Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
PERSIAPAN


__ADS_3

"Siapa perempuan yang bersama kakak?" tanya Lena yang bersandar di dada David. Mata hazel tak pernah lepas dari Abang yang kini mulai duduk menjaga jarak.


"Secha pegawaiku. Sepertinya mereka dekat."


"Kakak jarang dekat-dekat cewek. Walau kakak terlihat ceria, dia sebenarnya pemalu di depan perempuan." Lena masih terpesona karena kakaknya sampai menyentuh pipi Secha.


"Sayang, ikut aku." David menarik tangan Lena dengan lembut melewati dua ruangan, lalu membuka pintu . "Ini kamarku." David menarik Lena masuk dan memutar kunci di belakang Lena. Dia menyatukan tubuh Lena ke tubuhnya, dan jari-jarinya menyusuri seluruh punggung Lena dengan penuh kerinduan.


"Kenapa mas?" Lena menghirup aroma mint di kamar itu, yang sepertinya kamar David. Tampak tas dan barang-barang milik David.


"Kenapa kita di sini." Lena terus bertanya sampai dia mendaratkan b0*k0ng di sofa karena David terus mendekat dan kini duduk di sampingnya dengan tatapan yang tidak dia mengerti.


"Lena, tolong maaf kan aku, aku telah mendengar semua alasanmu meninggalkanku, dari Ika. Lalu aku mendatangi Marcho dengan sangat marah hingga kakek datang dan memberitahu kebenaran bahwa ternyata Marcho masuk kamar perempuan lain.


David menghentikan kalimatnya karena tatapan Lena yang langsung murung. "Di malam yang sama itu, Aku menolong Shinta yang mabuk dan memesankan kamar untuk dia. Aku minum air mineral yang ternyata telah dicampuri sesuatu oleh Shinta.


Saat aku merasakan sebuah keinginan kuat, lalu aku keluar dari kamar Shinta. Kupikir kamar di sebelah kosong, saat itu aku sedang sangat tidak baik-baik saja. Sampai aku keluar dari kamar mandi, lalu mendapati seorang perempuan di atas tempat tidur.


Maaf Lena, aku mendekatinya, itu sangat sulit bagiku menahannya. Aku terjatuh di atas wanita itu, tetapi tak ada reaksi balik. Aku melepas jaket itu semua berserta pakaiannya, tetapi aku tak menyentuh sama sekali. Hanya menggenggam tangan saja. Maaf, ternyata aku baru tahu ini satu minggu yang lalu bahwa kamar itu adalah kamar kamu."


David menggigit pipi bagian dalam saat Lena membelalakkan mata dan langsung berdiri, lalu berjalan menuju pintu dan memutar kunci. Dia menyusul Lena dengan jantung berdebar dan menarik gadis itu masuk ke dalam kamar lagi. "Sebelum aku tahu itu kamu, aku juga akan meminta maaf, aku mencari tahu tentang dia, tetapi pihak hotel melarangku. Aku tak bermaksud membuatmu bingung. Katakan sesuatu, Sayang. Maaf. Jangan seperti ini? Aku tidak akan mengulangi- asal masuk kamar orang."


"Aku sangat malu karena kejadian itu." Lena masih tidak tahu harus berkata apa. Dia juga kecewa karena David melakukan hal seperti itu, bagaimana bila cewek itu bukan dia, tetapi misal cewek lain yang sangat agresif.


"Tolong, Lena. Kita lihat ke depan. Aku ingin benar-benar jujur agar tidak ada ganjalan saat aku menjadi suami kamu, Sayang. Apa kamu tidak terima? Memang kelihatannya aku sangat kurang 4jar, tetapi aku bukan seperti itu. Aku lelaki yang bertanggung jawab, Sayang."


"Aku hanya malu pada diriku sendiri. Apa kamu benar yakin menikahiku, Mas?" Lena bersandar di dinding yang dingin, tangannya menarik baju di bagian pinggang David. Kemudian melanjutkan perkataannya.


