Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 89 : DI KALIMANTAN


__ADS_3

Sean dan Stefanie lepas landas dari bandara udara Capodichino menuju Roma dalam rangka mendatangi keluarga korban tertular Salmonella sekaligus mengunjungi anak perusahaan Xaverio Grup di Provinsi Roma-Italia.


Niko memesan tiket penebangan ke Kalimantan setelah kepergian Sean, setelah ijin liburnya di approve perusahaan.


Malamnya, Shinta yang adalah mantan David menggunakan pesawat pribadi memulai penerbangan ke Jepang. Shinta yang menjalani hubungan dengan George sejak penculikan Lena di kapal kargo- yang sampai menyebabkan tangan Sean putus, kini menagih janji George.


Keesokannya di hari minggu sore, David yang telah siap ke bandara, justru kedatangan Marcho yang minta tolong padanya.


“Ayo. David, bantu aku!” Marcho menarik lengan David di ruang tengah. “Mintakan ijin ke Kakek, aku harus tebang Ke Qatar.”


“Kak, jadwal penerbangan kami sudah mepet.” Lena menginterupsi mereka, sambil bangkit dari sofa.


“Ada sesuatu terjadi pada Anna, masa kau tidak kasian pada Anna? Dia pernah mengajarimu bermain kayak, loh.” Marcho mengingatkan Lena.


“Kan bisa dari telepon. Aku nanti telepon Kakek saja,” ujar David sambil melirik jam tangan. Dia melirik Axel yang jelas tak berani menyingkirkan Marcho darinya.


“Kamu berangkat dulu, Len. Biar David nanti aku belikan tiket pesawat.” Marco menatap sendu pada David dan Lenna. “Ayolah, tolong Annaku.”


“Ya sudah, aku berangkat dulu. Siapa tahu urusan Papa selesai lebih cepat dan masih bisa kejar waktu.” Lenna dengan wajah frustasi karena sudah ditelepon Emma.


“Ya sudah, aku ikut dengan kau!” sentak David kesal pada abangnya dan baru Marcho melepaskan cengkraman dari lengan.


David memeluk Lena erat-erat, lalu menciumi pipi Lena yang merah karena marah. “Aku akan cepat-cepat ke bandara, kalau telat aku pesan tiket selanjutnya. Kamu jangan banyak pikiran.”


“Iya, Mas, semoga Kakek mau dengerin kamu,” lirihnya.


“Sudah ah, kalian tuh yah!” Marcho menyeret lengan David sambil terus mendapat umpatan David.

__ADS_1


*


Senin pukul 12 siang, Lena dan Emma baru sampai di hotel bintang lima di kamar president suite dengan fasilitas interior yang mewah dan megah, yang di dalamnya berisi empat kamar.


Mereka duduk menghempaskan badan mereka di sofa ruang tengah dengan Axel sibuk mengatur para pelayan hotel yang memasukan koper ke kamar masing-masing.


Setelah Axel keluar dari kamar, Lena menelpon David bahwa dia sudah tiba di hotel. Suaminya itu belum bisa terbang ke Indonesia karena Kakek Leora menahan David. Namun, Axel tetap terbang lebih dulu guna menjaga Lena dan Emma, karena Paolo juga akan menyusul.


Selasa pagi, Sujatmiko tiba di hotel dan menempati kamar kosong. Kini empat kamar itu terisi semua. Yang satu ditempati Axel, demi keamanan majikannya.


Di ruang tengah, Axel merekam akan histerisnya Sujatmiko saat Lena bilang tengah hamil dua bulan. Suasana haru menyelimuti ruangan.


Kemudian Emma tersipu malu saat berkenalan dengan Sujatmiko, sebisa mungkin dia ramah untuk membangun kesan pertama. Jangan sampai ayahnya Sean menilainya buruk. Dia sudah bersiap dengan memakai pakaian sopan dan bahkan masuk salon dan baru pulang sekarang. Jadi dia baru bertemu Sujatmiko yang sudah datang dari pagi.


Di sebuah tempat makan dengan gaya saung yang terpisah banyak kolam, di sini Niko terpaku pada penampakkan dua wanita cantik yang sedang makan siang bersama Sujatmiko. Sujatmiko yang dulu digadang-gadang menjadi ayah mertuanya.


"Aku kangen ayah." Niko menekuk bibirnya dan mengelap setetes embun di pelupuk mata. Pada Sujatmiko yang biasanya dipanggil ayah.


"Seharusnya, dia milikku? Tuhan mengapa Engkau tak adil sekali! Kenapa Engkau tak memberiku kekayaan dari lahir!" gumam Niko dengan kesal.


Niko meninju jubin. Dia tahu ini salahnya sendiri karena harus menyetujui kontrak dengan Reza-kakaknya Marsha, membuat Lena mengira dia selingkuh. Membuat Lena termakan omongan orang kaya itu. Membuat Lena jadi memiliki kesempatan mengenal pria perebut cintanya.


