
Sean berdiri di pinggir tebing menatap keindahan laut di siang yang cerah. Rasanya baru kemarin dia baru datang ke tempat yang menakjubkan ini dan bertemu dengan seorang wanita yang membuat hatinya bergetar. Bahkan dia tak pernah membayangkan untuk memiliki perasaan yang begitu menghangatkan, sebelumnya. Namun, sekarang seolah ada pembatas besar yang menghalanginya untuk menunjukkan ketertarikannya pada wanita itu.
“Bukannya, seharusnya kau maju? Kamu belum mencobanya jangan jadi pengecut, Sean.” Niko menyembunyikan tangan di dalam saku celana dan melihat ke sudut kiri,pada para wisatawan yang sedang menikmati pantai di bawah sana.
“Hidup ini indah, tergantung dari bagaimana caramu menikmatinya. Jika kamu menganggap dunia ini gelap dan sempit, maka kau tak bisa keluar dari kegelapan itu. Lebih baik kamu menemukan sesuatu ajaib yang dinamakan hikmah, di balik kegelapan itu, Sean? ”
“Tidak, tidak bisa, Niko! Aku cacat, aku cacat dan tak punya tangan. Bahkan sampai detik ini aku belum berani muncul di depannya,” ucap Sean dengan bergetar, dadanya terasa ngilu.
“Kau tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di depan. Kau harus mencobanya, Sean! Sebelum kau menyesalinya nanti.” Niko memelintir bibir, karena merasa tak berbuat semaksimal yang dia bisa pada Lena dulu.
"Sean, kamu mungkin harus memikirkan perasaannya, bisa jadi dia menyukaimu. Kalau tidak sesuai harapan ... ya sudah! Setidaknya, kamu itu sudah tahu jawaban dia.
Eh bisa jadi dia juga memiliki perasaan yang sama denganmu? tetapi mungkin dia tak berani menyatakan perasaannya. Ada loh tipe wanita yang pemalu, tetapi juga bimbang. Maksudku dia mungkin berpikir apa kau menyukainya atau tidak.”
“Kau pikir ini mudah!” teriak Sean, bola energi dalam tubuhnya akhirnya pecah.
Sean menjambak pagar rumput yang setinggi pinggang hingga daun-daun dan ranting kecil terputus dari pohon. “Aku memang menyukainya! Tapi aku tahu diri! Bahwa aku cacat dan tidak pantas untuknya.”
Niko menelan Saliva kasar, saat Sean bersandar di bahunya dan merintih. Nico menunduk lalu dapat melihat ke kaki Sean yang gemetar, dibelakangnya. Kaos tipis Niko pun terasa basah, pada saat seperti ini biasanya Sean tak mau dilihat wajahnya.
Bagi Niko, Sean itu sangat jaim dan tak mau ada seorangpun yang mengetahui setiap Sean sedang menangis. Niko merinding, dia baru mendapati sahabatnya yang jatuh cinta. Akan tetapi sekali mengenal wanita, justru sangat menyedihkan. “Siapa dia? Aku ingin melihat seperti apa seleramu?
Di halaman rumah milik Paolo, Emma mendengar teriakan Sean, sontak tangan mungil itu meremas bola karet yang baru diambil di halaman belakang. Charlie-anjing miliknya, sangat menyukai bola karet ini, tetapi dia justru dikejutkan dengan suara Sean.
Emma penuh tanda tanya akan siapa wanita yang dimaksud Sean. Apa yang dimaksud adalah teman kantor Sean atau teman Sean yang berasal dari negara yang sama dan mereka berhubungan jarak jauh.
Emma tak mengerti mengapa Sean tidak pernah mau menemuinya, walau dia sudah datang untuk menjenguk Sean. Apakah Sean tidak mau berteman dengannya lagi. Atau pria itu tidak mau membantunya untuk menenangkan Dhona. Atau apakah dia terlalu merepotkan Sean selama ini. Semua Itu berputar-putar di dalam otaknya selama sebulan ini hingga dia merasa lelah sendiri.
Kaki mungil itu melewati pagar dengan semangat berkorbar. Dia melihat sosok Sean yang sedang menggosok mata dengan punggung tangan. Sean yang dilihatnya sekarang seperti bukan sosok yang dikenali, pria itu seperti pria rapuh. Jadi, kondisi Sean jauh terlihat buruk dari apa yang dia bayangkan selama ini.
