
...🇮🇹NAPOLI🇮🇹...
Setelah melewati beberapa malam mempelajari aktifitas David secara langsung, Niko menyusup ke rumah Marcho malam itu. Dia berlutut di sebuah lantai atas, sementara David berdiri sedang berbicara dengan, Marcho yang mabuk di lantai bawah. Teropong diatur hingga titik bidik senapan mengarah ke kepala David, lalu turun ke leher belakang David.
Katakan itu bukan David! Jangan lukai dia! Dia penting bagiku, Kumohon hentikan mereka!
Bayangan tangisan kesakitan Lena menggema di pikiran Niko, membuat tekadnya makin bulat. Telunjuk menelusup ke depan triger.
"Biar bila orang lain mau berbuat buruk kepada kita, mereka takkan tenang sendiri dan akan terus dibayang-bayangi perasaan bersalah tanpa mereka sadari. Kita harus tetap ikuti hati nurani! Itu adalah petunjuk hakiki, Nak” kata Ummi seraya memegang ke dua tangannya saat dia masih TK.
“Tapi, kepala Iko sakit Ummi? Dia bersalah dan tidak meminta maaf, tapi justru menertawakan Iko, katanya Iko cement.” Niko merasakan kedua tangan ibu memegangi kepalanya yang diperban akibat terkena lemparan batu dari ketapel dan membuat kepalanya berdarah.
“Hei , putra ibu bukanlah pendendam! Orang yang pendendam tidak akan merasakan kebahagiaan meski dia memiliki semuanya. Jika Iko membalas, Iko memang akan puas, tetapi cuma sesaat. Sisanya Iko tidak akan nyaman. Dengar, hati nuranimu adalah alarm. Coba ingat kembali, setiap kali Iko berbohong pada Ibu, Iko langsung merasa tidak nyaman, Benar?”
Niko mengangguk.
“Semarah-marahnya Iko, tidak dibenarkan Iko melukai manusia lain. Jadilah merdeka. Ibu mencintaimu, ibu minta tolong, ya. Jangan membuat Ibu sedih dengan kamu melakukan itu, Niko Alfrizi?”
Kelopak mata Niko bergetar, pandangan meredup oleh embun bening yang baru melesak ke pelupuk mata. Telunjuknya yang gemetaran dijauhkan dari triger, pegangan menjadi tidak stabil. Dia kesulitan memfokuskan titik tembak.
Bulir keringat jatuh dari pelipis mengalir ke pipi. Niko membidik kepala David. Menarik napas dalam. Jantungnya berdegup makin kencang. Matanya terpejam lalu menarik napas panjang. Sedetik kemudian dia berbalik duduk putus asa dan bersandar pada pagar. Dia tidak bisa melakukannya.
“Sudah seminggu, kau selalu mengulur waktu? Lena bersamaku, jangan berani-berani kau menundanya !”
“Kau berani mengancammu? George, kau yang membutuhkanku!”
George tertawa dengan sinis saat Niko mencengkeram kerah lehernya begitu kuat. “Aku tidak membutuhkanmu.”
“Kau yang selalu datang padaku!”
“Jangan lupa itu kau yang memutuskannya. Apa menurutmu aku kekurangan orang? Aku yang membantumu, ingat. Lena bersamaku, keluargamu bersamaku. Jadi, lepas tanganmu bila kau tahu situasinya ?”
Niko mendorong kasar George sampai ke sofa. “Kau menjebakku, George?”
“Jangan merasa menjadi korban. Sudahlah, selesaikan. Aku tidak terlalu baik. Aku juga memiliki Emma, Right?”
“Kau bawa-bawa Emma yang tidak ada hubungannya !”
George menyeringai. “Wow! Apa ini, kau peduli padanya?”
“Dia hanya perempuan yang tak tahu apa-apa!”
“Sure? Mengapa jadi bersemangat sekali? Santai saja lagi?”
Niko menelan saliva kasar. “Aku tidak peduli dengan dia!”
“Lakukan secepatnya, dan kujamin dua wanita itu takkan terluka!” George dengan nada penuh peringatan. “Jangan berani bermain-main denganku? Karena kau takkan menang.”
Menarik napas dalam, Niko mengangkat senapan, membidik David yang dalam posisi akan memukul Marcho. Sebenarnya, kenapa dua orang itu? Dari dulu selalu ribut. Bayangan tatapan Lena muncul dalam pikirannya saat wanita itu menatapnya dengan penuh cinta dan mengira dia David.
