
Dua bulan kemudian,
Emma yang memakai kemeja putih dan celana jeans panjang, berlari melewati ruang tamu dan mencari-cari Niko ke seluruh penjuru rumah. Dia menemukan Niko di halaman belakang. "Kak !"
"Apa Sayang?" Niko beralih dari tumbuhan yang baru disiram, menaruh catok di rumput dan berdiri karena Emma berlari dengan wajah berbinar. Ada apa dia?
"Aku hamil! Aku hamil!"
"Apakah ini April Mop?" Tumbuhan mawar kecil di tangan Niko, terlepas dan jatuh di atas rumput. Jantungnya mengembang maksimal lalu menciut maksimal.
"Beneran, aku tidak salah mendengar?" Alis Niko berkerut dalam saat Emma menghambur ke dada.
Emma berpangku dagu di dada bidang. "Aku mampir ke dokter karena sudah seminggu belum datang bulan. Tadinya aku mau telepon Kakak karena tak sabar memberi tahu ini, tapi aku lebih memilih pulang dan mengatakannya langsung. Ayo, lihat hasil pemeriksaan biar kamu percaya!"
"Tidak perlu," kata Niko dengan mata berkaca-kaca. Dia mengecup kening itu lama, dalam posisi tangan masih di samping paha karena kotor. "Aku percaya."
"Kamu senang, Kak?" Emma ingin mendengarnya langsung. Bibir Niko yang hangat dan masih terbenam di keningnya, membuat dia merasa dibutuhkan.
"Bukan hanya senang, Sayangku. Aku seperti menemukan dunia baru. Oase di Padang Pasir. Uh." Niko terpejam dan berpikir ini luar biasa. Memiliki dari apa yang dia miliki sendiri tanpa khawatir seseorang akan mengambilnya.
Niko tidak harus sering merasa gila lagi, seperti saat dia dulu memaksakan memiliki Lena, yangmana Lena pun tidak memikirkannya, ironis bukan? Ternyata hidup dari hasil paksaan tidak ada enaknya.
Selain itu membiarkannya mengalir seperti ini apa adanya membuat emosinya lebih stabil. Ini terasa tidak ada bandingannya.
Niko mengangkat dua sudut bibirnya. Apa dia patut diperjuangkan? Tapi, Emma membuatnya tersadar, bahwa dicintai itu jauh lebih ENAK.
Bagaimana bisa Emma memilihku dari pada Sean jika dilihat masa laluku yang mengerikan? Sungguh aku sangat beruntung.
Aku akan melepas Lena dari seluruh pikiran dan hatiku. Aku akan belajar mencintai istriku. Ya sudah waktunya. Terlebih, akan ada malaikat kecil di antara kami. Aku akan memberinya cinta yang banyak. Seperti Alaoa yang kuterima dari Abi dan Umi. Cinta yang sempurna. (Niko)
"Terimakasih telah menjadi wanita terbaik untuk hidupku, Sayang. Yah, walaupun awalannya kamu selalu mengusiliku, yah!" Niko dengan gemas. "Tapi, kamu adalah wanita yang luar biasa muncul di depanku disaat aku bahkan tidak tahu siapa aku."
Emma terkesiap, bibir Niko menjauh dari keningnya. Dia mendongak karena Niko yang memandangnya penuh ketulusan. "Um, kamu membuatku malu," suara Emma mengecil dengan wajah terasa terbakar.
Niko mengendus-ngenduskan hidungnya ke hidung sang istri yang membuat wajah itu makin merah. Niko tertawa setelah dia menggigit hidung Emma karena wanita itu langsung mengelapi hidung yang kesakitan.
Emma dengan dengan masih menahan malu membantu suaminya melepaskan sarung tangan silicon yang kotor. Dia melirik ke lima tanaman mawar yang baru di tanam Niko. "Kamu gagah kalau berkebun, Kak."
"Apa gagah?"
Emma melihat perubahan di telinga Niko yang kini memerah. Ya ampun dia bisa malu juga. "Ya, gagahnya ga ada yang ngalahin."