Wanita itu tertegun saat melihat pria Asia lain di depan Sean. Mereka terlihat dekat, membuatnya diselimuti rasa penasaran. Ternyata, orang Indonesia ganteng-ganteng.
Sean sontak menoleh ke belakang karena instingnya mengatakan ada yang sedang mengamati. Mata membesar dengan sempurna dan kelopak matanya bergetar. Pandangannya lalu meredup, dengan kepala miring ke kiri.
Wanita itu sangat cantik bagai ribuan wajah bidadari, yang disatukan. Sesungguhnya Sean sangat merindukan wajah mungil yang tersenyum setiap pagi, siang, sore dan malam. Sean menengok ke kiri dan menghapus dua tetes air mata di pipi kanan kirinya.
Niko mendapati Emma yang mengangkat bola sebesar bola tenis ke atas kepala mungil, lalu dilempar ke arahnya. Niko menarik Sean, tetapi usahanya tak berhasil hingga bola itu mengenai kening Sean.
“Aggggrrrr !” Sean memegangi kening karena kepalanya jadi terasa ngilu dan pusing.
Tampak Niko melompati pagar hijau dengan lompatan mulus tanpa menyentuh pagar rumput, tetapi lalu terguling hingga tiga kali di rumput. Sean bahkan tak tahu Sejak kapan Niko pandai lompat setinggi itu.
Si4l. Sean menyadari, sejak kepindahan ke Napoli, sepertinya Niko tak mau menceritakan latihan apa yang dijalani Niko. Dulu, padahal Niko selalu cerita, walau dia di Bali dan Niko di Palembang.
“Beraninya kamu melempari sahabatku yang kusayangi ini!” Geram Niko sambil meraih dua tangan wanita itu ke belakang. Wanita itu mencoba kabur dan Niko masih bisa menangkapnya.
“Auwhh, auuwhh! Sakit sekali! Lepas, Aghhh.” Emma langsung mengadu, ngeri bila tangannya nanti putus. Dia semakin histeris, matanya tidak beralih dari memandang ekspresi Sean yang mangap-mangap dan begitu khawatir. “Kau mau mematahkan tanganku! Sakit!”
“Lepas Niko! Kau menyakitinya! " teriak Sean.
"Aku tidak mau, sebelum dia minta maaf kepadamu dulu,” Niko berkata kepada Sean.
“Cepat! Minta maaf atau aku akan menghukummu, yang lebih berat lagi. Kupastikan kau merasakan sakit sama seperti apa yang sahabatku rasakan!"
Niko mendapati Sean sudah mengambil ancang-ancang dan berlari ke arahnya. Niko langsung melongo dengan ngeri. “Tidak tidak tidak, Sean! Jangan!”
“Seann jangan!” Emma Memekik dan baru sadar kenapa dia bodoh dengan berakting sakit, hingga tak memikirkan kondisi Sean. Tanpa pikir lagi, wanita itu menepis tangan kekar pria di belakangnya dan berlari ke arah Sean dengan mengulurkan tangan ke depan, untuk menyuruh Sean berhenti, tetapi terlambat …..
“Emma! Oh tidak oh!” Sean tidak bisa menghentikan dirinya yang sudah melompat ke udara dan dia dapat melihat mata Ema Yang melotot dan semua itu tampak seperti Slow motion baginya.
“Oh no!” Niko Melongo saat mendapati Lutut Sean menghantam dengan keras ke dada atau bagian bahu wanita itu.
Pandangan Emma seketika gelap dan melayang ke belakang dengan kepala terbentur rerumputan. Punggung mungil terasa menghantam kuat lebih dulu, dan menyusul pan*tat. Tangannya tertimpa sesuatu tumpul yang berat dan menyakitkan, lalu berakhir dengan kepalanya terbenam oleh kehangatan beraroma musk.
“Sean.” Niko melirik kasihan karena wajah wanita itu tertimpa perut Sean. Kemudian Niko menarik tubuh Sean dari atas wanita itu.
