Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 8 : GAMBAR JELEK BUATAN DAVID


__ADS_3

"Xel, cari mini market," titah David dan telepon miliknya berdering.


"Baik, Tuan."


Setelah ponsel David terus berdering dan membuat Lena semakin sebal karena walau kecil itu sangat mengganggu pikiran Lena yang sedang tak mau ada suara berisik. Sampai di sebuah mini market, David menarik tangan Lena karena tak mau turun dan membawanya sampai ke dalam dengan terus diikuti Axel yang kini membawa keranjang.


"Mukamu itu seperti habis buat ngepel lantai, kusut." David menarik sekaleng minuman dari chiller, dan menempelkannya pada pipi Lena yang makin tertekuk. "Ayolah, Len. Kamu nggak asik." David membuang kasar nafasnya sambil membuka kaleng yang barusan didorong Lena dengan kasar. "Bisa nggak lembut sedikit? Minum ini biar otakmu sehat."


"Hem!" Lena menggertakan gigi ingin memakan David hidup-hidup. Tangannya meraih kaleng dan memegangnya sendiri. Cairan dingin bersoda diseruputnya, dingin langsung menggelontor di dalam tenggorokan dan menyapu sedikit kekesalannya.


"Ada yang kamu perlukan?"


Lena menyeringai sedikit, dia meraih keranjang dari Axel. "Please .... " Setelah Axel memberikannya, dia mendorong sendiri. "Jangan ikuti aku!" Dia melangkahkan kaki, langsung meringis dengan mata berbinar.


Axel dan David saling lirik, mencoba menebak. Namun, tidak menemukan jawaban Jadi, membiarkan Lena begitu saja.


"Apa makanan yang disukai perempuan?" tanya David saat melihat pisang.


"Tergantung, Tuan. Kalau perempuan yang lembut katanya suka yang manis-manis."


"Apa kau mencoba menyebut dia galak dan aku harus memberikan yang pahit-pahit?"


"Bukan begitu, Tuan." Axel mencoba memberitahu apa yang diketahuinya, dan menatap bingung karena tuannya memegang pisang, mana di hotel juga banyak pisang untuk apa dibeli! "Apa Anda mencoba memberikan nona pisang?" Axel hanya menjumpai seringai sang tuan saat pisang itu diberikan padanya.


Saat sang tuan memilih kotak es krim, Axel mengambil keranjang lagi. Dia melirik Lena yang tampak serius di sudut lain. Setoples kacang, pasta coklat, pita pink, sticky note, gunting, dan aneka chiki asin manis di pilih tuannya satu persatu. Alex menggaruk tengkuk, sejak kapan tuan menjadi suka makanan tidak sehat seperti itu. Apa dia membelikan semua untuk nona? Pakai acara dibaca kandungan makanannya lagi. Ribet amat!


Mata hazel melirik sedikit dengan nafas tertahan. Setelah dia pura-pura mengambil semua yang dia lihat. Kini setelah Axel melirik dan tampak sibuk. Lena membungkuk dengan terus berjalan dan jantungnya makin berdebar saat pada etalase lebih rendah, lalu dia berjalan sambil jongkok. Satu telunjuk ditekan ke bibir ke arah penjual agar diam saat kebingungan orang itu kala melihatnya.


Kini masalahnya, dia harus melewati satu celah dan harus jangan pas dua orang itu melihat ke arahnya. Lena menunggu dua orang itu yang masih belum menoleh dari sibuknya. Dia perlahan berjongkok, lalu merangkak ke rak berikutnya. Sampai dia terpaksa setengah berdiri dengan nafas tertahan saat tangannya meraih pegangan pintu. Dia menghebuskan nafas pelan sambil menariknya dengan terus berdoa semoga mata dua orang itu dibutakan selama dua menit dan begitu juga dengan telinganya yang ditulikan, agar dia terbebas lalu pergi.


Tentu saja ada suara selamat datang dalam bahasa arab. Alex mengerutkan kening, kenapa tuannya memilih kerdus? Matanya melirik terakhir kali ke tempat nona, dia terus melirik dan belum nongol dalam satu menit.


"Lapor, tuan, nona keluar sendirian." Alex yang mendengar dari earpiece langsung bersitatap dengan sang tuan. Mereka melihat ke arah pintu bersamaan saat perempuan itu baru berdiri di luar dan langsung lari.


"Tangkap!" David menggeram dan mencengkeram botol sauce di tangannya. "Tahan dia dan tunggu di mobil," titahnya pada Earpiece.


Axel telah membayar semuanya. Di meja di dalam mini market David membuka kotak Es krim. Dia memotong pisang dengan wajah merah padam, lalu mengaturnya di atas permukaan es krim. Diatas potongan pisang di bubuhi dengan selai coklat hingga terbentuk gambar. Di tutupnya, lagi.


