kapan kamu terakhir cek rekening?"
"Sebulan lalu, 14 juta 700. Apa gajimu sudah turun, Iko?" Lena mengernyitkan kening dan Niko menganggukkan kepala dengan mata berbinar. Lirikan Niko itu mengisyaratkan bahwa dia harus mendekat. Lena menelan saliva kasar dan bersemangat di tengah kantuk, lalu duduk di samping Niko yang sedang mengotak-atik internet banking.
Senyuman Lena makin terulas pada layar laptop walau matanya sudah lima watt. "Kok ada 7 juta masuk? Perasaan aku juga belum gajian." Lena menyengir setelah membaca rekening koran. "Kok, uangmu banyak banged?"
Lena mendoel lengan pacarnya dengan gemas. "Nik, katakan darimana uang itu."
"Rahasia. Yang penting uang itu halal, lalu cepat terkumpul."
"Katanya nggak ada rahasia-rahasiaan?" Bibir Lena mengerucut saat tatapan Niko yang seolah senang dengan rasa keingintahuan Lena.
"Bonus."
"Bonus?" Mata Lena berbinar, tetapi mata itu sangat berat dan tak tahan ngantuk hingga jantungnya berdebar dan panas. "2 kali lipat?"
"Gimana kalau kita besok ke museum? Biaya ke sana nggak mahal. Mau nggak?"
Lena mengangguk setuju dengan mata berkaca-kaca. Dia tak sampai berpikiran akan pergi beneran dengan Niko yang super sibuk. Lena merasakan usapan lembut di pucuk kepalanya. "Mau aku bantu?"
"Tidak usah, kamu tidur aja, Len."
__ADS_1
"Mau aku pijitin?"
"Nggak perlu. Aku bilangin nih! pacarku yang manis ini harus tidur. Nanti matamu menghitam seperti panda. Lihat tuh jam 12."
"Boleh aku minta kopimu?"
"Tidak. Kamu harus tidur, lihat matamu saja sudah setengah tertutup."
"Dikit." Lena memelas dan ingin menangis, karena ingin berlama-lama terjaga dengan Niko.
"Hm."
Lena akan menyeruput gelas milik Niko dan bibirnya mendarat di sesuatu hangat. Dia membuka mata lebar karena bibirnya menempel di punggung jari Niko.
"Hei, itu bekasku."
Lena menarik kepala, batal menyeruput. "Lalu kenapa?"
"Ntar kamu jijik?"
"Aku enggak jijik," katanya bingung sambil menggelengkan kepala. Jadi, kalau gelas bekasku kamu jijik?"
"Aku tidak bilang gitu."
"Ini nggak boleh, Nih?" tawar Lena, lalu pria itu hanya menatapnya dengan tidak suka. "Pelit!"
"Lena, sudah cepat tidur."
"Uhhhh!" Lena memutar cangkir, dan menyeruput di bagian lain.
Niko tersenyum semringah saat Lena kembali mengubur diri dalam selimut dan memunggunginya. Kalau tidak salah menduga, mungkin Lena ingin dicium di bibir, tetapi itu terlalu berbahaya. "Lena, Lena."
Niko meraih gelas, dan menyeruput di bekas bibir Lena. Dia mulai fokus lada laptop. Satu sudut bibir terangkat penuh karena secara tidak langsung dia sudah berciuman dengan Lena lewat perantara gelas.
Ketika satu jam pun telah berlalu, Niko mendekati Lena yang tidur, mendengkur dengan teratur. Pria itu meregangkan tangan yang pegal. Dia menatap sang pacar yang memeluk bantal satunya.
Kemudian Niko membuka ponsel milik Lena, dan masuk ke akun instagram milik Lena. Akun ig milik Marsha diblokirnya agar Lena tak bisa melihat akun Marsha. Dia berpikir seraya menggoyangkan ujung ponsel. Pada akhirnya Niko menghapus aplikasi instagram dari ponsel Lena. Clear.
Setelah memandang tubuh sang pacar secara harafiah 15 menitan. Dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tangannya terus terkepal di pangkuan. Maaf, Len.
