
David melihat katalog perlengkapan bayi online di tabletnya. Banyak pekerjaan yang dia harus approve sebelum ke Kalimantan, tetapi dia justru melihat baju-baju anak perempuan dan laki-laki yang lucu dan menggetarkan hati.
Pikiran itu sulit dikontrol, hingga dia mengkhayal bagaimana nanti tangan kekarnya menimang tubuh kecil lembut seperti saat Bianca- adiknya masih kecil. Wow, kenapa lama sekali anakku lahir? Berapa bulan lagi! Aku sudah tak sabar menyambutnya!
“Tuan.” Axel membungkuk memberi hormat dengan keringat dingin karena takut mengganggu lamunan sang tuan di jam sepuluh pagi.
“Apa,” balas David dengan masih senyum, sampai mendengar penjelasan Axel soal pabrik kakek yang ditutup sementara karena sebuah surat dari badan pengawasan makanan setempat. Seketika senyum David langsung memudar.
“Sepertinya, Nyonya Stef akan mendapat masalah karena beberapa bulan lalu Nyonya Stef yang merekomendasikan sebuah pabrik Lecithin bar, yang adalah milik temannya.
Setelah langganan pabrik Lecithin yang sebelumnya, gulung tikar karena tak bisa menutup hutang.
Bahkan di intern perusahaan mulai ada pergolakan yang makin menyudutkan Nyonya Stefanie. Beruntung ada Tuan Marcho, meski statusnya masih menjadi pimpinan sementara tetapi dengan gayanya yang keras kepala dan tak pernah mau dibantah, bisa membela Nyonya Stef dan melawan para paman untuk tidak arogan.”
“Seharusnya, Kak Stef lebih kuat sekarang. Dahulu saat aku belum menjual sahamku yang 20 persen kepadanya, pendapatnya kurang mendapat perhatian dari para dewan direksi. Setelah memiliki saham sebanyak 30 persen, Kak Stef memilih pabrik Lecithin itu dengan harapan bisa memangkas biaya produksi hingga 10 persen.
Sekarang pabrik Lecithin itu bermasalah, tetapi ini bukan kesalahan Kak Stef. Apa dia akan ke Roma?”
“Iya Tuan, otomatis Tuan Sean ikut perjalanan ke Roma. Karena itu jadwal konsul program tangan prostetik Tuan Sean akan menyesuaikan, mundur setelah kepulangan Tuan Sean dari Roma.” Axel mengusap kening dengan gugup. “Lalu, saya mau melapor soal Tuan Jefri.”
Mata David melebar pada nama anak buah Mafia yang dulu dimintai tolong l untuk mengurus kepemilikan pabrik yang kini sudah menjadi milik sang mertua. “Kenapa? Ada masalah di pabrik keripik pisang?”
“Tuan, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pabrik mertua anda. Masalahnya ada pada Tuan Jefri itu sendiri, bolak-balik ke negara ini. Tuan Jefri dan lima anak buahnya terus memata-matai Nyonya Stef.”
“Apa maksudmu," tanya David. “Jangan berputar-putar!”
“Kami juga masih mencari tahu, tetapi saat Nyonya Stef mengantar Romeo ke sekolah, ada lima anak buah Tuan Jefri, yang secara bergantian mengamati Nyonya Stef diam-diam.
Anak buah kami tak sengaja melihat Nyonya Stef datang ke bar, lalu keluar dari bar dengan membawa Tuan Sean yang mabuk. Di situlah anak buah kita tahu bahwa Tuan Jefri mendatangi apartment Tuan Sean. Kemungkinan bersama Nyonya Stef di dalam ruangan, sebelum anda datang pagi itu."
“Kau baru melapor ini sekarang? Bodoh!” David memijat kening yang mendadak pusing, dia akan ke Kalimantan malahan ada masalah seperti ini. “Cari tahu apa tujuan Jefri ke negara ini? Apa masalah Pabrik Lecithin itu ada hubungannya dengan Jefri atau tidak. Lalu Kak Stef … Apa dia terluka?”
“Tidak ada luka padanya, Tuan. Saya yakin. Memang belakangan wajah Nyonya Stef seperti tertekan dan sering melamun saat mengantar Romeo.”
*
Malam-malam, Lena memilih baju untuk dibawa ke Kalimantan. Dia keluar dari walking closet menuju meja rias dan mendapati wajah suaminya yang ditekuk dengan terus memegangi tablet. “Pah, papah mau bawa gel rambut atau pomade?”
David mendongak, tersenyum pada sang istri dan melirik ke barang-barang perawatan rambutnya, lantas menunjuk ke tangan kanan kekasihnya. “Gel saja, biar nggak lengket.”