"Mas, aku menyukai aroma tubuhmu, baumu, kehangatan mu ini. Tapi seperti apa kata Kakakku, bahwa kami bukanlah orang dari kelas berada. Mungkin banyak sikap kami yang tidak elegan dan beberapa masih belum tahu attitude atau masih jauh dari kata standar yang jauh di bawah sikap bangsawan keluarga Papa Ardian."


"Kalau itu nanti semua akan berubah dengan sendirinya. Yang terpenting kamu ada di sisiku, ikut menghabiskan hari-hariku yang tidak menarik ini. Aku membutuhkan kamu agar ikut membantuku, untuk mengatur hidupku demi kebahagiaanku dan kamu. Cukup setiap hari kau di sisiku dan aku ingin melihat senyumanmu agar aku bisa ikut tersenyum bersamamu."


Lena tersenyum malu hingga pipinya menghangat. "Kali ini aku yakin padamu, Mas.Terimakasih banyak, ya?" Lena mendorong lembut dada David.


"Satu lagi, kita akan menetap di Napoli, itu syarat dari kakek dan papa, Sayang."


"Aku ... tidak masalah." Lena menggigit bibir bawah. "Seorang istri memang akan ikut dengan suaminya. Kupikir ayah dan ibuku bisa ikut memahaminya."


"Tolong dengarkan debaran kuat jantungku, Sayang." David menahan tangan mungil itu dan merengkuh tubuh mungil itu berlama-lama di dadanya yang tak mau tenang.


Deguban jantung David terasa seperti bunyi bedug, menggema di telinga Lena dan mendebarkan bagi Lena sendiri. Tangan mungil merab4-raba dada bidang sebelah kanan, sampai Lena merasakan deguban di telinga dan telapak tangannya. "Kamu wangi banged si, Mas, aku suka ini ..... "


"Ekhem!" Marcho yang baru datang mendapati dua insan malah asik di depan pintu yang terbuka- sedang senyam-senyum ... membuatnya iri, sampai mereka sedikit menjaga jarak dalam kecanggungan "Len, kamu ditunggu Papaku di ruang tamu."


Lena menatap kekasihnya sebentar dengan jantung berdebar karena ketahuan Marcho, lalu bergegas menuju ruang tamu dengan diikuti Marcho. Sementara David dipanggil sang mamah.


"Papa .... " Lena mengeluarkan Black card dari dalam tas sambil duduk di dekat Ardian. Kartu itu lalu diletakan di depan calon mertua. "Pah, aku menggunakan uang itu 34 juta-"


"Berapa katamu?" Ardian menaikan satu alis.


"Maaf, Papa itu kemahalan, dan melewati budget yang Lena rencanakan sampai menghabiskan 34.750.000 rupiah."


"Kenapa sedikit sedikit sekali? Seharusnya setiap belanja kau habiskan 500 juta. Bagaimana kamu mau jadi istri putraku. Begitu saja tak becus." Ardian melipat tangan di depan dada, dia melirik saat Lena mengeluarkan satu kotak warna pink dari dalam tas.


Ardian menerima kotak itu, lalu membukanya. Kotak diletakan di pangkuan. Sebuah lipatan dasi berwarna biru laut di rentangkan, ini bermotif ketupat kecil putih berharga 5 juta. "Lumayan."


Tampak sang menantu tersenyum puas dengan komentarnya. Ardian meraih sapu tangan berwarna Salem berharga 3 juta. Dia mengangkat satu alisnya, bahannya cukup enak. "Saya suka dasi dan sapu tangannya." Ardian dengan nada dingin dan terhibur karena Lena tampak mengangkat sudut bibir hingga membentuk senyuman. "Sekarang kartu itu menjadi milikmu."


"Tapi, Pah bagaimana bisa ini jadi milikku?" Lena melengkungkan alis dengan bingung.