Dia memindahkan Lena ke kasur, lalu menyelimuti perlahan. Kakinya berjalan ke arah lemari dan meraih ponsel utama yang sudah di silent. Kemudian membaca puluhan pesan dari Marsha, lalu menjawabnya dengan lugas.
- Aku masih banyak kerjaan. Ponselku di cas, jadi aku matikan dulu. Besok pagi aku tak sempat buka hp. Aku sedang sibuk sekali, sayang. Sampai ketemu besok. Met mimpi indah, Sha-
Pesan langsung terkirim, bahkan langsung terbaca. Dia segera mematikan telepon sebelum Marsha menelepon. Niko menyimpan ponsel Apple di laci dan mengunci lemari dengan jantung berdebar. Kunci itu disembunyikan di atas lemari.
Pria itu merebahkan diri di depan meja komputer yang masih menyala.
Sebentar lagi, Len. Jabatanku naik. Saat itu, aku baru bisa melamarmu.
...----------------...
Ketika Lena terjaga, dia miring ke kanan sambil mengumpulkan nyawa. Terlihat dimana Niko tidur di lantai parket di samping ranjang dengan bantal kecil. Lena tersenyum, ingin mengambil gambar wajah Niko yang lucu.
Hingga mata Lena terpaku pada jam dinding yang menunjukkan sudah jam 5 pagi. ASTAGA. Lena turun dan mulai melangkah dengan berjinjit. Dia memeriksa ponsel dan salah satu pesan berasal dari nomer Axel pada jam 3 pagi.
-Nona, anda di mana?- (Axel)
Lena langsung menggigit bibir bawah, dan bertanya apa asistennya David itu tidak tidur. Kenapa juga pakai tanya-tanya.
"Lena ...."
Ponsel Lena terlepas dari pangkuan dan tubuhnya merinding karena suara serak Niko. Dia bagai maling yang tertangkap basah. David benar-benar membuat hidupnya jadi tidak tenang, padahal dia hanya sekadar membaca pesan dari Axel. Sikap Niko di sini yang kaku, juga membuatnya selalu merasa ketakutan.
Bergegas Lena menggeser ponsel dan disembunyikan di bawah tas dan belum sempat menghapus pesan Axel. Dia menuju ke Niko yang kepalanya terangkat mencari keberadaanya. "Aku di sini."
"Kamu ngapain?" Niko menggosok mata, berusaha duduk di tengah merasa was-was bila Lena membuka lemarinya.
"Aku .... Aku mau pulang, harus siap-siap." Lena duduk berhadapan. Mereka bersitatap.
"Kamu sangat cantik, Sayang. Apalagi baru bangun tidur."
Lena langsung tertunduk dan menutup senyuman menggunakan tangan kiri. "Iko, sudah!"
"Huh? Jadi tak sabar .... "
"Tak sabar apa?" Lena mendongak lagi dan mendapati mata berbinar Niko, tetapi lelaki itu tetap bersikap tenang.
"Bawa Abi dan Umi, lalu mempertemukan mereka dengan Bapak Sujatmiko dan Ibu Sumarnie."
Lena tidak bisa berhenti tersenyum haru, jemari kakinya saling merem4s. "Sama! semoga tabungan kita cepat terkumpul-" kata-kata Lena terhenti karena jemarinya digenggam Niko dan jantungnya seperti mau loncat keluar.
"Kita akan melewati enam bulan ke depan! Doakan aku ya, semoga promosi jabatan itu ditujukan padaku, sayang. Biar kita cepat .... "
"Ni-kah," suara Lena bergetar, matanya memanas. Air matanya jatuh dalam kebingungan saat menatap mata Niko yang memandanginya dengan penuh arti. Dia jadi merasa tak layak untuk Niko.
"Aku akan selalu mendoakanmu, semoga promosi jabatan itu dimenangkan oleh kamu." Lena berkata dengan suara sangat dalam dan penuh ketulusan.
Ponsel Lena berdering dan Lena langsung membeku. Dirinya menciut dan seperti di belah jadi dua. Dia menjadi takut setengah mati hingga jemari dalam genggaman Niko pun ikut gemetar.
Niko memiringkan kepala sambil mengurangi jarak, lalu mata coklat menyipit. "Kenapa wajahmu pucat, Len? Angkat itu ada telepon."
...----------------...
__ADS_1