Lena menenteng alat make up, gel rambut, dan peralatan keseharian David untuk dimasukkan ke koper besar. “Hum.”
David menelpon asisten Richie, menanyakan kapan bisa dia menelpon Richie- Si Bos Mafia itu, untuk menanyakan, apakah Richie sedang mengawasi kakak iparnya lewat Jefri atau tidak.
Sayangnya, untuk berbicara dengan Mafia itu, menunggu mood bos dari segala bos itu, membaik. Dia pun harus bersabar walau diselimuti rasa penasaran.
*
__ADS_1
Di sebuah kafe sepasang anak manusia menghabiskan malam dengan bermain kartu poker. Apa ini bisa dikatakan kencan kedua? Begitulah di dalam benak pikiran Emma yang menikmati kebersamaannya denga Sean, meski dia dilanda kebingungan dengan status hubungan mereka.
“Kak?” Emma mengginggit bibir bawah dan menyentuh tangan kanan Sean di atas meja.
“Ya?”
“Kapan kakak ke tempat papa dan mamaku?”
Sean memandangi Emma dan menghentikan permainan. Mengusap alis sendiri karena gugup, jujur saja dia pusing karena urusan kantor, lalu gadis ini kian membuatnya pusing.
“Aku harus ke Roma dulu, sedang ada masalah perusahaan. Setelah pulang dari sana, mungkin aku akan secepatnya meluangkan waktu ku. Oh ...tapi aku baru ingat waktu aku pulang, kamu sudah di kalimantan, ya?”
“Kakak akan ke Roma? Kok aku baru tahu, Kapan?” tanya Emma terkejut.
“Besok sore-”
“Apa? Mendadak banget, besok kakak masuk kerja?”
“Cuma setengah hari masuk kerjanya. Aku sedang pusing, Emm.” Sean menutupi mata dengan tangan kanan. “Kepalaku seperti mau meledak rasanya .... ” lirihnya.
“Kerjaan kakak, pasti akan beres. Semangat, Kak!” Emma pindah ke kanan Sean. Dengan ragu memijat tengkuk Sean yang ternyata terasa kaku.
Sean serong kiri dan mengintip dari balik tangan yang masih menangkup. “Bisa, lebih keras lagi pijatannya?” Sean mulai terpejam, keenakan oleh tekanan jempol dan telunjuk mungil.
“Tuhan, tolong aku. Jauhkan masalah dari hidupku. Tidakkah cukup aku kehilangan tanganku,” geram Sean di dalam hati, ia sedang marah karena dihantui oleh Geroge yang belum menghubungi hingga kini membuat was-was.
“Kak, Emma akan selalu ada untuk Kakak tak peduli apapun masalahnya.” Emma menghirup aroma mint dari rambut Sean. Dia tak ingin jauh-jauh dari Sean, ingin terus seperti ini. Tangannya mulai menyentuh telinga Sean, lantas menangkupnya. “Nyaman nggak, aku tutupin gini? Ini kesukaanku tiap kali aku sedih, rasanya jadi sedikit sunyi karena tangkupan rapat di telinga.”
Sean tersentuh pada perhatian seseorang padanya. “Hangat, tanganmu hangat. Telingaku menjadi sangat nyaman, aku terbebas dari suara angin dan hanya mendengar suaramu."
Sean mencoba berbagi apa yang dia rasa. Kemudian punggungnya merasakan sebuah usapan penuh kelembutan. Lantas dia mengikuti pergerakan tangan Emma yang kini memegangi dua pipinya.
“Aku mencintaimu, Kak.”
“Aku mencintaimu juga,” ucap Sean dengan nada seperti anak kecil.
“Lalu hubungan kita apa?”
Sean kembali loyo dan melirik kepangkuan. “Jangan bahas ini dulu, Emma.”
Kekecewaan tergurat jelas di wajah Emma. “Bolehkah aku menjadi pacarnya Kakak?”
"Emang kamu tidak punya pacar?” tanya Sean ingin mendengar dari bibir Emma langsung, meskipun dia tahu status Emma yang sendiri. Dia gemas pada kekesalan wanita yang selalu percaya diri di depannya.
“Kakak, ih, kalau aku sudah bertanya ke Kakak seperti ini. Artinya, status aku sendiri.” Emma berdiri dengan kesal dan meraih tasnya.
“Eh, kamu mau kemana?” Sean cepat-cepat merapikan semua kartu di atas meja, dan memasukan ke tas mini. Semua dilakukan dengan satu tangan membuat dia ketinggalan Emma. Dia mendapati Emma baru selesai membayar di kasir. “Kok, jadi kamu yang bayar, sih?”
__ADS_1
“Gantian dong, kemarin kan kakak yang bayar.” Emma berjalan ke arah pintu keluar restoran.
