
Sebulan berlalu ketika Niko tengah berjalan ke kamar mandi di sebuah Mall di jam istirahatnya, dia mengernyitkan alis lalu matanya membesar. “Lena?” Dia baru sadar perut Lena mulai membuncit. Niko batal ke kamar mandi dan berjalan ke sebuah showroom. “Perlengkapan bayi?”
Mengikuti dari kejauhan, Niko pura-pura memilih baju anak-anak sambil mengamati Lena yang senyum-senyum sendiri saat memegangi sepatu bayi. “Apa dia hamil? Tapi sepatu itu bukan ukuran Romeo.”
Sepatu kuning dengan hiasan kepala jerapah. “Lucu sekali ya ampun! Ini bisa buat cewek cowok, kan? Ah, rasanya lama sekali kamu keluar ke dunia ini, Dek!” gumam Lena sambil mengelus perutnya.
“Bayi?” gumam Niko. Bayi? Otak Niko ngeblank. Tak pernah terbesit dalam pikirannya bahwa Lena akan mengandung bayi dari selain benihnya. Bayi? Mau berapa kalipun disebut masih tak masuk akal. Niko mengintip dari balik bahu ke arah Lena yang tiba-tiba berbalik dengan mata melotot karena terkejut.
“Niko?” Lena pikir tadi salah mendengar suara Niko, nyatanya pria itu sudah berdiri di belakang. “Kau mengikutiku, kah?”
“Ha?” Niko menggaruk tengkuk, dia sendiri tak sadar sudah di belakang Lena. Sesuatu di tangannya diperlihatkan pada Lena. “Enak saja! Aku tidak mengikutimu! Ini aku membeli buat Donna.”
“Donna?” Lena dengan satu alis terangkat dan tangannya menarik celana jeans mini. “Ini celana buat anak laki-laki, kan?”
“Masa!” Niko langsung menjereng celana di tangannya. Sial! beneran seperti celana untuk anak laki-laki. “Ah, benarkah? Aku tak tahu, kalau begitu ini buat Romeo sajalah! Memangnya yang seperti apa baju untuk anak perempuan?” Niko melongo saat tangannya ditarik Lena, wajahnya lalu tersenyum dengan bodoh. Dia terus mengikuti Lena sampai di sebuah gerai yang ditunjuk Lena. Kenapa gerainya harus dekat pula, kalau jauh kan dia bisa dipegang Lena lama-lama.
“Ini semua untuk cewek,” kata Lena datar sambil menunjuk deretan pakaian bewarna-warni. Tangannya gatal lalu menjereng rok jeans mini di depannya. Dia senyum-senyum sendiri kalau nanti anaknya cewek lucu juga pakai ini. Lena melirik Niko yang justru terbengong dan sebegitunya saat melihat ke arahnya. “Niko?”
“Ya?” Mata Niko berbinar, sulit sekali menyembunyikan kesenangannya yang adalah suatu kebetulan. “Apa itu kau pilihkan untuk Donna? Jadi, kau sedang membantuku?” Rindu mendera di dalam lubuk hatinya yang terdalam. Dia merindukan kebersamaan dengan Lena saat di Qatar di mess.
“Ini …. “ Lena menggaruk kepalanya yang jadi gatal karena Niko sama sekali tak berkedip. Wanita itu beralih mengukur dan menarik bagian pinggang rok itu. “Aku pernah belanja sama Emma kalo nggak salah ukuran Donna itu ‘S’.”
Niko memejamkan mata dengan sekuat tenaga karena gatal sekali ingin menggoda Lena seperti saat dulu. Tidak boleh! Dia tidak boleh seperti itu. Ketika membuka mata, dia tekejut karena Lena memiringkan kepala dan menatapnya. “Kenapa?”
“Kamu yang kenapa? Sakit kepala? Atau berkunang-kunang?”
Niko mengelap keringat di alis. Hu, Lena masi saja ingat dia yang dulu sering hipotensi dan berkunang-kunang. “Aku sedang berpikir mau beli apa buat Donna dan Emma.”
“Kan kamu mau beli rok untuk Donna, jadi sekalian bajunya. Itu yang warna pink gambar kuda poni banyak disukai anak kecil.” Lena menunjuk ke belakang Niko.
“Bisa bantu aku cari hadiah untuk Emma?” tanya Niko setelah meraih dengan asal sebuah pakaian anak-anak yang ditunjuk Lena.
“Mungkin kamu bisa mencari tumbler, aku sering lihat Emma suka bawa minum sendiri saat pergi. Tapi aku harus pulang sekarang, jadi kamu cari sendiri saja.” Lena mengernyitkan alis karena perubahan wajah Niko yang menjadi suram. “Kamu jadi ambil rok ini, kan?”