Niko memalingkan muka, tapi Emma masih melihat Niko yang meringis kesenangan. Dia kini mulai sadar bahwa suaminya juga menyukai pujian seperti itu. "Ayo, kita harus kasih tahu Abi dan Umi!"
Mereka lalu cuci tangan dan meninggalkan peralatan berkebun di taman. Niko berjalan dan terus merangkul bahu Emma dengan tatapan sama-sama dalam.
Dari rumah sebelah, Lena yang di dalam kamar, tak sengaja melihat kejadian barusan.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" David begitu penasaran, tetapi begitu mendekat ke jendela dan melihat halaman belakang di rumah Emma tidak ada apa-apa.
"Aku melihat Emma dan Niko barusan, mereka sangat bahagia."
"Oh ya? Kenapa kamu lihatin mereka, Mah?"
Lena mengangkat alisnya. "Aku jadi seperti terbebas."
"Terbebas?"
"Setelah aku telah banyak membuat kesulitan untuk lelaki itu. Seakan ini jawaban dari doaku selama ini. Sebelumnya, aku selalu merasa gelisah dan bersalah kepadanya. Aku benar-benar terharu sekarang dengan hubungan mereka." Lena menggosok matanya yang berkaca-kaca.
"Kamu bikin aku cemburu, kamu doain dia?" David dengan pandangan tidak percaya. Dia berbalik dan menyembunyikan senyuman karena pura-pura marah. Sentuhan tangan mungil merambat di perutnya dari arah belakang.
"Yang aku sayang dan cintai kan cuma Papa! Pah, doa yang bagus itu akan kembali. Aku berdoa yang terbaik untuk semua orang, tidak hanya Niko tapi Shinta juga."
David menyipitkan mata mendengar kata 'Shinta'. Sudahlah, dia tak mau melihat ke belakang. Rumit. Demi tetap tenang, dia terus menghindari Shinta bahkan sejak persidangan.
Karena jika David melihat Shinta dalam jarak tiga meter, maka KEKECEWAAN BESARNYA mungkin langsung meledak. Saat itu terjadi dia tidak tahu apa hal yang jauh lebih mengerikan pasti akan dilakukannya..
Percobaan pembunuhan Lena di Kapal Kargo, bahkan rencana kedua. Semua trauma masa lalu Lena sampai membuat istrinya tak sanggup hamil lagi karena ketakutan sendiri itu adalah sesuatu yang harus dia terima.
Memendam api kemarahan pada Shinta. Terlalu banyak luka yang Shinta torehkan padanya. Dia bahkan tidak sanggup melihat siluet tubuh Shinta. Sekarang, darahnya saja sudah sangat mendidih. Bahkan dulu cinta pertamanya luar biasa, dan kini itu seperti gunung yang masih menghimpitnya.
"Pah, setelah 13 tahun ini, ku pikir aku sudah siap hamil lagi," suara Lena terdengar ragu.
David langsung jatuh merosot.
Lena memutari sang suami dan menyentuh pipi David, memegangi kening itu untuk memeriksa suhu tubuh. "Kamu sakit, Pa?
David sendiri bahkan sangat takut bila ingat Lena yang melahirkan seperti itu di hutan tanpa ada peralatan standar dan tenaga medis.
.
.
Emma tersenyum puas melihat Niko memotong daging ayam lalu ditukarkan untuknya. Dia tak menyangka Niko bisa per perhatian seperti ini. Abi dan Umi juga tampak sangat berbunga-bunga sejak tahu kehamilan ini.
Ketika Abi dan Umi telah pergi ke dapur. Emma menyerongkan tubuhnya hingga sedikit menghadap Niko.
"Kak, Shinta mengundang kita ke-" kata-kata Emma terpotong karena sentakan.
"Jangan bahas dia lagi!" Niko berdiri dengan tangan terkepal dan meninggalkan Emma.
Di rumah sebelah, Lena melihat buku undangan atas nama Shinta. Apakah ini pernikahan sungguhan? Atau ini hanya rencana Shinta?