Rabu dini hari, Niko menyebrang antar balkon dengan tali dan mencapai kamar Lena. Dia menempelkan telinga ke kaca dan tampak suara berbicara di dalam yang dia yakini Lena. Sepertinya, Lena tengah telepon.


Niko perlahan duduk di depan jendela balkon, menikmati malam berbintang dan suara tawa renyah yang barusan didengar. Niko makin menempel ke pagar, karena suara Lena terdengar kian jelas, jangan sampai wanita itu keluar ke balkon. Rasanya tidak mungkin juga Lena ke sini karena malam ini sangat dingin.


Lena memandangi layar ponsel, yang memperlihatkan David di tidur dengan selimut putih. Dia yakin tangan kekar itu sibuk sendiri di balik selimut karena David meminta Lena mend**sah. David bilang untuk menghilangkan pusing yang dialami sang suami.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya ini Lena jauh dari David, dia jadi berpikir apa David dulu seperti ini dengan Shinta. Dia tak bisa asa mend**sah. Rasanya, aneh, geli dan menjijikan. Namun, mendengar lenguhan suaminya membuat dia merinding dan perlahan napasnya meningkat pendek dan cepat.


Lena merasakan perutnya seperti ada kupu-kupu, kewanitaannya mulai basah karena tatapan David yang lebih gelap, mana sang suami menggigit bibir sendiri begitu seksi. Apa seperti ini yang dilakukan para pasangan jarak jauh.


"Ayo, Mah, jangan ditahan, mana nyanyianmu Mamah yang begitu indah setiap berolahraga dengan Papa," suara David serak dengan penuh memohon.


"Enggak, malu," suara Lena seperti tercekik, pahanya saling merapat karena suatu keinginan. "Baru tiga hari udah kangen? Kapan sih Papa ke sininya?"


"Mah, ayo dong, bantu Papa. Pengeeen." David dengan pandangan sedikit kecewa karena napcunya sudah di ubun-ubun.


"Aku nggak bisa, Pah." Lena dengan perasaan bersalah, tetapi bila tidak, dia takut suaminya akan memikirkan perempuan lain.


"Bayangin kita deketan dong, Mah," ucap David makin serak.


Di luar balkon, Niko mengerutkan kening, karena suara itu. Kupingnya panas mendengar headset khusus yang bisa mendengar percakapan di ruang sebelah. Hatinya, begitu sakit mendengar suara Lena dengan nada manja seperti itu.


Suasana hati dan perasaan Niko saat ini makin buruk saat mendengar Lena seolah sedang menikmati sentuhan, tekanan, karena efek pancingan dari balik telepon yang pasti adalah David. Seolah David mampu memberikan kepuasan dan kenikmatan jarak jauh.


Perlahan Niko mendengar Lena yang mend**sah, melenguh dan itu semua sudah pasti membuat David sangat terbantu. Lelaki itu pasti juga sangat bangga, sempurna menjadi pria, karena desa**han seperti itulah yang pujian tertinggi bagi seorang lelaki. Lebih dari kata-kata indah macam apapun.


Seperti Niko, dia takkan mudah melupakan suara Lena ini yang seperti nyanyian surga. Semakin kuat desa**han semakin membawa hasrat Niko yang juga mulai menggebu untuk lebih dari itu. Tangan Niko terkepal, dia berniat melepas headset tetapi jeritan pelan Lena membuat Niko mendelik dan mengurungkan niat. Semua keinginan bergumul di bawah, darahnya berkumpul di bawah.


Niko mengutuk diri sendiri karena perasaan ini. Dia menarik headset dari kedua telinganya dan terpejam, tetapi suara yang tadi didengarnya membuat tersiksa. Dia menggeser celananya yang jadi sempit, dan terasa begitu sesak.


Niko menutupi telinga karena ingatan suara itu. Tanpa bisa ditahannya, Niko memegangi miliknya tetapi dia terus menggelengkan kepalanya walau tangannya justru menekan miliknya. Niko dengan perasaan sakit hati luar biasa, kembali memakai headset mendengar desa**han Lena terakhir panjang tampaknya karena Lena mengalami pelepasan , dan Niko menepuk jidat karena semua itu tak tertahankan, bahkan dia keluar hanya karena mendengar itu!


Perasaan bersalah menyelimutinya. Niko pergi dari balkon dan menangis kebingungan di kamar setelah berganti celana inti. Dia menyembunyikan diri di dalam selimut merasa sangat malu.

__ADS_1


Lalu apakah dia harus menjadi seorang pembunuh untuk mendapatkan Lena?


Bagaimana bila Lena nanti justru terus sedih sepeninggalan David, yang lebih parahnya bila Lena tidak mau menikah lagi. Bukannya itu dia justru menambah kesengsaraan pada Lena karena wanita itu jadi menjalani segala sesuatu dengan sendirian.


__ADS_2