“Jadi dong.” Niko mengatubkan bibir, kesal, baru saja mengobrol, Lena sudah mau pegi saja. Dia menarik rok dari tangan Lena dan Lena yang terkejut langsung menarik tangan mungil itu hingga membuat sepatu bayi di tangan Lena terjatuh. Sungguh refleks yang berlebihan bagi Niko. “Maaf Len, biar aku yang ambil.”
“Terimakasih, Nik.” Lena masih terpaku saat Niko berjongkok dan seusai mengambil itu, Niko mendongak ke arahnya sambil menyerahkan sepatu mini dengan posisi berlutut.
Sopir Lena yang dari tadi mencari Lena, terkejut saat menemukan nyonya sudah bersama Niko. Dia memotret lalu mengirimkan foto ke David. Terutama saat Niko tersenyum dan mau berdiri. Dia menyusul nyonya yang menuju kasir, dimana Niko tampak memperhatikan Lena dari arah belakang.
“Untuk siapa itu?” tanya Niko dan Lena menoleh sebentar ke belakang tampak bingung. “Kau beli sepatu bayi untuk siapa?”
“Ini untuk koleksi saja.” Lena menaruh sepatu mini di kasir. Dia terpaksa menyudahi belanjanya, tak mau berlama-lama dengan Niko. Padahal matanya sangat lapar melihat aneka perlengkapan bayi. Dia merasa sedikit kesal karena Niko mengganggunya. Lena menganga karena barcode pembayaran sudah di scan ponsel Niko. Struk keluar begitu saja pertanda telah dibayar. Dia sontak menoleh ke belakang dengan bibir terkatub.
“Itu hadiah karena kamu membantu aku memilihkan kado untuk Donna. Kau dengar pepatah, pamali menolak hadiah dari seseorang?” ujar Niko dengan cepat sebelum Lena memotong kalimat.
“Ya, aku ingat.” Lena dengan suara sedikit ketus. Itu juga yang dilakukan Niko saat pulang dari Qatar, memberi hadiah untuk ayah dan ibu di rumahnya. “Tapi, ini.” Lena tidak enak hati menolak, mungkin Niko memang hanya memberi hadiah tanpa ada embel-embel. Apa dia yang terlalu berpikiran buruk.
“Sudahlah, jangan banyak dipikir.” Niko menaruh belanjaannya dan meminta dibungkus menjadi dua dengan ditulis untuk Donna, dan satunya untuk Romeo.
“Terimakasih Niko. Aku pulang dulu.”
“Tunggu, aku juga mau pulang. Kita jalan ke depan bareng-” Niko memutar mata malas saat pengawal barusaja datang di depan Lena.
“Nyonya, Tuan David sudah menunggu.” Pengawal dengan nada sopan, dia menggerakkan tangan menyilakan Lena jalan di depan. Terlihat nyonyanya canggung saat pamitan dengan mantan sang nyonya. Tentu semua pengawal tahu, karena tugas utama mereka dari tuan adalah menjauhkan Nyonya bila bertemu dengan Niko.
“Hati-hati Lena. Terimakasih banyak.” Niko tersenyum dengan tulus dan diangguki Lena. Belum sempat dia bertanya apa maksud dengan bayi yang dikatakan Lena. Ketika belanjaan selesai dibungkus, Niko berlari dan mengejar keluar dari showroom, dia melihat Lena baru saja memasuki lift. Niko melirik eskalator dan berlari menuruni anak tangga demi anak tangga sampai dua eskalator.
Napasnya tersengal saat akan mencapai lobby, dia melirik lift yang masih tertutup. Bahunya merosot dengan kecewa sepertinya Lena sudah pergi. Padahal satu bulan ini setiap dia mendatangi butik, selalu saja gagal dan tak pernah bertemu Lena, padahal menurut pegawai butik jika Lena berada di butik. Sepertinya, Lena memang menghindarinya.
“Niko? Kamu kenapa?”
Niko bepaling dan bebinar karena suara barusan. Dia mendapati Lena yang diikuti empat pengawal yang juga ikut berhenti. “Lena kau masih di sini.”
“Ayo, Nyonya, anda sudah ditunggu.” Seorang pengawal mengingatkan. Namun, nyonya membuat gerakan dengan tangan agar menunggu.
“Kamu sesak napas?” tanya Lena pada Niko, lalu melirik jam tangan. Ini waktunya David makan siang.
“Aku lari lewat eskalator menyusul kamu.” Niko menelan saliva karena tenggorokannya sangat kering. Dia melirik ke belakang Lena pada pengawal yang menatapnya dengan tidak suka. “Len, kamu tadi berbicara sambil memegangi perut. Apa kamu hamil?”
“Apa kamu berlari untuk bertanya itu?” Lena jadi tidak bisa menahan tawa. “Iya benar kata kamu. Aku memang hamil.”
