
"Aku perlu berbicara dengan Kak Se." Emma pernah berpikir hal seperti ini akan terjadi, tetapi menghadapi langsung membuatnya gugup.
"Katakan padanya, ini hanya salah paham. Jangan korbankan hubunganmu dengan orang yang baik hanya karena orang yang tak memiliki nilai seperti aku."
"Aku dan Kak Se tidak pacaran. Karena itu aku melakukan ini semua pada Kakak." Emma memutar bola mata, dia seperti digantung Sean, tetapi tak mungkin menceritakan ini pada Niko.
"Demi Tuhan dia lelaki terbaik, menurut ku!"Niko menutup mata sejenak, karena selama ini tidak memikirkan hubungan Sean dan Emma. "Oh, dia akan marah padamu."
"Biar saja Kak Se tahu-"
"Emma! Aku tidak memiliki perasaan padamu," kata Niko tegas dan tampak Emma langsung berkedip bingung, seakan wanita itu tak pernah menduga dengan apa yang keluar dari mulutnya. Memang apa yang kamu harapan dari ku, yang mungkin akan mendekam di penjara dan tidak punya masa depan.
"Kamu mengatakan ini karena kamu hanya memikirkan perasaan Kak Sean!"
"Bodoh, cepat kejar, katakan ini salah paham!"
.
.
Sean berjalan lebih cepat. Tidak mau mendengar apapun dari wanita itu. Bergegas dia masuk dan menyalakan mesin mobil.
"Kak Se, dengar dulu!" teriak Emma ngos-ngosan sambil mengetuk kaca bagian belakang. Lalu mengetuk kaca depan, tetapi mobil Kak Se terus berjalan.
Sean meninju stir mobil. Mengingat-ingat Emma dan Niko dulu hanya berteman biasa. "Kupikir kau tak jadi memacarinya, Nik. Kau yang menyangkal bahwa kau tidak mendekati Emma, tetapi pada akhirnya kau tetap dengan dia!"
Kemarahan kepada Niko terasa mencokol di kepalanya. Tidak hanya soal masalah Lena, kini .... cintanya pada Emma juga hancur.
.
.
Dua hari berlalu, Niko keluar menghirup udara segar di pelataran rumah sakit. Dari kejauhan, Emma berlari dengan sepatu berhak tinggi sambil melambaikan tangan. Wanita itu langsung menghambur ke dadanya, dia menatap mata si keras kepala dan tubuh itu yang kini dalam rengkuhan.
"Ayo, pulang! Orang tua Kakak, sudah menunggu." Emma membawa tas kecil milik Niko menjadi satu dengan miliknya, dalam satu genggaman, tangan lain menggaet lengan Niko.
Sesampai di apartemen, Niko speechless ada bapak-ibu sedang memegangi piring berisi kue klepon . Dia tertawa gembira, orangtunya masih peduli dan perhatian.
"Selamat datang Iko Sayang!" sambut Umi dengan mata berseri-seri.
"Umi dan Abi sudah buat kue klepon kesukaan kamu. Biar kamu senang." Abie langsung mendekap tubuh Niko, membuat Emma tersenyum haru.
"Nak Emma sudah baik sekali, dari awal sudah meminjamkan apartemen untuk kami tinggal sementara," kata Ummi dengan bersemangat sambil duduk di samping Niko. "Semoga Allah memberikan banyak kebaikan untuk Nak Emma"
Niko yang diapit Emma dan Umi makin tersenyum, saat Umi memegangi tangan Emma tepat di atas pangkuannya. Dia tak berkedip pada Emma yang sempat meliriknya dengan penuh arti.
"Yang penting Ummi dan Abi tinggal dengan nyaman di sini. Jangan dipikirkan, Emma jadi malu." Emma dengan penuh ketulusan.
.
.
Seusai makan bersama, Emma bersikeras mencuci piring, diikuti Niko yang kemudian mengambil alih urusan membilas piring.