Lena mengelengkan kepala. Dia berjalan ke ruang kerja David dan menaruh buku undangan di meja kerja David. Dia melirik pintu di dekatnya yang terbuka, lalu masuk.
Begitu sampai di depan lukisan yang pernah dia tanyakan pada David dulu ketika dia masih di cuci otak. Kini matanya terkejut. Lukisan itu sebagian tertutupi warna gelap. Lena melompat, karena bayangan cairan di bawah.
Mundur tiga langkah, sandal rumahnya jadi membekas setiap melangkah. Catnya masih basah. Lena melihat lukisan itu, padahal dia mau lihat saat David memeluk wanita itu. Apa itu Shinta atau bukan! Jelas itu bukan, Bianca.
Pintu ini terbuka, apa David habis dari sini ?
Lena mendengar suara esek, dia berjalan pelan dan mencari asal suara. Setelah beberapa menit, pandangannya mulai menyesuaikan dengan kegelapan hingga bisa melihat siluet tubuh David yang meringkuk di sudut ruangan, di antara celah kain-kain dalam kegelapan.
Berjongkok, Lena menyentuh lengan David. Lelaki itu terhuyung ke perutnya. Kini wajah David tenggelam di antara pahanya.
"Dari tadi aku mencari Papa." Lena dengan suara lembut dan tangannya mengelus-ngelus punggung David yang gemetar.
__ADS_1
"Shinta ...."
Lena mengernyitkan alis. "Iya, Shinta .... katakan saja tidak ada apa." Tentu saja hatinya tidak baik-baik saja.
"Dia sangat menyedihkan saat kecil." David merasakan gerakan Lena berhenti.
Lalu melanjutkan dengan suara dalam. "Secara psikis dia tidak mendapat perhatian orang tuanya. Luigi terlalu mengabaikan putrinya. Dia seperti saudara bagiku dan aku selalu ingin menghiburnya. Kemudian dia menyatakan perasaannya saat pesta kelulusan, membuatku bingung . Aku tidak yakin dengan perasaanku sendiri saat itu. "
Lena mengelus rambut David, suara David semakin esek. Dia sangat ingin mendengar apa yang ada dipikiran David. Tampaknya Shinta ini terlalu dalam bagi hidup David.
"Aku terus bertanya pada diriku sendiri. Dia membuatku malu. Sampai aku meyakinkan diri dan aku akhirnya menerima perasaanya, kami mulai berpacaran." Dada David terasa mendidih, hatinya seperti diselimuti air aki, sangat asam dan perih.
"Sampai cintaku langsung terhempas di suatu malam. Kekecewaan itu terlalu membuatku terpuruk. Namun, hatiku yang terluka itu lalu membeku, tak kuasa setiap kali teringat masa kecilnya, aku sangat kasian. Aku lemah pasa penderitaan masa kecilnya.
Namun, aku merasa jadi monster setiap ingat apa yang dilakukan padamu. Aku benar-benar gila rasanya, Mah. Tolong maafkan Shinta. Aku tidak tahu lagi cara memberitahumu apa yang membuat ku sesak.
Aku juga tidak bisa mengampuninya atas perbuatan dia padamu. Tapi- aku tak mau melihatnya lagi. Tapi aku ingin sekali memberinya selamat, karena kudengar dia mempersiapkan pernikahan. Tidak mungkin aku tidak datang, mengingat kedekatan keluarga Luigi dan Papa Hans?"
Lena menelan saliva perlahan dan berusaha bernapas normal. Hati terasa panas, pertanda dia cemburu, padahal David susah jadi suaminya. "Pah, kita perlu datang saja. Jangan sampai pikiranmu memakanmu.
Pikiran kita itu seperti asap, bisa menenggelamkan kita membuat kita sulit bernapas. Tapi kalau kita memilih terus berjalan sambil melewati asap, maka kita kemungkinan menemukan udara segar.