“Hamil ….” Lidah Niko terasa keluh. “Selamat ya?”
“Terimakasih Niko. Bye!” Lena geleng-geleng kepala. Manis sekali Niko. Dia meninggalkan Niko dengan diikuti keempat pengawal.
Niko masih menatap kepergian Lena dan melirik hadiah untuk para anak kecil digenggamannya. Apa dia harus terus merana sendirian? Sedangkan Lena benar-benar telah meninggalkannya.
Niko kembali ke apartemen siang itu. Dia harusnya beristirahat karena nanti jaga malam. Namun, dia tak bisa terpejam. Lebih menyebalkan lagi karena dua minggu ini Sean belum kembali dari Praha.
Ponsel pribadi Niko bergetar di atas meja, tetapi Niko enggan menggubris. Dia bersikeras untuk terpejam dan tak berselang lama bel apartemen terdengar berbunyi. Niko tengkurap dan menutupi kepala dengan bantal, entah siapa itu menyebalkan sekali. Semakin dibiarkan, bel apartemen kian intens.
Dengan napas tersengal Niko bangkit dan berjalan cepat ke pintu. Tanpa mengintip dia membuka pintu dan langsung membentak. “Apa anda tak tahu kalau-” kata-kata Niko terhenti setelah tahu siapa yang di depan pintu. “Emma?”
“Niko! Apa aku menganggu?” Emma mengerucutkan bibir karena nada membentak Niko barusan. Dia langsung masuk melewati Niko, terdengar hembusan napas Niko yang kasar.
“Siapa yang menyuruhmu masuk?”
Emma mengamati apartemen tipe studio dengan wellpaper warna krem, yang hanya ada satu kamar, dapur bersebelahan dengan meja makan, dan dua sofa di ruang tamu yang terpisah oleh sekat kayu. “Aku mau masuk.”
“Emma, ini apartemen cowok, kamu nggak boleh masuk!” Niko yang sedang bad mood jadi makin suntuk.
“Nggak boleh masuk, emang kenapa?” Emma berbalik dan berjalan mendekat ke Niko. “Kemarin-kemarin maksa ketemu, sekarang giliran nggak butuh, ketus banged.”
Menghela napas panjang, Niko memegangi kedua lengan Emma saat wanita itu cemberut. “Aku sedang tidak mau diganggu. Aku nanti malam jaga.”
“Bohong.” Emma memutar mata dengan malas.
“Lihat aku Emma, bagaimana kamu bilang aku bohong, kan yang kerja dan tahu siftnya aku.”
“Buktinya …. “ Emma menatap Niko dengan malas. Uh, Niko kalau tidak jutek sebenarnya tampan, tapi ngeselin. “Kamu seminggu ini enggak jawab pesan aku. Aneh, kamu sekadar tanya aku dimana, tetapi giliran aku jawab, kamu nggak jawab balik. Donna kan nanyain kamu, karena nggak ada Kak Sean.”
Mata Niko membulat dan mulutnya mengembung. Dia sampai lupa dengan Emma, memang dia dulu gencar mendekati Emma, tetapi nyatanya dia risih dekat wanita ini. “Emm, aku harus beristirahat ….” Niko terdiam karena tatapan mata Emma yang tidak bisa ditebak. Apa Emma marah, jangan sampai marah karena dia jadi tidak punya alasan lagi kalau ke butik. Dia membuang muka. “Lalu maumu apa?”
“Aku mau ini.” Emma menyingkirkan tangan Niko dan mengeluarkan botol beralkohol dari dalam tas. “Temani aku.” Emma menaruh tas di sofa dan botol sampanye yang masih dingin di atas meja. Dia melangkah ke dapur dan mencari gelas. Saat akan meraih gelas di kabinet gantung, tangannya tak sampai. Dia melirik Niko dan Niko menunjuk sesuatu. “Apa?”
__ADS_1
“Pakai cangkir saja.” Niko menghempaskan diri dengan malas di sofa lalu memandangi minuman beralkohol di sampingnya pahanya.
“Lucu.” Emma dengan kesal lalu menunjuk ke atas ke arah lemari. “Ambilin gelas sampanye!”
“Ambil sendiri, kan yang minum kamu.” Niko tanpa menoleh dan mencoba terpejam.
“Niko aku tak sampai!”
“Kau tidak lihat ada kursi? Pakai kursi.” Niko menghela napas panjang. Emma benar-benar menghabiskan kesabarannya.
“Perasaan kalau Lena mau ambil sesuatu yang tempatnya tinggi langsung kamu ambilin. Aku ingat deh waktu Lena mau ambil bahan kain di lemari atas.”
