
Hari makin larut, jam menunjukkan pukul 7 malam, saat Lena turun dari mobil. Sean berdiri dan menatap jengah pada David yang keluar dari mobil, hingga dia memutuskan masuk ke dalam kamarnya. Langkah Sean terhenti karena bapak yang baru keluar dari ruang keluarga.
"Sean, ada tamu ... sambut, kok malah masuk." Sujatmiko bergegas keluar dan putranya tampak malas mengikuti dari belakang. Alis Sujatmiko terangkat satu, pada belanjaan yang baru diturunkan oleh empat pengawal dari mobil lain.
"Selamat malam, Om." David mengecup punggung tangan calon mertua.
"Assalamualaikum, Pa." Lena mengecup punggung tangan Bapak.
"Walaikum salam. Ayo, masuk." Sujatmiko menyuruh David duduk. Lena masuk ke ruangan lebih lebih dalam. Sementara Sean melihat puluhan paperbag dengan tangan terlipat di depan dada, otot-otot di wajahnya makin tegang dan sangat tidak nyaman melihat barang-barang sogokan.
"Sean, kenapa hanya berdiri? Temani duduk, Nak David." Sumarni melihat barang belanjaan yang tampak mahal dan membuatnya tak nyaman. Dia duduk di samping Sujatmiko dan bersalaman dengan David. Setiap obrolan antara suami dan David terus didengarnya dengan seksama. Pantas saja Lena terpincut. Tampan, pintar membawa diri. Tetapi Mas Sujatmiko sepertinya masih terus mencaritahu orang seperti apa itu David.
"Bapak udah isya, loh. Nggak sholat?" Sean mengingatkan, dia gerah harus duduk berdampingan. "Kata bapak Sholat yang utama."
"Ah, ya. Saya sholat dulu." Sujatmiko menatap David bingung, setahu dia orang luar non muslim.
"Bolehkah saya Sholat di sini?"
"Apa?" suara Sean retak, bersaamaan dengan sang ibu yang berkata. "Ikut Sholat?"
"Kamu ... muslim?" tanya Sujatmiko dengan penuh keseriusan.
"Sholat? memangnya bisa?" gumam Lena yang baru datang, lebih terkejut sampai nampan di tangannya bergetar.
__ADS_1
"Saya telah berpindah agama selama semingguan ini. Hanya saja saya malu mengakuinya." David menggaruk tengkuk dan menunduk.
"Tidak perlu malu, kita semua belajar." Sujatmiko tersenyum tipis.
Dari mulai wudhu, semua anggota keluarga mendahulukan David, sebenarnya mereka ingin mengamati cara berwudhu David, yang ternyata benar. Sean melongo, Ibu dan Lena kagum, dan Sujatmiko mangut-mangut dengan senyum tipis.
"Mau jadi Imam?" tanya Sujatmiko, memandang heran, karena David tidak tahu cara menggunakan sarung. Sampai Sujatmiko menyuruh Sean membantu cara mengenakan sarung.
"Boleh?" tanya David dengan tenang. Setelah dia sibuk semingguan untuk menyempatkan waktu untuk mengundang dan menjamu salah satu ulama besar ke rumah. Awalnya dia yang menawarkan diri untuk datang, tetapi ulama itu justru dengan sangat ramah meminta agar beliau sendiri yang berkunjung ke tempat David hingga banyak mengajarkan ilmu agama.
"Boleh, siapapun bisa jadi imam, asal tahu tata caranya."
"Ntar salah baca lagi? pake sarung saja tak bisa," gerutu Sean yang baru selesai memakaikan sarung pada David, lalu berdiri di samping ayahnya.
Setelah makan malam dengan Balado telur dan SOP, David pamit pulang karena sudah jam 8 malam. David juga mengaturkan niatannya untuk besok malam. "Jika bapak dan ibu tidak keberatan, keluarga saya mengundang bapak dan ibu, juga Kak Sean untuk makan malam kecil-kecilan. Mereka sangat ingin mengenal lebih dekat bapak-ibu dan menunggu kehadiran besok malam."