"Kamu memanggil mereka, Ummi dan Abie?" Niko tersenyum menggoda Emma, sampai membuat pipi wanita itu memerah.
"Umi dan Abi yang meminta." Emma jadi salah tingkah. Dia memandangi Niko sejenak. "Kak, aku menyiapkan pengacara, karena Kak Dav akan menggugat Kakak dengan percobaan penculikan. Lalu Paman Ketiga, menyebutmu sebagai pelaku utama penculikan Lena."
"Berhentilah, menambah kesusahan pada dirimu sendiri!" Niko menyentuh lengan Emma . "Ini kan semua masalahku dan tidak akan terjadi apapun denganku!"
"Aku hanya ingin hukuman Kakak diperingan!" Emma menatap mata di depannya, saat pria itu mensejajarkan tinggi badan. "Awwah sakit!"
Niko tersenyum jahat melihat kening Emma yang dijitaknya meninggalkan bekas merah. "Aku pantas mendapatkan hukuman-"
"Enteng sekali kata-katamu itu, lalu nanti aku gimana?" Emma, mengelus kening dengan lengannya. Walau dia paham Niko mungkin jauh lebih pusing.
"Jangan banyak melamun, Emma Banchero." Niko mengambil alih piring terakhir, lalu menyirami tangan Emma dengan air kran, membuat wanita itu menatap Niko dengan banyak pertanyaan.
"Kakak, mungkin kamu tidak mau jujur denganku." Emma melihat jari Niko yang menggosok di sela jari-jarinya. "Tetapi sebaiknya, Kakak terbuka dengan pengacara Santo."
"Emma." Niko membilas tangan Emma dari busa sabun, dan mematikan kran, lalu mengelapi itu dengan serbet. "Aku akan menemuinya, jadi tolong berhenti memikirkan masalahku. Cobalah berfokus pada tumbuh-kembang Donna, mengapa kau jadi sering menghabiskan waktu denganku?"
"Ahh Donna!" Emma meringis. "Aku lupa mau menghubungi dia." Berbalik ke kamarnya sendiri dan meraih ponsel. Dia melirik orang tua Niko yang baru menjalankan ibadah sholat.
Emma dengan semangat menarik Niko ke balkon. Lelaki itu duduk sembari memotong kuku di kaki.
"Pronto, Mammina." Donna menyapa dari layar panggilan. Anak itu menggoyangkan dus iPhone baru dengan semangat. "Mammina, Babbo Vin tadi jemput Donna di sekolah! Kami makan siang dengan Kakek! Dan Babbo memberikan ku hadiah!"
"Babbo?" suara Emma tercekik.
*Babbo : Ayah.
Niko mengelus pinggang Emma karena tangan wanita itu gemetar, entah apa masalahnya, wanita itu terkejut.
Setelah melakukan panggilan panjang, telepon itu akhirnya berakhir. Niko mendapati Emma tak tenang. "Pulanglah, kamu mencemaskan Donna."
"Vincenzo. Setelah tidak pernah menemui Donna, tiba-tiba datang begitu saja dan memberi hadiah. Apa menurut Kakak, dia akan membawa pergi putriku?"
"Mungkin dia merindukan Donna dan sekadar ingin melihatnya." Niko mengelus pipi Emma. Sepertinya kedatangan ayah Donna dianggap sebagai sebuah masalah.
Emma mengelengkan kepala. "Bukan karena Donna. Dia pulang ke Napoli ... pasti, karena kematian Tuan George! Dia seorang pengacara, mungkinkah? Dia akan turun langsung pada kasus kematian pamannya sendiri?"
Niko reflek menarik tangan dan menelan saliva kasar, dia nyaris tak bisa bernapas. Sejujurnya, Niko takut menghadapi keluarga George yang pasti akan marah padanya, dan luapan emosional mereka pasti akan menggempur mentalnya. Dia terdiam saat Emma berdiri.
"Aku akan pulang, Ciao!" Emma tersentak saat tubuhnya ditarik dari belakang, ke dalam rengkuhan Niko. Badannya diputar oleh pria itu.
