Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 47 : USAHA


__ADS_3

Pagi itu Lena berangkat jam tujuh pagi, setelah dia masak untuk sang kakak. Sedangkan bapak dan ibu sedang diluar kota dan baru pulang nanti sore. Saat dia berhenti di lampu merah ke dua, dia terkejut saat tiba-tiba motornya bergoyang dan seseorang menepuk bahunya. Dia menoleh ke belakang dan pria berwajah ganteng sudah di belakang, lengkap memakai helm.


"Mas? kok bisa!"


"Jalan dulu! Itu hijau!"


Lena dengan sedikit gugup sambil berusaha menyeimbangkan motor agar stabil. Kaki David saja sampai menyentuh di atas pahanya, saking panjangnya. Dia mulai menepi dan mengemudi perlahan di sisi kiri jalan, dan berbicara tanpa menoleh. "Mas, kamu pasti duduk kesusahan. Kenapa naik motor?"


"Aku merindukanmu teramat, Sayang. Katakanlah caranya agar aku memiliki waktu berdua denganmu?"


"Hari ini aku pulang lebih awal jam 4, kamu mau kemana?"


"Hotel .... "


"Enggak! kamu mau di sm4ck down kakak, ha?"


"Kan kakak gak tahu."


"Enggak! teman kakak banyak."


"Hugh," gerutu David. Jam istirahat aku jemput ya? lihat pabrikku mau?"


"Pabrik? Dari semalam itu aku mau tanya pabrik itu. Di mana?"


"Sepuluh menitan tidak jauh, nanti aku jemput kamu, Sayang."


Sesampai di tempat kerja Lena, David berjalan ke mobil untuk mengambil buket mawar. Beberapa supir truk terus mengamati Lena saat pria itu memberi buket, lalu tanpa permisi memberi kecupan di kening Lena sampai membuat Lena mundur dua langkah saking terkejutnya.


"Mas, jangan main cium-cium di depan umum. Nanti telingaku panas karena jadi bahan omongan mereka."


David tersenyum menang sambil menggenggam jemari mungil. "Makannya nikah dong, jadi nggak jadi omongan."


"Mas tahu nggak, semalam aku dimarahi bapa karena tidak sopan pada keluarga mas. Aku sampai di suruh minta maaf, terutama pada kakek Leora."


"Ya sudah, nanti kamu minta maaf sekalian."


"Maksudmu?"


"Rahasia! " David mengecup dengan lembut kening Lena sampai membuat wajah ayu itu memerah. David mengecup pipi kiri Lena lama, lalu berbalik badan saat sang kekasih mendengus. Pria itu menatap Lena sebelum akhirnya naik mobil berplat putih yang baru dibeli perusahaan barunya.


"Huft!" Lena senyum-senyum sendiri melihat kepergian mobil yang baru putar balik di depan garasi. Lena melangkah ke dalam kantor. Dia makin tertunduk, dan memberi salam pada para sopir.


"Kekasihnya ya Mbak Lena? mobilnya bagus banged!"celoteh sopir 1.


"Mbak Lena, ayo dong cepat halal dan bikin usahan armada sendiri, nanti saya ikut perusahaan Mbak Lena," celoteh supir 2.


"Mbak Lena benar, kalau sampai bikin perusahaan armada. Ingat aku ya mba!" celoteh supir 3.


Lena tersenyum penuh kehangatan. "Aamiin Pak. Doakan ya? baru masih calon."


"Aamiin moga bulan ini Mbak Lena nikah! kita diundang ke gedung, ya Mbak!"


Lena mengganguk dan terus mengamini, dia melewati sepuluh sopir yang tampak masih menggosip tentangnya. Benar kan kupingnya jadi panas. Dia memasuki kantor dan menaruh bunga di meja beserta tasnya, lalu langsung membuat kopi susu. Untung dia datang lebih awal, jadi tidak jadi pertanyaan tiga staf lainnya.

__ADS_1


...----------------...


Saat istirahat Lena buru-buru keluar membawa bunga sebelum teman-temannya keluar. Di depan dia menjumpai salah satu sopir tadi lagi dan mengatakan pacarnya sudah menunggu di depan. Lena langsung masuk ke mobil sedan BMW di kursi belakang dan meminta tolong pada Axel supaya langsung jalan.