Pandangan itu dulu milikku, bagaimana bisa kau merebutnya dariku, Dav. Aku akan memilikinya kembali. Batin Niko dengan tekad bulat.
Tangannya gemetar menyentuh triger saat genggaman tangan kiri menguat. Mengambil napas dalam dengan jantung berdegup kencang.
Dor! Suara letusan tembakan menggema diikuti kilatan api yang tertangkap mata Niko dan menembus punggung Marcho.
Tersentak, Niko memakai senapan dengan peredam suara, itu bukan senapannya. Dia membeku melihat Marcho jatuh menimpa David. Darah mengalir lebih banyak. Seluruh tubuh Niko meninggigil.
“Marcho? Marcho!!”
Mata Niko melebar mendengar teriakan David. Detik berikutnya dia melihat David duduk dan tampak David melihat sekitar, lalu sempat melihat ke arahnya.
“Ada orang di atas!” Teriak David menggema.
Niko menaruh asal senjata itu ke dalam koper, menutupnya dan bergegas lari ke balkon. Dia sempat melihat Axel naik tangga. Niko turun melalui tali, bahkan loncat saat masih ketinggian dua meter.
Suara orang-orang berteriak di belakang , sebelum Niko melompati pagar. Dia berhasil kabur melewati rumah orang, meninggalkan alat senapan di antara rerumputan dan berlari sekuat tenaga lalu naik pohon. Beberapa saat kemudian Niko melihat orang-orang berlarian di bawah pohon.
__ADS_1
“Berapa pelakunya!”
“Dua orang! Yang satu ke selatan. Blokir jalur selatan.”
Percakapan mereka dapat didengar oleh Niko. Dia belum menembak. Jadi ada orang lain yang berniat menembak ke Marcho dan David!
Niko membuka ponsel dimana George mengirim foto Emma yang sedang tersenyum sambil menyuapi Donna.
Tangannya meremas ponsel. Niko menunggu setengah jam, setelah yakin tidak ada orang, dia pergi ke tempat Emma.
Niko meninggalkan surat di dalam tas Emma. Lalu melirik sebentar pada wanita yang lama tidak dilihatnya, diuraikan poni itu ke samping, diusap keringat itu. Jarinya berjalan ke ujung mulut gadis itu.
“Kau harus jaga dirimu sendiri.” Niko menekan bibir bawah Emma dengan jempol dan mengecup pipi kiri yang terasa lembut.
Bergegas, Niko pergi meninggalkan kamar Emma. Dia menyusup ke rumah David selagi Paolo tidak ada di rumah. Disisipkan penyadap di dalam kamar David. Niko melirik botol minuman keras, dan menyuntikan sebuah cairan ke dalamnya.
.
.
Menjelang pukul empat pagi, Niko membawa tas senjata ke sebuah apartemen. Dia mengecek peluru yang utuh di atas tempat tidur lalu mondar-mandir dengan mengabaikan dering panggilan. George pasti akan marah. Dia bahkan pergi dari hotel tanpa memberitahu George.
Seorang gadis masuk ke kamar langsung menjerit, Niko menutup mulut gadis yang ketakutan itu saat melihat koper senapan terbuka.
“Hei, tenang. Kau adiknya Pecco, hari ini kau ulang tahun. Benar?” Niko merasakan gadis itu makin gemetaran. “Lihat ke meja. Red Velvet itu untukmu. Selamat ulangtahun yang ke 24.”
Niko melirik ke mata Lili yang berkaca-kaca. “Aku akan melepaskan tanganku. Tolong jangan berteriak. Jangan takut, aku yang pernah menolongmu di batas kota saat kau akan dilecehkan.”
Wanita itu berpikir sejenak dengan ragu memandangi pria itu, lalu mengangguk berulangkali. Dia menjauh begitu pria itu melepaskan bekapan.
Niko melirik ke arah bawah wanita itu. ”Apa yang kau kenakan? Sepertinya, Pecco tidak senang bila tahu cara berpakaianmu seperti itu?”
“Jangan beritahu Kakak,” lirih Lili salah tingkah.
“Cepat ganti bajumu.”
“Kau punya kamar mandi kan? Kenapa berganti di situ.”
