Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
Emma Niko Sean


__ADS_3

Niko terpojok, di jalan buntu. Dia lekas berbalik tetapi Sean sudah berdiri diujung menghalaunya.


"Di mana adikku, brengs*k!" suara teriakan Sean menggema dan Niko terdiam saat Sean maju dan meraih kasar masker yang dia gunakan. Lalu Sean menyeringai.


"Kau tak perlu khawatir." Niko dengan tenang dan berusaha membaca gerakan Sean.


"Kau merusak segalanya. Ibuku sedang sakit-sakitan karena tidak ada kabar dari Lena! Tega sekali kau, Niko? Katakan dimana Lena, dan aku akan melupakan ini semua dan jangan pernah menganggap kita pernah berteman!"


Niko tertawa kecil. "Mungkin hubungan kita berakhir tepat saat kamu membiarkan Lena bersama David."


"Brengsek! Itu sudah masa lalu. Adikku sedang hamil, di mana dia! Sudah melahirkan atau belum? Dia pasti ketakutan dan membencimu setengah mati."


Tangan Niko menangkap tinjuan tangan kanan Sean. Dia tersentak seperti tersetrum aliran listrik hingga terpental dan jatuh ke tanah. Apa itu barusan?


"Sakit?" Sean menggeram, mengundang Niko dengan jari kiri- tangan robotik yang disertai fasilitas alat kejut.


"Itu tangan yang bagus, selamat Sean." Niko tersenyum getir. Dia dulu ke Italia karena Sean, kini hubungannya dengan Sean berantakan. Niko dengan waspada terus mengesot mundur, tangannya meraih pistol dari kaki dan menodongkan ke arah Sean hingga Sean benar-benar syok.


"Begitu?" Sean maju dengan tak gentar. "Tembak Berengsek. Kau benar-benar buta sekarang? Dibutakan Nafsu?"


"Nafsu katamu? Kau tidak tahu rasanya di posisiku, jangan sembarang berbicara Sean." Niko begitu merasa tersinggung.


Letusan menggema, Sean tersentak dan gemetar. Dia melihat seluruh tubuhnya saat Niko berlari. Butuh beberapa waktu untuk Sean memastikan dirinya tidak terluka. Sayangnya, trauma saat dia melihat George menembak seseorang di alun-alun kota, membuat Sean ngeblank dan kehilangan Niko, meski Sean mencari kemudian, tetapi Niko tidak terlihat lagi.


.


.


"Kenapa lama sekali, Kak Se-?" Tanya Emma yang menunggu di kursi pengemudi. Dia tersentak melihat Niko.


"Cepat jalan Emma!"


"Tapi- " Emma membelalakkan mata dan tidak bisa berkutik begitu Niko menodongkan senjata ke pelipisnya. Dia memajukan mobil dengan cepat, pistol itu kini menekan pinggangnya terselimuti sapu tangan, bahkan saat dia membayar parkir.


Sampailah mereka di sebuah hotel kecil, tas Emma dibawa Niko dan wanita itu yang memesan hotel. Di kamar, badan Emma langsung terdorong Niko ke pintu kamar. Dari tadi sampai sekarang, napas Niko terdengar tidak beraturan dan wajah itu kini jelas merah padam.


Suara telepon Emma kembali berdering. Niko mengambil itu dan menyuruh Emma menjawab telepon, kemudian senapan itu menekan di bawah dagu wanita itu.


"Di mana kamu, Emma? Kenapa tidak menjawab teleponku?" suara Sean terdengar khawatir.


"Aku di rumah temanku. Maaf Kak!" Emma dengan napas sering tertahan dan terus melihat tatapan Niko yang tajam.


"Biar aku menyusulmu-"


"Tidak Kak! Ini masalah perempuan." Emma meringis pada wajah Niko yang makin merah padam.


"Kenapa suaramu? Atau kau ingin besok aku belikan es krim vanila, coklat, strawberry. Kau mau mana?"


"Tiga-tiganya." Emma bernapas cepat saat Niko mendelik.


"Oke, aku mengerti. Jangan pulang larut malam," suara Sean terdengar teredam.