"Padahal aku ingin teman-teman kerjamu tahu aku. Tapi, sepertinya kamu malu memiliki kekasih seperti aku, Sayang?" David mengkerutkan bibirnya dan menatap luar jendela dengan sedikit kecewam


"Mas, maaf. Tapi ada temenku yang namanya Yuni. Dia ahli gosip-"


"Kamu nggak mau digosipin bareng aku?" David melipat tangan di depan dada.


"Bukan begitu." Lena menghembuskan nafas panjang. Ni pria enggak tahu model julidnya warga +62. Pasti mereka mengira aku pake susuk buat ngerayu David. hihihi.


"Kenapa tertawa?"


"Kamu nggak akan tahu ini, Mas," suara Lena mengecil karena capitan lembut David dengan jari-jari yang terasa panas.


"Makannya kasih tahu, kan kamu calon istriku, bukankah kewajibanmu memberitahuku? Masa aku tanya Axel!"


Lena menggaruk kening dia bingung cara menjelaskannya. Suasana di kabin menjadi terasa panas. Lena tertegun, karena kini sebuah pembatas naik ke atas yang membatasi hingga Axel tidak terlihat lagi, suasana kian memabbukan, karena sentoran dingin AC kian meningkat, musik romantis Italia mulai mendengung. Cahaya dari atap kaca makin menampakkan dua wajah manusia yang diliputi kerinduan makin tampak memerah.


Mata Lena terpejam, berikutnya kehangatan kenyal mendarat di bibirnya saat tangan panas itu mendarat di leher dan menahan punggungnya. Tangan sibuk membel4i dengan kelembutan membentuk pola!-pola aneh hingga menggelitik telinga wanita itu yang terus berusaha menghindari jari nakal.


Lena langsung menahan rintihan saat David seperti beruang lapar yang menyesap bibirnya. Mata Lena terbuka saat David mengendus lehernya. Jari panjangmembuka satu persatu kancing kemeja Lena, tetapi Lena menahan pada kancing ketiga. David mengecupnya dengan sangat lembut dan menggigit kecil, memberikan tiga tanda, lalu mengancingkan kemeja Lena lagi.


Lelaki itu menatap mata hazel dalam-dalam. "I Love you, Lenaku."


"I Love you too, Mas David." Lena merasakan rengkuhan hangat dan elusan di rambut belakangnya.


"Jangan meninggalkanku, Sayang. Kau membuatku gila. Aku masih marah padamu. Bagaimana jika kemarin aku sampai melukaimu?" David mengelap matanya yang berkaca-kaca. Sejujurnya sampai sekarang dia masih marah soal itu. Dia sangat trauma dengan perasaan ditinggalkan. Lena membuatnya sangat terluka.


"Tunjukan cara agar Papahmu luluh, itu caranya. Kau tahu, Sayang. Aku sangat menginginkan seorang bayi. Aku membenci menunda pernikahan."


Lena terdiam dan kini duduk di samping David dengan merem4s jemari panjang di pangkuan David. Sesekali pria David mengecupi tangan Lena, dia masih belum berani bilang bahwa malam itu dia terpaksa melucuti pakaian Lena , bagaimana caranya untuk terbuka.


Aku takut kamu salah menafsirkan bila aku asal membuka pakaian wanita asing! (David)


Papan pembatas itu turun setelah David menekan remote dan mobil itu memasuki rumah yang tampak baru. Tanpa banyak menunggu, setelah mobil berhenti, Lena langsung loncat turun bahkan sebelum Axel turun. Langkah mungilnya menapaki paving di sela-sela rumput untuk menuju gazebo yang khas Bali. "Kakek .... "


Leora tersenyum lepas menatap gadis yang sedikit ngos-ngosan. "Lenaku kemari." Leora terus mengamati Lena yang baru duduk di tangga dan melepas sneaker. Lalu naik ke tangga setinggi satu meter. Senyuman tak pernah lepas dari wajah ayu itu.


Lena mengecup punggung tangan kakek, dan dia merasakan elusan hangat di kepala dari kehangatan tangan sang kakek. Lena duduk dengan kaki terlipat. "Kakek Lena mohon maaf. Atas sikap Lena yang sangat tidak sopan dan egois, tanpa memikirkan perasaan orang lain ataupun akibatnya. Lena sangat menyesal dan tidak akan mengulangi lagi .... "


"Aku mengerti. Kini kamu belajar dan kamu sudah berjanji takkan mengulangi itu. Jadi, semua beres kan? ... Aghh Kakek tentu sudah memaafkanmu. Mungkin kamu hanya perlu berusaha pada putraku, Adrian. Dia sangat kecewa padamu, Sayang." Leora tersenyum dengan sangat bijaksana.


