
Aktifitas David terhenti karena nada dering dari ponsel miliknya. Dia melepaskan gigitan dari kulit, di bawah tulang selangka Lena. Seutas tali gaun yang sempat melorot dinaikan ke baju Lena. "Tunggu," katanya dengan nafas yang masih memburu dan mata meredup.
Pria itu lalu berjalan menjauh untuk meraih ponsel yang berdering di atas nakas. David melihat nomer Axel dengan geram, lalu menerima telepon. Pandangannya tak pernah berpaling dari Lena yang kini menutupi diri dengan selimut. Dia mendengar laporan Axel, soal media sosial milik Lena yang diserang sampai David berpikir sejenak dan memberikan sebuah perintah sebelum panggilan diputus.
"Mana tadi krimnya." Lena berdiri di atas tempat tidur dengan memeluk selimut, berusaha memunggungi David.
"Kamu tadi kan yang pegang?" David yang melihat itu tersenyum dengan sendirinya, melihat sosok wanita yang mendebarkan dalam posisi kebingungan karena mencari sesuatu. "Di bawah bantal, Sayang."
"Loh .... " Lena duduk dengan lutut tertekuk ke belakang, sambil menyapu tumpahan krim dengan tulang telunjuknya dari sprei. Dia mengangkat bantal dan menemukan penutup tube langsung untuk menutup tube. Dia merasakan pelukan dari arah belakang,dan dirinya terasa melayang.
__ADS_1
David memandang gadis itu yang kini berbalik dan tidur miring menghadap David. Gadis itu meringis dengan satu alis berkerut sambil mengoleskan sisa krim pada dada kanan David, dimana tangan kekar ini mencengkeram pinggang Lena. Semua perubahan wajah Lena tak luput dari pandangan pria itu. David menyeringai karena Lena mulai cemberut, bukan lagi mengolesi krim justru lebih seperti menusuk-nusuk pada tatto wajah Shinta.
"Kamu begitu mencintainya?" Lena meringis dan berdebar saat tak bisa mengontrol mulutnya. Dia merasakan cengkraman hangat tangan kekar di pinggangnya. Perlahan Lena ditarik oleh David hingga merapat ke dada David yang panas.
"Dulu."
Lena merinding karena rengkuhan tangan kanan kekar itu di kepalannya. Lelaki itu tak bisa diam, jemari pria itu terus bergerilya, tetap Lena sangat nyaman dengan usapan di bahu dan rambutnya.
"Hmm." Lena terpejam pada kulit berbau citruz. Ini pertama kali hidung nya terbenam pada pria bertelanj4ng dada Lena merasa seperti bayi, sangat nyaman. Dia jadi teringat, ini rasanya seperti saat kecil di dalam gendongan ayah, ibu dan kakaknya.
__ADS_1
Ibu .... Ayah .... aku patah hati, bukan karena Niko, teptapi karena lelaki ini yang bagiku seperti malaikat hatiku. Seandainya boleh memilih, aku ingin hidup dan menjadi istri David, tetapi aku tak pantas untuknya. Aku sangat ingin menjadi orang beruntung itu, Ibu.
Malam itu justru Lena tak bisa tidur, dia terus meresapi pelukan David. Dada bidang nan panas itu sebenarnya sangat nyaman di punggungnya. Bau harum juga memabukkan. Dia sedang bimbang apa perlu menjual tiket itu atau tidak.
Sampai siang hari saat Lena sedang istirahat di ruang volunter, dia merasa tak menemukan jalan keluar dan waktunya sangat mepet. Lena minta tolong Ika membatalkan tiket penerbangan di ponselnya. Sejujurnya dia tak tega melakukan hal jahat ini pada David. Ika juga mencairkan dana pembatalan ke rekening Lena. Sampai Ikapun juga yang memesankan tiket pesawat baru untuk Lena.
"Aku sayang kamu, Mas. Benar kata Marcho, ada yang yang lebih baik untuk menjadi istrimu." Lena mengelap air mata kepedihan dengan lengannya. Dia menulis surat, setiap kalimat demi kalimat membuat air matanya berjatuhan hingga membasahi sebagian kertas. "Aku ingin kamu hidup bahagia, Mas."
Kalimat terakhir itu memenuhi baris kosong terakhir. Satu halaman penuh berisi tulisan tangannya yang rapih, tetapi hatinya tidak rapih seperti tulisan tangannya, karena hatinya kini terasa amburadul.
__ADS_1
"Kau yakin?" tanya Ika dengan lesu. Dia menghela nafas berat. "Padahal, mungkin kita bisa mencari jalan lain."
Ika mengembalikan ponsel pada Lena dan dia memeluk Lena yang sesenggukan. Semoga ini membantu untuk mengurangi kesedihan sahabatnya. Saat ini dia hanya mampu mengelus punggung Lena, karena dia juga tak tahu harus berbuat apa.