
David baru saja keluar dari kamar hotel yang ditempati Luigi, suara langkah kaki di belakang terdengar berlarian mengejarnya. Dia buru-buru akan menjemput Lena pulang, tetapi tangannya ditarik lagi oleh sang mantan. Kini wanita cantik berwajah pucat itu berdiri di depannya dengan air mata membasahi pipi.
"Jangan pergi kumohon, akan kulakukan apapun asal kamu tetap di sampingku. Enam tahun bukanlah waktu yang sebentar, kumohon Leo."
"Shinta, enam tahun bukan waktu sebentar, tetapi kamu menghancurkan enam tahun itu begitu mudahnya. Saat kau bersama dengan Tara apakah kamu mengingatku atau kau hanya mengejekku di depannya! Kenapa juga harus Tara? apa sahabatku tak tahu diri itu menggodamu? atau dia begitu menggoda untukmu?" David bergidik dan melepas genggaman tangan Shinta. "Sekarang ke mana Tara mu?"
"Aku tidak mau menikah dengannya, Leo! Aku menyesal, aku mengaku salah. Itu kan habisnya kamu selalu sibuk sendiri dengan bisnismu?" kata Shinta dengan Isak, mencari alasan yang masuk akal.
"Tetap saja kau tak sepantasnya melakukan hal hina di belakang calon suamimu!" David memutar mata ke samping dengan mata berkaca-kaca. Dia tersenyum sinis. "Aku jadi berpikir seandainya kita telah menikah nanti, kamu juga akan melakukan hal buruk seperti itu saat aku sibuk? Bukankah aku sudah meluangkan banyak waktu untukmu dan itu masih saja tak cukup bagimu? tega sekali kau, Shint!"
Nada suara David berubah rendah dan penuh penekanan di tengah nafasnya yang tengah-tengah. "Jangan menyamakan aku dengan Tara. Aku mengurus semua bisnis keluargaku di beberapa negara dan Tara hanya sibuk dengan satu perusahaan di Italia." David geleng-geleng kepala, seharusnya seperti itu saja Shinta sudah tahu.
"Leo, dengarkan aku! aku mencintaimu dan kau mencintaiku!"
David tertawa mengejek, rahangnya terasa mengeras, bila lebih lama lagi pasti dia akan meledak dan tak tahu apa yang akan dilakukannya. "Iya aku mencintaimu, Shinta. Konferensi pers barusan sudah jelas, aku mendatangkan awak media langsung dari Italia, agar semua dunia tahu bahwa hubungan kita selesai sampai disini! Kau tahu? cintaku padamu seketika hanyut ke neraka bersama sakit hatiku padamu! Aku sangat menyesal pernah mencintai kamu dan terlalu banyak mengorbankan waktuku!"
David begitu terpukul dengan kata-kata kasar yang keluar spontan dari mulutnya. Dia tak bermaksud menyakiti Shinta, tetapi dia benar-benar lelah, berbicara dengan Shinta sangat menguras tenaganya. Bukan ini yang dia harapkan, dia hanya ingin berpisah dengan cara baik-baik seperti ketika dia memulainya.
"Leo!!!" Teriak Shinta dengan kegeraman saat David meninggalkannya. Dia balik ke kamar, mengabaikan pertanyaan papa dan mamanya yang selalu melarang ini itu. Sekarang hiburan adalah paling cocok, tak lupa dia mengundang teman hangout.
Shinta tidak akan tinggal diam karena omongan Kakek Leora, bahwa David melakukan konferensi pers itu karena David akan menikahi gadis volunter. Jika papa tidak bisa melawan David dan memilih menyerah, dia akan melawan dengan caranya sendiri.
...----------------...
"Untuk apa kita ke sini, apa Rafa di sini?" Lena berteriak di telinga Ika yang sibuk mencari seseorang. Dia tak yakin suaranya dapat didengar karena musik terlalu keras.
Ika terus jalan menarik Lena, melewati orang yang berdesak-desakan sampai kemudian berhenti di meja bar yang lumayan longgar.. Orang-orang memandangi Lena dengan cara aneh di ruangan remang yang yang banyak sorot Lampu warna kelap-kelip. Jantung Lena pun berdebar dan telinganya sakit karena dengungan jedag-jedug.
"Lena kamu tunggu di sini, aku akan ke sana sebentar, nggak lama kok." Ika menunjuk sofa di sudut di mana terdapat sekumpulan pria. "Telepon aku nanti, soalnya temannya Rafa nakal dan aku nggak mau kamu jadi kena imbasnya."
"Ta-tapi, Ka!" Belum sempat Lena menjawab, Ika telah lebih dulu meninggalkannya. Dia menggigit bibir bawah. Enakan juga tidur di mess. Kenapa kamu bangunin aku dan membawaku kesini, kalau cuma akhirnya ditinggal sendiri.