“Ini sama saja,” ketus Lili dan menyelesaikan memakai celana dan menurunkan rok. Kini dia melepas tanktop.
“Lili,” geram Niko, meski tanpa melihat dia merasakan pergerakan wanita itu yang pasti tersisa pakaian inti.
“Ini kan kamarku, kenapa kamu yang ribut?”
Niko mengernyitkan kening. Dimana gadis yang lima menit lalu takut padanya.
“Apa yang kau lakukan dengan senjata itu? Apa kamu berburu? Atau latihan tembak seperti Pecco.” Lili selesai memakai kaos , lalu menghempaskan diri ke kasur dan memeluk tas senapan.
Niko terkekeh. “Ya, aku latihan menembak. Ayo, kita nyalakan lilin untukmu.” Pria itu merebut tas senjata itu dan menaruh di lantai.
"Lili ikuti aku .... " Niko membawa kue ke dapur, menyalakan kompor, lalu memegangi lilin ke dekat kompor. Dan menancapkan lilin yang menyala di atas kue. Dia membawanya ke kamar karena itu tidak keluar.
Menarik napas dalam, kemudian Niko bernyanyi dengan wajah datar sambil duduk di pinggir tempat tidur saat gadis itu mulai duduk dan ikut bernyanyi dengan mata berbinar.
“Make wish.” Niko berkata layaknya seorang kakak pada adik. Wanita itu meniup dan Niko memberikan kue itu ke Lili.
Bergegas, Niko membuka lemari Lili dan mengambil tas senapan, menempatkan dalam lemari dengan posisi berdiri. Dia mengunci dan kuncinya di masukan ke dalam saku.
“Itu lemariku, kenapa kau menguncinya dan menyimpan itu di sana!” Lili mencolek krim kue dan menjilati jarinya.
“Lili, barang ini milik kakakmu. Nanti aku akan mengambil lagi. Ngomong-ngomong selama tiga hari ini, aku tidur di sofa depan. Jadi, kamu dilarang membawa teman-teman kamu selama aku di sini.”
“Loh? Kenapa kamu sesukamu!”
“Dengar ya. Ini kata Pecco kalau kamu banyak berkomentar, aku akan menyita biolamu.” Niko terkekeh.
“Huh, menyebalkan!” Lili beranjak dari tempat tidur. Terserah kamu sekarang, asalkan jangan berani-berani memegang biolaku!”
__ADS_1
*
Ketika Lili terbangun, dia melihat kotak hadiah besar di lantai depan lemari. Dia menarik pita pink, dan saat mengangkat tutup dus, lalu tangan lain menutup mulut. Dia menaruh tutup dus di lantai. Lalu menyentuh dengan takjub pada Biola yang diproduksi dari pabrik terkenal. Dia tahu biola ini terlalu mahal dan kakakpun tidak mampu membeli ini.
Lili menarik secarik amplop dan membaca sebuah surat yang isinya, bahwa hadiah ini diberikan Niko karena Niko mendengar dari sang kakak bahwa dia sangat mencintai alat musik ini.
“Apa dia pecinta biola? Darimana dia tahu alat sebagus ini! Padahal aku tak pernah bilang Kakak kalau aku ingin ini?”
.
.
Bernyanyi riang, Emma mematut diri di depan cermin rias. Kini dia tinggal memakai parfum. Ditarik tas LV, tangan itu merogoh ke dalam saku tas sambil terus mengamati lipstik di pantulan cermin.
"Apa ini?" Dia tertunduk dan menarik sesuatu aneh. Kertas? Emma menarik itu dan menaruh tas di lantai. Dibolak-balik amplop warna krem. Dibuka, dikeluarkan kertas itu dan dijereng. Tertulis ini untuknya.
Dilirik inisial tanda tangan Niko, membuat wajahnya langsung pucat. Benarkah ini Niko?
...Emma yang tersayang,...
...Bagaimana kabarmu? Kupikir kamu mendapatkan apa yang kamu mau. Selamat, kalian makin dekat! Apa pada akhirnya kau dan Sean bersatu?...
...LoL Aku iri....
...Mulai sekarang jangan pergi tanpa pengawalan. Hindari tempat sepi dan bawalah pelacak tersembunyi! Aku mencemaskan keselamatanmu dan Donna....
...Jangan beritahu pada siapapun soal surat ini, aku akan datang menemuimu dalam tiga hari. Tidurlah lebih awal dan bangun jam satu pagi....