Sebuah kecupan mendarat lembut di bibir Emma yang masih melongo, karena terpaku pada pandangan Niko yang dalam. Dunia terasa membeku dan waktu terasa melambat, ciuman itu berbeda dibandingkan saat di rumah sakit.
Emma meleleh karena gerakan pelan kedua tangan Niko yang menangkup pipinya. Seakan ini hari terakhir French kiss. Dia berpegangan pada bahu Niko dengan kedua tangannya, udara dipipinya sangat panas. Just kiss. Merasakan ketulusan Niko di setiap detiknya.
"Maaf." Niko berpikir gara-gara dirinya, dan kematian George lalu membuat Vincenzo kembali ke Napoli. Dia mungkin tidak dapat mencegah bila pria itu akan melakukan sesuatu pada Emma atau Donn.
"Untuk?"
"Semuanya."
"Apa kamu mau memaafkanku juga soal aku yang memberitahu posisi Lena di hutan?" tanya Emma dengan ragu.
"Ya, aku berusaha memaafkanmu. Aku tahu kau melakukannya karena memikirkanku, kan?"
"Terimakasih, Kak! Aku ingin kencan dengan Kakak, selama masih bisa!" Emma menarik baju Niko dan bertopang dagu di dada Niko berbentuk indah.
Lelaki itu tertawa lepas. “Kencan, apa itu kencan?” Niko pura-pura tidak tahu, membuat pipi wanita itu memerah. Lalu nanti apa tanggapan Emma bila tahu dirinya adalah pembunuh?
.
.
Sempat berkencan dengan Emma ke beberapa tempat, Niko tak bisa memastikan status hubungan di antara mereka.
Sampai di Minggu ke dua, Niko mengatakan dengan jujur soal kesalahan fatalnya. Emma begitu kecewa lalu meninggalkannya di tepi bukit. Lalu dini hari, Emma datang ke apartemen, mengajaknya pergi keluar ke Paolo.
.
__ADS_1
"Kakak sudah yakin akan mengakui kasus pembunuhan George pada polisi? Kakak akan mendekam lama di penjara."
"Iya, walau aku tidak mengakui, juga huft bukti pasti akan mengarah padaku! Karena itu, aku berharap kamu bisa cepat mendapatkan seorang pria yang baik." Niko bergeser dan membawa tangan Emma ke atas bantal yang ada di pangkuan. "Bagaimana dengan Sean?"
"Dia .... tidak mau lagi berbicara denganku sejak saat itu, padahal aku hanya mau minta maaf? Kak Se akan pindah ke Prancis, di tempat yang sama dengan Kak Stef. Mereka akan bekerja di tempat yang sama. Aku tidak masalah dengan itu."
"Aku akan tenang bila ada yang menjagamu." Niko menarik kepala Emma ke dada dan mereka duduk merapat. "Aku akan meminta bantuan teman untuk menjagamu selama aku di penjara. Aku rela kau bahagia dengan pria lain."
Emma tersenyum getir. "Aku sedih kalau kamu mengatakan itu, Niko."
"Panggil Kakak, aku suka kamu memanggilku seperti itu. Aku cemburu setiap kamu memanggil Sean ... Kakak, sedangkan aku ... Niko."
"Seharusnya, kamu tahu, aku tak mau memanggil Kakak karena aku marah." Emma mendongak, lalu menarik Niko ke kamarnya.
Lelaki itu membeku di pinggir tempat tidur. "Aku harus pulang .... " Dia sedih menyadari dirinya kini adalah seorang pembunuh.
"Kak," Emma memeluk Niko dari belakang. "Aku sabar menunggu Kakak keluar dari penjara. Beruntung hukum di negara ini tidak seberat di negara Kakak."
Niko menghela napas kasar. Meremas tangan Emma di dada. "Aku adalah seorang pembunuh, tidak pantas di tunggu." Niko merasakan tangan Emma menutup mulutnya, seakan tak mengijinkan dia berbicara.