Lena memeluk lengannya, bulu kuduknya meremang saat mendapat tatapan nyalang dari para pria bule. Dia menutup kudung jaket ke kepalanya karena AC yang sangat dingin dan menatap heran pada orang-orang berjoget terutama perempuan apa mereka tidak kedinginan dengan pakaian mini.
Sementara di sudut kursi, Marco baru saja memesan minuman dan tanpa sadar melirik seorang pria yang menarik sesuatu dari saku celana, lalu membubuhkan serbuk ke dalam segelas minuman dan mengaduk dengan cepat. CK das4r pria tak bermoral, banyak keamanan di sini, tetap saja kecolongan pengunjung nakal.
Sementara di sudut lain Shinta tengah duduk dengan teman-temannya, dia mengotak-ngatik ponsel sembari menyesap vo*ca. Sesekali satu tangannya terus berjoget dengan mengangkat gelas dan berteriak menikmati musik DJ. Dia mengabaikan nasehat temannya agar tidak mengkonsumsi alkohol di kehamilan mudanya.
Shinta menyalakan rok*knya, sambil memikirkan cara lain untuk menghancurkan Lena. Akun anonim telah dibayar untuk mengganggu akun media sosial milik Lena agar orang-orang di negara asal wanita itu berame-rame mengecam Lena karena menjadi penyebab retak hubungannya. Jika bukan karen Lena, dia yakin David masih akan mau mendengarkannya.
"Aku coba kirimkan fotoku ke David. Kamu pasti akan kasihan melihatku." Shinta dengan seringai licik, meminta sang teman mengambil gambarnya, dimana dia pura-pura teller. Kemudian foto itu dikirimkan ke nomer David lewat nomer sang teman. "Pasti kamu akan datang."
Segelas es dipandangi Lena baik-baik. Itu es teh dengan potongan lemon. Si pemberi minuman itu bahkan sudah pergi sebelum Lena sempat bilang terimakasih. "Apa di tempat seperti ini memang ada minuman gratis?"
Marco melirik wanita aneh yang mengenakan jaket, yang baru diberi minuman yang dicampur sesuatu oleh pria nakal. Apa gadis itu tersesat? tetapi tak boleh dong asal terima minuman begitu saja.
__ADS_1
"Kemana ba*ingan itu?" Marco melihat sekitar pada sekerumunan orang dan orang tadi menghilang, sebenarnya apa niat pria itu. Marco begitu gatal untuk tidak ikut campur. Dia berjalan mendekat pada sang gadis yang sudah meminum setengah gelas. "Hei Nona, apa kamu tersesat di tempat ini?"
"Hai, Tuan." Lena menggaruk telinga dan menatap pria yang tingginya hampir menyamai David. "Saya menunggu teman saya di sana," kata Lena saat perlahan tubuhnya terasa enteng.
"Kenapa kau tidak bergabung dengan temanmu? atau kamu mau berjoget dan melemaskan otot-otot mu denganku?" Marco dengan satu alis terangkat sambil menunjuk lantai dansa. Dia butuh hiburan dari kejenuhan pada hubungannya dengan yang istri.
"Maaf, saya hanya sedang menunggu temanku. Jadi, saya akan tetap di sini."
Marco mengangguk pelan saat mendengar teriakan gugup itu. Lucu sekali kenapa jadi mirip Bianca adikku. Ternyata bila dilihat dari dekat wajah mungil itu sangat manis.
Menjauh dari gadis itu, Marco bergabung dengan yang lain. Dia berjoget dengan mengikuti musik. Namun, matanya sering tertuju pada wanita berjaket, bagaimana tidak, penampilan itu sangat mencolok. Serigala lapar pun tahu bahwa itu mangsa yang sangat lezat, terlebih kepolosannya. Benar saja beberapa pria besar mencoba mendekati dan menggoda, hingga Marco gatal dan kembali mendekat ke gadis yang duduk dengan bersandar pada meja bar.
"Dia bersamaku pergilah sebelum aku meremukkan seluruh tulangmu, lalu kalian lumpuh dalam menit ini," tantang Marco dengan penuh penekanan hingga membuat tiga pria pendek itu mundur dengan terus menggerutu.
"Hai, nona kau baik-baik saja?" Marco duduk di kursi sebelah saat gadis itu menempelkan kening di meja bar.
"Oh kenapa pandanganku bergoyang, aku tak bisa merasakan tubuhku," serak Lena dengan wajah masih terbenam di meja.