"Saya tidak pernah memakai barang bekas orang. Lagipula jangan Ge-er dulu. Stefanie juga menerima seperti itu. Kamu harus belajar banyak dari Stef, bagaimana cara menghabiskan uang. Jadi, kau tidak akan jadi gunjingan orang-orang.


Kau harus lebih teliti dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ingat Lena, saat kau masuk ke keluarga kami kau harus mengikuti aturan di keluarga kami.


Kau seorang menantu konglomerat. Apalagi kau istri dari calon milyader, pantaskan dirimu. Apa nanti jadinya jika ada perempuan berpakaian lebih mahal itu lalu menggoda David dan menjatuhkan harga dirimu di depan publik."


"Baik Papah, Lena mengerti. Lena akan minta bimbingan kak Stefanie. Sekali lagi terimakasih banyak atas semua hadiah yang Papa belikan untuk keluarga Lena." Lena dengan tulus sambil memasukan kartu itu ke dalam tasnya lagi.


"Pokoknya saya tidak mau bila laporan mutasi itu kosong, artinya kamu harus menggunakannya kartu itu setiap bulan."


"Baik Papah, Lena akan mengingatnya." Lena pamit undur diri lalu menyusul orangtuanya.


Hari mulai larut malam, keluarga Lena pamit untuk pulang. David mengecup kening Lena sebelum Lena masuk ke dalam mobil. "Hati-hati di jalan, Sayang."


Lena mengumbar senyum sampai mobil itu keluar dari halaman. Tampak kakaknya kini sibuk dengan ponsel. Bapak-ibu di sampingnya kelihatan sudah lelah dan sama-sama terpejam. Sementara Axel yang mengantarnya seperti biasa memasang wajah datar.

__ADS_1


Lena terus termenung di sepanjang perjalanan, dia takut hidup boros. Namun, sikap Papa Ardian bertolak belakang dengannya. Bagaimana cara aku menggunakan fasilitas belanja itu tanpa perlu membeli barang-barang yang tidak penting? Apa aku menjual kembali barang-barang mewah itu lalu kutabung?



Lima hari kemudian ....


Sejak hari ini, Lena libur satu minggu tak masuk kantor untuk persiapan dan pesta pernikahannya. Dia melangkah keluar dari ruang ganti dan berhenti di tengah kamar. Jantung Lena berdebar kencang ketika Stefanie dan Mama Bilqis duduk di pinggir tempat tidur untuk mengamatinya. Sedangkan Nenek Leora duduk di sofa tampak sangat meneliti gaun yang menempel di tubuh Lena.


"Kamu tidak bertanya kenapa kita memilih gaun berwarna putih?" tanya Nenek Leora yang duduk sambil mengamati perancang gaun yang sedang menaikan resleting gaun.


"Tidak tahu, Nenek." Lena memandangi gaun yang indah, bahan gaun itu juga begitu lembut seperti sutra, menjadikan gaun sangat nyaman saat dipakai.


"Itu warna favorit takdir, warna lain memiliki arti yang berbeda. Gading menandakan kehidupan yang bergejolak. Biru menandakan ketulusan mempelai wanita. Merah muda menandakan kerugian ekonomi," kata Nenek Leora sambil menaikan kaca mata yang melorot ke hidung.


"Merah pertanda mempelai wanita adalah siap untuk akhirat. Kuning berarti mempelai tidak banyak harga diri. Hijau menunjukkan mempelai pemalu, sedangkan hitam berarti mempelai tobat," imbuh Mama Bilqis. Dia melirik bunyi ponsel Lena yang terus bergetar di atas nakas


"Jadi putih adalah yang terbaik. Menurut kami itu warna wajib," imbuh Stefanie.


Lena mengganguk mengerti. Dia tak nyaman karena ponselnya terus dilirik Bilqis. Pasti itu David.