Jadi Niko berbalik karena mendengar sesenggukan Emma, ditatap wajah Emma. Ada seorang wanita waras menangisi hidupnya. Mata merah itu, dimana wanita ini yang biasanya terlihat kuat, kini cengeng. Bila ini mimpi, terlalu nyata. Tetapi melihat Emma ketakutan dengan pikiran itu sendiri membuat Niko, seperti hilang pijakan.
"Kakak okay Kakak mungkin tak sengaja membunuh George, kan?"
"Lihat sendiri berita? Dia diracuni, itu artinya di sengaja, dan aku PELAKUNYA. Aku tak pantas disebut manusia." Niko menggigit bibir bawah getir.
"Di satu sisi aku menyesali, tetapi di sisi lain tak menyesali. Bagiamana kalau aku tak punya pilihan?" Niko menarik napas dalam dan mengembuskan kasar." Tetapi tetap saja aku takkan bisa terlepas dari CAP pria tak bermoral. Keji."
Tangan Niko mencengkeram rambut Emma. "Aku marah kepada diriku sendiri pada cap itu, aku telah menghilangkan nyawa orang, tapi juga tak mau dia melukai Lena dan kamu."
Emma merasakan getaran hebat tubuh Niko, suara esek yang ditahan pria itu membuat apa yang di dada mulai berlubang. Itu pasti beban berat moral yang ditanggung Niko.
Niko terjaga dari tidur, dia melihat tiga jam sidah dirinya dalam dekapan hangat tubuh Emma. Dengan hati-hati melepas pelukan Emma, saat napas wanita itu teratur, pertanda wanita itu terlelap. Dibaringkan wanita itu agar beristirahat dengan nyaman dan bebas pegal.
Wajah Emma masih sendu. Mungkin pemandangan ini akan jadi yang terakhir, karena sata dia keluar dari bui, dia yakin Emma sudah menikahi orang lain.
Ketika keluar dari dari kamar, Niko terkejut mendapati Paolo baru pulang. Paolo menyuruhnya duduk di sebuah ruangan. Pria itu menawarinya wine dan dia tolak.
Tak ada pertanyaan dari Paolo mengapa dirinya di sini. Kemudian tanpa basa-basi Paolo menunjukkan sebuah foto seorang pangeran dan menjelaskan siapa pria itu dari background keluarga bangsawan, yang akan dijodohkan dengan Emma.
"Saya telah memperingatkan Sean hal yang sama. Dia telah mundur. Aku harap kau mengerti maksud saya ini. Seharusnya, kau sadar, keponakanku juga pernah terpesona pada temanmu itu. Kau lihat sekarang? Dia pasti beralih darimu, yang bukan siapa-siapa. Setelah kau masuk penjara, kupastikan dia takkan mengingatmu lagi." Paolo tersenyum dengan elegan, rasanya tidak cocok kata-kata yang menyakiti hati itu keluar dari wajah yang casanova.
"Aku mengerti." Niko melihat lebih jauh tatapan Paolo itu yang sedang mengejeknya. Dia tahu diri. "Aku senang dia mendapat lelaki yang baik. Aku berdoa untuk kebahagiannya."
Sejak hari itu Niko mulai menjaga jarak dengan Emma, walau Emma sering mengunjunginya. Dia merencanakan kepulangan kedua orang tua ke Indonesia saat nanti dia di penjara, melalui bantuan seseorang. Dia masih memiliki uang dari George, yang disembunyikan dari penyelidik dengan alasan uang itu telah dipakai untuk operasional saat di hutan.
.
Suatu malam, Lena melangkah ke ruang kerja David. Lelaki itu mungkin di sana, tetapi ruang itu tidak ada orang, walau terdengar suara musik keras.
Ditutup pintu ruang kantor, Lena melangkah lebih dalam dan melirik waspada pada kelap-kelip lampu ungu biru, dari celah pintu terbuka di sisi meja kerja David. Di dorong pintu tebal itu dan di dalam tampak ruangan seperti pub.