Sean tahu ada yang tidak beres dengan Emma. Wanita itu suka es krim strawberry. Tidak suka vanila. Dia pernah mengobrol dengan Emma jika ada sesuatu yang tidak beres dan wanita itu tidak bisa berkata jujur, maka pilihan tiga rasa adalah sebuah kode bahaya.


Lelaki itu menelpon David, saat David sedang di jalan. David tidak bisa membantu Sean karena masalah Marcho yang terluka barusan membuat Kakek Leora memanggilnya.


Terpaksa, Sean menelpon Paolo. Meski Paolo diluar kota, Pamannya Emma itu lalu mengirim orang kepercayaan untuk membantu Sean dalam melacak Emma.


*


*


"Di mana keberadaan Lena, aku mau melihatnya?" Emma melihat Niko yang tampak lebih kurus, dia duduk di pinggir tempat tidur saat pria itu mondar-mandir tampak berpikir dalam.


"Lena ... baik-baik saja." Niko memandang raut wajah Emma yang kesal, dan mampu menggelitik hati.


"Kamu menculik istri orang! Itu kejahatan!" Emma berteriak , lalu bergidik karena tatapan pria itu berubah tajam. Tidak seperti Niko yang dulu. Sekarang tampak pria itu gampang tidak senang saat mendengar pendapat orang.


"Kamu tidak cerita kalau dia mantan kekasihmu," kata wanita itu dengan serius. Dia melirik ke meja pada pistol yang tadi digunakan untuk menodongnya.


"Tahu dari Sean, ya?" Niko mengangkat satu sudut bibirnya. Dia duduk di atas meja yang menempel di dinding, dengan melirik ke Emma yang di tempat tidur. "Kini tidak ada yang membelaku, kalian jahat."


"Dia istri David." Emma mencicit. "Aku ingin melihatnya, Kak Niko? Bagaimana kehamilannya."


Sebuah ponsel diambil dari dalam tas ransel, Niko membuka galeri dan memperlihatkan pada Emma yang berdiri dan mendekat.


Melihat apa yang ditunjukkan Niko, foto-foto Lena yang hamil besar. Emma merasa kasian sekali dari mata Lena tidak bersinar dan tampak tertekan. "Dia tidak bahagia denganmu. Lena itu sahabat kita. Kau tega sekali?" Suara Emma meninggi, tidak habis pikir dengan Niko.


"Aku tidak berharap banyak padamu, tetapi jika kamu tidak memberitahu tahu siapapun soal aku termasuk pertemuan kita. Kupikir aku bisa mempertemukanmu dengan Lena. Namun, jika kamu nakal, aku pastikan kamu juga takkan bisa menemui Lena."


Deg. Mata Emma berkedut. Seumur-umur baru kali ini dia diancam oleh selain keluarganya. "Dimana kamu akan mempertemukan aku dan Lena, kapan. Apa bisa sekarang?"


"Tidak." Merebut ponselnya kembali, Niko tersenyum simpul. "Senang bisa melihatmu setelah sekian lama."

__ADS_1


Jantung Emma berdegup kencang saat tangan Niko menarik pinggangnya mendekat.


"Apa Sean telah menciummu ...."


Alis Ema berkedut karena Niko melihat ke bibirnya. Dia berpikir jadi tidak karuan. "Kenapa tanya itu."


"Aku duga belum." Niko tertawa ringan dan terus melirik bibir itu.


Suasana menjadi lebih canggung saat Emma berusaha melepaskan tangan Niko dari pinggangnya.


"Aku ingin menelpon Lena dan mendengar suaranya." Emma menyentuh ponsel di tangan Niko dan pria itu menatapnya tanpa dia bisa menebak.


"Tidak, Emma. Aku tidak akan menghubungkanmu dengan Lena sebelum aku yakin kau mendukungku dan bukan pacarmu."


"Mendukung?"


"Ceritakan hubunganmu pamanmu dengan George yang kamu ketahui."


"Tuan George .... " Emma menggelengkan kepala dengan cepat. "Aku tidak mau mendengar soal pria itu."


"Kenapa?"


"Keponakan Tuan George, itu adalah Ayah Donna."


