Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 59 : SEAN - EMMA


__ADS_3

George mematikan panggilan telepon. Matanya terkunci pada pemuda Asia, yang barusan berkelahi dengan teknik bagus. Dia pun mendekat dan duduk di pinggiran kolam ikan.


Menarik napas dalam dan kepala George mendongak, menatap keindahan gemerlap langit berbintang. Tangannya menepuk dua kali, ke bahu pemuda asia yang terasa keras dan kencang. "Cuaca malam ini bagus."


Dengan refleks Sean ikut mendongak, mulutnya sambil meniup ke buku jari yang perih karena lecet. Mata pria lokal yang duduk disampingnya, begitu tajam dan aura m3mbunuh seperti psikopat. "Sorry? Apa anda berbicara denganku?"


Sean menyipitkan mata karena pria itu merogoh ke saku mantel bagian dalam. Dia mengira pria itu akan mengambil pistol. Kemudian tangan bertato panah itu ternyata mengulurkan kartu nama di depan matanya dan terlihat nama 'George' beserta nomor.


Belum sempat, Sean melihat semuanya, kartu berwarna kuning itu sudah diarahkan ke dalam saku jas milik Sean. Begitu cepat dan gerakkannya sangat elegan seolah menghipnotis. Membuat Sean seolah takjub dan terfokus pada George.


"Ya, benar, aku berbicara denganmu. Kamu tahu kenapa? Aku melihat teknik Judomu itu bagus. Jikalau kamu mau, aku menawarkan pekerjaan dan aku bisa membayarmu tinggi setiap satu malam. Jadi siapa namamu, orang asia?"


Sean melirik ke arah sopir yang baru keluar dari pintu kafe, lalu saat melihat ke samping. Dia tercengang. Orang tadi pergi tanpa dia sadari. Padahal, dia belum memberitahukan namanya.


Setelah Sean memandang ke seluruh tempat , tampak pria bermantel itu menggunakan isyarat dua jari menunjuk mata. Mungkin, artinya akan berjumpa lagi. Entah lah, dia tak tahu apa artinya.


Sopir itu membawa kopi dan memberikan semprotan pembersih luka ke Sean yang baru dibeli dari pemilik kafe. Kini mereka mengitari jalanan Naples lagi. Sopir itu lalu bercerita setelah menghabiskan kopi.


"Lebih baik tidak berkeliling dengan Rolex di tangan Anda atau tas kulit kuda poni Prada, atau yang terlihat, atau semua dokumen dan kartu kredit Anda di tas Anda. Tetapi, tentu Tuan David takkan terima itu."


Agra melirik Sean yang tertawa ringan karena ucapannya. Ayah Agra adalah sopir yang bekerja lama dengan keluarga Leora. Dia yang berusia 24 tahun dan baru lulus kuliah, kemudian di tawari ayahnya untuk menjadi pemandu wisata sekaligus sopir pribadi Sean. Tugasnya adalah mengenalkan seluk beluk daerah Naples dan membantu segala keperluan Sean.


George yang menunggu di dalam mobil , lalu mengikuti pria Asia. Pencopet itu adalah anak buahnya. Bagaimana bisa anaknya buahnya dikalahkan oleh turis asia. Dia terus mengikuti turis asia itu dengan rasa penasaran. Alangkah terkejutnya George saat mobil itu memasuki rumah mewah di daerah perbukitan. Bibirnya semakin menyeringai. "Jadi rumah David .... "



Api menyala dari dua lilin berwarna merah di atas meja makan, yang menghadap ke laut. Lampu serambi rumah dimatikan, hingga pemandangan laut malam sangat cantik dari dalam ruang makan. Lena menarik kursi meja makan dan mempersilahkan suaminya duduk.


Axel mengulas senyuman. Dia senang melihat tuannya yang kini jauh lebih bahagia. Dia pikir perubahan tuannya jelas jauh berbeda. Sekarang lebih tenang adem ketimbang dahulu yang tak terkontrol bolak-balik menyusul ke tempat Shinta, hanya untuk mendapat semacam penghargaan dari Shinta.


Bahkan nyonya Lena sangat detail, memperhatikan kebahagiaan tuan melalui hal-hal kecil. Seperti sekarang nyonya membungkuk untuk melepas sepatu dan kaos kaki tuan, lalu memakaikan sandal rumah.