Tangan Niko terkepal. Dia menggigit bibir bawah kesal karena jadi tukang suruh Emma. Bangkit dari sofa, Niko mendekat dan mengacungkan telunjuk ke depan dan membuat gerakan agar Emma minggir. Wanita itu hanya meringis seolah senang karena berhasil mengerjainya. Sebuah gelas kaca diambilnya.
“Kok satu?” Emma menerima gelas dengan bingung dan Niko menggedikan bahu.
“Kan kamu yang minum.”
“Kamu juga,” pinta Emma dengan nada pelan dan menggoyangkan satu kakinya.
“Hi, aku nggak pernah minum alkohol, Emma.”
“Be-la-jar.” Emma meringis dan menahan tawa ingin mengerjai Niko.
“Nggak, ya tetep nggak!” Niko menarik pergelangan tangan Emma sampai ke sofa.
“Ada kacang atau makanan ringan?” Emma dengan canggung dan tatapan memohon tetapi Niko menggeleng kepala. “Aku pesan pizza deh!”
Emma menaruh gelas di meja lalu meraih ponsel dan memilih makanan ringan sambil melirik Niko yang sudah duduk dengan kepala bersandar di sofa. Pesanan telah beres tinggal menunggu diantar. Dia melirik Niko, dan berjalan mengelilingi ruangan itu. Membandingkan dengan kamar Paman Paolo dan David, tanpa sadar dia memasuki kamar karena rasa penasarannya akan kamar Sean, mumpung Sean tidak ada.
Terdapat empat bingkai foto di dinding diantara dua tempat tidur. Foto pertama, Sean dan Niko sedang memakai pakaian basket, dengan Sean memegangi medali emas. Foto kedua, Niko memakai seragam judo dengan Niko memegangi piala penghargaan, di belakang Niko ada Sean yang merangkul leher Niko dan pipi mereka saling menempel. Foto ketiga, Ada Lena dengan dikepang dua, dengan topi kerucut dari kardus, di apit Niko dan Sean. Foto ke empat … Niko dengan wanita paruh baya berpakaian hijab.
“Apa itu ibunya Niko?” gumam Emma lalu duduk di atas spring bed yang agak keras. Dia tak tahu ini tempat tidur siapa, milik Sean atau Niko. Emma berdiri dan mengintip dari balik kamar, ternyata Niko masih belum berubah posisi dari sofa.
Emma kembali penasaran dnegan tempat tidur. Diendus-endus. Sebelah kiri bau parfum Niko, sebelah kanan ada sedikit bau aroma tubuh kak Sean. Emma melirik ke pintu lalu coba tiduran dan terpejam di tempat tidur kecil yang dia yakini milik Kak Sean. Emma membayangkan kak Sean ada di sini. Dia ingat setiap hari menelpon Sean tapi dengan alasan Donna l, padahal dia juga ingin mengobrol dengan Sean tanpa Donna.
Suara bel berbunyi, mata Niko terbuka dan melihat sekeliling tak ada Emma. Satu kotak pizza dan satu kantong makanan ringan diterima Niko. Dia menaruh itu semua di atas meja, lalu mencari Emma. Di kamar mandi tidak ada, di kamarnya …. Niko menggelengkan kepala karena anak itu justru terbaring.
“Emm, pesananmu sudah datang. Emm?” Niko masuk ke kamar dan membungkuk , menepuk pipi kencang itu dengan rona merah. Emma yang terpejam justru tersenyum. “Kau tidur?”
“Kak Sean …. Kenapa nggak pulang-pulang sih? Emma kangen!”
DEG. Niko menelan saliva karena tangannya ditarik Emma, pipi wanita itu yang halus justru mendusel ke lengannya. “Ih, kau tidur beneran?” Niko meneplak pipi Emma sedikit keras hingga Emma langsung tersentak dan mata itu membulat dengan sempurna lalu melepas tangan Niko.
“Uh sakit.” Emma mengelus pipinya dan mengerutkan kening. Kenapa ada Niko.
“Mimpi di siang bolong? Pesananmu sudah datang tuh.”
“Mimpi? Mimpi apa?” gumam Emma dan mengelap mulutnya yang sedikit ngiler. Wajahnya langsung terasa hangat. “Apa aku beneran tidur?”
“Oh ya.” Niko berhenti di garis pintu lalu berbalik, tangannya menghalangi saat Emma mau lewat. “Jadi, kau kemari mencari Sean?” Niko mengangkat satu alis karena gelengan kepala Emma. “Yakin, kenapa kau bilang …. ”
“Bilang apa?”
“Kamu mau ngomong apa, Niko? Katakan cepat!” Emma melirik Niko sambil mengeluarkan makanan ringan dalam kantong.
“Kamu kangen Niko, katanya.” Niko duduk dan menatap Emma, mencari tahu. Ya, dia tak mengatakan yang sebenarnya bahwa tadi Emma menyebut nama Sean.