Namun, bila kita hanya diam tak bergerak, asap itu bisa jadi hilang atau akan menetap, dan menyesakan, menyakitkan dada, atau bisa sampai kehabisan oksigen lalu pingsan atau mati.
Intinya,lebih baik kita melakukan hal nyata daripada menderita karena memikirkannya. Pikiran itu tidak akan pernah habis. Gunakan secukupnya. Ayo, kita datang dan beri Shinta dan Tara ucapan selamat. Sesederhana itu, terkadang kita membuatnya rumit sendiri."
David langsung bangun. "Tapi punggungku terasa begitu berat," suara David begitu protes seperti anak kecil. Padahal, bila di luaran aura seram yang selalu dipamerkan lelaki jakung ini.
"Sini, mama periksa." Lena menunggu saat David memutar, dia memijat leher David yang sangat tegang. Bahu kekar itu ditekan dengan jempolnya dengan kekuatan penuh.
Tidak tahu berapa lama sampai suara Axel mengejutkan mereka.
"Kamu keluar dulu!" David dengan suara tinggi tapi masih sendu.
Axel yang melihat ke arah suara barusan terkejut, saking gelapnya sampai dia tak tahu ada orang di sudut ruangan. Setelah beberapa detik baru melihat ada siluet perempuan duduk di lantai. "Baik, Tuan. Maafkan Saya."
Sekepergian Axel yang menutup pintu ruang DJ. David yang sudah berkeringat karena pijatan sang istri lalu berbalik dan mengendus leher Lena. Istrinya diam saja, dan deru nafas itu mulai tak beraturan dan bersahutan.
Waktu yang tadi begitu suram bagi David, kini berubah menjadi sesuatu yang membuatnya bersemangat. Sang istri dibawa ke atas pangkuannya dan menghabiskan keringat bersama dalam kegelapan.
"Kau adalah malaikat penjaga ku, Pah," bisik Lena setelah beristirahat beberapa waktu.
Badan Lena teramat gerah, tetapi David masih memeluknya erat seperti ular piton. Terasa sekali kaos David dan kain tipisnya basah. Lena bahkan tak tahu dimana dalaman bagian bawah-atasnya yang tadi dilemparkan David.
"Apa cuma malaikat penjaga?" Alis David terangkat, kepalanya masih bersandar pada dinding. Tenaganya semua terkuras, sampai takut dia tak kuat memeluk Lena lagi. "Apakah tidak bisa aku menjadi malaikat kesejahteraan, kebahagiaan dan yang lainnya?"
"Hi ngacau! Nggak boleh sombong, kita cuma mahluk."
"Loh, tadi yang bilang malaikat siapa ya?" David kebingungan.
"Oh, aku!" Lena meringis. "Tapi apa di sini ada tisu? Ini banjir." Aroma pandan dan pedas tercium ke sekitar.
"Sudah biar saja, nanti kering sendiri. Tidak ada tisu di ruang ini."
"David .... Kalau Tuan Axel masuk."
"Hem." Lena pun rasanya lemas, dia pasrah dalam belitan pelukan David, tak peduli lagi jika cairan kehidupan milik David yang meleleh darinya jatuh ke celana traning David. Tempat ini menenangkan harum, tidak bising.
Sedangkan, Axel yang di ruang kerja David, berhenti dari pekerjaannya. Sudah satu jam bekerja, tuannya masih belum keluar dari ruang DJ. Sepertinya, mereka tertidur di dalam.
Matanya menyipit ada noda di lantai. Axel melihat sepatunya , dan mencolek, tapi susah kering. Dia melepas sepatu dan mengendus seperti bau cat. Ditelpon petugas kebersihan untuk mengepel ruang kerja itu.
Begitu petugas kebersihan pergi. Nyonya Lena muncul dengan tertunduk. Lalu tuannya muncul dengan menguap. Axel mencium aroma samar s***a. Dia melirik wajah tuannya yang merah.
Apa tuan habis melakukan itu? Batin Axel sambil mengikuti David ke arah kamar tuannya.
