
Sorak-sorak tawa orang dari berbagai usia memenuhi ruang tamu rumah Lena, yang dipenuhi keceriaan dan kehangatan saat Lena dan David membuka berbagai hadiah pernikahan dari teman dan dan handai tolannya.
Ada baskom, centong, peralatan rumah tangga, peralatan tidur, aneka lampu hias ada kompor, kelambu telah dibuka Lena dan David dengan dikelilingi pandangan penasaran dari para kerabat. David membuka kotak kecil, dia mengerutkan kening karena hadiah berisi borgol dan kunci, otaknya bingung. "Ini untuk apa?"
Semua orang berpandangan tak tahu itu untuk apa, lalu mereka saling berpandangan.
"Mungkin itu salah bungkus," ujar sepupu Lena.
Axel yang tahu fungsi borgol itu wajahnya menghangat. Dia pernah mencoba bersama istrinya. Tentu tuannya jelas tidak tahu karena masih polos. Orang kampung juga tidak akan tahu. Tapi siapa yang berani memberi itu? Sungguh keterlaluan!
"Simpan ini, Sayang. Siapa tahu ada maling. Bawa itu ke Italia, itu hadiah unik." David memberikan itu pada istrinya.
"Nak David kan selalu diikuti penjaga. Siapa pencuri yang berani masuk ke dalam rumah." Sumarni menyunggingkan senyuman sambil terheran-heran.
"Siapa tahu ada, Bu. Jaman sekarang, Mah. Tidak boleh asal percaya dengan sembarang orang." Lena menumpuk borgol yang tampak bukan berharga murah, sepertinya anti karat. Untuk apa Yuni memberi ini?
Barang-barang kecil yang unik kecil, dibawa Lena ke dalam satu kotak dus. Itu akan dibawa ke Italia, sisanya akan ditinggal di rumah. David merangkul pinggang sang istri, dia masih merindukan Lena, setelah semalam justru langsung tidur.
"Lena dan David, rencana mau punya anak berapa?" tanya Budhe hingga semua orang di ruang tamu langsung menata mata Lena dan David.
"Berapa, Mas?" tanya Lena dengan jantung berdebar.
"Sebanyak-banyaknya." David dengan polos menjawab, dan semua orang sontak tertawa untuk membenarkan dan mendukung ucapan David.
"Empat?" Lena mengerutkan alis meminta persetujuan.
__ADS_1
"Enam .... " Mata David menatap tajam sang istri.
"Berapapun pemberian Allah disyukuri, ya , Dek. Syukur-syukur bisa 12." Sang Ibu menimpali dengan nada bercanda, karena saudara suaminya ada 11.
"Ibuuuuuuuu!" pekik Lena dan disambut tawa semua orang.
David mengangkat dua sudut bibirnya karena pipi Lena yang sudah semerah kepiting rebus. Lelaki itu tidak bisa berhenti tersenyum sambil merangkul pinggang Lena, lalu berbisik. "Sayang, 12 .... "
"Kita bisa mendaftar bayi tabung, untuk kehamilan bayi kembar, Sayang." David kembali berbicara normal saat Lena makin tertunduk sambil memegangi dada bidangnya.
Suasana ruang tamu makin riuh, pakde dan paman dari ayah Sujatmiko, mendukung kata-kata David. Sepupu-sepupu Lena melipat bekas kertas kado yang mungkin bisa dipakai lagi atau untuk diloakkan bersama kardus bekas.
Sean duduk di sudut ruang tamu terus mengawasi sang adik yang begitu bahagia. Sebetulnya, dia ingin menolak permintaan David. Namun, akhirnya dia tak memiliki pilihan lain dan ikut menyanggupi ke Napoli.
Tidak ada seorang kakak, yang bisa tenang, saat melepas adik perempuan untuk hidup di luar negeri sendirian. Tidak ada yang menjaga adiknya, sebegitu tulus sepertinya. Dunia terlalu kejam, dia tak mau sang adik merasakannya. Dia akan menurunkan harga dirinya pada David, setidaknya hanya demi menjamin keselamatan sang adik.
Meski, Lena kini telah dewasa, Sean mengganggap Lena seperti anak kecil. Sama halnya saat Lena akan ke Qatar, dia selalu was-was saat itu. Benar saja, kan, instingnya tak pernah salah, terbukti Lena pulang-pulang sudah putus dengan Niko.
Rombongan keluarga Lena pamit. Lena memeluk sepupu, dan sanak keluarganya setelah menaikan berbagai bingkisan makanan dan oleh-oleh. Keluarga jauhnya banyak dari luar pulau Bali. Ada dari Jawa dan Sumatera, sampai hampir 50 orang.
