Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 86 : TELUR IKAN KESUKAAN LENA NIKO


__ADS_3

Sean menceritakan soal Geroge dan David tampak syok di raut wajah tampan itu. David cuci muka setelah menelpon Axel agar segera menjemput.


"Lena jangan sampai tahu soal kamu mabuk, dia akan sedih dan marah apalagi, ayah Sujatmiko bisa memusuhiku seumur hidup," kata David dengan cemas dan penuh harap.


"Baiklah. Lalu soal George, aku akan berpura-pura mengikuti rencananya. Aku mohon perketat pantauan di setiap kepergian Lena dan Kak Stef. Kurasa Goerge selalu bermain gula dan tak terbaca. Hati-hati di jalan Dav."


"Yups, kau juga jaga dirimu selalu." David memeluk Sean. "Kau sudah seperti kakak ku sendiri, aku sangat menyayangimu, Sean.


"Me too." Sean menepuk bahu David saat Axel yang baru datang membawakan tablet mahal milik David.


Niko baru pulang kerja, begitu syok melihat David di apartemennya. Begitupun tampak keterkejutan di mata biru David. Mereka tak saling menyapa, menunduk dan apapun asal, tak berpapasan pandangan untuk yang kedua.


Mereka bahkan menahan napas saat sikut yang mereka masing-masing berusaha tak saling menyentuh justru menyenggol karena kegelisahan. Mereka berdua tak bisa berbohong, hanya ada kecemburuan. Sama-sama hati mereka terluka dan mencintai wanita yang sama. Bahkan mereka ingat betul bau parfum satu sama lain, sekaligus menjadi parfum yang mereka benci.


...****************...


Setelah Niko mendapat telepon dari Emma soal pemotretan yang di adakan lebih awal, Niko pun sudah di butik jam 9 pagi. Sama sekali dia belum tidur.


Sean dan Niko sama-sama terus melamun sejak datang, sejak dibantu dipakaikan kostum bertema musim semi, sampai selesai di makeup masih saja dua pria itu tak saling berbicara. Beda dari biasanya, membuat Emma dan Lena saling bertanya.


Sesi foto Sean dan Niko yang couple telah bersamaan selesai. Emma tersenyum puas, berkat bantuan dari keluarganya yang banyak menjadi juri pada pesta fashion week di London, dia berhasil memboomingkan wajah Asia Sean dan Niko, yang menjadi idol baru di negara ini.


Emma sengaja melarang, membatasi duo idol itu untuk menolak iklan dan aneka endorse, bahkan Emma membuat kontrak dengan sedemikian rupa. Bukan apa-apa, hal ini dia lakukan bukan tanpa tujuan. Mereka duo model asia itu akan diakui, walau juga ada turut peran nama Kakeknya dia bawa-bawa, tak apalah. Lagipula ini untuk kebaikan Sean dan Niko.


Sebenarnya, dari sisi Sean dan Niko, mereka mau jadi model, karena guna mendukung Lena yang baru merintis dan belajar berbisnis. Jika bukan karena itu, mereka takkan mau jadi model.


Belum apa-apa Sean dan Niko juga mendapat gangguan nakal dari beberapa produser, ada yang film panas, ada yang yang sengaja mendekatinya dan mengimingi banyak kemewahan dengan menyebutkan syarat jadi pacar. Semua mereka tolak baik-baik dan beralasan sangat sibuk.


Lebih gila lagi, Sean ditawari hadiah mobil dan rumah mewah bila mau pacaran dengan pemilik Production House. Yang membuat Sean tak habis pikir adalah, dia tak memilih tangan utuh bagaiman mengemudikan itu, walau alasan wanita itu, bisa auto pilot.


Sayangnya, Sean sudah memiliki pujaan hati sendiri. Cucu pemilik perusahaan mobil mewah terkenal. Namun, dia tak berani berterus terang terutama Emma, Niko pun sepertinya juga tak tahu bahwa dia benar-benar menyukai Emma.


Sean duduk di ruang santai, dengan full kaca yang menampilkan taman indah. Sebuah pelukan mendarat di lehernya dan Sean terkejut saat sebuah kecupan mendarat di pucuk kepalanya. "Lena .... "


"Abang, melamun melulu ih." Lena duduk di depan Sean dengan meja selebar satu meter di antara mereka.