"Kamu gimana sih, Sean! Bodoh sekali, itu bisa membahayakan tanganmu!” Niko mendapati dirinya diabaikan.
Sean begitu cemas karena tangan mungil memegangi lengan sambil bersujud. "Emma, mana yang sakit. Perlihatkan lukanya padaku, Em? ”
Sean menjadi pusing karena mendengar rintihan Emma. Dia menarik tubuh mungil dengan tangan kirinya, hingga mereka duduk di rumput. Mata wanita itu terpejam lalu terbuka dan menatap mata Sean dengan lembut.
“Kamu tahu mana yang sakit?” tanya Ema dengan meringis. Dia merasakan sentuhan tangan Sean yang begitu penuh kelembutan, di lengan bagian atas.
__ADS_1
Lengan itu berwarna semu merah mungkin karena kerasnya benturan lutut lelaki itu. Namun, matanya tertuju pada tangan kanan Sean, yang terbalut perban putih dan plester. Emma meneguk saliva kasar, dia menebak pasti berat bagi Sean karena kehilangan sebagian tangan.
Wajah terasa Sean menghangat. Dia sangat malu, hingga membuat lelaki itu sedikit condong ke kanan, agar Emma tidak bisa melihat tangannya. “Area mana yang sakit?” tanya Sean dengan serius dan penuh perhatian pada Emma.
“Aku sakit karena kamu tak mau berbicara denganku.” Ema semakin merengek, dia pura-pura tak berdaya. Setiap perubahan ekspresi dab bulu mata lentik Sean, itu bergetar dengan sangat indah. Ingin Emma berbicara hal pribadi dan berlama-lama hanya berdua, tetapi laki-laki berwajah kotak bernama Niko itu duduk diantaranya dengan Sean.
“Ini salahmu loh, kamu yang melemparkan bola ke Sean lebih dulu. Kamu gila ya?” tanya Niko pada wanita yang terus memandangi Sean.
“Kamu siapa si! Ikut campur mulu?” tanya Ema pada Niko, dia memejamkan mata karena tangan pria asing yang akan meninju.
"Jangan!" Sean mendorong tangan Niko. Jitakan Niko meleset ke udara. Dia tak mau Niko menyentuh Emma. "Jangan kasar padanya.”
“Aku hanya akan menjitaknya, biar dia tahu diri. Sekarang kau bilang ini kasar?” kata Niko dengan tidak terima. Dia menatap tajam pada Ema yang baru membuka mata.
“Tadi kamu kasar!” Dada Sean, terasa bergemuruh di dalam. "Dia perempuan dan kau memelintirnya. Nggak waras!"
“Apa yang menghiburmu sampai kau terlihat kegirangan?” tanya Sean berubah lembut ke Emma yang sedang senyum-senyum sendiri.
Niko meringis geli karena nada suara Sean. Dia mengulurkan tangan ke Emma. "Aku Niko, sahabatnya Sean. Jadi, siapa kamu?”
Emma mengerutkan kening dan melihat tangan Niko, dia ingin mengetes Sean dengan mengulurkan tangan, tetapi justru tangan kiri milik Sean yang mendarat di telapak tangan Niko, seakan dia tak boleh berjabat tangan dengan Niko. Emma memiringkan kepala ke kiri karena bingung dengan sikap Sean. "Aku Emma Banchero.”
"Oh?" Niko menoleh ke kiri. “Aku tidak boleh menjabat tangannya, ya, An?"
“Tanganmu kotor, nggak ingat barusan habis pegang tanah, ya?” Sean melepas jabatan tangan Niko. Rasa malu kembali menyelimuti setiap kali Emma melirik ke arah tangan cacatnya.
“Bilang saja aku tak boleh memegangnya,” gerutu Niko, langsung berdiri. Dia menarik tangan kiri Sean hingga sahabatnya berdiri. Tatapan dua orang itu sangat aneh saat bertemu pandang. Dia jadi penasaran ingin menyelami apa yang ada di dalam pikiran mereka.
‘Guk! Guk ! guk!’ Gonggongan anjing menggema di langit, membuat mata Sean dan Niko saling pandang. Jiwa kesatria mereka seketika menyusut teringat pada kejadian tak mengenakkan yang pernah mereka alami bersama.