Polos sekali gadis ini. Dia tak sadar tempat ini berbahaya? Marco melihat ke tempat teman dari gadis itu, tetapi perempuan muda yang tadi sempat dilihatnya, sudah tidak ada di sana. "Itukah yang kamu bilang teman?"
Lena mencoba mengangkat kepalanya yang limbung, dengan susah payah dia meraih ponsel di dalam tas, tetapi ponselnya jatuh. Saat dia akan mengambilnya, tangan pria asing menahannya. "Niko ...."
Marco turun dari kursi, dia mengambilkan ponsel. "Siapa yang mau kau hubungi? biar kubantu?"
"Kamu mau menghubungi siapa?" Marco tergagap saat gadis itu menoleh padanya dengan pandangan linglung.
"Ika, Sean, Abang, Niko .... " Lena berusaha meraih ponselnya, tetapi masih ditahan pria itu. Dia pikir pria itu adalah perampok yang akan mengambil ponselnya, tetapi kenapa mau membantunya.
"Ika?" Marco mencari nomer telepon bernama Ika dan melakukan panggilan beberapa kali. "Tidak di angkat, siapa lagi yang akan kamu hubungi?"
"Niko kamu jahat!" Lena meringis dan begitu sakit hati.
Marco garuk-garuk kepala karena gadis itu tampak mabuk. Dia mencari orang yang akan dihubungi, diriwayat panggilan terakhir hingga terdapat nama Niko seperti yang disebut-sebut wanita itu. Dia mengirimi pesan ke nomer bernama Niko dengan memfoto gadis itu, tetapi tak terbalas.
"Ayo kekasihku, kamu disini."
Marco menyipitkan mata geram pada pria yang tadi yang membubuhkan minuman. Dia langsung menepis tangan pria tua dari bahu gadis itu. Bahkan pria itu berniat buruk dengan mengaku sebagai kekasih. "Apa aku harus melaporkanmu ke keamanan atas minuman yang kau campur dengan sesuatu? Pergilah sebelum aku memanggil mereka!"
"Shi*t!" umpat si lelaki hidung belang. Rencananya untuk menjual gadis yang tampak polos itu, gagal karena pria dengan aura mendominasi yang ikut campur. Namun, dia memilih menyerah dan pergi mencari mangsa lain.
"Huh merepotkan saja!" Marco yang niat hati mau bersenang-senang, tetapi justru harus direpotkan akibat ulah gadis ini. "Seharusnya kamu itu tidak asal menerima minuman! mana temanmu justru pergi?"
"Niko aku kurang cantik atau kurang kaya!" Lena terus bergumam tak jelas.
"Ck! Apakah kamu patah hati? lalu memutuskan datang ke tempat ini?" Marco mengalungkan tas wanita itu di leher, dengan posisi tas dipunggung. Karena gadis itu kecil, dia akan kesulitan memapah. Marco membopong gadis mungil di dada depan. Dia berniat akan membawa ke hotel yang terletak di sebelah.
__ADS_1
Shinta makin kegirangan karena balasan dari Nomer David. Dia kembali menghabiskan satu gelas vod*a dan berpikir akan mengelabuhi David. Kalau bisa dia harus menghabiskan malam bersama.
Sepanjang berjalan melewati lorong, Marco mengamati gadis Asia itu. Air liurnya makin mengental dan sebagai lelaki normal, pasti inilah godaan besar. Dia menelan Saliva dengan kasar saat melihat leher jenjang. Tidak Marcho, tidak Marcho!
Setelah siksaan panjang untuk tidak mencuri kesempatan, akhirnya Marco sampai di meja resepsionist. "Tolong kamar cepat, aku akan urus di kamar." Marco menunggu beberapa saat sampai seorang petugas mengikuti ke kamar dengan membawa kunci 606. Dia menidurkan gadis itu di ranjang dan menandatangani dokumen pemesanan kamar sekaligus menggesek kartu kreditnya.
Berusaha secepat kilat, Marco menyelimuti gadis itu dengan lampu masih padam dan mengandalkan cahaya dari lorong. Dia berlari sebelum setan mengelabuhinya dan memasukan kunci elektrik di tempat yang seharusnya hingga suara AC yang mulai menderu menyala otomatis. Marco dengan ngeri cepat-cepat keluar dari kamar.
Menghembus nafas kasar, Marco berulangkali mengelus dadanya karena lolos dari godaan. Dia berjalan cepat, sekaligus tak rela meninggalkan gadis itu sendirian. Marco jadi berpikir dia terkena sial karena tak mengabari keluarganya bahwa dia ke negara ini diam-diam. Marco sampai menyewa hotel di luar, padahal bila di hotel milik Papa Adrian, dia takkan perlu membayar.