"Aku cuma mandangin taman cantik-cantik."


Lena membaca raut kesedihan yang disembunyikan Kakak. Sean kini memandang Lena yang dicintainya.


"Apa yang akan George lakukan padaku?" tanya Sean dalam hati


Lena mencium pipi kanan kakaknya dan membuat Sean terkejut lagi. "Mikirin apa aann-daaah?" suara Lena dibuat imut.


Lena sampai duduk pindah ke samping Sean. "Kakakku yang paling tampan ini, aku kangen, kakak malah konslet. Lena mengebor bahu kanan Sean dengan telunjuknya. "Dudududuududu Aku bukan ini mur dulu deh, baru benerin robot ini. Apa perlu ganti baru atau masih bisa diperbaiki."


Sean tersenyum sedih, dia menempelkan kepalanya di kepala sang adek. "Perbaiki otaku yang sedang konslet, wahai mekanik Lena Sujatmiko," timpal Sean dengan suara dibuat seperti dubber pendongeng anak-anak dengan mulut menggembung.


Kebiasaan Lena dari kecil seperti ini. Kalau dia ada masalah, seolah adeknya ikut merasakan walu tanpa cerita. Lalu tiba-tiba berakting bahwa dia lah robot yang sedang rusak dan Lena bermaksud memperbaikinya.


"Aku dari kemarin sedang mikir bagaimana lucunya keponakanku nanti," ucap Sean dengan penuh ketertarikan. Dia berbohong pada Lena.


"Tebak-tebakan, kakak, lebih mirip aku atau David atau dua-duanya." Dua sudut bibir Lena terangkat tinggi membentuk senyuman lepas.


"Menurutku, mendingan mirip kamu sepenuhnya, Dek. Huh, biar aku kekepin dia terus. Abis kamu nggak bisa dikekepin lagi, udah ada yang kekepin," suara Sean kecil tapi penuh antusias dan candaan.


"Abang, eh Lena jadi kepikiran. Memang, Abang tak ingin kekepin .... seorang wanita - Ah pacar maksud Lena. Kakak, ikut kencan buta sajalah."


"Enggaklah. Enggak mau." Sean geleng-geleng kepala dengan serius dan wajah yang imut membuat Lena menjepit hidung Sean di antara tekukan jempol-telunjuk, lalu jepit lagi diantara tekukan telunjuk dan jari tengah, tekukan hari tengah dan manis, tekukan jari manis dan kelingking, secara berurutan sampa hidung lancip Sean yang tadi putih kini memerah.


"Akit, Dek, ampun, nih robotnya udah bener." Sean memasang raut wajah teraniaya membuat Lena tertawa lepas.


.


Niko selesai sesi pemotretan. Emma memberikan jus segar dan Mereka duduk di belakang, melihat model wanita tengah di foto.


"Kenapa?" tanya Emma.


"Aku mau mengambil jadwal cuti satu bulan ke depan ya?" Niko dengan keringat- keringat sebesar biji jagung di wajah dan leher.


"Apa! kenapa tiba-tiba?" Emma dengan mata membulat dan mulut melongo.


"Aku belakangan terlalu lelah."


"Gimana, kalau nanti sore kita jalan-jalan?"


"Sana kamu sama mereka, aku tidak ikut."


"Bukan mereka. Ini aku dan kamu saja. Aku ajak kamu melihat tempat indah."


"Tapi aku beneran tidak bisa kerja sebulan ke depan, Emm"


Emma menghembus panjang, seperti ada sesuatu pada NiKo. "Tapi kamu nanti ikut aku, ya?" Emma pergi meninggalkan Niko karena di undang tim produksi.


Niko mencoba berbaring di sofa, berbantalan kedua tangan. Matanya menghadap langit. Dia ingin menyisihkan waktu bertemu Abi dan Umi.


Mendadak kepala Niko sakit. Kalau pulang ke rumah, Abi dan Umi justru bertanya soal Lena. Dia bahkan belum bilang, kalau sudah putus dengan Lena. Kepalanya begitu sakit sampai dia tak tahan lagi.