"Om Ardian ...? "


"Iya, dia di dalam, cepat temui sebelum dia yang menemukanmu lebih dulu, lalu menganggapmu lebih buruk. Jadikan dia prioritasmu." Leora menganggukkan kepala dan Lena berdiri dengan tanpa mengenakan alas kaki, langsung berlari ke dalam. Leora mengayunkan kepalanya ke depan pada pengawal di dekatnya, hingga pengawal itu menyusul Lena, saat David baru datang dan duduk di depannya.


Lena melewati ruang tamu, ruang keluarga. Bau Kasturi khas seperti rumah Om Ardian di Qatar. Dia menemukan Ardian setelah diantar seorang pengawal ke sebuah ruangan golf yang dingin dan dinding berlayar bukit golf. Tampak Ardian mengelap keringat di kening padahal Lena menggigil.


Ardian tahu kedatangan Lena, tetapi dia tak menoleh. Menantu yang baginya kurang ajar itu harus diajar dengan kesabaran. Sampai dia merasakan Lena berjalan ke dekatnya. Ardian langsung melewati Lena seolah tidak ada orang.


Cukup Lama Ardian berdiam di balkon kamar, dia berbalik lagi dan menuruni tangga, tampak diujung tangga, Lena berdiri di tengah jalan. Dia melewati Lena setelah menatap tajam pada mata emas yang tampak merasa bersalah.

__ADS_1


"Percuma .... pergilah, kamu tidak pantas dengan David. Tidak memiliki atitude. Sebaiknya kamu perlu sekolah tata Krama. Lihat, cara berpakaianmu, kau mau mempermalukan keluarga kami? Minta David membeli pakaian paling bagus dan mahal, baru kesini dan rambutmu itu lepek .... Sungguh ya memalukan! Sepatumu juga kusam!"


Lena menunduk melihat celana hitam dan kemeja putih sederhana.Jika dia tahu akan kesini, pasti dia memakai gaun yang telah dibelikan David. Lena berjalan keluar dengan menyalahkan diri sendiri. Seolah tahu, David bangkit dari gazebo dan merangkul bahunya untuk masuk ke dalam mobil. Lena berbalik lagi, untuk pamit dengan kakek. Bahkan dia berlari ke pintu ruang tamu dan berpamitan ke Om Ardian dengan berjanji akan berpakaian lebih baik, saat kedatangannya kembali.


"Tunggu .... " Ardian mengeluarkan Black Card dan langsung mengulurkan ke udara. "Cepat ambil! Belanjalah yang banyak dan mulai sekarang jangan memakai pakaian dibawah harga 10 juta! Kau harus tahu, keluarga Xavero tidak pernah kekurangan uang hanya untuk berpakaian." Ardian meneliti mata emas yang masih membulat, lalu wanita itu menerimanya dengan gemetar. "Carikan untuk saya sapu tangan dan dasi, tanpa bantuan David!"


"Om Ardian .... "


"Panggil Papa!" Ardian memutar mata dengan malas ke kanan.


Lena tersenyum manis. "Papa Ardian .... " Lena sampai lupa, tadi mau berbicara apa karena begitu terkejutnya pada perhatian Om Ardian pada semua hal kecil tentangnya. Akhirnya dia ingat mau bilang apa. "Papa terimakasih banyak, Papa sangat bijaksana dan penyayang, mau mengerti Lena yang masih banyak membutuhkan bimbingan-"


"Sudah cepat pergi!" Jantung Ardian berdebar dan pipinya menghangat. Ardian menyembunyikan satu tangan di saku untuk menghilangkan salah tingkah. Si4l energi apa yang dipancarkan Lena, mengapa aku menjadi merasa bersalah sendiri karena tatapan manis itu. Membuat ku jadi merasa malu saja karena pujian itu. Padahal aku sering dipuji tetapi tidak seperti ini rasanya. Dia benar-benar tulus memujiku, si4lan!


"Terimakasih, Papah Ardian yang sangat baik .... Lena akan cari dasi dan sapu tangan yang terbaik untuk Papah." Lena menatap calon mertuanya yang sepertinya sangat marah sampai tidak mau menatapnya lagi.


Kenapa aku jadi seperti memiliki putri perempuan lagi? Dia memang mirip Bianca, sangat menggemaskan. Ardian melewati Lena dengan dingin menuju gazebo, karena gadis itu terus menatapnya tak berkedip.