Di ruangan keluarga, David yang dari tadi akan ke kamar tamu, terus dicegat pengawal kakek. Sekarang kakek terus menungguinya karena tidak boleh melihat Lena mencoba gaun. Dia berbisik ke adiknya. "Bianca tolongin kakak, dong. Kakak mau buang air kecil, tapi kakek curigaan. Kamu pura-pura minta bantuan kakak dan bawa aku ke kamarmu."


Bianca mengernyitkan kening, lalu mengangguk pertanda dia mengerti. Dia berdiri dengan gugup karena walau kakek sibuk bermain dengan kertas lipat, tetapi sebetulnya kakek selalu awas terhadap gerakan sekecil apapun.


"Kak, bantu aku mencari tempat tujuan yang harus aku datangi selama di Bali. Ayo! hp ku di atas."


"Oh, begitu? Ayo!" David baru berdiri dan dia langsung mendapat sabetan keras dari sang Kakek hingga dia loncat ke sofa, sambil memegangi pahanya yang panas bukan main. "Apa si, Kek?"


"Daaahh Kakak! Aku duluan!" Bianca kabur karena lirikan tajam sang kakek, tetapi dia mendengar celotehan Kakek yang bilang bahwa itu akal-akalan kakak. Oh jadi kakak memanfaatkan ku! Syukurin kena pukul!


Marcho yang baru akan keluar kamar, mendengar kegaduhan dan langsung membuka pintu, yang ternyata Bianca yang baru lewat. "Bi, ajak Romeo main. Aku mau mandi!"


"Papi nanti, Romeo ikut Papi." Romeo mendongak pada papanya yang terlihat buru-buru.


"Iya, sama mami juga. Makannya Papi mau mandi dulu. Romeo ikut tante cantik dulu." Marcho lalu melihat anaknya bergabung dengan Bianca.


Pintu kamar tamu dibuka dan berderit saat Bianca mendorongnya. Bianca menunggu Romeo yang asik makan es krim untuk masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu kembali.


"Rumah Lena memang cukup untuk semua tamu undangan?" tanya Stefanie ke mama mertua. Dia memangku sang putra, Romeo.


"Stef, kamu nanti ikut pulang bareng Lena dan periksa semuanya. Pastikan Lena tidak melihat cermin saat mengenakan gaun itu," perintah Nenek Leora ke istri Marcho.


"Baik, Nek." Stefanie lalu memandangi Lena yang bingung. "Menurut tradisi kami, kamu dilarang melihat cermin saat memakai gaun itu. Jika pun kamu ingin melihat, kamu harus melepas sandal dan anting-anting, Lena."


Lena mengangguk sambil berpikir.


Bilqis mengusap bahu Stefanie dan meminta Stefanie harus memantau Lena langsung agar tidak menyalahi tradisi.


"Mah, tadi Kak David itu kan mau lihat kak Lena yang memakai gaun itu," kata Bianca yang tiduran di samping Bilqis. "Tapi, langsung kena sabetan kakek." Bianca langsung terkikik saat teringat wajah merah David, yang meringis kesakitan.


"Kenapa Mas David tidak boleh melihatku, Nenek?" tanya Lena dengan penasaran.


"Melihat kamu boleh. Yang tidak boleh itu, kalau sampai mempelai pria melihat gaun pengantinmu, gaun itu tidak boleh dilihat calon suamimu, kecuali di hari H. Begitulah aturannya."



Setelah selesai mencoba pakaian, Stefanie ikut ke rumah Lena. Tampak di depan rumah Lena sudah mulai sibuk pemasangan Tratag. Stefanie menyuruh para pengawal memasukan beberapa dus ke ruang tamu.


Stefanie menjumpai Sumarni, di halaman belakang, yangmana diatasnya diatasnya terdapat tenda berwarna biru sebagai pengganti atap. Sumarni sibuk mengatur ibu-ibu, semua orang sibuk sendiri. Ada yang memasak, ada yang memeriksa jumlah sayuran dan kebutuhan masak untuk pesta.