Lena masuk ke ruang pemotretan, mencari Niko. Dia duduk berlutut dan melihat Niko sudah tidur dengan nafas teratur. Jadi, sungkan mau membangunkan. Lena menggaruk ceruk leher yang gatal. "Nik .... "


"Occhhh." Niko menghela napas panjang. "Badanku kenapa sakit semua, Umiii" kesal Niko miring kanan dengan melenguh karena ngilu luar biasa. Niko merasakan sentuhan tangan. "Umi?"


"Niko keningmu panas sekali!" Lena membelalakkan mata.


"Umi?" Niko membuka mata, sial ml dia bertemu Ummi, tiduran di pangkuan Ummi hanya mimpi belaka. Eh di depannya seseorang memegangi keningnya


Mereka saling tatap. Lena dengan perasaan tiba-tiba khawatir. Niko masih mencerna, memperhatikan wajah di depannya, dia di ruang pemotretan. Ah ternyata dia masih di studio. Niko bangun sambil menyentak tangan Lena membuat Lena canggung.


"Sorry, itu badan kamu panas sekali. Kamu mungkin perlu ke dokter-".


Pandangan Niko meredup. Sakit di dalam dada tengah menggeliat seperti ombak menghantam karang. "Ada apa, kau butuh sesuatu?" tanya Niko dengan suara gemetar, sulit mengontrol hati yang perih sampai badannya begitu demam dan perutnya perih karena stress.


"Aku mau memberi tahu kamu, aku mau ajak Kak Sean ke rumahki. Jadi, kamu pulang sendiri. Itu aja." Lena berbicara cepat sambill berdiri dan berpegangan pada kursi, kakinya kejang, dia gagal berdiri dan berjongkok lagi.


"Apa kau sakit?" tanya Niko, enggan menyentuh Lena hingga Lena tiba-tiba duduk di lantai dan Niko masih berdiri.


"Nggak apa, semutan aja." Lena menahan napas pada sensasi seperti kestrum di kaki kanannya.

__ADS_1


Niko menghela napas berat dan berjongkok. "Mau aku bantu memijat kaki sebentar?"


"Tidak usah." Lena dengan wajah takut dan Niko mengangguk.


Lena memijat kaki sendiri dengan canggung. "Kamu minum obat," gumam Lena tanpa menatap Niko.


"Huh ya, gampang."


Lena menghela napas panjang, udara di tempat ini terasa sesak. "Cari pacar untuk mengurusmu."


Bibir Niko memelintir. Rasanya bagai ribuan tombak berkarat mengiritasi hatinya, dia sampai berhenti bernapas sejenak. Kepalanya mendadak pusing. Niko tersenyum tipis begitu Lena menoleh ke arahnya dengan tatapan mata hazel itu seolah penuh tanda tanya.


"Apa perlu bantuan untuk mendekati Emma?" tanya Lena refleks.


Kepala Niko terasa bagai mau pecah, berada di dekat Lena lama-lama, mungkin beneran bisa memecahkan jantungnya. Niko berdiri cepat-cepat, tak sanggup berada dekat Lena lagi. Pandangan Niko berkunang-kunang, seperti banyak bintang di depannya, membuat Niko bertahan dengan memegang tembok.


"Niko." Lena berdiri, tangannya menarik lengan kekar yang panas basah. "Kalau kau berkunang-kunang atau kepalamu sakit, duduk dulu, nanti kamu jatuh, nanti-"


Lena mundur satu langkah karena tangan Niko menyentaknya. Pria itu berpegangan dengan satu tangan kiri pada tembok, tangan lain lalu memegangi kepala.


Oh, Lena kira Niko menyentaknya karena tak mau di sentuh. "Nik, jangan memaksakan diri," suara Lena meninggi. Soalnya, Niko pernah dilarikan ke rumah sakit karena akibat tidak langsung duduk saat berkunang-kunang.


Niko menyetak Lena. "Jangan pegang aku!" Telapak tangan Niko meraba, merayap di dinding dan berusaha geser. Membuat Semua orang memandangi Niko, yang berani sekali membentak wakil direktur.


Emma baru masuk dan bingung pada suasana sekitar. Emma bertanya pada Niko, tetapi Niko tidak menjawab. Emma pun bertanya pada Lena yang terlihat syok.