Emma berlari ke arah halaman dan berdiri di ambang pagar halaman, saat Charlie baru melewati pintu ruang santai dan melompati serambi rumah. Dia menoleh ke arah Sean dengan gugup karena dua pria itu sudah berancang-ancang akan melompati pagar. Emma mendapati gonggongan galak, Charlie yang berjarak 2 meter di depannya terus menggeram dan menunjukkan taring.
“Charlie! Charlie! Berhenti anak mami!” Tangannya direntangkan untuk menghalangi Charlie, tetapi anjing pintarnya berhasil melewati jangkauannya. Emma berlari sekuat tenaga karena dia melihat Charlie mengejar Sean dan Niko, yang telah berlari dengan langkah besar.
“Charlie! Berhenti!” teriaknya dengan menggelegar. Dia berharap bisa menghentikan anjingnya, tetapi hewan kesayangannya itu tak mendengarkannya.
Sean dan Niko yang meloncat untuk melewati pagar, hampir tersusul dengan sisa berapa inchi. Jantung Emma berdebar kencang, Charlie menarik kaos Sean dan membuat Sean yang tak beruntung itu jatuh menimpa rerumputan.
Teriakan Emma yang marah dan Sean yang takut, terasa percuma. Emma meraih tubuh anjing besar itu dan dia dapat melihat dengan jelas mulut Charlie yang akan mengenai kepala Sean, tetapi untung kepala Sean bergerak menjauh oleh tarikan Niko.
"Haah.... ” Niko menghela nafas lega. Dia merinding dan bersyukur karena berhasil menarik kedua tangan Sean. Rumput pagar itu membentuk cekungan sedalam 30 senti. “Ayo cepat Sean pergi dari sini, sebelum dia menggigit kita!"
Sean merasakan perih-perih dan panas pada punggung. Dia tak tahu kenapa. Mungkin bisa jadi terluka oleh rumput.
Anjing yang menggonggong berlari ke arah rumah Emma. Lalu menghambur ke seorang pria di ambang pagar dengan mengitari kaki pria itu. Anjing itu lalu melolong panjang.
“Paman terlambat datang! Charlie sangat nakal dan membuat ulah lagi! lihat tubuh Kak Sean kasihan jatuh tertusuk rumput pembatas. Bajunya juga robek oleh Charlie!" Seru Emma kepada Paolo.
Paolo menendang kepala anjing itu sekali, tak terlalu keras, tetapi mampu membuat Charlie berhenti menggonggong. Namun, anjing itu tampak memandang dengan tidak suka pada Sean dan Niko. “Iya, saya sudah berniat untuk pasang pagar besi di halaman dan berharap peristiwa ini tidak terulang.”
"Maaf, untuk lukamu. Paolo mendekati Sean dan melirik tangan cacat itu. Seandainya, waktu itu dia bisa lebih cepat menolong Sean mungkin dia bisa menemukan potongan tangan kanan Sean, lalu bisa disambung ulang. “Sean, kau akhirnya keluar?”
“Ya.” Sean berkedip dengan pelan. Matanya sulit fokus pada Paolo, karena begitu gelisah dan ingin terus melihat ke arah Emma. Dia kemudian mendorong bahu Niko hingga maju ke depan dan merapat ke pagar rumput. “Kenalin, dia sahabat aku. Sean Alfarizi.”
“Paolo Banchero, pamannya Emma.” Paolo membalas jabatan tangan Niko. Jadi, ini lelaki yang tidak disukai Oleh David. Paolo menelisik ke dalam mata Niko, hanya dalam beberapa detik dia dapat tahu orang seperti apa Niko.
Bagi Paolo, orang seperti Niko akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Orang-orang seperti itu bisa berbahaya tetapi juga bisa menguntungkan, pantas saja David tidak suka. Apa yang membuat David begitu merasa terganggu dengan kehadiran Niko?
Ide untuk mendatangkan Niko ke rumah, adalah ide Paolo, karena David yang memberitahunya, bahwa Niko adalah teman terdekat Sean. Tentu saja, semua orang terdekat bisa membantu memulihkan penderita kecemasan, seperti halnya pada Sean yang kini anti sosial. Buktinya, ini kabar baik karena Sean mulai mau keluar ke halaman.