Stefanie ikut masuk ke kamar Lena, bersama Lena, lalu menutup pintu karena di luar bising. Setelah mereka berempat duduk di lantai beralas taplak plastik, Stef menyerahkan bingkisan kecil, seperti buah tangan. Sementara Romeo sibuk bermain game di ponsel di samping sang mamah.


"Tante Sumarni, keluarga kami membawa manisan Almond. Ini dulu kebiasaan khas para bangsawan Perancis yang membawa serta berbagai manisan berbahan dasar gula untuk diberikan kepada mereka, itu sebagai tanda terima kasih kepada semua tamu resepsi. Saat ini itu menjadi tradisi kami- di Italia. Menurut tradisi, hadiah pernikahan harus sama untuk semua orang dan dalam bentuk kristal, perak, atau limoges.


Jadi ini semacam suvenir pernikahan. Kami memilih sendok, garpu, pisau dan almond bergula, pada tiap kantong. Kami mengaturnya sesuai aturan yang sangat spesifik. Jumlah almond manis harus ganjil. Jadi, kami menempatkan 5 biji almond manis, yang melambangkan kesehatan, kekayaan, kebahagiaan, umur panjang, kesuburan dan spiritualitas." Stefani menjelaskan dengan secara perlahan.


"Jadi kami memberikannya saat para tamu akan pulang dari pesta, begitu kah?" tanya Sumarni, "itu biasanya seperti itu."


"Maaf Tante, tapi ini harus diletakkan di setiap meja saat akad dimulai. Kami membawa banyak untuk pengaturan pagi di meja-meja. Oh! Anda juga tak perlu khawatir. Sauvenir ini sudah disiapkan banyak di sepuluh mobil box. Hanya saja nanti diturunkan mendadak karena takut akan memenuhi rumah ini."


Lena mengangguk dengan takjub pada penjelasan Kak Stef, mengapa sauvenirnya terlalu banyak. Lena juga masih tak percaya bila Stefanie akan menginap di rumah ini untuk membantu segala persiapannya.


"Tante, sprei untuk pernikahan sudah siap?" tanya Stefanie.


"Sudah, besok akan dipasang setelah dekor kamar ini sudah selesai." Sumarni lalu undur diri. Dia mempersiapkan makanan buat nanti sore pada acara pengajian.

__ADS_1


Stefanie menatap dalam-dalam Lena yang terus gugup. "Lena, sebelum hari pernikahanmu. Aku hanya mau memberitahumu satu hal. Agar kamu lebih berhati-hati pada keluarga Papa Ardian.


Mereka adalah paman dan bibi dari David. Dari luar terlihat sangat baik, tetapi jangan termakan tipu muslihatnya. Mereka akan selalu mencari cara untuk menjatuhkan David, suamiku dan juga Papa Ardian. Berhati-hatilah, ya? Ingat cara berpakaianmu penting. Mereka jauh lebih kritis daripada Papa Ardian yang siap menjatuhkan mentalmu."


Lena mengangguk dengan patuh dan terkejut karena Stefanie memeluknya. Dia membalas pelukan kak Stefanie dan mengelus punggung Kak Stef denhan lembut. "Terimakasih Kak, kakak selalu baik terhadapku. Insyaallah, aku akan mengingat kata-kata Kakak, untuk tetap waspada."


"Sama-sama, aku yakin kamu kuat, mungkin lebih kuat dari aku." Stefanie melepas pelukan Lena.



Sorenya saat pengajian akan berlangsung, Lena terbelalak karena kedatangan David yang diikuti Marcho, diman di belakang Marcho ada Anna. Memang untuk pengajian hanya David yang hadir, karena cuma David yang muslim. Namun, Lena tetap bersikap netral dan menerima kak Ana dengan baik seperti biasa. Sementara Marcho masuk ke dalam, entah apa yang mereka lakukan di dalam.