"Kenapa terus mengikuti." Dengan sorot dingin David berhenti di pintu kamar.
"Dua meeting online menunggu, dari Qatar dan Swedia."
David menghela napas panjang. "Batalkan. Tolong hari ini semua jadwal batalkan. Aku benar-benar butuh istirahat sampai besok pagi."
"Baik, Tuan. Permisi." Axel menunduk dan menunggu pintu itu tertutup. Namun, saat dia akan pergi, dia mendengar tawa Lena yang meminta ampun. Sepertinya, tuan sedang menggelitik nyonya Lena.
"Syukurlah. Tuhan tolong jauhkan mereka berdua dari masalah pelik. Semoga di hari tua mereka hanyalah tinggal kebahagiaan." Axel berlalu dari kamar sang Tuan.
"Aku masih mengantuk," ucap David lalu terlentang. Di sisinya Lena yang habis menjerit karena kegelian juga terlentang.
"Hu? Tapi papa belum sarapan, mau kubawakan susu?"
"Tidak temani saja aku seperti ini. Aku ingin libur panjang dan hanya bermalas-malasan untuk tidur."
Lena miring kiri dan mengecup pipi David dengan gemas. Mata David walau merah, tetapi sudah tampak tenang. "Apa kita harus mandi lagi?"
David menggelengkan kepala. Dia terpejam. "Jangan berani -berani turun dari tempat tidur kalau tidak mau telunjukku mencium pinggangmu.
"Iya mengerti!" bisik Lena , yang tidak mau dikeletiki David lagi.
"Nanti. Aku mau jemput Aneira di sekolah."
"Papa tidak kerja?" Lena memeluk Lengan David dan tidur miring.
"Aku ingin bersama Aneira dan mamanya. Ngomong-ngomong kita asiknya kemana?"
"Emh .... Kita sudah lama nggak ke pantai, di bawah rumah kita, dengan tiduran beralas kain. Itu sangat luar biasa." Lena mendapat senyuman David.
Di pantai,
David tidur miring di alas kain sambil makan keripik jagung kesukaannya. Sementara Aneira sedang berpose dengan Lena yang memfotonya. Tak terasa anaknya mulai tumbuh dan diam-diam berani pacaran!
David pura-pura tidak tidak tahu, tetapi dia selalu mengawasi gerak-gerik Aneira di luar rumah. Begitu Lena duduk di dekatnya, David menarik pinggang Lena agar mundur.
Sebagian wajah David terbenam di bagian pinggang Lena. "Itu foto sudah terlalu banyak, dihapuslah yang kelihatannya sama. Dihapeku itu penuh dengan foto Ane."
"Biarkan saja, itu foto putrimu sendiri." Lena dengan nada ringan masih melihat hasil jepretan.
"Kamu cek sendiri deh, setiap tempat bisa ada seratusan foto. Padahal, namanya foto itu ya sama saja, kan satu foto saj cukup si setiap tempat."
__ADS_1
"Ah, aku tidak tahu mana yang menurut Ane bagus."
"Semua bagus." David menggigit pinggang Lena dengan gemas hingga membuat wanita itu beralih padanya.
"Sakit tahu." Jari-jari mungil mengusap kelopak mata David yang terpejam. Hu, pria ini suka sekali dielus.
"Seandainya setiap hari bisa seperti ini, Mah." David membuka mata dan Lena sudah di depannya.
Pagutan lembut datang dari Lena yang membungkuk. David melihat mata hazel yang lembut dan mengesankan. Hatinya seperti dilapisi madu.
Indra penciumannya mabuk oleh aroma kenanga. Semua selang-selang otaknya menjadi rileks. Semilir angin membuatnya seolah semua beban pekerjaan ikut terhempas. Dia terasa seperti melayang-layang di atas awan.
"Ada yang belum kuberitahu kan padamu," bisik Lena. Kini dagu bertumpu pada tanganya, dia tengkurap di samping David. Sedikit rambutnya tak terikat terbang ke arah dagu David.