Musik DJ itu menggema, Lena sampai menutup telinga, menyesuaikan pendengaran dan jantungnya berdebar karena bass kuat. David terpejam dengan headphone di telinga, sesekali meramu alat DJ.
Sebenarnya, lelaki seperti apa itu David? Sibuk bekerja, pandai mengurus bayi, lalu untuk apa masih bersikeras untuk mengaku-ngaku sebagai suaminya?
Mata Lena terpukau pada lukisan di kanvas, gambar David saat masih muda, ada dua pria, yang salah satunya adalah Paolo. Lalu ada wanita yang dia yakini adalah Emma. Satu lagi ada wanita yang dirangkul David. Lena menunduk, melirik tangannya yang terkepal, perasaan apa ini, seolah tidak suka pada wanita yang tersenyum lepas di pelukan David.
Berdiri di depan meja mixer DJ , Lena bingung kakinya seakan bergerak sendiri tanpa mematuhi perintah otak. Lelaki itu meliriknya sedikit, tampak terkejut, tetapi lalu kembali sibuk dengan Pioneer.
Aneh kepalanya ikut mengangguk-angguk mengikuti lantunan musik, mungkin karena David juga mengangguk-angguk sampai dia tertular. Setelah sekian waktu, musik itu dimatikan, seketika tempat ini sunyi.
"Itu siapa?" Lena mengangkat tangan setinggi bahu dan menunjuk di kanvas.
"Wanita itu siapa?" Tanya Lena yang kedua kali, kembali menunjuk ke kanvas. Dia mundur karena David membungkuk dan memutar bola mata seolah berpikir.
"Itu Emma."
"Satunya." Lena memegang kening David agar tak maju lagi, karena dia sudah menempel di Pioneer.
"Memangnya kenapa? Apa itu penting, bagimu?"
Lena mendengus, memukul perut David, mendorong, melewatinya. "Aku bertanya siapa nama wanita itu, begitu saja muter-muter! Itu kan bukan adikmu kan."
David terkejut, artinya Lena hafal wajah Bianca, adik perempuannya. Dia jadi ingin tahu apa gambar Shinta yang ada dipelukannya akan berefek pada Lena. Ruang ini sudah sangat lama, lebih dari dua tahun tak dimasuki. Jadi, lukisan itu terlewat belum disingkirkan.
David mengikuti Lena dengan senyum-senyum sendiri. "Itu Shinta."
Lena berbalik dan menatap wajah tampan yang tersenyum tidak seperti biasanya. "Siapa dia? Kelihatan, kalian dekat."
"Sangat dekat."
"Sedekat apa?" Lena memutar mata ke samping dengan bibir terkatub.
David bagai terjebak perkataan sendiri. Dia tidak tahu harus menjawab apa, takut Lena marah. "E'."
"E'?" Lena menunggu, sebenarnya apa yang mau dikatakan pria itu.
"Teman-"
"Teman?"
"Ya-" David merasakan jantungnya berdebar kuat begitu melihat tangan Lena terkepal. Dia berbalik dan lekas menjauh.
.
.
Keesokan malam, Lena berhenti melangkah, melihat ke luar, ada David menggendong bayi. Pria itu berjalan ke sisi kolam renang, dan mulai menaiki sofa angin.
Lampu teras dalam posisi padam, biasanya di sini terang. Inikah akhirnya, setelah dari tadi sore David sibuk memompa balon dan sofa angin.
David, memangku bayi di sofa angin, di kolam renang. Begitu santai menikmati waktu. Sebuah layar proyektor menyala menambah cahaya dan suara, di tengah malam yang sunyi. VItu adalah rekaman video saat David menggendong Lena, di pegunungan bersalju. Sepertinya, video itu sangat berarti untuk David.
Lena diam-diam melangkah melewati lilin yang menyala di pinggir kolam. Pria itu tengah menyusui bayi dengan susu botol sambil terus bergumam.