Emma berusaha menuntun Niko, Niko menyentak tangan Emma. Kini tidak ada orang yang berani mendekati Niko yang aura mendominasinya terlihat menyeramkan. Mereka terkejut baru tahu Niko yang ramah, justru punya sisi lain yang auranya kejam.


.


Niko ke kamar mandi dan membasuh wajah yang berkeringat dingin. Dia menelpon taksi langganannya. Tiba-tiba, Sean muncul di belakangnya saat dia mengelapi wajah dengan tisu.


"Kau sakit kata Lena, Nik? Ayo, ke rumah sakit." Sean memegangi badan Niko yang bajunya hampir basah oleh keringat dingin.


Sean yang memapah Niko, menjadi perhatian orang-orang yang dari tadi menunggu ingin melihat Niko, karena peduli dan kasian pada wajah pucat Niko.


Niko duduk dengan asal di jok belakang. "Sudah, Se. Aku sendiri. Kau ikut Lena saja, dia seperti. kangen kamu."


"Tapi, Niko. Lena gampang."


"Sudah, aku tak apa, Man." Niko tertawa dan menepuk bahu Sean cukup keras sampai membuat Sean meringis. "Lihat, aku tidak apa, nanti aku telepon kamu, Okay. Sana, Lena sudah menunggu." Niko mendorong perut Sean dan mengabaikan tatapan protes dan khawatir Sean


Pintu taksi ditariknya hingga tertutup, Niko langsung bersandar di jok belakang sebuah taksi "Jalan, Pak."


"Kak, Niko sendirian?" tanya Lena yang berdiri di samping mobilnya. Dia ikut gelisah karena wajah khawatir kakaknya.


"Sudah cepat, masuk. Kita ikuti Niko." Sean mendorong Lena agar bergerak cepat.


"Maaf, Tuan Sean, saya tak bisa, atau Tuan David memaahi saya," kata Sopir dengan tangan gemetar.


"Aku akan telepon David sekarang! Kau tidak lihat kali Niko sedang sakit! Dia sini karena aku dan hanya aku yang dia punya. Dan dia tanggung jawabku. Kau memang mau tanggungjawab kalau dia ada apa-ap? Keluarganya menitipkan Niko padaku!"


"Kak tenang, tenang, nggak usah pakai marah, Bapak ini cuma kerja. Kasian, kan." Lena mengingatkan sambil mengelus lengan Sean saat pak sopir sudah begitu terlihat tertekan.


"Pak, tolong jalan dan ikuti mobil itu, aku telepon suamiku sekarang."


"Baik Bu." Sopir mengikuti mobil Niko terdengar Nyonya Lena, mulai melobi Tuan David.


Lima belas menit berlalu, mereka memasuki halaman rumah sakit terdekat dan berhenti di lobi. Begitu Niko turun dari mobil, Sean langsung membantu memapah Niko yang sudah tampak begitu lemas.


Lena menengok ke kanan ke luar jendela dan melihat wajah Niko yang sangat kasian. Dia berjanji pada David takkan mempedulikan Niko, tetapi pikirannya tetap tak tenang di sepanjang perjalanan dan dia berharap Niko kembali sehat.


...****************...


Sorenya, Emma menekan bel pintu apartemen milik Niko, dengan membawa dua kantong makanan sehat dan aneka roti, juga sayuran mentah. Dia menaruh belanjaan di lantai depan pintu, untuk menelpon Niko.


"Hehehe, baru mau telepon kamu, kak Niko?" Emma mematikan ponsel karena Niko sudah membukakan pintu. Emma kembali memegangi dua kantong paper bag dan melangkah maju, tetapi keningnya terhalang telapak tangan Niko yang menahan keningnya.


"Kau mau apa? Sean di tempat Lena."


"Aku mau jenguk kamu."


"Terimakasih, sudah repot-repot untuk menjengukku." Niko memegangi bahu Emma dan mendorong Emma perlahan. "Sudah, kan? Silahkan pulang." Niko menutup pintu dan Emma berkedip tak percaya.