"Apa .... Kuharap itu tidak membuat hatiku patah."
"Ane akan memiliki adik."
"Ya kan kamu sudah bilang, kita akan bersiap-siap untuk itu."
"Aku sudah hamil dua bulan sebenarnya saat mengatakan kemarin siap."
"Apa!" teriak David dengan kaget sampai semua orang menoleh ke sini.
Lena menggosok kupingnya yang sakit karena teriak pecah David. Dia jadi ingat moment di sungai Swiss saat David berteriak senang karena mengandung Aneira dan semua turis melihat. Kini terulang lagi!
"Ada apa, Mah!" Aneira berlari dengan khawatir diikuti Axel di belakang. Beberapa orang juga mendekat karena mengira ada yang sakit.
Mereka melihat David duduk dengan tidak sabar, Lena juga ikut duduk karena keberadaan orang-orang.
"Kamu hamil dua bulan?" Bibir David mengejang. Anggukan Lena membuat Mata David membola. Lelaki itu berdiri dan melompat.
"Yes! Hahahaha Kalian dengar semua!" Tangan David melambai l sekali. "Aku akan punya anak lagi!"
"Adik?" Aneira berpikir sebentar dan bersitatap dengan papanya. Dia melihat semua orang yang kini melingkari, mereka ikut tertawa bahagia.
Lena yang berdiri, eh justru suaminya berjongkok dan mencium perutnya. "Mas .... " Hati Lena terasa hangat.
"Aku tak sabar menunggumu. Tumbuh dan berkembanglah dengan baik, katakan apapun maumu pada Mama, karena papamu ini akan mengabulkan semuanya," kata David dengan terus memandang perut Lena. Seakan-akan calon jabang bayi tengah menatapnya.
"Papa." Aneira berdiri di samping David. Ikut memegangi perut nallmamannya. "Adek, katakan ke mama juga apa keinginanmu pada kakak, aku akan mengabulkan keinginanmu!"
Dua sudut bibir Lena terangkat, hingga bibirnya membelah. Dia terharu ya ampun! Lena berlutut dan memeluk leher David dengan mata terpejam. Dia juga mendapat pelukan Aneira.
"Terimakasih, David. I love you," bisik Lena.
"I love you too, Nana." David mengusap rambut sang istri dan juga rambut Ane. Tekstur rambut mereka sama, bedanya Lena bau kenanga, anaknya bau strawberry.
Setahun kemudian,
David menggendong putranya yang diberi nama Eirwen Dale Sujatmiko. Kini dia di rumah mertuanya di Bali. Dia duduk di bangku tua melihat ayam-ayam yang baru dikasih makan oleh Lena.
"Dia tidur." Lena berdiri di depan David, melihat ke mata Eirwen yang masih basah. Akhirnya Eirwen terlelap setelah rewel.
"Dia pasti kepanasan." David mencium bau kenanga dari aroma tubuh Lena yang terbawa angin. Lena menyentuh rambutnya.
"Ih, kamu udah ubanan, Pa."
"Apa tak wajar meski baru 46? Pantas gatal di situ." David menggaruk bekas cabutan Lena. Dia melihat beneran itu sehelai rambut putih!
"Coba lihat, siapa tahu ada lagi." Lena membelah rambut David dengan jari-jarinya.
David dengan tegang, jangan-jangan ada uban lagi! Padahal putranya masih kecil. Dia harus mempersiapkan Eirwen dengan benar. Eirwen harus bertanggungjawab pada pabrik minumannya nanti.
Sudahlah. Ini waktunya liburan tidak boleh tegang! David menikmati pemandangan luar biasa. Ayam-ayam berebut mematuk beras, di tanah merah yang sedikit lembab. Enak juga mendengar suara ayam kur kur dari ayam jago.
David melirik Ane yang sibuk mengobrol dengan keponakannya- anak dari Stefanie dan Marcho yang nomor dua. Mereka sama-sama perempuan.