Saat melihat gadis itu melewati gazebo, hati Ardian seperti diselimuti kehangatan dan perasaan kasih sayang yang entah datang dari mana. "Lena, jangan lupa belikan untuk orang tuamu dan kakakmu, jangan sampai keluargaku merendahkan martabat keluargamu."


Mata Lena berbinar. "Baik Papah ... sampai jumpa!"


Ardian terpesona pada wajah kegirangan itu yang berjalan dengan melompat-loncat menuju mobil. "Pah, Anda tidak lihat dia sangat kekanak-kanakan. Anda serius menerimanya sebagai bagian keluarga Papah?"


"Katakan saja kau tak bisa mengekspresikan kegembiraanmu, Putraku,? Kau jadi teringat Bianca? Dia dipenuhi energi positif dan menularkan semangat ke sekelilingnya. Kau bisa bayangkan ada dua wanita imut di dalam keluarga kita, pasti tidak akan sekaku seperti yang sudah-sudah." Leora tersenyum dengan semeringah karena wajah Ardian yang memerah, padahal jarang orang bisa membuat ekpresi Ardian menjadi salah tingkah begitu.



Sepanjang perjalanan, David mengelus kening Lena saat kepala mungil bersandar di bahunya. "Jalan kita tidak mudah, Sayang. Jangan menyerah."


"Kamu tidak bilang ada Papa Ardian, seandainya tahu, aku akan memakai baju bagus, yang kamu belikan, Mas."


"Aku tahu Lena. Aku hanya ingin memperlihatkan ke papa, betapa hebatnya dirimu tanpa aksesoris kemewahan. Kamu yang mampu meluluhkan hatiku diantara ribuan gadis berselimut kemewahan." David mengelus bahu Lena. Gadis itu kini menatapnya dengan tatapan galak seolah tak terima.


"Ribuan gadis?" Nada Lena meninggi dengan tidak ramah.


David mengangguk bingung, tampak Axel yang sedang mengemudi ikut melirik spion tengah.


"Sepertinya lebih dari itu!" gerutu Lena dan kini b0*k0ngnya bergeser hingga duduk paling jauh. Lena menunjuk pintu mobil karena David akan mendekat. "Diam di situ!"


Axel tertawa di dalam hati pada ekspresi kebingungan sang tuan. "Apa Anda cemburu, Nona Lena?"


"Apa! Kamu cemburu?" David mengulang perkataan Axel dan duduk menempel di pintu di sisi terjauh, memberi ruang sang pacar untuk marah. "Kamu cemburu?" David melotot dengan masih tak percaya, tetapi bola energi di dalam dirinya seperti akan meledak.


"IYA!" Lena berkata lagi saat akan bergeser. "Diam di situ!"


David melihat keluar jendela dan senyum-senyum sendiri. Ternyata sebegini menyenangkan rasanya dicemburui. "Maaf, Sayang. Tapi, kamu yang paling cantik dan sangat mengesankan di hati, pikiran, siang dan malamku. Ini terdengar manis, tapi bahkan lantai yang kupijaki dipenuhi bayang-bayang senyuman manismu. Kau mau membuatku gila, Sayang .... "


David menoleh dan mendapati wajah Lena memerah, jadi David diam begitu lama, tetapi terus memandangi Lena dari samping. Merekam setiap perubahan ekpresi dan kecanggungan Lena, ke dalam memori otaknya.


"Mas, nanti sore mau nggak temenin aku belanja? Ah Papa menyuruhku belanja untuk keperluan pertemuan." Lena langsung diam karena David menariknya hingga kini dia berada di pangkuan hangat sang kekasih. "Jika kau mau aku, yang menemani, rayu aku! Jika tidak, kau pergi saja dengan Axel."


Lena mengusap bibir David dengan hati-hati dan jantung berdebar. "Aku tidak perlu merayumu," kata Lena sangat lembut di depan wajah David, sampai Lena melihat jelas, saat David menelan saliva seolah terkejut.

__ADS_1


"Kamu kesatriaku, Mas. Kamu akan selalu di depan dan peka terhadap kebutuhanku. Apalagi bila aku tidak bisa jauh-jauh dari kamu dan membuatku tersiksa karena kesepian," kata Lena dengan sendu dan tatapan penuh arti.


"Aku akan temani kamu!" David mendusel-ndusel hidung Lena, dengan perasaan tidak nyaman. "Maaf, Sayang? Aku akan selalu menemanimu dan akan menghilangkan kesepianmu."


__ADS_2