
Air dingin menyentak punggung Lena, hingga tubuh mungilnya semakin tenggelam ke gelembung air, setelah David menghambur dari atas, lalu menimpanya.
Dingin menyelimuti setiap inchi kulit Lena dan tekanan air membuat telinganya tuli. Lena membuka mata untuk mencari tahu, perih air asin mengiritasi mata. Kakinya terus menendang ke bawah, tangannya mendorong dan membelah air untuk naik ke permukaan.
David meraih pinggang Lena di dalam air, dan memutar tubuh Lena hingga Lena kini dibawahnya. Lena membelalakkan mata, mulutnya makin menggembung karena hampir kehabisan nafas.
David memblokir mulut Lena, dan mata hazel terbelalak di dalam air. Perempuan itu mendorong wajah David, dan terus menendang-nendang kaki ke air. Kepala mungil berhasil muncul ke permukaan dan mengambil nafas cepat-cepat.
Namun, sesuatu melingkar di kaki Lena hingga dirinya tertarik ke bawah lagi, lalu bertemu mata dengan David lagi. Gelembung air muncul menghalangi pandangan mereka. Mereka berhasil naik ke permukaan dan mengambil nafas cepat dan batuk-batuk.
"Dav, kamu itu-" Lena tergagap karena ombak datang. Dua tangan Lena mencengkeram jas David. Ombak kembali datang menabrak wajah mereka membuat tubuh mereka tergulung.
Lena meraih tubuh David yang terlepas, kakinya menjejak sebisanya, dan sempat menyentuh dasar pasir. Sampai Lena melihat daratan, lalu berenang ke tepian dengan sekuat tenaga.
Lena meraup air di wajah dan kaki berjinjit di dasar. Kepalanya berputar mencari-cari, tetapi tidak terlihat yang dicarinya. "David! David?"
Lena menceburkan kepala melihat di bawah air lalu muncul ke permukaan mengambil nafas, dan memandang sekitar, hanya permukaan berombak. Kengerian menyelimuti hati, apa David tidak bisa berenang?
Lena menyelam, dan terus menggerakkan kaki ke tempat semula. Dia berenang ke permukaan untuk mengambil nafas, beruntung tidak sekencang tadi. David, ini tidak lucu, keluarlah!
"Oh anak ini benar-benar, cari!" titah Kakek Leora makin khawatir.
Tiga orang pengawal langsung mengeluarkan dompet sna ponsel, lalu melempar ke pasir. Begitu pun Axel, berlari ke Laut sambil melepas jas sebisanya. Mereka menyelam melewati, Lena yang tampak kebingungan. Mencari ditempat terakhir kali melihat tubuh David yang seperti terbawa ombak.
Lena mengikuti pengawal yang membopong tubuh David ke tepian dengan tak tenang karena bibir David yang membiru, dan tubuh panjang itu tak bergerak. Mereka melakukan PCR. Sementara seseorang gelisah tengah berbicara di telepon.
Semua terjadi begitu cepat, ambulance datang saat tubuh David baru di miringkan ke kiri dengan kakinya dibuat lebih tinggi dari kepala. Lena gemetar meraup wajahnya. Dia tak tahu kesalahan apa yang telah dilakukannya.
Lena memandang kepergian kakek Xavero yang sempat membebtak orang-orang, bahkan sampai masuk ke mobil SUV putih. Sedangkan, Lena masuk ke dalam mobil yang tadi ditumpanginya dengan David. Lena tak bisa bertanya karena Axel tampak terus berbicara di telepon.
Perempuan itu hanya bisa diam menggigil sambil memeluk lengannya, dan jok belakang yang sudah basah semua oleh tetesan air dari pakaiannya. Suara ambulance di depan benar-benar membuat suasana makin mencekam. Dia mendengar saat Axel telepon dengan orang lain, bahwa David pingsan.
Ketika Lena di Stadion dia terus melihat jam tangan, sudah jam lima sore, tetapi belum juga mendapat kabar dari Axel. Apa aku harus menelpon Axel?
Tak lama tangannya ditarik kasar oleh seorang wanita, dia hafal suara Shinta, bau tubuhya sangat wangi. Wanita itu membawanya ke luar stadion setelah melewati kerumunan orang.
"Gara-gara kamu, apa yang kamu lakukan? Membuat David masuk rumah sakit hingga paru-parunya penuh dengan air!" Shinta meringis dengan wajah merah padam di depan wajah volunter.
Lena geleng-geleng kepala. "Paru-paru penuh air? Dia di rumah sakit mana?"
"Stop, jangan berani lagi kamu menemui tuanganku! Lihat siapa dirimu. Apa kamu berniat memacari orang barat demi menghabiskan uangnya?" Shinta tertawa dengan tatapan merendahkan.
"Jangan mimpi. Terakhir kali ini ku ingatkan, menjauhlah dari David. Dia akan menikahiku, dan kamu perempuan yang sangat menyedihkan, berharap dia menjadi milikmu? Kau takkan pernah menempati bahkan secuilpun dari posisiku, karena dia mencintaku. Das4r menyedihkan!"