Sumarni yang di depan kompor, melirik Lena yang sedang metani David. Uh, dia jadi ingat masa muda melihat mereka. Sumarni membawa sepiring pisang goreng ke ruang tamu. Meletakkan di depan Sujatmiko yang tengah mengobrol dengan Stefanie.
Stefanie tidak menyangka sama sekali bahwa dia akan kembali ke rumah ini. Dalam posisi yang berbeda, bahwa dia akan menikah dengan Sean!
Pernikahan ini akan diadakan sebatas syukuran. Sejujurnya, dia kucing-kucingan dengan Jefri. Dia di sini tak lebih dari empat hari demi menghindari kejaran Jefri. Bahkan, Marcho tak diberitahu.
Sean di kamarnya, mondar mandir.
"Tapi, kamu tetap datang kemari, kan?" Tanya Sean di telepon. Dia lalu menghela napas kasar. Ponsel itu dimatikan dengan kecewa. Niko sahabatnya tidak bisa datang.
Dua hari kemudian,
Stefanie telah sah menjadi istri Sean. Tamu yang tak lebih dari seratus orang itu telah pulang. Kedua orangtua Stefanie telah kembali ke hotel. Baik keluarga Sean maupun Stef telah tahu kondisi Stef, dimana wanita itu tak bisa berlama-lama keluar dari persembunyiannya dari kejaran seorang yang memiliki pengaruh besar.
Stef dengan gugup mempersiapkan pakaian yang besok dibawa. Tangannya ditarik Sean. Rumah ini kini sudah berdinding bata, dulu asbes. Lantai kini marmer, dulu seperti lapisan plastik. Kini pintu jati kuat. Terpenting ini springbed, bukan dipan. Dia jadi ingat saat dengan mantan suaminya di sebelah, di kamar Lena! Dulu tempat tidur itu begitu berisik.
Lamunan Stef terbuyar oleh ciuman ringan Sean. Ya, ampun dia tak tahu kalau Sean bisa serakus ini. Berbeda dengan ciuman terakhir saat dia ada masalah di pabrik coklat milik Leora. Saat itu ciuman Sean sangat hati-hati.
"Se ... " Stef di usia 50 nya dan Sean berusia 43tahun. "Aku ingin bertanya, apa kamu ingat pernah mencium ku sebelum ini?"
Sean mengerutkan kening lalu menggeleng. "Apa kita pernah?"
"Saat kita di Roma kasus salmonella itu. Setelah kau merebut minumanku di bar. Aku menjemputmu dan kamu menarikku di tempat tidurku."
Wajah Sean terbakar. "Katakan apa yang kulakukan padamu?"
"Kamu hanya mencium bibirku." Stef menggigit bibir bawah, tak menceritakan bahwa Sean saat itu menekan milik laki-laki itu yang keras. "Jadi, kamu beneran tidak tahu?"
"Tolong maafkan aku, Stef. Aku tidak mengingat apapun itu sudah lama, aku hanya ingat sampai saat naik taksi." Sean melepas tangan robotik kirinya, dibantu Stef. Tangan itu beratnya sampai dua kilo. Memakainya lama bikin pegal.
"Iya, aku mengerti." Stef men-charger tangan robotik Sean . Lalu menyusul Sean ke tempat tidur.
Sean menyentuh kepala Stef menariknya dengan kelembutan agar mendekat. Sean tahu bila Stef memiliki anak lelaki dari Jefri. Namun, itu hubungan yang rumit. Orang barat itu terlalu bebas.
Kini dia dan istrinya harus terus bersembunyi dari pantauan Jefri, jadi besok dia telah terbang ke Swiss. Lalu tinggal di dekat pegunungan Alpen.
Malam indah itu Sean melepas keperjakaannnya di usia 43 tahun. Bagaimana tidak, setelah Emma, dengan kondisi tangan cacat susah sekali mendapat pasangan secara tulus. Dia menikah dengan Stef pun atas ide Stef. Dia terlalu minder untuk melamar wanita. Namun Stef berhasil meyakinkannya.
TAMAT
__ADS_1