Marcho memasuki kamar Lena, dan tampak istrinya terpejam, sedangkan putranya terus bermain hp. Dia duduk di pinggir tempat tidur kecil dari dipan dengan kasur tipis. Untuk duduk aja langsung bunyi kayunya. Bagaimana David akan malam pertama di tempat berisik seperti ini.


"Papi, berikan ponselku," protes Romeo karena keasikannya diganggu. Kini kepala mungilnya di rebahkan di rebahkan di paha hangat sang papah.


"Kenapa kamu mainan game dari siang sampai malam? Kamu tidak takut dimarahin Kakek Ardi?" rambut coklat sang putra diusap perlahan. Ponsel itu dimatikan total dan diletakkan di dekat tas sang istri.


"Abisnya mami tidur."


"Kenapa kamu tidak ikut tidur?"


"Romeo takut."


"Takut kenapa?"


"Ada suara di bawah setiap Romeo gerak. Kamarnya gelap dan kecil, jelek."


Marcho tersenyum sambil mendoel hidung Romeo. "Anak pintar tidak boleh berbicara buruk. Ini tidak jelek, ini kaya seni tinggi, Romeo. Coba, sekarang papi tanya. Romeo bisa buat kamar seperti ini tidak?"


Sang putra menggelengkan kepala dengan polos. Kening mungil itu sampai penuh keringat dan baju Romeo lembab. Marcho melihat sekitar, tidak ada AC, dindingnya saja dari ternit. Bagaimana orang-orang betah tinggal di tempat seperti ini.


Lantainya bukan jubin atau marmer, Marcho mengangkat kedua kakinya dan menaikan kaki panjang itu ke kasur, hingga bunyi berisik dari kayu yang didudukinya. Apa tidak ada hewan melata dari balik plastik?


"Kamu sudah datang?" Stef yang baru bangun, menatap wajah suaminya yang sedikit kaku. Sang suami kini berbaring di sampingnya. Ini sangat mustahil. Selama enam tahun pernikahannya, Marcho tidak pernah berbaring sedekat ini. Jelas, mungkin karena tempat tidur ini sangat kecil walau berukurang Queen.


"Kamu bisa tidur di tempat seperti ini?" Marcho melirik sang putra yang justru mengambil ponsel milik sang mamah dari tas mamahnya. Anak itu susah sekali jauh dari gadget.


"Kenapa tidak? bukan tempat yang jadi masalah, tetapi bersama siapa kita berada yang menentukan kita nyaman atau tidaknya kan?"


"Kamu menyindirku?" bisik Marcho dengan mendekatkan wajahnya ke dekat Stef. Memang bila dilihat Stef semakin cantik di usia Kepala tiga, tetapi, dia tak bisa lebih jauh.


"Terlalu menghabiskan tenaga bila aku mencari perhatianmu." Stefanie membelalakkan mata karena kecupan Marcho tiba-tiba. "Apa ini?"


"Aku akan belajar mencintaimu seutuhnya, saat kamu menerimaku seutuhnya."


"Katakan sejujurnya?" Stefanie tahu ada udang dibalik batu. Namun, saat lagi bibir Marcho mendarat lembut, dia tak kuasa melawannya. Dia memang merasa bodoh, mencintai seorang pria yang hanya mencintai wanita lain. Namun, ciuman ini sangat lembut, walau Marcho tidak mabuk seperti malam itu hingga membuat dia mengandung Romeo.


"Manis," bisik Marcho dengan tatapan redup. Dia memagut bibir sang istri lagi, saat sang putra bersandar tidur di kakinya dan sibuk menyetel mainan dengan suara keras, padahal suara pengajian di luar lebih keras.


"Katakan .... apa yang kau inginkan? Apa mau, akan Anna lagi?" Stefanie dengan suara lembut dan membuka kelopak mata, lalu menatap nanar netra coklat, jarinya memegangi bibir Marcho agar berhenti menciumnya.