David tersenyum lembut dan memilih pindah ke sebelah Lena, lalu mereka makan dari satu piring yang sama. Dengan pandangan penuh cinta David mendengarkan cerita Lena sambil makan.


Axel pergi ke ruang kerja sang tuan. Dia menaruh tas, dan menilik ke jendela. Tampak pemandangan tak biasa. Ruang kerja rumah Paolo menyala. Dia keluar ke balkon dengan jantung berdebar, tak percaya pada Paolo yang masih berdiri di balkon, tak segera pergi justru tampak menikmati sekaleng soda, yang merupakan produk dari pabrik milik Tuan David.


"Apa yang kau lihat?" ucap Paolo dengan malas.


"Anda, baru pulang dari New York?"


"Hum? Kau masih saja ikut bekerja pada orang gila?" Paolo memperhatikan balkon ruang kerjanya yang berjarak 3 meter dengan balkon ruang kerja David.


Axel tahu, yang dimaksud gila itu adalah tuan David yang gila kerja. "Apa anda berniat tinggal lama di Naples?"


"Pertanyaan aneh. Apa bosmu takut denganku? Kalau iya takut, sarankan bosmu untuk membakar seluruh rumah, lalu pindah ke BALI?"


Axel tertawa dengan canggung. Huh ternyata Paolo masih memperhatikan apa yang terjadi dengan tuan.


"Tuan Paolo, akankah Anda berkenan hadir bila tuanku mengundang Anda ke acara resepsi pernikahannya . Mungkin Anda perlu memadamkan api peperangan setelah bertahun-tahun lamanya."


Otot-otot di wajah Axel menegang saat melihat wajah Paolo yang berubah seram. Lelaki itu melemparnya dengan kaleng kosong dan Alex sontak menangkap kaleng yang sudah ringsek. Saat melihat ke arah Paolo, Axel mendapati Paolo sudah masuk dan menutup pintu dan tirai. Axel lalu masuk dan menaruh kaleng kosong di meja kerja tuannya, agar tuan tahu dengan kejutan ini.



"Berdiri .... " David yang baru selesai makan, lalu menggendong tubuh sang istri. "Sebenarnya, biasanya kami makan malam di atas jam 8, tetapi aku siap merubah kebiasaan itu, jika sayangku mau."

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan menyiapkan lain kali jam 8, Mas. Maaf aku baru tahu." Lena tersenyum karena usahanya tidak sia-sia. Sepertinya Sang suami tak masalah dengan makanan ala China yang susah-susah dia masak dari sore.


Baru keluar dari ruang makan, mereka berpapasan dengan Sean di tangga. "Mas, turunin," bisik Lena, lalu sang suami mengangguk. Lena mengejar Sean, dia tak tahu kenapa kakaknya tak seceria saat di Bali.


"Kak ... ?" tanya Lena setelah memberanikan diri.


"Hem." Sean sampai di depan kamar, lalu berbalik, menatap mata hazel yang merasa bersalah. "Tak usah memikirkan aku. Kakak kan udah bilang, hiduplah bahagia. Abang lagi capek, selamat malam, Dek," suara Sean dengan tak bertenaga.


Sean mengecup kening sang adik dengan penuh kelembutan, lalu mengunci pintu kamar. Dia lelah dan bersandar pada pintu kamar. Di satu sisi perasaannya sendiri tak bohong, setiap kali memasuki rumah ini, kekecewaan pada adiknya terasa begitu menekan dadanya hingga membuatnya sesak.


"Horeeee! Papah!"


Suara anak kecil menarik perhatian Sean, hingga membuatnya mengintip ke celah di antara tirai. Kupikir mereka kakak beradik? Ternyata ibu dan anak.


"Mah, kapan, Dhona bisa ketemu papah?" Anak kecil itu masih memegangi pagar sambil melihat balon yang baru dilepaskan.


"Dhona ... papah sedang sibuk di luar negeri." Emma terpaksa lagi-lagi berbohong. Pandangannya teralihkan ke suara pintu yang bergeser. Di seberang kamar, tampak pria Asia, yang disebut Lena sebagai kakak Lena. Hatinya berdebar tak nyaman setiap kali melihat pria asing.


"Hallo, kalian sedang apa?" Sean mengikuti arah pandangan anak kecil, matanya melebar ke arah langit gelap yang terdapat cahaya berwarna merah. "Cahaya apa itu?"