“Nggak mungkin aku bilang gitu. Masa aku kangen kamu, imposible!” Emma duduk di samping Niko.
“Ati-ati loh kalau ngomong, yang nggak mungkin biasanya jadi mungkin.”
“Uhuy? Emma kangen Kak Niko,” cibir Emma dengan bibir begitu manyun dan Niko hanya melirik tanpa berubah ekpresi.
“Kamu mengigau,” celetuk Niko, lalu berdiri lagi, tetapi tangannya dipeluk Emma.
“Mau kemana? Sini temani aku.”
“Aku mau ambil hp. Emma, aku sudah bilang, kita bukan muhrim dan aku sudah berkali-kali menjelaskan padamu untuk tidak memegangiku sembarangan.”
“Iya, maaf. Tapi kamu minum, ya?”
“TI-DAK.”
Emma mengerucutkan bibir, dia menggigit bibir bawah merasa keki saat Niko masuk ke kamar. Dia bertanya-tanya apa benar dirinya mengigau. Ponselnya bergetar, Emma membalas pesan Paolo dan berbohong bahwa dia sedang di rumah teman perempuan , dia tak mungkin bilang bersama Niko karena pamannya itu tidak menyukai Niko.
Ketika Niko kembali ke ruang tamu, dia tersenyum karena Emma mengunyah pizza dengan mulut mengembung. “Kau tidak bisa makan pelan-pelan dan sedikit-sedikit? Tidak ada yang akan minta pizzamu.”
“Masa bodoh. Aku bete banged. Kesel, aku nyaris menabrak mobil orang …. “ Emma menceritakan panjang kali lebar tentang kejadian tadi pagi dan Niko mengangguk-angguk, sesekali tertawa karena ekspresi marah Emma.
Waktu berlalu, benar saja apa yang ditakutkan Niko, Emma mabuk di jam tiga sore dan Paolo terus menelpon ponsel Emma. Mau tak mau Niko menerima telepon Paolo karena dia mendapat panggilan dafi sang bos untuk datang ke tempat kerja lebih awal.
“Kak Sean … kenapa sih pake acara pindah? Aku kangen waktu kita saling menyapa di depan kamar,” ucap Emma melantur.
Niko mengernyitkan kening dan matanya melebar begitu dia mendapat tinjuan di dadanya secara tiba-tiba. Namun, dia diam saja karena berikutnya Emma terisak. Dia jadi serba salah dan cuma bisa duduk menjauh.
“Kalau nggak suka bilang nggak suka dong! Jangan gantungin aku Kakak! Kamu sekarang mundur begitu? Tarik ulur ya? Kayak itu tega!”
“Emma, aku Niko bukan Sean!” Niko gelagapan saat tangannya terayun ke depan agar Emma tak dekat-dekat, tetapi wanita itu terus menurunkan tangannya dan makin mendekat.
“Aku yang harus maju ya, kan!”
Segala macam upaya Niko lakukan untuk menghindar, bahkan agar tangannya tidak tersentuh. Dia bergidik sampai bangkit dari sofa tapi Emma mengejarnya. Sumpah demi apa kalau sampai dia tahu Emma seperti ini dia takkan mau membuka pintu. Mengapa nasib buruknya selalu dikejar-kejar cewek aneh. Dulu Marsha, sekarang orang mabuk yang tak percaya kalau dia bukanlah Sean. “Sean ya ampun kamu punya fans berat ….”
“Kak Sean! Jangan lari-lari, apa kita lagi main tom and jerry. Miawww aku kucingnya,” suara Emma parau dan pandangannya bergoyang-goyang.
“Awas!” Niko memekik saat Emma terserimpet tas Hermes milik Emma, wanita itu jatuh tengkurap dengan keras. “Emma!” Niko memutari meja dan membalik tubuh Emma.
“Kak Sean banyak burung berputar di kepalaku,” suara serak Emma dengan cengengesan, dia merasakan tangan kekar menyangga punggungnya. “Kak, aku cinta kamu. Kenapa kamu jauhin aku, Kak? Aku tidak masuk kriteriamu, apa karena aku bukan orang Indonesia?”
“Ngelantur terus, tunggu pamanmu ke sini,” gumam Niko sambil membopong tubuh Emma dan meletakan Emma di kamar. Dia menggaruk lengannya bingung karena kening emang sekarang membengkak dengan warna ungu. “Semoga kau tak gagar otak, ya.” Niko keluar lagi dan menghubungi Paolo yang justru marah-marah dna katanya lima menit lagi sampai.
“Awas kau jangan macam-macam. Kuhabisi kau nanti,” ancam Paolo lalu telepon terputus.