Sujatmiko tersenyum hangat dan menatap istrinya sebentar. Dia menatap sang putra yang wajahnya begitu kaku. "Gimana, Sean?"
"Terserah bapak," nada Sean ketus.
"Insyaallah, besok kami semua akan datang, karena tidak baik juga menolak undangan makan." Sujatmiko mengantar kepergian David ke depan bersama putri dan istrinya.
Sean berdiri di depan pintu, dia tak tahu tanggapan Niko jika tahu ini. Padahal besar harapannya sang adik akan dipinang oleh Niko. Dia yakin ini bukan undangan makan malam biasa.
__ADS_1
Pakaian demi pakaian dibuka Lena untuk bapak dan ibu, dengan hati-hati dan takut akan tanggapan keluarganya. Sean menelan Saliva , saat menerima tas LV yang pasti harganya mahal. Dia menatap ragu pada tas berwarna hitam, dia pernah melihat temannya mengenakan ini, harganya paling tidak 15 juta.
"Kak, itu Mas David yang pilihkan, sneaker nya juga, Tas ibu juga, Mas David yang belikan. Kalau pakaian semua yang belikan Papa Ardian, walau David yang memilihkannya."
"Papa Ardian?" Sujatmiko dan Sean mengulang bersamaan. Sumarni hanya tersenyum pada kecanggungan putrinya.
"Papa Ardian, papanya David, meminta Lena memanggil Papa."
"Syukurlah, putri kita diterima oleh keluarga itu, ya, Pa?" tanya Sumarni pada Sujatmiko. Suaminya itu sepertinya cemburu karena ada pria lain yang dipanggil lebih bagus 'Papa' dari pada panggilan pada suaminya yang hanya 'Bapak' hingga suaminya hanya menjawab, 'Hem'.
"Bapak, ini sogokkan. Belum tentu setelah menikah mereka bersikap baik pada Lena." Sean mendorong tas dan sepatu itu ke lantai, lalu berdiri.
"Sean, duduk." Sujatmiko dengan tegas. "Itu baru undangan makan, belum sejauh itu."
"Iya, kak, benar kata bapak." Lena dengan lesu karena sikap bapak dan Kakaknya yang begitu dingin. "Tapi, Lena mencintai David. Apakah bapak dan Kakak tak memikirkan perasaan Lena? Mas David sudah masuk Islam dan belajar dengan baik, belajar bahasa Indonesia juga. Usaha Mas David pada Lena bersungguh-sungguh, bukan seperti Niko yang hanya di mulut-"
"Lena!" bentak Sean. "Jikapun Niko kaya dan diberi kecukupan, mungkin dia akan lebih cepat bergerak daripada David. Kau! dibutakan oleh kemewahan. Jangan sampai kau menyesal bila David meninggalkanmu dan kita tidak mampu menyusulnya ke Italia, karena kau tahu kita dan mereka sangat berbeda."
"Cukup Sean!" gumam Sujatmiko dengan penekanan saat mata putrinya berkaca-kaca. "Duduk! Kau berani berkata keras, sedang ada bapakmu duduk di bawah?"
Kelopak mata Lena bergetar. Dia tidak sampai mengira keluarganya sampai ribut seperti ini hanya karena hubungannya dengan sang kekasih. Hatinya bergetar dan dia tak bisa menahan kesedihan yang datang tiba-tiba.
Sean meninggalkan ruang tamu begitu saja dan semua orang menatap pintu sampai pintu itu bergetar berikut di dinding dari harbot karena bantingan keras. "Aku hanya menyayangi adikku! Aku tak mau dia Kenapa-kenapa, Bapak? Apa salahnya Sean? sampai kalian membela David yang belum lama kalian kenal?" teriak Sean dengan kegeraman sambil memukul-mukul bantal.
__ADS_1