Sebuah pita diikatkan pada setoples kacang dengan sangat tapih. Dia melirik sang asisten yang melamun. "Apa?"

__ADS_1


"Itu sangat manis, Tuan." Axel menggaruk tengkuk saat tuannya begitu serius mencatat di sebuah sticky note, lalu ditempelkan ke toples.


Sebuah kotak coklat, diisi sekotak kacang, satu kotak es krim, setangkai permen lolipop, sebungkus slice rumput laut asin. Dia mengisi ruang kosong dengan beberapa butiran permen karet dan permen coklat. David mengikatkan pita pink melingkari seluruh kotak. Selesai. Dia memberikan kepada Alex. "Jangan, sampai kau merusaknya atau kupecat detik itu juga."


"Baik tuan." Axel meringis. Bisa-bisanya jerih payahnya dalam menjaga Tuan dari umur sepuluh tahun hanya disamakan dengan sekotak makanan yang merusak gigi. Dia menggigit bibir bawah ada perasaan cemburu, tuannya saja tak pernah memberikan hadiah padanya. Dengan terus merutuk di dalam hati, Axel mengekor di belakang tuannya saat anak buah lain membawa sisaan belanjaan yang dibeli sang tuan.


Lena menggigit bibir bawah saat menangkap sosok yang baru keluar dari toko. Dia tak bisa keluar, pintu kanan-kiri dijaga orang. Sampai David masuk dan duduk di sisinya dengan sangat dingin dan tak mau menatapnya. Pasti David tahu dia akan kabur.


Sebuah bingkisan yang baru diterimanya dari Axel terus dipandangi Lena. Dia melirik ke samping. "Apa ini?" Mobil berjalan dalam kecepatan sedang, tetapi dua orang itu tak ada yang mau menjawab.


Apa mereka tak tahu aku tadi akan kabur? (Lena)


Pita pink bergliter ditarik hingga semua terlepas dari permukaan dua. Penutup kardus kotak berwarna coklat dibuka dengan cara ditarik ke atas dengan perlahan. Matanya sering melirik ke dua orang itu bergantian dengan penuh curiga.


Mulut Lena langsung ternganga. Kehangatan langsung menyentuh dada. Dua sudut bibirnya terangkat penuh. Namun, dia bingung harus apa, sejujurnya dia masih dongkol karena ciuman itu.


Axel melirik ke spion tengah pada mata tuannya yang begitu gelisah dan terus melihat keluar jendela. Apa tidak bisa nona menghargai sedikit saja usaha tuan?


David sering menahan nafas. Jantungnya berdebar. Sebentar lagi dia akan mendapat pujian. Lalu akan mengatakan bahwa ini adalah hal kecil dan belum ada sepersen dari kenikmatan yang akan dia tawarkan. 'Jika kau sering bersamaku kau pasti akan mendapat yang lebih banyak' pikir David siap akan mengatakan kalimat ini.


"JIKA SAMPAI ES KRIMNYA MELELEH, TANDANYA KAU MEMAAFKAN AKU. JIKA SEKOTAK INI TAK HABIS TANDANYA KAU JUGA MEMAAFKANKU."


Lena membaca dengan suara tinggi dan elegan, hingga dua orang itu mendengar apa yang dibacanya dari sebuah kertas di atas es krim. Lena menarik kotak itu dan melirik sebelah dengan perasaan serba salah, mungkin perlu minta maaf dan terimakasih untuk ini. "David .... "


"Bantu, aku menghabiskannya, karena aku belum memaafkanmu." Lena tersenyum dengan sorot mata hazel penuh penghargaan dan kekaguman. Axel pun ikut mengangguk dan tersenyum, sepertinya mulus-mulus saja.


Hal itu juga ditangkap sumringah di hati David, tetapi pria itu berdeham untuk tidak menunjukkan senyuman. Walau di dalam hati pria itu kini meronta-ronta dengan pencapaiannya.


"Aku takkan membantumu," nada David sangat dingin.


"Tuan Axel, bisakah Anda membantuku, sayang bila ini tak langsung habis. Sebentar lagi pasti meleleh, dan kenikmatannya akan hilang. Padahal ini pasti mahal."


David mengedipkan mata tak percaya, lalu berdeham sangat keras. Seakan tahu, Axel ikut berdeham. "Nona, saya alergi susu. Es itu mengandung susu."


"Hu .... Apa aku harus menghabiskan sendiri?" gerutu Lena. Tangannya membuka kotak sambil melirik sebelah. Dia sempat menangkap empat detik seringai licik dari David yang langsung pudar saat dipergokinya membuat Lena jadi berpikiran sedang dikerjai. Namun, matanya terkesiap dengan permukaan es krim yang seharusnya pink. Ini melihat dua mata ( bulatan pisang, diberi bulatan lebih kecil berwarna coklat) dan senyuman bibir yang dibuat dari irisan pisang. Mana pakai kumis yang mungkin dari selai coklat. "Lucunya. Pabrik es krim di sini sungguh kreatif," puji Lena tanpa sedikitpun keraguan dalam pengucapannya.