Niko meringis kesal, ruang tamunya jadi berantakan dengan makanan berserakan. Sofa ketumpahan minuman beralkohol. Pria itu mengambil serbet di dapur dan sedikit membasahi dengan air bersih lalu mengelap ke sofa yang bau minuman.
__ADS_1
Chiki yang tumpah di sofa dan karpet di sedot dengan vakum mini. Sean menyalakan penyedot kotoran di lantai yang mesin bundar itu otomatis bergerak sendiri. Meja pun dilap karena remahan dan saus pizza.
“Kau benar-benar menambah pekerjaanku, Emma!” Niko jadi tidak tidur gara-gara anak itu.
Bel berbunyi, Niko membuka pintu dan pria yang tujuh tahun diatasnya itu menerobos masuk dengan wajah merah padam lalu melihat sekitar. Bahkan langsung berlari ke kamar.
“Niko!” geram Paolo dengan suara bariton membuat Niko berlari mendekat dan saat tiba di kamar Niko menganga kaget karena mendapati Emma kini hanya memakai sepasang pakaian inti hingga menampakkan perut. Detik berikutnya Paolo menarik selimut dan membungkus tubuh mungil itu dengan selimut.
“Aku tidak tahu apa-apa,” kata Niko dengan perasaan tidak enak. Baru matanya sudah tidak perawan karena melihat aurat perempuan.
“Tidak tahu? Apa aku percaya?” Paolo menatap tajam Niko dan mulai menggendong Emma di depan.
“Tapi tadi dia masih pakai baju, kau lihat kan sendiri tadi aku sedang bersih-bersih di ruang tamu. Aku tidak melakukan apa-apa. Kau mau lihat cctv kalau perlu? Aku akan membukakan rekaman cctv ruang tamu di ponselku.” Niko gelagapan karena pria eksklusif itu seolah tidak mempercayainya. “Aku akan bertanggung jawab kalau aku melakukan kesalahan, tetapi aku tak melakukan apapun.”
“Omong kosong” Paolo tersenyum sengit. “Dari awal aku sudah tidak suka denganmu. Kau picik, kau pikir aku tidak tahu kau diam-diam memasang penyadap dan cctv mini di balkon kamar David? Apa jadinya, jika aku beritahu itu pada David?”
Niko menelan saliva dengan kasar. Bagaimana Paolo tahu itu. Dia menggelengkan kepala dengan lemah. ”Aku-”
“Jauhi Emma, aku tak mau melihat kau dengannya lagi.”
Niko menggelengkan kepala. “Aku masih terikat kontrak kerja dengannya-”
“Kau pikir kau siapa? Model profesional? Apa kau bangga karena keturunan Asia? Kau hanya keamanan! Jangan bermimpi naik kelas atas!” Paolo tertawa merendahkan. “Gajimu seumur hidup pun takkan bisa memantaskan kamu berada di sekitar Emma. Kau tidak ingat berapa gajimu di Indonesia? Hahaha miris ya, ku dengar bahkan dulu saat kau ingin mencari modal untuk melamar Lena harus memacari perempuan gila. Huhu! Itulah standarmu. Sampah tetaplah sampah!”
Dada Niko naik turun dengan penuh amarah. “Siapapun tak boleh menjatuhkan harga diriku. Asal kau tahu, hahaha aku begini-begini bekerja dengan jalan benar itu lebih baik daripada kamu.” Niko memutar mata dengan malas. “Kau pikir aku juga tak tahu apa kesibukanmu? Malam-malam saat semua orang tidur terlelap? Justru pekerja keamanan sepeti aku hanya menurut pada perintah tuan, dan asal kau tahu tuanku tak pernah memerintahkan pekerjaaan kotor.”
Wajah Paolo semakin merah padam. “Bisa-bisanya orang rendahan seperti kamu berani berkata seperti itu-”
“Bisa-bisanya Kakek Banchero konglomerat pemilik pabrik mobil dengan harga selangit memiliki anak seperti anda? Ha apa kata dunia jika tahu ….” Niko menganga merasa menang karena Paolo kebakaran jenggot.
“Kau lihat saja nanti.” Paolo melengos dengan kesal karena keponakannya terus menggumamkan nama Sean dan memukul-mukul dadanya. Dia melirik sinis saat Niko melewatinya lalu membukakan pintu. “Aku belum selesai denganmu.”
“Tolong anda jaga keponakan anda agar tidak datang mengotori apartemen saya.” Niko menahan kesal dan menunggu Paolo keluar.
Setelah pintu tertutup Niko merosot dengan tulang belikat menekan pintu. Lututnya tertekuk dan untuk tumpuan lengan dan kening. Dia pusing setengah mati pasti cepat atau lambat David akan mengambil kamera itu dan dia tak bisa melihat Lena lagi setiap kali Lena keluar balkon.