Membelalakkan mata, Niko mendapati kilatan ketidaknyamanan dari tatapan mata Emma.


"Aku tak mau berurusan atau membahas mereka." Emma berbalik dengan wajah sedih. Sekelebat bayangan dan suara gaduh diikuti penampang hangat yang memerangkap punggungnya. Emma mendongak ke samping kanan dan melihat tangan Niko yang mengelus ke dua bahunya.


"Sorry, aku tak bermaksud membuatmu sedih. Tapi aku butuh itu. Apa George bersikap tidak baik padamu?"


"Sudahlah tak usah menyebut dia." Emma menepis kedua tangan Niko dari bahu dan bergeser menjauh. Aroma musk membuatnya pusing. "Lena akan melahirkan, aku ingin melihatnya sekarang-" Emma merinding saat lengan Niko melingkar dan memeluk bahunya, menarik kembali hingga punggungnya membentur dada pria itu. Napasnya seketika tertahan, lalu bernapas cepat.


Wanita itu terkejut saat dagu Niko mendarat di pucuk kepalanya. Kedua tangan Niko menumpuk di kedua punggung tangannya, menjalin jari-jarinya.


"Aku ingin memelukmu, Emma."


"Maksudmu?"


"Aku ingin ... sekedar memelukmu. Entah kenapa aku ingin memelukmu?" gumamnya diikuti helaan napas.


"Laki-laki dan perempuan tidak boleh asal seperti itu."


"Bukankah, kamu senang seperti ini? Kau tidak menolakku, karena kau nyaman denganku, ya?"


Emma tak bergeming. "Karena kau masih temanku. Sebatas itu."


"Omong kosong apa ini."


"Sorry," katanya dengan tulus. Niko tersenyum simpul karena pipi Emma yang memerah dan napas wanita itu meningkat. "Sayang sekali, kau telah menjadi kekasih Sean, ya?"


Emma menoleh ke kanan dan menatap bingung. Hembusan udara panasnya terasa bertukar dengan udara dari hidung Niko.


"Kamu tidak mau memasakan makan untukku lagi? Apa kamu masak untuk Sean juga?"


"Aku belum sempat masak untuk Sean. Kupikir aku akan melakukannya besok."


"Aku kecewa."


"Kenapa?" suara Emma sedikit meninggi, dengan napas lebih sering karena napas Niko.


"Ternyata kamu tidak masak cuma untuk aku?"


Emma mendapati ekspresi datar pria itu dengan hati mendadak bergetar. "Sepertinya, kau cuma mengejekku." Emma tersenyum dengan sendirinya begitu Niko tersenyum. "Apa kau senyum-senyum."


"Kau tidak mau menawariku alkohol?" Niko mengernyitkan kening.


"Kamu pasti banyak masalah, ya!"


"Kau berhutang padaku." Niko bergumam dan menjatuhkan dagu di bahu sisi kanan Emma.


"Hutang apa ... atau jangan-jangan kau sudah mabuk?" Emma terkikik.


"Jangan kau coba mencuri kesempatan." Niko melirik gundukan daging di depannya dan berikutnya pandangannya tertutupi telapak tangan Emma, yang memaksa terlepas dari tangannya.


"Kau lihat apa dasar messsum."


"Ini enak Emma. Aku bahkan sedang tak ingin melihat apapun saat ini. Gelap menyenangkan hanya mendengar suaramu. Tetap seperti ini." Niko melihat kegelapan dalam Tangkuban tangan yang gelap, dipedulikan rasanya enak. Tidak bisakah Lena seperti ini padanya.


"Lelahkan? Tidak bisakah kamu hidup normal. Aku juga ingin sekali melihatmu bahagia."


"Baumu enak."


"Jangan menghirupnya. Aku milik Kak Sean."

__ADS_1


"Benarkah .... " Dua sudut bibir Niko mengkerut dan makin mengendus bau bunga dari bahu itu. "Apa Sean seperti ini?"


" .... " Emma terdiam, Niko membingungkan. "Ini sebatas teman. Kak Sean adalah ... segalanya."


Niko menelan Saliva kasar. Tangan kanannya meremas kuat ke tangan Emma.