Bayi itu dalam balutan selimut dan tampak mata mungil itu terbuka tengah menatap sang papah. Sejujurnya, itu pemandangan indah yang menyentuh titik hati terdalam. Ayah dan anak, ingin rasanya Lena memfoto ini.
Lena mendongak menatap cahaya kelap-kelip di langit, mengingatkan dia dengan Niko. Mulai menggigil, Lena memeluk lengan. Anginnya cukup kencang, walau tempat ini sudah dihalau partisi bening, tetapi angin mampu menerbangkan rambut ke pipi, hingga pipinya terasa gatal. .
.
.
Ketika Lena pergi, Axel ke kolam renang dan mendapati sang tuan sempat tertidur. Astaga, tuan sepertinya terlalu lelah karena banyak membagi tugas.
"Tuan, tolong pindah ke dalam, di sini anginnya kencang." Axel menunggu sang tuan mengumpulkan nyawa. Lalu mengikuti David yang membopong bayi ke kamar utama.
"Tuan, Nyonya terus memperhatikan anda dari belakang sekitar dua puluh menit. Anda benar-benar tidak tahukah?" Axel dengan penuh semangat saat David menutupi sang putri dengan selimut mini di atas kasur.
"Serius, Axel?" David ingin berteriak begitu senang, dia benar-benar mendapat perhatian Lena! David beranjak dari tempat tidur, melihat foto di ponsel Axel, sambil berpikir.
.
__ADS_1
.
Seharian, Lena tak melihat David. Biasanya, semua orang selalu bersliweran di dekatnya. Apa jangan-jangan ....
Lena berlari menuju kolam renang di lantai dua. Benar, David di sana. Apa hobi pria itu menonton bioskop di tempat terbuka?
"Ehem .... " Lena dengan ragu berdeham, tetapi David tak membuka mata dan masih bersandar pada sofa angin di atas kolam renang. "David .... itu .... Bayinya kedinginan."
David membuka mata dan melirik ke belakang. Mulai menggerakkan tangan pada dayung berbahan plastik hingga menepi. "Kemarilah, duduk, biar kami tak kedinginan."
"Kalau nanti kita jatuh .... Lalu bayi itu akan kedinginan."
"Ini untuk 10 orang, masih kuat." David tersenyum simpul menyadari Lena mengawatirkan sang bayi. "Kemari."
Lena melangkah dengan hati-hati. Sofa angin terasa stabil meski dia bergerak di atasnya. Dia dengan ragu duduk di samping David. Satu bantal dipakai untuk memberi jarak dengan David.
Tidak sengaja, Lena melihat bayi berpenutup kepala itu mengulet. Uh dia terus bergerak, lihat tangan mungil itu ingin bebas dari selimut.
"Kamu tidak menyusui? Milikmu pasti terasa sakit dan tidak nyaman." David dengan suara rendah tanpa bermaksud membuat Lena tidak nyaman.
"Darimana kamu tahu kalau dadaku terasa sakit?" Lena merasa was-was.
"Jaman sekarang, pelatihan merawat bayi banyak. Kamu tidak berpikir darimana aku bisa tahu cara mengganti popok dan menggendongnya, padahal ini bayi pertama kita, dan aku tidak memiliki pengalaman. Jadi saat kamu menghilang aku mendaftar kursus merawat bayi selama tiga bulan. Ternyata ini sangat berguna, aku bisa sering merawatnya sendiri." David tersenyum pada sang bayi. "Aku akan jadi ayah yang hebat untuknya."
Lena menganga bagai orang bodoh.
"Dan mendapat banyak edukasi soal Baby and Mom. Coba menyusuuuuinya, agar milikmu tidak bengkak? Walau kau tak ingat, sebagai seseorang yang melahirkan putriku, maka lebih baik bila kamu berbuat baiklah pada putrimu, dengan cara memberikan dia asi," kata David sambil mengusap pipi sang bayi. "Apa aku harus mencarikan wanita lain untuk menyusuinya?"