"Kenapa Papah Adrian tidak menyerahkan hotel itu ke aku saja? Politik sangat melelahkan. Mengapa aku susah-susah mencari dukungan rakyat?" Marco dengan wajah suram, melirik angka digital '6' , diikuti suara dentingan lift terbuka. Dia masuk ke dalam pintu lift dengan melamun.
Sementara dari lift lain, di lantai yang sama, David berjalan cepat sembari menggendong Shinta di punggung. Dia tak sampai hati mengabaikan Shinta di tempat penuh lautan manusia yang berotak M3*um. Di bukannya kamar 607, dan dibaringkan Shinta. David cepat-cepat ikut ke kamar mandi karena tak tahan buang air kecil.
Shinta yang mendengar suara air seni yang mengucur di closet, langsung bangkit dan mengendap ke tempat air mineral. Dia mengeluarkan obat khusus yang didapatkannya secara mendadak. Dengan jantung berdebar dituangkan semuanya satu botol cairan obat. Orang itu bilang itu, tidak akan ada rasanya. Kemudian satu botol air mineral yang lain di sembunyikan dibalik tirai, hingga hanya ada satu botol air bercampur obat di atas nakas.
David mencuci wajahnya karena bekas kecupan Shinta. Dia bergidik karena Shinta begitu agresif dan mulut mantannya sangat bau alkohol. Apa aku perlu menelpon Tara? Ah itu sangat lucu!
Pria itu keluar dan melirik Shinta dengan tatapan nanar. Baru diselimuti, selimut itu sudah tersingkap saja. David mendekat karena rintihan Shinta. Dia memegangi kening Shinta dengan hati-hati yang sedikit terasa panas. "Ini terasa panas.
Saat David akan berdiri, Shinta menarik tangannya hingga pria itu terduduk. Wanita itu merintih kehausan, dengan lembut David menyingkirkan tangan itu dan mencari-cari air mineral. David meminumkannya pada Shinta, tetapi gadis yang matanya sedikit terbuka langsung menggelengkan kepala dengan wajah begitu sayu.
"Kamu dulu minum, baru aku!" ketus Shinta dengan suara manja dan terus memukuli pinggang David. "Kenapa kamu ninggalin aku, kamu melupakan semuanya, aku tak bermaksud demikian, aku ingin mati saja David!" Isak Shinta tak terkendali.
David menenggak setengah botol dengan cepat hanya karena ingin cepat pergi. "Sudah kamu minum dulu, pita suaramu bisa rusak, jangan teriak-teriak." Pria itu dengan hati-hati mengangkat kepala Shinta dan membuat Shinta minum hingga air mineral itu Habis.
"Jangan pergi," Isak Shinta menahan pinggang David. "Sebentar saja temani aku sampai mataku terpejam. Aku takut Leo."
Sehelai rambut disingkirkan dari wajah Shinta yang kini terpejam. "Jangan takut, tidurlah. Aku akan menunggumu di sini."
Teruslah menunggu sampai kamu kepanasan dan aku sudah menyiapkan kamera tersembunyi untukmu! batin Shinta sampai dia mulai merasakan kegelisahan David yang duduk dengan tidak tenang.
"Aku mau muntah, tunggu sini," suara Shinta serak dan berjalan ke kamar mandi.
Sementara di lantai bawah, Marco meraba-raba kunci mobil. "Jangan bilang ketinggalan di kamar!" Dia berbalik ke resepsionis, dan berkata pada tugas tadi. "Tolong kunci kamar 60 .... "Marco memikirkan jeda tiga detik. "607."
Telepon terus berdering hingga dia tak mendengar ucapan resepsionist dan berbicara dengan Kakek Leora di telepon. Dia menarik kunci, lalu berjalan cepat memasuki lift.
David merasakan seluruh badannya panas, dan nafasnya mulai tersengal. Dia bangkit dan mematikan lampu kamar agar Shinta bisa langsung tidur dengan berkualitas. David secepatnya berjalan ke luar kamar, dia yakin Shinta yang mabuk takkan menyadari bahwa dia pergi.
Tampak kamar di samping sedikit terbuka dan tak terkunci, sepertinya sudah ditinggal penghuninya. David masuk dan menutup pintunya, melewati ruangan lumayan gelap dan langsung ke kamar mandi.
Pintu Kamar 607 dibuka Marco, dia yang baru masuk tak mau mengganggu gadis itu, jadi dalam kegelapan dia meraba nakas dan di tempat tidur tampak rata. Pintu kamar mandi terbuka. Marco menelan Saliva kasar pada siluet perempuan, dan dia terbius dengan kedatangan gadis itu. Marco membeku karena genggaman sensual Gadis itu. Oh ternyata kamu tak sepolos kelihatannya! Baiklah aku ikut caramu, gadis manis Asia!
__ADS_1