"Kami menerbangkan balon berisi lampu," ucap Emma. Rasanya ingin masuk ke dalam. Namun, diurungkan karena putrinya sedang sedih. Melepas balon adalah hobi putrinya saat menanyakan sang papah.


"Paman, apa Paman mau membantuku menerbangkan balon ?" tanya Dhona yang dari kemarin melihat paman di rumah sebelah.


"Balon?" tanya Sean dengan bingung. Dia menatap Emma dengan perasaan canggung dan malu.


"Paman sibuk-" Emma beralasan.


"Aku tidak sibuk," celetuk Sean. Dia kasihan pada suara anak kecil yang terdengar tampak sendu.


Hati Emma menghangat, tangannya menjinjing pompa helium yang sebesar aki saat keluar dari rumah. Putrinya padahal tadi sedih, sekarang loncat-loncat kegirangan menuju taman pinggir tebing. Uh, kalau itu membuatmu senang, Girl.


Emma berkenalan dengan Sean, lalu pompa helium itu diberikan pada ke Sean. Emma memberi balon yang terdapat lampu LED warna pink yang telah menyala. "Apa kamu bisa melakukannya?"


Sean memutar kran sesuai arahan Emma dan helium membuat balon mulai membesar. Senyuman Dhona kian mengembang dalam gendongan sang ibu, dia ingin melihat cara kerja Sean pada balon-balon miliknya. Itu sangat menghibur hati Dhona yang rindu akan kehadiran papah.


Meskipun terhalang dengan pagar rumput yang tingginya sama dengan kepala Dhona, mereka tak masalah dengan itu, lalu melepas masing-masing satu balon di tangan mereka di sisi pinggir tebing yang berpagar rumput.


"Papah, Dhona kangen Papah .... "


Sean mengerutkan kening saat mendengar suara parau Dhona. Hatinya bergetar, dia menjadi sesak karena tatapan polos mata anak itu yang memandangi balon yang mulai menjauh. Sean melirik Emma yang mengelus rambut sang putri.


Ternyata, aku bukan satu-satunya orang yang kesepian, Dhona juga tampak kesepian. Mungkin karena alasan itu Dhona kemarin-kemarin tersenyum padaku. Kita mungkin terhubung karena sama-sama kesepian.


"Terimakasih, Kak Sean ... Kami masuk dulu, anginnya semakin kencang. Takut Dhona jadi sakit." Emma menggendong putrinya di pinggang samping dan tersenyum penuh ketulusan. Sebenarnya dia ingin masih di sini, tetapi ...


"Paman Sean, terimakasih sudah menemani Dhona. Dhona senang sekali. Besok-besok lagi, ya Paman. Selamat malam .... " Dhona melambaikan tangan dengan hati riang bukan kepalang. Papahnya pasti senang karena hari ini dia mengirim balon banyak ke udara untuk papah. Dia ingin sekali melihat papah.



Di dalam kamar dengan cahaya redup Mata Lena terpejam saat merasakan pijatan tangan David di bahu. Dia tengkurap kelelahan setelah tadi memijat suaminya. Kini tiba gilirannya yang gantian dipijat.


"Mas ... sudah berapa lama kamu membeli rumah ini?"


"15 tahun, ini hadiah ulangtahun dari kakek Leora."

__ADS_1


"Hem, lama juga, yah." Mata Lena langsung terasa begitu berat. Tangan David menekan punggungnya membuat dia meringis dan menahan napas karena keenakan. "Mas, kenal Emma? Dia tetangga sebelah dan sangat menyenangkan."


"Oh'" David terdiam sesaat, lalu memijit paha Lena. Tak tahu harus menjawab apa. "Aku kan selalu tinggal di rumah Papah selama ini, hampir tidak pernah tidur di sini."


"Kita harus mengundang Emma ke acara kita. Boleh kan, Mas?"


"Apa?" suara David retak dan bibirnya berkedut. Dia sedang gencatan senjata dengan Paolo dengan segala kebencian hingga kini. "Oh, terserah kamu." Jantung David berdebar kencang kenapa mulut dan hatinya tak singkron.


"Tadi, aku mau dikejar anjing! Dia menggeram dengan taring panjang yang bikin aku ketakutan-"


"Charlie?" gumam David spontan.


"Loh! Mas tahu nama anjing itu? Iya, Charlie."