Paolo merasa heran pada David yang biasanya mau melakukan apa saja untuk Lena. Namun, sempat menolak dengan keras pada idenya. Dia meyakini alasan bisnis David ke Swiss hanya omong kosong karena David pergi ke Swiss cuma setiap ada masalah besar. Paolo menarik kesimpulan bahwa kali ini masalah pria itu ada pada Niko ini.
"Aku akan datang ke tempatmu, Sean.” Paolo berjalan dan menarik Ema yang masih tak mau melangkahkan kaki.
Sean memandangi wajah ayu itu. Mungkin ini yang terakhir kali melihat Emma. Dia merekam setiap inci keindahan wajah Emma, ke dalam selang-selang otaknya.
Lelaki itu merasa tak akan punya muka lagi untuk bertemu dengan Ema. Sean ingin mengatakan salam perpisahan, tetapi kata-katanya hilang di tenggorokan. Jadi, Sean hanya menahan tarikan tangan Niko, dia tak rela berpisah dengan Emma.
“Ayo cepat, Emma! Apa kau mau Charlie mengganggu mereka lagi?” Paolo menarik bahu keponakannya karena dia tak mau Ema dekat-dekat dengan pria bernama Niko. Teman dari Setan itu mungkin bisa saja sangat berbahaya untuk sang keponakan.
“Sean …. ” panggil Emma.
“YA?”
__ADS_1
“Tunggu Kami di balkon kamarmu, kami akan lewat situ ya?”
“Lewat balkon kamarku? Maksudmu? aku tak paham?”
“Sudah Ah Ayo!” Paolo menarik pergelangan tangan Ema. Dia yakin Emma pasti melihat pria bernama Niko itu.
⚓
Jantung Sean semakin berdebar saat kembali ke rumah. Dia bahkan tak memperhatikan semua omongan Niko karena pikirannya terus melayang pada kalimat Ema. Apa maksudnya balkon kamar.
Sean berlari meninggalkan Niko ke kamarnya dan langsung membuka pintu balkon. Kemudian terlihat Paolo menembakkan tali ke balkon kamarnya. Sean masih terkesima pada Emma yang begitu menggoda saat memakai safety di tubuh mungil itu.
Sedangkan Niko, mempelajari pergerakan pria bernama Paolo. Terlihat sangat lihai dan tangan itu kokoh menahan tubuh tanpa bantuan pengamanan dan dengan mudah bergelantungan untuk menyebrang. Sepertinya, pria naepolitan itu, bukan orang sembarangan.
Paolo peduli pada setiap masalah Sean karena David mempedulikan Sean, jadi dia ke rumah David untuk mengobati Sean. Juga ingin mencari tahu sendiri seperti apa itu Niko.
Wajah Emma menghangat saat Paolo tampak memberi cairan penyembuh luka ke punggung Sean. Dia dapat dengan jelas melihat dada Sean yang sebenarnya sangat menonjolkan tulang dada, alias kerempeng. Namun, tetap saja Sean begitu mempesona baginya.
“Emma, kau pulang saja. Kurang kerjaan banget di sini.” Paolo menahan kesal, karena Ema tak mau mendengarkan dan melawan sampai sang keponakan memaksa untuk ikut kemari. “Emma, kamu tidak lihat? kami semua lelaki?’
“Kenapa jadi membeda-bedakan GENDER, SI? itu pelanggaran hak asasi manusia dan melanggar kebebasan perempuan,” gerutu Emma.
“Cih, yang benar saja kau mengatakan itu pada Paman, ha?”
Sean kembali memberanikan diri untuk mengangkat kepala dan menatap wajah Ema yang memerah. Dia tak enak hati melarang Emma datang, karena ada Paolo. Sebenarnya, dia senang sekaligus malu, padahal pikirannya meneriaki dia untuk tidak muncul di depan Emma.
“Kudengar Kamu sudah 1 bulan berada di Italia? Di mana kamu tinggal selama ini?” Tanya Paulo kepada Niko yang berada di kirinya.
Percakapan Paolo dan Niko menjadi kabur di telinga Sean. Sean yang begitu asik menatap Emma, lalu mencoba tersenyum dengan berusaha untuk tidak canggung pada Emma.