“Aku harus apalagi, Ya Tuhan. Aku tak bisa hidup tanpa melihatnya.” Niko gelisah dan ketakutan membuat pikirannya gelap. Dia hanya takut David melakukan segala cara atau membuatnya tak bisa memasuki negara ini, lalu dia takkan bisa melihat Lena.
Dengan pikiran tak karuan, Niko berangkat ke rumah tuannya lebih awal, tetapi dia mampir di kedai kopi. Kopi dipesan dan dia membayar ke kasir. Dengan gelisah dia berdiri sambil melihat ke jalanan dimana orang berlalu lalang, matanya melirik ke sudut kedai dan baru sadar seorang pria berpakaian tak biasa tengah meliriknya.
Nama Niko dipanggil, pesanan kopi diambil Niko dan langsung dihabiskan dalam beberapa teguk. Ya, kopi di sini disediakan dalam cangkir sangat mini, sampai dua jarinya hanya bisa menjepit pegangan cangkir dan kebiasaan orang di sini tidaklah minum kopi di kedai sambil bersantai atau duduk berlama-lama. Mereka keseringan menghabiskan kopi saat panas sambil berdiri lalu langsung pergi. Kopi harus diminum selama ada busanya, karenanya saat busa itu mulai menghilang, suhu air pun berkurang dan reaksinya telah berubah.
Niko keluar dari kedai, dia sedikit melirik ke belakangan ada orang taadi ikut keluar. Dia semakin melangkah cepat, lalu belok gang ke dua dan benar saja seorang pria mengikutinya belok. Perasaaan dia belum punya musuh dan tuannya adalah orang yang lurus hanya pekerja seni terkenal.
Dengan santai Niko berbalik dan melangkah lebih pelan, begitu juga langkah pria itu yang semakin pelan. Niko merogoh sesuatu di celana karena mereka kini berhadapan.
“Tenang anak muda. Aku kenal Sean. Sean temanku,” kata pria paruh baya itu dengan tenang. ”Kudengar kau pernah jadi Juara Judo Nasional. Wow Berlian! Kau seperti Berlian yang tak ternilai.”
Niko mencoba mengenali wajah itu dalam lampu kuning gang, dia melirik jam tangan yang menyala. Dia tak tahu apa niat orang dengan aura gelap ini, instingnya mengatakan berurusan dengan orang seperti ini akan membawa pengaruh buruk.
“Aku bisa memberikan tumpangan gratis dalam 10 menit, jadi kau akan 5 menit datang lebih awal dari panggilan tuanmu.”
“Siapa kamu? Kau jelas bukan orang sembarangan yang tahu soal perubahan jadwal kerjaku yang telah diubah secara mendadak tadi sore. Kamu menyadap ponselku?”
“Di dunia ini apa yang tidak mungkin, asalkan kita punya uang banyak. Ya, kan, Niko Alfarizi.”
“Tak usah bertele-tele. Apa maumu?” Niko melirik dengan waspada saat orang itu merogoh saku jas. Atau orang ini suruhan Paolo dan akan menyingkirkannya? Cepat juga Paolo. Niko bersiap-siap bila orang itu mengeluarkan senjata. Namun, orang itu mengeluarkan sebuah ponsel mahal.
“Kau akan tahu. Terimalah ini, kamu akan penasaran bila tidak tahu atau menolak.” Pria itu dengan suara berat. “Kamu juga bisa menolak dan membuang ponsel itu setiap waktu. Tapi, ingat, saat kau butuh bantuan aku bisa datang kapan saja untuk membantumu.”
Ponsel itu diterima Sean dengan ragu. “Aku bisa membuangnya detik ini?”
“Aku yakin kau takkan melakukan itu, apalagi saat seluruh dunia menyudutkanmu. Aku ada di sana. Di tempat gak seorangpun peduli denganmu.”
Niko merenung sebentar dan tangannya sedikit gemetar. Apakah dia sedang di cuci otak. Tidak, dia tidak boleh asal percaya.
“Bahkan jika Paolo Banchero dan David Leora yang bukanlah lawanmu. Aku siap mengarahkan banyak anak buahku untuk melindungimu.”
“Siapa kamu?” Niko mengikuti langkah pria berbadan gempal yang baru berbalik dan akan meninggalkannya.
“Papa George.” George dengan nada sedikit mendengung dan tersenyum menyeringai karena sepertinya Niko menerima. Dia memang tak mendapatkan Sean, tetapi justru mendapat Niko, sepertinya bagus. Tanpa mengetespun, dia bisa membaca bahwa anak ini bisa di didik menjadi pengikut setianya yang keren dan begitu muda.
“Maaf, Papa George, tanpa bermaksud lancang …. ” Niko berjalan lebih cepat dan dengan gerakan cepat menempatkan ponsel ke telapak tangan yang tanpa menggunakan sarung tangan dan terasa hangat. “Saya akan mengembalikan ini dan kita tidak ada urusan lagi.”