Alis David langsung menyatu. Axel memiringkan kepalanya ke kiri. Mereka mencerna apa yang diucapkan nona.


"Kok pabrik?" batin David.

__ADS_1


"Wah, nona keterlaluan. Salah-salah!" batin Axel. Dia seperti akan mencium aroma badai kuat dan siap menyambar dari arah belakangnya.


"Dav, Lihat!" Mata berbinar Lena pudar, berganti dengan dahinya yang mulai berkerut. "Kenapa gambarnya jelek banged?"


Oh, tidak! (Axel)


Axel langsung terbatuk-batuk dengan wajah pucat pasi karena wajah polos nona Lena dan wajah merah pada tuannya, bahkan nafas seperti banteng tiba-tiba terdengar sampai depan.


"Nona, gambar senyuman indah itu buatan tuan, bukan pabrik." Axel dengan penuh penekan dan semakin tak berdaya, di tengah harus fokus mengemudi.


"Ap-pha-" suara Lena bergetar dan David sudah menatap ke luar jendela. "Oh!" Wajah Lena makin membeku dan suranya langsung seperti tercekik. "Maksud aku ini bagus banged, Ya Tuhan! Mulut sama otakku memang ya, kadang nggak singkron." Lena tidak tahu harus apa. Andaikan waktu berputar ke belakang. Dia pasti langsung memuji gambar itu.


"Aku minta maaf, Dav." Lena dengan penuh penyesalan. Dia menyentuh sikut David, tapi lengan itu menghindarinya.


Suruh siapa nggak bilang, kalau ini kamu yang buat! Nah, sekarang bayi gede ngambek. Harusnya kan aku yang marah, kenapa jadi kamu yang gini ? (Len)


"Dav ... Aku minta maaf. Aku dah bilang, mulut ini salah menangkap perintah dari otak." Lena menaruh kotak hadiah yang, mungkin sepenuhnya diatur oleh David? Dia berdiri dan berputar dengan membungkuk ke arah David.


Si4l4n. David sudah dibuat kalang kabut oleh satu wanita ini, kini matanya justru tak mau menurut, karena memandang ke arah dada Lena yang condong seperti itu mempertontonkan beh4 berwarna pink. Kemarahannya seketika berubah, air liurnya menjadi kental dan dia menelan salivanya dengan kasar. Otaknya yang tadi panas karena amarah, bergeser mengingat kenyalnya bibir Lena, apalagi itu. "Duduk," geram David. Lena benar-benar menyiksanya. Apa kamu sengaja menghukum ku Sial4n.


Lena memegangi satu sendok es krim, lalu mendekatkan ke mulut David. "Dav, A dulu, aku takut dikerjai kamu. Jadi, kamu makan ini dulu."


"Sekarang kamu justru berpikiran aku meracunimu? Gitu?" David masih melipat tangan di depan dada, dia meringis dengan tak terima. Tinggal makan saja repot. Nafas Lena yang dekat-dekat membuatnya makin tersiksa! Huh, kalau dia tidak sedang jaim pasti sudah mencaplok bibir itu.


"Cepat, ini akan mencair."


"Huh!" David menekuk wajahnya dengan terus menatap tak terima pada Lena. "Buang saja jika menurutmu racun."


"Aku tak menuduh-"


"Kau barusan mengatakannya, walau tak langsung." Pandangan David meredup saat Lena mungkin kesal dan langsung melahap es krim sendiri dengan kunyahan kasar. David memiliki kelemahan pada wajah kekesalan Lena, bibirnya melahap bibir Lena dan ikut melahap es krim dalam mulut Lena.


Percampuran dingin es dan hangat liur David sendiri melelehkan manis coklat toping dan rasa strawberry dari es krimnya. Dalam cekatan, tangan kekar memutar tubuh Lena hingga b0k0ng mungil ditarik ke pangkuannya yang sudah dalam mode on karena pikiran David terus melayang pada pakaian inti merah jambu, dan daging semu merah yang mengintip dibaliknya.


Axel mengalihkan pandangan ke depan dan memutar spion tengah agar tak melihat aktifitas tuannya. Dia hanya pria normal, tetapi juga memaklumi tuannya yang benar-benar seperti lepas kendali setiap kali di depan nona.


Axel meningkatkan AC, dia menjadi gerah pada sahutan nafas dua orang di belakang. Otak Axel jadi traveling terbayang sang mantan. Karena dia tentu tak berani membayangkan gambaran wanita-wanita dari tuannya. Walau baru kali ini dengan Nona, tuannya baru kelewatan.


...----------------...

__ADS_1


Mampir ke Novel temen aku, Yok! Bagus loh ceritanya 👌



__ADS_2