Lena menelan salivanya berkali-kali, jantungnya berdebar kencang dan tiba-tiba sangat mual. Dia meraih segala sesuatu dibelakangnya dan duduk pada di paving. Bukan karena perkataan Shinta yang mengganggunya, tetapi dia ingin sekali melihat kondisi David sekarang.
Ika yang baru datang melirik kepergian wanita cantik, lalu berjongkok di depan sang teman. "Lena, siapa dia kenapa dia menyinggung tunangan. Kau hanya berhubungan dengan satu pria. Apa itu tunangan pria tampan itu?"
Lena mengangguk perlahan. Jadi, David di rumah sakit mana ?"Dia tunangan David, Ka," lirihnya dengan perasaan bersalah.
"Kenapa kamu jalan dengan tunangan orang, Len? Eh tetapi kenapa ... ah sudah lah ayo masuk. Kasian pengunjung pada nungguin tuh."
__ADS_1
Ika memapah Lena yang masih shock ke area ticketing. Ika kemudian diam-diam mengirim pesan pada Axel. Kemarin dia diminta menghubungi Axel bila ada sesuatu. Mungkin ini yang dimaksud sesuatu.
...----------------...
Dus coklat yang diberikan David kemarin, yang bersama es krim, kembali dibuka perlahan. Lena berjalan ragu dan menaruh dus di tempat tidur. Setoples kacang bawang ditariknya, lalu tubuhnya merosot ke lantai saat menarik sebuah kertas.
'Aku tahu aku membuatmu gila. Aku mengacau, aku tahu. Maafkan aku dan aku akan berusaha lebih baik, tapi aku tergila-gila dengan kamu, Lena!'
Lena tertawa getir, lalu tersenyum masam. Dia kini bersandar pada tempat tidur, teringat pada wajah kakek Xavero yang khawatir menatap David. "Sebenarnya siapa kakek Xavero? Dari italia juga, apa dia mengenal David?"
Lena menelan saliva kasar, ingin sekali bertanya pada Axel. Namun, di sini dia bukan siapa-siapa. Terlebih Shinta sudah mendatanginya, lalu melarangnya bertemu dengan David. Jadi, Shinta pun sudah datang ke rumah sakit?
"Dav, apa kamu tidak apa-apa?"
Dering ponsel mengalihkan lamunan Lena. Dia menerima telepon Niko, lalu berjalan ke luar gerbang setelah Niko memintanya keluar. Pria itu menarik Lena duduk di kursi depan sambil mematikan telepon.
"Maaf Sayang, tadi pagi aku meninggalkanmu." Niko mengernyitkan kening walau Lena mengangguk, mata hazel itu terus membeku dan wajah Lena sangat datar. "Kenapa dengan wajahmu itu, kamu marah karena kita nggak jadi ke museum?"
"Tidak, Dav-" Lena membulatkan mata, mengapa dia sampai salah memanggil nama David, hingga Niko pun mendekati wajahnya dengan satu alis terangkat.
"Maksudku. Aku tidak marah." Lena menelan saliva kasar dan gugup setelah Niko kembali menjauh. Jantungnya berdebar tak tenang.
"Gimana kalau besok saja kita ke museum?" tawar Niko penuh harap, jemarinya bergeser sedikit hingga menyentuh ujung jemari Lena. "Aku kangen kamu, Sayang."
Lena semakin lesu. "Aku sepertinya sedang capek, Iko."
"Atau ayo, tidur di tempatku, Sayang. Pagi aku anter? Aku ingin melihatmu lebih lama." Niko mengetuk-ngetuk jari Lena yang berada di kursi, menunggu jawaban.
"Apa boleh aku ke kamarmu sebentar?" pinta Niko dengan tatapan tajam.
"Tidak boleh ada pria masuk di sini," lirih Lena, berharap Niko cepat segera pulang.
"Kalau gitu, jangan tolak lagi. Ayo, jalan-jalan sebentar. Besok-besok aku sangat sibuk."
Lena mengangguk pelan. "Sebentar, aku ambil jaket."
Niko melihat kepergian Lena yang tak bertenaga dan menunggu dengan sabar. Sampai mereka mulai keluar dari kompleks, Niko menarik tangan Lena ke tengah dan terus menggenggamnya. "Capek, ya? Mau aku pijitin?"
"Mau," rengek Lena dengan kepala masih bersandar ke kaca. Mobil menepi di depan pantai di tengah kota. Lena duduk menghadap jendela, dan Niko menepuk pundaknya yang kaku.
"Kok, nggak semangat banged si." Niko meraih coklat Nasshma dari jok belakang. Dia condong ke Lena hingga pipi mereka sejajar dan memberikan sepotong coklat ke bibir Lena.
Niko menjil4t bekas jarinya yang kena coklat dan liur pacarnya. "Sayang, cerita dong. Belakangan ini kenapa kamu banyak berubah? Biasanya terus chat aku?"
"Aku semangat kok," lirihnya tak bertenaga, lalu menghisap rasa manis lembut saat Niko mulai memijat bahunya yang sakit. "Kan, aku capek muter-muter stadion."