George tertawa ramah tetapi tetap terdengar aneh bagi Niko. George mengangkat satu alis, harus berapa kali kesabaran lagi dia menaklukan dua serigala nakal ini. Niko dan Sean. Tangkas dan pintar. Jangan sampai orang lain merekrut mereka lebih dulu. Sayang sekali Sean cacat, tetapi tetap saja bila dua orang ini bersatu, dia yakin bisa mengambil alih seluruh gerakan bawah tanah di negara ini. Bau harum semerbak kemenangan bahkan bisa diciumnya hanya karena membayangkan.
“Tawaran tidak akan datang tiga kali dan ini yang pertama, Baby,” seru George pada Niko sebelum hilang di balik gang.
.
Ketika Niko pulang kerja jam 7 pagi, dia mendapati kotak ungu dengan pita hitam. Dia berjongkok, lalu membolak balik kotak dan sedikit mengocok, takut itu granat atau bom. Dia melirik kanan-kiri, di sini sering lewat penghuni apartemen lain, tetapi apa tidak ada yang berniat mengambilnya. Ditarik pita hitam dan dibuka tutupnya. PONSEL.
Tidak salah lagi, Niko ingat ponsel ini. Dia menarik ponsel dan membaca note kecil di bawah ponsel. “Tawaran tidak akan datang tiga kali dan ini yang kedua, Baby.”
Niko menaruh ponsel ke dalam kotak dus ungu dan tak tertarik pada kebaikan orang. Pasti ada udang di balik batu. Jika memang David akan mengusirnya dari negara ini, dia pasrah, mungkin inilah saatnya untuk merelakan Lena. .
Tanpa melepas sepatu, Niko yang baru masuk apartemen langsung berbaring di sofa yang masih saja bau alkohol, mungkin dia harus memangil tukang bersih sofa hari ini, terpenting dia harus tidur dulu lalu pergi ke gym nanti sore.
“Papa George. Papa - apa itu panggilannya?” Niko menatap langit kamar. “Apa dia bisa membuat Lena beralih mencintaiku? Dia bukan Allah yang bisa membolak-balikan hati manusia.”
Niko memegangi dada, rasanya ingin menangis mengapa dia jadi melupakan Allah dan meninggalkan sholat sejak masuk negara ini. Memang dia sempat marah mengapa calon istrinya diambil orang, bukankah dia lebih baik dari David? Bukankah dia yang lebih dulu islam.
“Aku mencintainya, Ya Allah. Tolong bolak-balikan hati Lena untukku dan kembalikan dia padaku.” Niko menyeka air matanya dan menatap kosong pada kotak ungu di perutnya. Ponsel itu diraihnya dan kotak ungu diletakkan di karpet. “Memang apa yang bisa dilakukan Papa George.” Niko menggoyangkan ponsel lalu menaruh di sofa.
Kakinya melangkah ke kamar mandi dan mandi air hangat. Dia mandi tobat lalu sholat duha. Tangannya mengada dan matanya menatap langit kamar dengan lekat-lekat. Dengan beruraian air mata, Niko memohon agar Allah membuat hatinya agar merelakan cinta pertamanya. Hatinya yang lelah karena selalu terbakar api cemburu setiap kali memikirkan cintanya besama lelaki lain.
Tenggorokan Niko begitu terasa panas. Dia memohon ampun karena lebih mencintai Lena di atas cintanya pada Allah, dia sadar dia salah sampai Allah menjauhkan apa yang terlalu dicintainya.
Niko berserah diri sepasrah-pasrahnya dan memohon perlindungan agar dia tak pernah meninggalkan ibadahnya hanya karena terlena oleh dunia. Dia juga memohon perlindungan agar dijauhkan dari orang-orang kotor dan munafik apalagi yang berniat buruk padanya dan keluarganya. Tak lupa Niko mendoakan kebaikan dan kebahagiaan untuk Lena.
Air mata Niko mengalir di pipi dan dia tiduran di atas sajadah, matanya melirik ke arah foto bertiga bersama Lena yang sedang MOS masuk SMA. Niko terus beristigfar dan di dalam lubuk hatinya yang terdalam dia ingin memilki seorang istri yang seiman. Terus berdzikir, hati Niko terasa tenang dan mulai mengantuk. Dia pun tertidur dan terjaga lagi saat suara bel berbunyi.
Meraup wajahnya, Niko melirik jam sudah pukul 1 siang. Wah enam jam tertidur tak terasa. Dia membuka pintu apartemen dan saat melihat Emma ditutupnya lagi pintu itu tepat saat Emma tersenyum.
“Kak Niko, buka, aku mau minta maaf!”
__ADS_1