Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
Shinta dan George


__ADS_3

David kembali ke kamar tidurnya. Dia mengembalikan tali ke tempat semula dan mendapati Lena tidak ada di atas tempat tidur. Dia memeriksa ke kamar mandi, walking closet dan dapur, pun tidak tampak keberadaannya.


Axel bergegas keluar dari rumah yang ditempati pekerja. Dia masuk ke halaman rumah utama setelah menscan tanda pengenal elektronik dan mendapati pos itu tidak ada security. "Kenapa berani sekali ditinggal tanpa ada penjagaan."


Suara gaduh memalingkan kepala Axel. Matanya membulat saat mengetahui kursi jatuh tergeletak dari pos yang cukup tinggi. Security itu dalam posisi tidur dengan kondisi terikat dan terbekap. Axel mengajak security datang menghadap David, saat David akan naik tangga. Jelas tuannya tampak kebingungan.


"Mereka mengaku Tuan Sean sedang menunggu kedatangan mereka. Katanya Tuan Sean sedang sakit dan hanya orang itu yang bisa mengobatinya. Saat saya akan melapor pada tuan Alex, dia menerima panggilan telepon dan menyebut nama Anda dan saya percaya. Semua terjadi begitu cepat, lalu saya membukakan pintu gerbang. Mereka bertiga mengelilingi dan bertanya pada saya. Berikutnya, mereka lalu membius saya."


David gelisah bukan kepalang. Dia melihat sekitar dengan pikiran melayang ke segala kemungkinan, bahwa orang itu tahu tentang Sean. David bersiap-siap, sedangkan Axel pergi ke kamar Sean.


Axel menjalankan mobil ke suatu tempat, dimana David dan Sean duduk di jok belakang. Sementara di samping Axel ada Agra-sopir Sean.

__ADS_1



Lena menggigil begitu dingin, dia membuka mata dan menemuimu dirinya dalam posisi tanah diikat ke atas. Tubuhnya berdiri di atas papan kayu selebar 1 m x 1m di tengah air kolam "Permisi? Apa ada orang di sini?"


Sementara seorang wanita mengamati Lena dari cctv. "Kalian yakin, David takkan tahu bahwa kita yang menculiknya?"


"Tidak. Kupastikan mereka tidak tahu. Aku sudah menyingkirkan pegawai itu dari rumah David." George pria berusia 40 tahun itu menyeringai.


"Harganya naik dua kali. Jika kau setuju, aku juga membutuhkan waktu satu hari. Jika kau tak setuju, aku akan membeberkan ke David bahwa kau yang merencanakan ini semua."


"Okey, aku akan usahakan uangnya." Sinta yakin pada pria didepannya bisa membereskan masalahnya.

__ADS_1


"Kau habisi dia dulu, aku akan membayar sisanya. Hancurkan wajahnya hingga tak seorangpun akan bisa mengenalinya!" Shinta berdiri dan meraih tas kulit buaya dari atas tas.


"Kirimkan setengahnya malam ini. Tidak ada penawaran," tegas George sambil menyeringai.


Ini adalah murni keuntungan untuk George. Dia berencana akan menawarkan bantuan pada Sean dengan pura-pura mencari Lena, tentunya dengan syarat Sean mau menjadi anak buahnya. Lagipula Sean tidak mungkin tahu bila Lena seandainya telah dihabisi. Dia akan meleburkan gadis itu hingga tak bersisa. Lalu aku akan mendapatkan Sean!


Shinta menjabat tangan George. "Kirimkan anak buahmu yang perempuan untuk mengambil uangnya di rumahku."


Mereka telah sepakat. George pun mengirim Lena ke pelabuhan, lalu menyelundupkan Lena lewat container.


Sementara David meminta bantuan Paolo. Mereka mencari tahu jejak Lena bersama-sama seperti membuka kotak Pandora. Setiap tempat yang didatangi selalu saja, Lena sudah dipindahkan ke tempat lain.

__ADS_1


Lena melihat sekitar kepada para perempuan di dalam kontainer. Tampaknya mereka imigran. Dia berusaha melepaskan ikatan tali dengan tangannya di tempat yang bergoyan. Entah apa dia berada di atas mobil?


__ADS_2