DEG. Lena membeku. Hatinya bagai terbelah dua.
"Mengapa kamu tidak menyukai bayimu? Padahal kamu dulu sangat bersemangat. Jika kamu masih bersikeras tak mau menyusui, biar besok aku mulai mencari seorang ibu susu. Aku juga mau melakukan yang terbaik untuk putriku?"
"Eaaaakhh..... "
"Shhhz shht shht." David memiringkan bayi menghadap depan, lalu sedikit membuat sang bayi tengkurap di atas lengan kirinya. Dia menepuk lembut punggung sang bayi hingga tangisan bocah itu mereda. Kenapa mendadak putrinya rewel. Apa kamu tak rela bila papimu ini memarahi mamimu?
David menoleh ke samping pada Lena yang melamun dengan wajah begitu tegang. "Di Swiss, kita telah menyiapkan nama untuk dia. Kamu ingin tahu namanya tidak?" David kecewa karena Lena masih tak menjawab.
"Saat kita di Gunung Jungfrau. Kamu memegangi tanganku sambil berkata 'Mas, kita tidak bisa membeli waktu. Waktu sekarang takkan kembali lagi di lain waktu.'
Lalu aku menjawab, 'Karena itu kita fokus pada detik ini' Kita selalu mengulang kalimat ini, 'hidup untuk detik ini' .. Ya itu sejak kecelakaan yang menimpa kita sebulan setelah pernikahan, saat di dekat lampu merah tertabrak mobil box. Semoga kamu ingat itu.
Kamu lalu berkata lagi sambil memelukku. 'Jadi, apa kau sudah memilih nama?'
Kamu memintaku untuk membuatkan nama bayi. Jadi aku terpikirkan nama singkatan kita, dari David-Lena menjadi 'Dale' .
Dale yang artinya Lembah, tetapi bisa diartikan rendah hati, setia, memiliki jiwa mendidik, penuh semangat, mudah beradaptasi. Diharapkan menjadi identitas kuat untuk keluarga kita.
Ketika aku aku menatap puncak salju, terpikirkan olehku, Aneira yang artinya salju, dingin, putih.
Jadilah, Aneira Dale. Kau bilang itu nama bagus. Kamu tersenyum lepas. Ya, bisa diartikan arti nama putri kita 'lembah salju'
Kalau laki-laki aku akan memberikan nama, Eirwen Dale Sujatmiko. Kamu sangat senang dengan nama ayahmu yang dicantumkan di belakang nama seorang putra."
"Aneira Dale?" gumam Lena. Dale : David Lena. Lena terkikik dengan menutup mulut.
"Apa yang lucu? Sepertinya kau tak ingat? " David memindahkan Aneira ke sisi kanan. Tampak Lena mengamati sang jabang bayi dengan pandangan susah ditebak. Ini lebih baik daripada saat wanita itu tak mau melihat bayinya sendiri.
"Mata biru? Eh dia melihatku .... " gumam Lena terpukau pada kelopak mata kecil itu dengan bulu lentik kedip-kedip. Karena posisinya, bayi itu jadi melihat ke atas, ke arahnya.
"Tolong bantu aku memegangnya? Tanganku pegal." David beralasan dan Lena menatapnya dengan kedua alis itu menyatu. "Tapi, kamu janji jangan menyakitinya, Len. Dia sungguh bayi kita."
Lena membeku saat David memberikan di pangkuan dan menempatkan kepala bayi itu di lengan kirinya Bayi itu langsung berusaha meraih dada dengan mulut mungil, seakan insting bayi itu tahu di situ letak makanannya. "Oh .... "
David mengamati perubahan ekpresi Lena yang menegang, kaku, ketakutan. Dia khawatir setengah mati kalau-kalau sang bayi dilemparkan ke kolam. Sekarang saja tangan wanita itu gemetaran, walau bayi itu menempel di pangkuan.