“Loh, tapi ini mahal, biar aku saja? Kan aku yang mengajakmu.” Sean dengan tidak terima, dia menyusul Emma yang sudah di jok pengemudi.
“Aku tanya, Kakak mau jadi pacarku, nggak?” tanya Emma sedikit ketus setelah Sean naik mobil, tetapi hanya mendapatkan senyuman Sean. “Kak!” Emma menyalakan mesin mobil dan kembali menatap kesal pada Sean.
“Aku jadi malu, apa seperti ini rasanya ditembak cewek yang disukai."
“Hu! Jangan cuma senyum-senyum, jawab dong bikin penasaran aja. Besok kan kita udah nggak ketemu satu minggu. Itu lama sekali, loh.”
“Kita bisa video call, kan?” goda Sean dengan wajah condong ke Emma yang berubah gugup.
“Jawab!”
“Anggap saja, aku tak dengar semua kata-katamu hari ini ya-”
“Kok gitu!”
“Diam dulu, Sayang-”
Jangan panggil-panggil sayang kalau kamu bukan pacarku! Aku mau kejelasan biar kamu nggak dekat-dekat cewek lain-”
“SAYANG- Memang kapan aku dekat-dekat cewek-”
“Jawab Sean- kalau nggak jawab, aku keluar ni dari mobil ini lalu pulang naik taksi,” ancam Emma dengan kepala terasa mau mendidih.
“Emma Banchero dengar. Kamu bisa kecewa setelah nanti kamu tahu banyak kekuranganku,” ucap Sean dengan nada serius dan tatapan berubah tajam. “Jangan potong kalimatku. mungkin saja kamu hanya sebatas mengagumiku dan bukan cinta seperti yang kamu bilang. Meski begitu aku sangat senang.”
Sean mengusap pipi Emma. “Saat kamu bertanya maukah aku menikahimu? Aku ingin sekali! Tapi dunia kita sangatlah berbeda? Aku bukan siapa-siapa di dunia duniamu yang penuh kemewahan. Jika, aku mendekatimu, semua dunia menentangku. Tahu kenapa? Karena aku akan tidak pantas dan mereka mungkin menyebutku menempel padamu dan menganggapku seperti parasit yang sekadar mencari keuntungan.”
Emma menyentuh dada Sean. "Kak, Se? Aku ingin menghabiskan hidupku bersama Kakak. Aku ingin belajar banyak pada Kakak. Kumohon jangan tenggelam dalam pikiran kakak sendiri. Kakak belum mencoba, tetapi malah memblokir diri Kakak sendiri. Bagaimana Kakak tahu itu gagal? Tahu dunia menolak Kakak? Menganggap diri sendiri parasit? Bolehkah aku kecewa?”
Emma mulai menjalankan mobilnya dengan bibir terus berkedut. “Kakak belum mencoba barang sedikit!”
Mengerjapkan mata, Sean seolah baru mendapat pencerahan. Dia belum mencobanya memang. Sean membenarkan posisi duduk dan kini menghadap ke depan dan terus berkecamuk di sepanjang perjalanan.
Lima menit berlalu, Sean justru takut kehilangan Emma dengan pikiran semakin tidak karuan. “Tepikan mobilnya dulu." Sean dengan berbicara cepat dan Emma menuruti.
Sean mengelus pipi Emma yang terasa lembut. Selembut beludru, pasti perawatan mahal sampai bisa seperti ini. Dia sampai gemas ingin mencubitnya. "Maaf .... "
“Iya, tapi jangan bilang gitu lagi. Aku tidak suka dan jangan menyerah, semangat Kak?" pinta Emma dengan sungguh-sungguh.
"Iya, sebenarnya aku ingin lebih cepat mengenal papa dan mama kamu. Semoga setelah kamu pulang dari Kalimantan aku bisa cepat-cepat mengambil hati orang tua kamu."
Emma mengangguk sambil tersenyum penuh arti. “Aku percaya Kakak akan meluluhkan hati keluarga Banchero. Grandpaku itu suka pada pria yang gigih berjuang. Kalau Kakak tidak berjuang .... bagaimana Grandpa bisa tahu kesungguhan Kakak untuk ingin menikahiku?”
Sean menarik tengkuk Emma hingga jarak mereka berkurang, lalu mengecup kelopak mata kanan, lalu kiri bergantian hingga menimbulkan suara kecupan. "Aku ingin sekali kita bersatu, Emma. Aku tidak bisa menjalani hubungan melalui proses pacaran, tetapi maunya serius langsung melamar kamu."
__ADS_1
Emma mengangguk. Senyumya merekah sepanjang dia mengemudi. Malam itu merupakan malam yang menjadi penuh arti untuk Emma dan Sean.