Marcho menahan nafas, jarinya mengusap telinga Stefanie. "Dia di sini, sekarang," bisik Marcho dan terus meneliti ke dalam mata hijau.


Stefanie tertawa kecil. "Dari banyaknya hari, teganya kamu membawanya hari ini, di rumah ini, kau mau mempermalukanku, kan?" bisik Stefanie agar anaknya tak mendengar. Matanya langsung berkaca-kaca. Tangannya menekan dada Marcho , lalu Stef berbalik dengan memunggungi. Air matanya terus mengalir membasahi pipi.


"Stef, kau tahu dia penting bagiku. Acara ini penting bagiku. Dia bagian hidupku. Seperti Romeo, aku mulai belajar menerimanya." Marcho menyibak rambut Stefani ke bawah dan mengecup tengkuk Stef. Tangan kekar itu mengusap bahu stef dengan perlahan.


Acara pengajian itu sudah setengah jam berlalu, tampaknya mereka diluar mulai sibuk makan. Suara lagi religi dari salon berkualitas rendah, mengganggu pendengaran Marcho yang biasa dengan speaker berkualitas tinggi. Namun, dia heran, putranya justru tertidur.


"Stef .... putra kita tidur." Marcho mencoba duduk karena Stef tak bersuara. Dia mencoba membaringkan Romeo di tepi tembok, dimana dia bisa melihat mata Stef memerah, dia tahu Stef baru menangis diam-diam.


Pintu kamar Lena dikuncinya.Marcho berbaring di pinggir tempat tidur, yang paling jauh. Bahu Stefanie ditariknya, dia memiliki ruang berdua dengan Stefanie lebih luas.


"Stef .... " Marcho mendekatkan kepala lalu bebrbisik. "Bisa kah aku meminta sekarang di sini?"


Stefanie tak mengerti apa yang diminta suaminya. Meminta menemu Anna? Dia pun tak kuasa menjawab. Marcho kembali memagut bibirnya hingga membuat dada Stef semakin sesak, tangan mungilnya diarahkan Marcho ke bagian sensitif suaminya yang mulai berubah ukuran dan tekture. Suaminya memang gila, pikirnya. Lebih gila lagi Dirinya karena tak kuasa menolak setiap permintaan Marcho yang lambat lain telah membuatnya jatuh cinta.


Sentuhan yang diharapkannya dan ditunggu selama pernikahannya justru datang-datang disaat seperti ini, saat dia harus menemui calon madunya. Air mata terus mengalir saat Marcho membuatnya kalang kabut dalam gelombang kerinduan.


Orang-orang diluar sibuk makan, Marcho justru membawa dia tenggelam dalam penyaluran perasaan terpemdam. Sebuah selimut Lena dipinjam, Stefanie turun ke alas plastik di kamar itu, sementara Marcho meng4g4hinya sambil memeluknya dari belakang.


Wanita dengan dress panjang yang ditarik sampai ke batas pinggang itu, berderaian air mata seraya menahan rintihan. Sementara tangan mungil memegangi selimut yang melingkari tubuh Marcho dengannya, untuk melindungi bila sewaktu-waktu sang putra bangun, sepertinya tidak bangun karena Romeo begitu kelelahan.


"Stef," runtuh Marcho, menggigit tengkuk sang istri keras, begitu sampai saat lahar panas mengucur didalam, sampai Stefanie begitu merasakan derasnya aliran magma di dalam jalan menuju rahimnya.

__ADS_1


Marcho duduk dan menarik Stef tanpa melepaskan 'kegagahan.' Lelaki itu berbisik di tengah pakaiannya dan Pakaian Stef yang lembab oleh keringat mereka. "Terimakasih, istriku. Tolong maafkan, aku .... Aku tidak akan mencurangi mu mulaidari sekarang."


__ADS_2