"Niko! Aku bawa banyak sesuatu untuk kamu," teriak Emma. Dia menaruh belanjaan dan menekan bel berulangkali. "Tega sekali kau tak mau membukakan aku pintu lagi seperti tempo hari. Lihat, aku bisa memaksa, untuk, masuk sendiri loh."


Dengan btak sabaran, berulang-ulang, Emma memencet bel, tetapi tak mendapat tanggapan. Emma menekan sandi pintu dan mendorongnya, berhasil. Namun, tidak ada Niko.


Emma masuk mengendap-ngendap. Langkahnya berjingkat-jinkat pelan seperti maling takut ketahuan. Lalu meletakan makanan di atas meja makan.


Pintu kamar tertutup. Ya sudah. Emma mengeluarkan semua makanan sehat itu dan meletakan sup ikan di mangkuk milik Niko. Setelah Emma, memasukan bahan masakan ke kulkas. Lalu mengetuk pintu kamar dengan intena. Pintu itu terdorong karena Niko tidak menutup dengan benar.


"Niko, makan dulu, kamu pasti belum makan."


Niko yang miring kiri, mengelap air mata kesedihan dengan bantalnya. Dia tak menjawab ajakan Emma.


"Aku pulang ni, jangan lupa dimakan, baru minum obatmu," suara Emma penuh kehangatan.


Niko terperanjat, dia tak mendengar suara lagi setelah beberapa menit. Kepalanya menoleh ke belakang, lalu duduk karena tidak melihat Emma.


Perlahan Niko berjalan dengan badan masih demam dan langkahnya terhenti saat Emma mendongak. Wanita itu langsung berdiri dari tempat duduk dengan perubahan wajah yang tadi sedih melihat ke banyak makan, lalu berbinar saat melihatnya.


"Aku mau pulang. Dahh." Emma tertawa kaku dan berjalan ke arah pintu.


"Lupa." Emma berbalik badan di depan pintu dan Niko sudah di depannya. Emma tersenyum penuh kasih sayang. "Tas-" Emma meringis karena Niko sudah membawakan tasnya seakan sudah berniat mengusirnya.


Emma menarik tasnya lalu tanpa diduga perutnya bunyi. "Hehehe aku belum makan. Maaf. Apa kau mau menawariku makan dan kita makan bersama?"


Niko terdiam tanpa ekpresi wajah. Dia menatap dingin ke dalam mata coklat, kanan dan kiri bergantian. "Kau sebenarnya mau membawa makanan itu untuk Sean kan?"


"Kok Seany si?" alis Emma berkerut dalam. "Ya kamulah. Itu buat kamu! Kan, itu makanan orang sakit. Hambar. Aku buat sendiri dari tadi siang loh?"


Niko berbalik badan dan melangkah ke meja makan, melihat makan sebanyak itu. "Dasar, memangnya aku Hulk bisa makan sebanyak ini. Orang sakit pun tak selera makan. Mubajir, kan." Niko dengan perasaan putus asa dan duduk tegak.


Dia meraih sumpit miliknya dari tempat sendok, dan menarik potongan ikan dan membawanya ke piring yang sudah disediakan Emma.


"Kamu tidak menawari makan ke orang yang sedang kelaparan?" tanya Emma terdengar sedih dan penuh harap.

__ADS_1


Niko menggigit daging ikan laut, yang lembut dan tak amis.


"Teganya, ya, teganya." Emma masih di depan sofa berharap Niko mengundangnya makan.


Sebuah sendok sup, di sendokan ke mangkuk, Niko membawa sendok itu ke ujung mulutnya. Dia menyeruput perlahan dalam mode mata terpejam ala Chef Juna.


Beneran, tidak terlalu asin, tetapi gurih dari ikan fresh, ada manis asli dari ikan dan berbau rempah. Sepertinya, baru kali ini dia merasakan masakan Emma. Sayang sekali, Sean tidak di sini. Apa aku sisakan untuk Sean?


Niko menarik mangkuk sup ke depan dadanya saat tas Emma, terdengar di jatuhkan di sampingnya. Niko kembali fokus makan dan Emma terus mengoceh. Akhirnya, wanita itu lelah sendiri dan justru duduk di samping kanannya.


