Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 16 : KAMAR DAVID


__ADS_3

Seolah-olah baru tersadar, Lena tertunduk malu sendiri. Dua perempuan itu mengusap dada David dengan pandangan tidak suka ke arah Lena. Sesuatu kasat mata seolah menggerakkan Lena hingga tetap mengikuti David, bahkan kakinya loncat ke celah, sebelum pintu kamar itu tertutup.


Malunya luar biasa, tetapi Lena terlanjur kemari. Dia bertekad akan pergi, jika David sendiri yang mengusirnya. Lena juga meyakini David bukanlah pria nakal, tetapi dua perempuan seksi berpakaian mahal itu membuat Lena diberondongi banyak pertanyaan akan orang seperti apa David sebenarnya.


Apa yang mereka lakukan di sini ?


Di dalam kamar dua perempuan itu duduk di sofa tanpa mendapat perintah. Lena tergesa-gesa mengejar David ke area tempat tidur. Sontak Lena pun mundur karena David berjongkok, lalu menekan sandi brangkas besi berwarna hijau army.


Lena tahu pasti David menyadari keberadaanya, tetapi mengapa pria itu masih saja membuka brangkas. Lena pun melotot begitu melihat isi brankas. Kotak besar itu dipenuhi emas batangan, uang kertas, amplop dan surat. Itu benar-benar uang bergepok-gepok dan membuat Lutut Lena langsung lemas, hatinya itu bergetar. Seumur-umur baru ini dia melihat hal luar biasa.


Siapapun orang seperti dirinya yang berkerja mati-matian siang dan malam. Lembur dan selalu dimarahi bos sepanjang waktu demi seonggok gaji. Belum lagi kalau dipotong tiap kali ada kesalahan kecil. Melihat ini, dia jadi terhibur. Mungkin dia harus bekerja keras untuk mendapatkan seperti David. Suatu hati nanti semoga tabungannya banyak.. Apa itu uang asli?


David tergesa-gesa mengambil dua amplop, lalu berdiri. Dia mengamati wajah lugu Lena yang terfokus ke brangkas, dan meninggalkan Lena. Biarkan dia menikmati.


DEG. Lena tersadar dari kekagumannya saat langkah David terhenti di belakangnya. Sontak Lena langsung berbalik, pada saat yang sama David kembali melangkah dengan sangat elegan menuju ke dua perempuan tadi.


Lena mengatubkan rahang dan memblokir air liurnya yang hampir menetes. Dia melirik ke belakang pada yang berkilauan, lalu lekas menyusul David. Pria itu baru saja melemparkan dua buah amplop tebal ke atas meja kaca. Jantung Lena berdebar karena dua perempuan itu telah pergi setelah mengambil amplop tersebut. Dia cemburu pada wajah kegirangan mereka, setelah terang-terangan melirik ke dalam amplop, yang kemungkinan besar uang.


Lena mengikuti David ke ruangan lain yang ternyata deretan lemari pakaian tanpa penutup. Mengapa kemeja banyak sekali seperti showroom.

__ADS_1


"Lena." David melepas dua kancing jas. Dia tidak tahu harus bilang apa. Apa Lena seberani ini memasuki kamarnya. Haruskah dia mengusir Lena?


Pria itu menanggalkan kemeja dan tahu jika Lena memandanginya. Dia melepas ikat pinggang, lalu menurunkan resleting celana dan berdeham karena Lena masih melamun.


Lena pun langsung berbalik. Suara pakaian berderak di belakangnya dan Lena memikirkan apa yang akan dikatakan pada pria itu. Kenapa aku kemari?


"David, kamu nggak pake baju." Lena terpaku pada David yang baru lewat dan hanya mengenakan hotpants hitam. Itu sangat pendek hingga menampakkan paha yang berambut keriting.Lena akhirnya gatal ingin melihat, lalu terpesona pada tato di punggung David. "Nanti kamu bisa masuk angin."


"Untuk apa kamu kemari," kata David dengan dingin sambil mengambil sepiring anggur dari kulkas.


"Apa aku tak boleh main ke tempatmu? Kamu lupa pada perkataan terakhirmu, Mas?" Lena menerima sodoran piring berisi anggur hijau. Terlihat David meraih jubah dari kursi di depan cermin rias.


Lena ternganga karena David berjalan meninggalkannya. Dia tidak takut aku mengambilnya apa? Lena terus menelan saliva kasar dan sempat terdiam lama saat akan mendorong penutup besi. Sumpah demi apa dia telah merekam tata letak isi brangkas. Dia menjadi semangat hanya melihat itu, lalu berjalan riang ke arah David yang menunggunya.


Tempat tidur David, ternyata terletak di tengah. Ada pintu yang Lena pikir dinding rata.Tidak ada handle pintu. Lena jadi tahu caranya membuka, saat David menekan sebuah tombol, lalu pintu bergeser sendiri, seperti ruang rahasia.


Lena terkesiap pada ruang bioskop pribadi. Dia berlari dan langsung bersandar pada sofa empuk. Piring diletakan di pangkuan, lalu menusuk-nusuk keempukan jok. Jemarinya meraba selimut di samping yang sangat lembut.


Ac sejuk membuat Lena terpejam, David mencari remote, lalu memilih film. Di dalam ruangan ini terdapat 10 sofa yang terbagi menjadi 5 baris, tetapi Lena memilih kursi di baris paling belakang.

__ADS_1


Melihat Lena yang rileks, membuat David makin takut menjauhi Lena. Dua perempuan tadi adalah peralihan untuk menentang kakek, biar publik tahu sekalian, dia tak peduli. "Lena, apa kamu kemari jauh-jauh hanya untuk tidur?"


Gadis itu tetap terpejam, karena sentuhan jemari David tengah menyingkirkan poni-poni samping. "Sebentar, ini sangat nyaman."


"Kita tidak bisa pergi bersama lagi," kata David dengan sangat lembut. Buku-buku jarinya membel3i pipi Lena. Bulu mata lentik itu langsung bergetar.


"Kenapa ... " suara Lena retak. Bukankah sudah jelas selama tiga hari David tiada kabar. Jadi ini alasannya? Akhirnya David mengakhiri ini semua.


"Ini rumit, Len. Aku ingin kamu mempercayaiku. Seperti aku mempercayaimu."


Mata Lena terbuka dan ingin tahu lebih jelas. Dia berniat duduk, tetapi David menekan bahu mungil ke jok hingga Lena tetap rebahan. "Kamu sudah kembali kepada Shinta?"


"Tidak akan," kata David dengan ragu. Jempolnya mengusap pelipis Lena.


"Mengapa kamu tidak memaafkan dia?" lirih Lena. Dia memandang pada kegelapan langit-langit ruangan, yangmana tersinari oleh cahaya redup dari proyektor. Film bergenre Asia itu di putar dalam mode silent.


Sekarang pikiran Lena menjadi bekecamuk. Dia menatap netra David dalam semi kegelapan. "Kamu mencintainya, kan, Dav?"


...----------------...

__ADS_1



__ADS_2