"Uh ya? Kamu sudah telepon Abang belum, hayo. Sean nanyain kamu, loh." Niko menekan bahu Lena yang kaku, memijat konstan hingga Lena tertunduk.
"Belom, ntar abang malah nanyain tandatangan Messi daripada nanyain adiknya," gerutu Lena. Dia sedikit terhibur begitu mendengar tawa tanpa beban Niko.
"Besok aku anterin makan siang, mau?" tawar Niko dengan lembut dan Lena mengangguk
__ADS_1
"He'em. Kalau kamu tidak sibuk."
"Untukmu, tidak. Sayang." Niko benar-benar memijat leher mungil sampai Lena sedikit rileks, bahkan hingga ke kepala Lena, membuat gadis itu bolak-balik tak tahan untuk menguap.
Niko pun tersenyum semeringah kala Lena mulai mendengar dengkuran ringan. Gadis itu bahkan seakan tak peduli dimana diri itu tidur. Niko melepas jaket miliknya, lalu menutupi dada Lena. Dia sedikit menarik tuas hingga jok sandaran kursi lebih landai.
...----------------...
Ketika Lena bangun pagi dengan badan pegal, matanya melotot karena masih di dalam mobil. Langit di luar terang, matanya mengitari sekitar dan mendapati Niko di belakang mobil. Lena membeku saat Niko kembali dengan membawa ponsel miliknya di tangan Niko. Jantungnya berdebar tak menentu, apalagi setelah terlihat wajah Niko yang sulit di tebak dan menatapnya dengan tajam.
"Niko, kenapa?"
"Kamu yang kenapa?" Pria itu menggertakkan giginya. Dia menaruh ponsel milik Lena di pangkuan pacarnya, lalu menjejak pedal gas dan mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
"Niko," lirih Lena masih menggosok mata bingung karena nyawa belum sepenuhnya kumpul. Tangannya berpegangan kuat pada handle di atas kaca mobil, dan jam menunjukan pukul 7 pagi.
Lena menelan saliva kasar, ingin membuka ponsel miliknya untuk mencari tahu, tetapi keberaniannya entah hilang kemana. "Pelan sedikit mengemudinya, Iko."
Sesampai di mess, Niko membuka pintu mobil, dan mengantar Lena sampai ke kamar, tak peduli bila wanita itu menolak. Lelaki itu melirik ke belasan kantong belanjaan di samping tempat tidur. Tangannya terkepal hingga dadanya makin bergemuruh.
"Niko, kamu kenapa? Jelaskan padaku. Nah, sekarang kamu pasti marah denganku?" Lena menarik pelan kaos Niko, dan pacarnya menyudutkannya ke tembok, lalu menatapnya dalam-dalam membuat diri Lena makin menyusut.
"Kamu tak berniat mengatakan sesuatu?" Niko memutar mata ke belakang, dengan nafas tertahan.
"Sesuatu apa?" suara Lena tercekik. Apa Niko membaca sesuatu di ponselnya. Bibir Lena gemetar. "A-aku." Dia bahkan tak berani menggeser pandangannya dari mata coklat yang mulai mengembun. "Niko, aku salah aku tahu aku salah."
"Katakan," cebik Niko yang gemetar menahan marah. Dia harap Lena jujur padanya tanpa berusaha menutupi sedikitpun.
"Katakan, sayang jika kamu masih menganggapku berarti untukmu," gumam Niko dengan hidung terus berkedut.
"Seseorang mencium bibirku," kata Lena dengan bergetar dan mata terpejam. Dinginnya embun keluar membasahi pipinya, dan dia dapat mendengar suara gigi Niko yang gemertuk sangat menakutkan. Dia tidak takut Niko memukulnya, tetapi dia takut Niko meninggalkannya.
"Berapakali?" cebik Niko dengan begitu kecewa memenuhi ke dalam relung jiwanya. Dia terus menggelengkan kepala dengan tidak percaya. Hatinya luluh lantah seketika, tak tahu lagi harus berkata apa.
"Aku lupa," suara Lena putus asa.
"Berapakali, Lena Paramita?" lirih Niko yang entah didengar Lena atau tidak.
"Aku tak tahu, empat mungkin."
"Empat? Kapan?" Niko mengelus pipi Lena dengan lembut, tetapi sangat geram. "Katakan Lena!" Nafas Niko sudah ngos-ngosan. "Buka matamu, halo apakah kamu Lenaku?"
"Maaf." Bibir Lena bergetar, dan airmatanya berjatuhan. Hatinya bergetar tak terselamatkan. "Aku salah Niko," kata Lena sambil terisak.
Niko geleng-geleng kepala, ingin mengusir panas di kepalanya yang sudah mendidih. Dia mundur ke belakang. Menatap geram pada bungkusan belanjaan di sekitarnya. Tangannya terkepal dan meninju tembok di dekat pintu.
Mata Niko terpaku pada derap langkah kaki yang baru tiba di pintu. Tatapan mata coklat berkilat seperti kobaran api pada seorang berpakaian jas di depan kamar Lena.
Bersambung.
...----------------...
__ADS_1