Niko menggeser kursi hingga lengan Emma leluasa saat makan tanpa bersentuhan. Satu mangkuk sup ikan, yang telah kena sendokan suapannya, diraih Emma. Niko menahan mangkuk itu, menariknya ulang dan meletakkannya di dl sisi kiri hingga Emma tak bisa menjangkau mangkuk itu.


"Niko, aku tidak jadi mengajakmu ke tempat itu karena kamu sakit. Kamu, cepat sembuh biar kita bisa ke sana."


"Panggil Kakak," tegas Niko setelah menghentikan makan sejenak. Dia tak pernah menatap Emma sejak mulai makan, tak mau orang lain mengasihinya.


"Iya, Kak. Aku ingin main ke mall tapi nggak ada temen. Niatnya, mau cari jaket buat Kak Sean."


"Bisa tidak sih, jangan terlalu mengejar Sean?" Niko kembali membungkuk dan makan lagi.


"Kenapa?"


"Cerewet, makan saja dan diam. Kau membuat kepalaku makin sakit," suara Niko meninggi dan dia menaruh sendok di mangkuk dan memandangi banyaknya makanan.


Emma dengan takut menunduk. "Aku malah jadi tidak selera makan."


Suara cacing-cacing di perut Emma memecah keheningan di antara mereka yang sama-sama berhenti makan.


Niko begitu dingin, masih duduk tegak dan terus memandangi makanan. Dia takut menyinggung hati Sean karena Emma membawa makanan sebanyak ini untuknya.


"Makan, habiskan ini semua. Baru kau boleh pulang," suara Niko dingin, dan tanpa menoleh. "Jangan sampai Sean tahu kau membawakan ini semua untukku ya."


"Kenapa?"


"Jangan banyak tanya!"


Emma berdiri dan menghadap Niko yang masih duduk dan memandang meja. "Kenapa sih kamu? Hari ini terus marah-marah? Bisakan berbicara slow," suara Emma sangat pelan dan ingin tahu. "Kau sebenarnya mau aku gimana?"


"Jangan jadi murahan!"


Pandangan Emma meredup, dia tak sakit hati. "Kenapa kau selalu mengatakan itu?"


"Jangan mengejar, mengejar rasanya sakit," suara Niko berubah datar dan tangan terkepal di atas meja.


"Okey, aku takkan mengejar Sean lagi." Emma duduk lagi dan melanjutkan makan. Dia makan dengan canggung, mungkin maksud Niko baik, bahwa pria itu memang tak mau dia sampai sakit hati bila terlalu mengejar Sean.


Emma berhenti mengunyah sejenak, saat Niko mengambilkan - telur ikan- goreng dengan sumpit yang baru diambil dari tempat sendok dan ditempatkan di atas pasta miliknya.


"Lain kali bawakan aku makanan hambar seperti ini. Terimakasih," suara Niko bergetar.


"What?" batin Emma sambil menoleh ke kiri pada Niko yang menunduk dan melanjutkan makan sendiri. Sebenarnya, mata Niko itu kenapa, kalau cuma sakit fisik apa jadi seemosional itu.


"Iya," kata Emma pelan tak mau merusak suasana. Emma terdiam sejenak lagi, terperanjat karena Niko mengambil gorengan -telur ikan- lagi. "Itu kan buat kamu?"


"Makan."


Emma mengangguk karena suara Niko terdengar memohon. Emma melihat sepuluh menu berbahan ikan , telah habis. Hanya - telur ikan- yang dia buat empat potong, semua itu ditaruh Niko ke piringnya.m. Jadi, dia berpikir, Niko tidak suka -telur ikan-


Piring ditumpuk Niko, Niko menarik tangan Emma dan menahan piring yang dipegang Emma. Jadi, Emma melepaskan piring di genggamannya, yang kemudian dibawa Niko.


"Kamu lagi sakit, aku kan yang kotori piringmu, biar aku yang cuci," pinta Emma. Kasihan melihat wajah Niko penuh keringat berlebih dari biasanya.


"Tamu adalah raja. Habiskan jusmu dan lekas pulang."


Niko membawa piring kotor ke westafel dan mulai mencucinya. Piring telah bersih, Emma masih tak beranjak dari meja makan. Niko masuk kamar dan mengunci pintu kamar.