"Aku buang air kecil dulu." David bangkit dari tempat tidur, langsung ke kamar mandi. Dia keceplosan menyebut Charlie kesayangannya.


Di dalam kamar mandi, David tidak buang air seni. Dia berbohong pada Lena, dan menyeka wajah berkali-kali dengan air dingin.. Tidak mungkin ! Aku takkan mengundang mereka.



Sean menyapa Emma keesokannya saat dia baru bangun. Terlihat Emma juga baru bangun lengkap dengan baju tidur, sangat alami tanpa makeup. Jantung Sean berdebar hingga tak sadar dia terus melempar senyuman.


Semakin hari, Sean rajin menyapa Emma dan Dhona. Ssetiap pagi dan sore, baik sengaja maupun tidak seperti suatu keharusan. Sean senang melihat senyuman anak kecil itu. Namun, dia juga menjadi terbiasa menyapa Emma yang makin hari membuat hatinya bergetar. Dia menjadi semangat setelah melihat Emma yang bangun tidur atau mau mandi sore dengan handuk di bahu mungil itu.


Lelaki Asia itu menjadi lupa dengan tujuan untuk mencari rumah sendiri. Giliran Agra, sopir pribadinya memberi tahu tempat strategis dan tidak terlalu mahal. Dia jadi bimbang akan setuju atau tidak dengan apartemennya. Sedangkan Sean sudah terbiasa melihat Emma yang baru bangun tidur dan Emma akan akan mandi. Dia selalu menyempatkan diri melihat ke jendela pada apapun yang dilakukan Emma.



Ketika Lena di kamar Emma di suatu sore, dia mendengar suara dari luar Balkon. Lena berjalan keluar balkon, dan mendapati kakaknya yang baru pulang kerja, tampak elegan sedang melepas dasi.


Kakak sekarang tampil keren banget. Beda dengan Sean dulu yang selalu rambutnya berantakan dan potong dengan asal. (Lena)


"Kakak mencari Dhona?" Lena heran kenapa kakaknya memanggil Emma dan Dhona.


Wajah Sean menghangat. Dimana Emma? Aku jadi berbohong dan pura-pura mencari Dhona. Emma, aku ingin melihatmu.


"Iya, kamu di situ rupanya? Lewat mana?" Sean belum pernah ke tempat Emma, tetapi adiknya sudah di rumah sebelah saja.


"Aku lewat pintu depan, Kak. Jauh, muter-muter."


"Apa aku boleh main ke situ?" Sean dengan penuh harap, kan bila ada adiknya pasti bisa buat alasan untuk lebih tau lebih jauh akan kehidupan Emma.


"Kak, Dhona sedang di rumah kakek Ben. Sekarang, Aku dan Emma sedang sibuk." Lena berjalan ke dalam, setelah mendapari sorot kekecewaan dari pandangan mata kakak.


"Kenapa, Len?" Emma baru masuk ke kamar sambil membawa camilan. Dia melirik Sean di balkon, pria itu tersenyum. Ya, jendela kamarnya transparan bila tirai itu dibuka.


"Kalian sudah saling kenal, ya? Aku kok baru tahu," gumam Lena. Dia langsung duduk, mulai memeriksa lembar tiap lembar desain milik Emma, di atas meja kecil.


Emma melambaikan tangan ke Sean dan tersenyum saat Lena tak melihatnya. Entah, ini menyenangkan karena berkat Sean, putrinya tidak terlalu banyak menanyakan soal papahnya. Emma lalu duduk berhadapan dengan Lena.


Mereka duduk di lantai dengan alas karpet dengan kertas bertebaran tak beraturan. Mereka berencana akan launcing dengan 20 model baju bulan depan. Namun, kini mereka kebingungan diantara 60 buah hasil karya Emma, semuanya menarik.


"Iya, Dhona bolak-balik nanyain Sean." Emma kembali menggores pensil pada kertas kosong.


"Mungkin karena kakak suka anak kecil, jadi Dhona mungkin merasa nyaman." Lena memperhatikan Emma yang begitu serius. "Kamu datang ke acara resepsi pernikahanku, kan? Kamu harus datang dan bertemu suamiku."

__ADS_1


"Aku?" Emma menaruh pensilnya. Dia menatap Lena yang sepertinya tidak tahu apa-apa. Datang ke pesta David? itu tidak mungkin. Bubar dan berantakan nanti yang ada.


__ADS_2