Lena melambaikan tangan saat melepas kepergian mobil-mobil yang mengantar keluarga ke bandara. Semua tiket pulang-pergi dibayarkan oleh David. Ini jadi ajang kumpul keluarga yang sangat jarang-jarang terjadi. Semua itu menyangkut biaya perjalanan yang terlampau mahal hingga membuat mereka jarang berkumpul.
"Ibu, bawa apaan itu?" tanya Lena begitu keluar dari kamar dengan membawa tas mini. Dia menunggu David yang berganti pakaian.
"Bumbu pecel, buat besan .... Mereka pasti akan makan ini. Nanti sayurannya kamu yang siapin sendiri, mereka tinggal makan biar nggak bingung." Sumarni menyalurkan kantong besar, berisi kotak-kotak tupperware. Empat pengawal pria lalu memindahkan apa yang diberikan Sumarni.
__ADS_1
"Ini untuk kalian makan sendiri, ya, Pak Axel. Di dalamnya ada sendok dan siap santap. Sumarnie memberikan pada Axel.
"Terimakasih banyak, Nyonya." Axel menerima dan membawanya ke mobil ke dua, di mana mobil itu berisi para pengawal.
"Iya, nanti aku rebusin. Terimakasih Ibu, nanti Lena yang angetin sate lilitnya." Lena mencium tangan ibu dan bapak. Katanya Mama Bilqis kemarin minta dibuatin sate lilit buatan ibu. Jadi, tadi pagi ibu sangat sibuk menyiapkan semuanya.
David membawa tas kecil berisi baju Lena, yang langsung diambil alih oleh Axel. Kini David mulai mengemudi sendiri di mobil pertama. Mobil melewati jalan aspal di bawah Tratag, sedangkan k ursi-kursi telah disingkirkan.
"Kenapa cepat banged ya, Na? Padahal persiapannya lama. Ini seperti mimpi yang terlewati dalam satu detik."
"Mungkin itu yang sering disebut orang. 'Hidup untuk sekarang, bukan untuk kemarin yang jadi masa lalu, atau besok yang belum tentu terjadi. Aku bersyukur kamu sekarang masih di sampingku. Aku bersyukur kita sekarang diberi kesehatan, Mas." Lena memerjapkan mata perlahan, lalu dua sudut bibirnya terangkat dengan penuh membentuk senyuman.
"Ya, kita harus selalu sadar betul untuk hidup di masa sekarang, hidup di detik ini." David melirik Lena sebentar dan kembali melihat ke jalanan.
BRAK!
Axel melotot dan menghentikan mobil mendadak saat mobil tuannya dihantam dari sisi kanan, hingga mobil tuannya berputar dan terjepit pohon. Suasana hening sesaat saat semua pengawal berpikir dalam empat detik. Tuas kopling di oper ke N dengan tangan gemetar. Axel melepas safety belt dan orang-orang di luar langsung mengelilingi mobil tua, saat anak buahnya sudah keluar lebih dulu dan memecah kerumunan.
Suara bising orang-orang mengganggu konsentrasi. Pengawal 1, berusaha mengeluarkan Lena dari jepitan pohon dan bagian depan yang ringsek.
Darah mengalir dari kepala Lena, pengawal menggendong Lena, lalu memindahkan ke mobil ke 2. Pengawal membawa ke rumah sakit lebih dulu. Di jok belakang kening Lena ditekan dengan kaos si pengemudi untuk menahan darah yang terus mulai memenuhi sebagian wajah Lena dan menodai kaos biru Lena dan jatuh di celana biru lebih gelap milih Lena.
"Nona, tetaplah sadar." Pengawal terus mengajak Lena berbicara.
Wanita itu merasakan dingin mengalir di kulit wajahnya. Otaknya tak bisa berpikir dan tak tahu apa yang terjadi. Bahkan tak memikirkan dimana dan bersama siapa. Lena seperti terkena flu parah, membuatnya linglung. Yang Lena tahu sekarang, tubuhnya begitu tak memiliki tenaga.
__ADS_1
David yang tangannya terjepit di antara stir dan pintu pun terbebas, setelah para warga menolong dengan menggorok beberapa bagian mobil. Polisi sibuk mengamankan jalan. Sopir dalam mobil box pun meninggal dalam kejadian dan tak berani ada yang menyentuh kecuali polisi. Axel dan anak buahnya, menggotong tubuh David yang terkulai dan berdarah di bagian tangan, dan sedikit di kepala, lalu dibawa menyusul Lena ke rumah sakit.