Emma menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Dia mengambil tasnya dan mengetuk kamar Niko. "Aku pulang ya, lekas sembuh dan minum obatmu. "Besok, saat Kak Sean kerja, aku akan membawakanmu lagi makanan hambar. Selamat beristirahat."


Dengan langkah cepat Emma bergegas keluar dari apartemen. Sebentar lagi jam Paolo pulang, dia tak mau dimarahi Paolo karena bermain ke tempat Niko.


Sekepergian Emma, Niko keluar kamar dan melihat gelas dengan bekas lipstik. Niko duduk dan memegangi gelas mini, memutar dan melihat bekas cap bibir dari lipstik pink. Suara pintu terbuka, Niko berdiri dan menunduk lagi.


"Kau sudah sembuh, Naik? Aku bawakan makanan yang dimasak oleh Lena." Sean membawa sekantong paperbag.


Niko berkedip pelan dan membawa gelas ke belakang pinggang. "Lena masak apa?"


"Ikan telur goreng, ah pas kesukaan kalian. Mungkin dia kasian kamu sedang sakit." Sean berkata dengan penuh arti.


"Aku tak napsu makan, buat kamu saja."


Senyuman Sean memudar dan menatap sendu."Maaf, aku tak bermaksud-"


"Aku memang tak ingin makan apa-apa, kau tahu kan orang sakit memang tak selera makan. Jangan tersinggung."


"Nggaklah, Man, aku tersinggung? Mana mungkin." Sean sedih karena dia tahu ada yang tidak beres dengan Niko. Matanya tak sengaja melirik sesuatu ada yang disembunyikan Niko dan dimasukan saku celana traning itu.


"Aku mau tidur, jangan lupa matikan lampu." Niko berjalan ke kamar.


Sean menaruh semua masakan di kulkas, tetapi kulkasnya penuh. Jadi, -ikan telur goreng- diletakan di atas microwave, tak muat bila masuk kulkas.


Sean membuang kantong papaerbag ke tempat sampah. Matanya berkedut, terpaku pada paperbag asing yang sepertinya baru dibuang karena bentuknya masih bagus. Dia menjepit paperbag, lalu menariknya.


Dia jadi teringat pada paperbag yang sering dibawa Emma, Ketika Emma membawa makanan ke butik. Ini mirip. Di dalamnya seperti banyak strerefoam. Sean melirik kanan dan Niko sudah berdiri memandanginya, bahkan dia tak mendengar suara langkah Niko.


Niko memutar mata, menghindari tatapan Sean. Tampak Sean langsung menutup tempat sampah. Niko melewati Sean dalam diam dengan mengambil sebotol air putih.


"Aku tahu. Kalau kau marah dengan Lena, kan?" suara Sean dengan rendah dan hati-hati.


"Masa?" Niko melewati Sean begitu saja. Dia duduk di pinggir tempat tidur, melirik gelas bekas lipstik Emma.


Niko akan menuangkan air ke dalam gelas itu, tetapi diurungkan. Dia memasukan gelas itu di laci paling bawah, dengan posisi gelas tiduran dan bekas lipstik itu di bagian atas. Niko mengunci laci dan menaruh kuncinya di bawah bed.


Obatnya diminum langsung dengan air dari botol, tanpa menggunakan gelas. Niko mematikan lampu kamar dan tidur dengan menghadap tembok.


Sean menarik napas dalam sekembali dari kamar mandi karena lampu kamar dimatikan semua. Itulah kebiasaan saat dulu di rumah Bali.


Sean berbaring di kasur Niko dan mencoba bernapas teratur. Sikutnya bersentuhan dengan punggung Niko yang terasa masih panas dan berkeringat.

__ADS_1


"Tadi, Lena sempatkan ke mall. Sengaja mencari telur ikan. Kami memutari sampai tiga mall baru mendapatkan itu. Barusan telah kupanaskan, bila kau mau mencicipi. Besok pagi, bisa dihangatkan ulang. Aku besok belajar masak deh untuk sarapan kamu ya?"


Niko tak menjawab dan memilih terpejam. Dia menahan napas sejenak saat Sean lalu memunggunginya


__ADS_2