"Sakit .... " Emma refleks menjauhkan tangan dari mata Niko dan melirik tangan kanannya yang ditekuk Niko sampai meninggalkan jejak merah.


Niko melirik kelopak mata Emma yang bergetar. Dia baru menyadari Emma memiliki aura menarik saat wanita itu kesakitan. Tidak! Dipikirkannya hanya ada Lena, satu-satunya! Dia menjauh dari Emma. Jadi, tidak ada informasi soal George, apa sia-sia pertemuannya?


Suara bel berbunyi. Niko dan Emma menoleh ke arah pintu bersamaan. Lalu saling berpandangan.


"Aku akan mempertemukanmu dengan Lena kalau kau mendukungku." Niko melirik mata Emma, secara bergantian kanan-kiri, mencoba mencari tahu, apa Emma bisa dipercaya.


"Kak, aku akan merahasiakan soal kamu, walau aku tak mendukung perbuatanmu. Kupikir Kakak tidak perlu melakukan seperti ini," kata Emma sambil tersenyum getir.


"Aku pernah melalui. Rasanya begitu lelah menunggu. Membuka hati untuk cinta yang lain, itu lebih indah .... Aku cuma tak ingin kakak merasakan sepertiku," kata Emma lembut lalu mencium pipi Niko.


Seolah terbius dengan kata Emma, Niko membeku sambil memegangi pipi, mengelus bekasnya. Beginikah rasanya dicium? Dia sampai lupa pada luapan kesenangan seperti ini dihatinya.


"Aku pernah kehabisan harapan," serak Emma dengan mata berkaca-kaca. "I-tu sa-kit," bisiknya gemetar. "Aku tahu."


"Kakak itu laki-laki, kan?" Emma menyentuh lengan Niko dan menekan kekuatan otot trisep dengan memandangi itu. Air mata jatuh melewati pipi. "Bayangkan aku, perempuan, semua keluarga mencaciku saat kehamilan Donna. Aku diusir. Hanya Paman Paol yang berdiri menggendongku dipunggung membawaku keluar dari rumah orang tuaku yang adalah tempat kakek juga. Mungkin, ya betul hidup terasa kejam, termasuk untuk Kakak? Mungkin aku tidak ada apa-apanya." Emma mendongak dan lagi dua embun bening jatuh dari pelupuk mata di pipi Kanan dan kiri. Menatap mata Niko yang tampak begitu memperhatikannya dengan pandangan mata tercengang.


Emma tertawa kecil dan menghapus air mata dengan telapak tangannya lalu tersenyum dengan tulus. "Aku tahu kakak memiliki hati malaikat. Sayang kalau kakak mengotori itu dan tidak-" Emma menggelengkan kepala -" Maxudku seandainya aku bisa mencintai kakak. Aku akan mencintaimu dengan setulus hati. Aku sedih melihatmu seperti ini."


Pipi Niko itu ditepuk-tepuk dengan lembut saat suara bel terus berbunyi. "Lututku begitu lemas, aku rasanya mau jatuh karena melihat kakak begitu menyedihkan."


Emma mengusap, mencubit pipi Niko. Mata pria itu tak berkedip. Sementara kaki Emma terasa kesemutan, mati rasa seperti tidak ada aliran darah. "Hei, jangan diam, aku mual. Apa aku akan pingsan."


Wanita itu berpaling dan menjauh dari Niko lalu memegangi kening, tetapi lututnya terasa tak bertulang. Lututnya lunglai, tertekuk dengan sendirinya dan dia limbung ke belakang dan melihat wajah Niko diatasnya. Emma tersenyum ramah karena Niko menolong dengan menahan punggungnya. "Kakiku ada apa ini .... Sepertinya, selalu seperti ini setiap aku teringat ayah Donna dan keluargaku. Ya, aku kecewa."


Niko terus memandang Emma dengan hati seperti ditikam sembilu, tetapi ini berbeda ... Sangat berbeda, seolah ada sebuah motivasi, harapan , .... Entah itu apa.


Ponsel berdering ....