...-N-...
Banyak pertanyaan muncul di kepalanya. Emma gatal ingin memberi tahu David karena kemarahannya pada Niko. Tapi Niko akan menemuinya. Jadi, biarkan tetap seperti ini dulu.
Mengarahkan mobil ke kafe, Emma mengemudi sambil melamun sampai Sean menegurnya. Sesampai di restoran, Emma juga masih melamun.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Sean dengan cemas.
Emma menggigit bibir bawah dan menggelengkan kepala. Dia bimbang akan memberitahu Sean. Orang yang dicari-cari semua orang, justru menghubunginya. Tapi kapan Niko memasukan itu ke dalam tasnya? Dia sangat ingin berbicara dengan Niko dan ingin tahu kondisi Lena!
.
.
Habis dari kafe, Sean dan Emma ke rumah sakit untuk menjenguk Marcho yang masih dalam kondisi koma di ruang VIP.
Di sana, Sean melihat Kak Stef yang tampak begitu terpukul dan setia menunggui Marcho. Huft! Aku tidak tega melihat Kak Stef seperti itu.
Dari luar balkon, Niko mengintip ke dalam kamar itu. Jangan tanya mengapa dia selalu lewat balkon, itu adalah tempat teraman dan jarang didatangi orang saat malam! Namun, melihat Sean mendadak semua keberanian dalam dirinya terasa menciut. Dia sangat merindukan Sean.
Sekepergian Sean, Stef dan Ema, Niko mengotak-atik pintu balkon. Dia bergegas meninggalkan penyadap. Niko melangkah keluar. Dia akan lompat pagar, pada saat yang sama melihat seorang pria berpakaian seragam medis masuk.
Matanya lalu terkejut saat pria tua itu menarik bantal dari kepala Marcho dan mencoba menutupi wajah Marcho dengan bantal sampai Marcho kejang-kejang karena tidak bisa bernapas. Niko bergegas kembali ke balkon dan menarik senjata dari kaitan di kakinya
Pecahan percikan api terlihat dan suara letusan terdengar menggema. Peluru itu menembus kaca dan tepat mengenai lengan pria itu, yang langsung mundur tak seimbang- menjauh dari Marcho yang tadi sempat kejang-kejang.
Tampak pintu kamar itu terbuka, Kak Stef yang baru masuk ke kamar rumah sakit tampak kaget lalu berteriak bingung dengan kondisi di kamar itu.
Stef melihat darah berceceran di kasur dan lantai, serta tangan petugas medis. Sementara bunyi BIP tak normal terdengar dari peralatan rumah sakit, dan Stef sempat melihat Marcho yang kejang dengan pandangan kosong melotot, dan bantal itu terjatuh di lantai. Stef bingung melihat petugas medis itu pergi.
David yang baru masuk lebih bingung, dia mengerutkan kening pada petugas medis yang tampak tergesa-gesa. David menangkap petugas medis itu karena tampak akan lari, tepat saat para dokter datang setelah Stef menekan tombol panggilan.
Niko bergegas pergi dari sana dan turun di daerah sepi. Dia memasukan tali tambang itu kedalam ransel dan berusaha berjalan normal. Mengapa dia jadi ikut campur ke urusan mereka. Dia tidak salah, lelaki itu akan membunuh Marcho. Ah, padahal dia akan menargetkan David.
Sean berjalan ke parkiran, setelah dari toilet. Di lorong semi gelap, matanya terpaku pada sekelebat orang baru lewat yang bermasker dan topi, tetapi parfum ini dia ingat. "Niko-"
Niko menoleh ke belakang dan matanya berkedut dan bersitatap dengan Sean. Dia sampai lupa bahwa Sean di tempat ini. Sekuat tenaga dia kerahkan untuk berlari.
"Niko, brengs*k kau berhenti!" Tangan Sean mengimbangi langkahnya yang panjang. Dia melompati anak tangga tak mau kehilangan Niko. "Kau bukan seperti itu brengs*k! Di mana Lena!"
__ADS_1
Air mata Sean berjatuhan. Kali ini dia tak mau kehilangan jejak Niko. "Ibuku sakit, Niko! Itu gara-gara kamu! Aku benar-benar mengutukmu, pengkhianat! Berhenti jangan jadi pengecut!"