Wanita itu menggaruk lengan yang tidak gatal. Kemudian Emma melirik ke arah lain dengan debaran jantung yang melewati batas normal.
-⚓
Lena memandangi sepasang angsa. Angsa-angsa yang tampak penasaran pada tangan kekar David yang mendayung dengan konstan. Ya, mereka kini di sungai Aare-Bern Swiss, memakai pelampung demi menghindari sesuatu yang tidak diinginkan.
Air di depannya sangat jernih dan bersih. Warna biru sungguh sangat menenangkan pikirannya. Beberapa hari ini, selang-selang otaknya begitu kencang dan ruwet karena berkemelut pada kondisi sang kakak.
Lena bukan tipe orang yang bisa lehai-lehai saat keluarganya dalam kondisi tidak baik. Namun, dia terlalu melupakan dirinya sendiri. Beruntung, David selalu mengingatkannya untuk tidak terlalu terbebani.
Wanita itu menatap takjub pada wajah sang suami yang tersenyum sangat menawan. Tubuh tinggi dalam balutan mantel biru itu sangat serasi dengan background pegunungan dan alam nan indah.
Apa dia suamiku?
Lena melamun, teringat tadi pagi sudah berangkat dari Milan jam 6. Soalnya seharian kemarin dia berada di Milan-Italia. David mampir ke anak perusahaan dari minuman kemasan yang berbeda nama brand, tetapi masih satu pabrik dengan yang ada di Napoli.
Mereka memutuskan tak lewat jalur udara, melainkan naik kereta hingga memakan waktu sekitar 5 jam antara italia yang cerah dan swiss yang dingin. Kereta melewati banyak terowongan, jembatan, dan pemandangan alam pegunungan berselimut salju.
Mereka tadi melewati rel kereta api yang dibangun di antara tahun 1896 sampai 1904 dan sekarang dinyatakan sebagai situs warisan dunia UNESCO.
Pengalaman ini sungguh tak pernah dibayangkan Lena, bahwa dia akan mendapatkan kemurahan hati Tuhan yang Maha Esa, yang seperti ini.
“Mas, kenapa beberapa hari ini kamu makan sangat sedikit? Kita perlu ke dokter dan meminta obat nafsu makan," ucap Lena, setelah melewati sepasang angsa.
“Liburan ini, adalah obat terbaik untukku. Sekaligus menjadi bulan madu kita yang tertunda.”
“Aku punya hadiah untukmu.” Lena mengeluarkan kotak berwarna biru, warna kesukaan suaminya. ”Syaratnya, kamu harus cium aku dulu. Aku kedinginan, suamiku sayang.”
David bergeser duduknya dari ujung perahu karet, ke tengah mendekati Lena dan langsung memagut bibir sang istri dengan gemas. Secara harfiah itu sekitar 10 menit. David membuka mata dan melepas pagutan. Dia tersenyum lepas, lalu melihat pemandangan alam yang cantik dari atas perahu.
David memutar leher dan pandangannya kembali mengitari hijaunya dedaunan. Jantungnya berdebar kuat saat melihat bibir lena yang sedikit jontor dan lebih merah karena dia menggigit begitu kuat. Satu alisnya terangkat. “Sayang, ini kan hari ulang tahunmu. 30 Maret, Selamat ulang tahun istriku!”
David meletakkan hadiah pemberian Lena dipangkuannya. Tangannya meraih sesuatu, lalu mengeluarkan sebuah kain pembungkus dari saku celana, dan dituangkan semua isi kain ke atas pangkuan.
Tiga buah alat dipandangi Lena.Tampak David memegang satu alat yang adalah tumpuan tempat angka. Pria itu memasangkan angka 2 dan 7 ke dalam lubang tadi dan jadilah angka 27.
David dengan semangat menyalahkan dua lilin berwarna pink itu dengan korek api, lalu mengulurkan ke udara di depan wajah Lena. “Sekali lagi, maaf sayang, di hari spesial ini, aku hanya membawa lilin untukmu. Kau tahu artinya apa?”
David tersenyum dengan penuh cinta saat mendapati gelengan dan senyum manis sang istri yang menggetarkan jiwanya.
__ADS_1