"Dudukan aku dibawah .... Kakiku beneran kesemutan," perintah Emma pada Niko dan pria itu membantu meluruskan kaki Emma. Tas Emma di dekatkan ke samping Emma.


Emma terus tersenyum hangat pada Niko sambil menarik ponsel. Dia menjereng ponsel ke Niko. "Kak Sean. Lihat kan, saat aku membuka hati, ada malaikat datang."


Niko tersenyum tipis dan mengangguk, dia diam saat Emma mengangkat telepon.


"Emma, aku di depan! Kau membuatku khawatir saja."


"Apa-" suara Emma retak. Dia dan Niko membelalakkan mata.


"Aduh, bentar, kakiku keram, Kak." Emma menyadari wajah Niko yang memucat. Emma menganggukkan kepala dan tersenyum pada Niko.


"Ha? Biar aku dobrak pintu ini, tunggu -"


"Jangan-"


"Kenapa?"


"Aku belum pakai celana!"


Mata Niko membulat sempurna dan terdengar sunyi, Niko tahu pikiran Sean sekarang, dia juga sama terkejutnya.


"Hu'uh?" suara Sean mengecil. Niko dapat membayangkan wajah Sean yang merah.


"Tunggu di depan sebentar. Aku matikan ya?" suara Emma lembut dan membuat Niko membuang muka dan menggaruk tengkuk.


"Okay, jangan terburu-buru. hati-hati."


Niko memelintir bibir, dia dapat merasakan kekhawatiran Sean. Semua orang bahagia, kecuali dirinya. Niko berdiri, kekecewaannya kembali muncul ke dada.Dengan tak bersemangat memasukan ponsel ke ransel. Dia berjalan ke jendela, menyingkap tirai. Terlihat di luar jendela itu seperti parkiran di sisi lain gedung.


Memeriksa sekitar, Niko melihat Emma yang masih memperhatikannya. Dia menelusup melalui jendela dengan sesering mungkin melihat Emma. Berhasil melompat keluar, tirai itu otomatis tertutup, Niko menjauh dari jendela dan memakai topi, untung dia membawa masker cadangan.


Keluar dari pintu kamar, Emma menutup pintu hati-hati. Tampak Sean menunggu di luar dengan bersandar pada dinding sambil melihat ke lantai. Pria itu yang menyadari keberadaannya, lalu melompat ke arahnya dan melihat dari bawah ke atas.


"Kamu .... Tidak terluka? Ah, maksudku, kakimu keram?" Sean berlutut memegangi kaki itu, dan sekelebat aroma parfum Niko tercium hidungnya. Ah pasti itu karena ingatannya atau karena tadi sempat memegang Niko.


"Aku tidak tahu, tadi keram, sekarang masih terasa aneh." Emma meringis merasa bersalah. Haruskah dia menyembunyikan dari Sean! Ini seperti kejahatan nyata. Dia berjongkok dan menarik tangan Sean. "Sudahlah, aku tidak apa-apa. Ayo, antar aku pulang."


"Teman kamu?" Sean melirik ke arah pintu kamar hotel.


"Dia tidur. Ayo cepat pergi, aku tidak nyaman berdiri terus."


"Mau aku gendong?" Sean merasakan wajahnya menghangat, tetapi Emma hanya tertawa dan melewatinya. Dia mengejar Emma yang melangkah cepat. "Kau yakin tidak apa-apa? Padahal, aku mau menggendongmu ke rumah sakit."


"Aku sepertinya perlu minum susu saja." Emma melirik pipi Sean yang memerah. Selanjutnya, dia terkejut mendapat genggaman tangan Sean. Dia terus digandeng sampai parkiran dan tak sengaja melihat asisten Paolo.


"Nona, anda tidak apa-apa?" Tanya asisten Paolo dengan pandangan penasaran.

__ADS_1


"Memangnya aku kenapa?"


Asisten dari Paolo mengembuskan napas panjang. Sepertinya, dia dikerjai Sean. Tapi kenapa tadi dua orang itu saling bergandengan tangan? Tuan Paolo perlu tahu ini ,lalu tatapan Sean itu ... Akan menjadi masalah di dalam keluarga besar Banchero.


__ADS_2