Lihatlah, Aneira terus mengulet! Seakan bayi itu mencoba merasakan dengan segala gerakan dan mungkin mengenali sang mami secara naluri.
"Dav, tolong angkat dia."
Cemberut, David melihat ketakutan di wajah Lena. "Bertahanlah sebentar, pikirkan Aneira. Coba panggil namanya, dia mungkin akan lebih anteng."
"Ane .... Kamu bisa diam?"
David tak bisa menahan senyuman saat wanita itu bertanya dengan suara kecil khawatir dan ketakutan, seolah bayinya sendiri adalah seorang monster.
"Ane tolong diam. Saya tidak nyaman." Lena mencicit pada bayi itu, merasakan seluruh otot di tubuhnya menegang. Perasaan hangat menyelimuti di dalam hatinya, tetapi jantungnya berdebar tak tenang.
"Mungkin, kamu harus bernyanyi, dan usap pipi mungil itu. Rasakan kehalusannya." David dengan penuh antusias, sambil mengukir pola aneh di kening sang putri yang tidak bisa diam.
"Tolong, ambil dia," suara Lena seperti akan menangis.
"Lihat mungkin dia lapar," bisik David saat tangan mungil Ane itu menepuk dada kiri Lena dan bibir mungil itu tampak ingin mencaplok dari sisi bawah, kemudian benar-benar menangis!
David tidak rela, dia bimbang haruskah diambil alih. Namun, tangan Lena mendadak mengangkat kepala bayi itu dan menyandarkan kepala bayi itu dengan semi tengkurap ke dada, sambil berusaha menenangkan, tetapi tak berhasil. Ane semakin menangis tak ketulungan.
Berhembus napas kasar, David akan meraih saat kemudian dia terbengong, mendapati Lena melepas selimut bayi itu hingga ke pangkuan. Tiga kancing piyama Lena itu dibuka sang istri, dan dengan cepat daging besar itu keluar dari tempatnya.
Oh lebih besar dari sejak terakhir kali melihatnya! Wajah David memerah, dia merasakan rindu menyelimuti dirinya tiba-tiba, membuat badannya panas.
Sang istri menempatkan bayi dan seperti magic, sang bayi menemukan sumber makanannya. Wanita itu lalu menyampirkan selimut bayi ke bahu, menghalangi pandangan David ke arah sang bayi yang menyusuuuuu.
David memandangi Lena yang masih melihat Aneira, tampak sesekali Lena meringis. Apakah kamu masih kesakitan?
Sebenarnya, David melihat Lena sering memegangi dada di kamar dan tampak kesakitan dari kamera kecil yang dia simpan tersembunyi, terutama saat wanita itu berbaring. Bahkan setiap tertidur, wanita itu juga merintih sambil memegangi dada.
David menarik bantal pembatas dan langsung mendapat tatapan tajam Lena. Dia menggaruk tengkuk dan mengembalikan bantal ke tempat semula.
"Niko keluar dari rumah sakit katamu. Lalu dimana dia?"
David menghela napas putus asa karena pikirannya jadi tidak enak. "Aku sudah menepati janjiku. Kau juga tepati janjimu."
"Aku mau melihat fotonya dan memastikan dia dalam kondisi baik." Lena menatap lautan dan langit bertaburan bintang-bintang.
"Aku mau melakukan apapun demi Niko." Lena menatap dalam ke David yang manyun.
"Apapun?" David mengepalkan tangan.
"Menyusuuuuui Aneira, merawatnya, itu termasuk apapun?" David berharap walau sebetulnya itu memang kewajiban Lena. Ketika melihat Lena mengangguk dengan penuh keyakinan, membuatnya sakit hati. Mengapa demi Niko, wanita itu mau melakukan semua. Membuatnya cemburu.
"Kamu tidur di kamar kita," pinta David dengan merengek.
"Tidak-"
"Len-" David sedang tidak ingin berdebat. "Kalau kamu kembali tidur ke kamar kita dan berlaku sesuai kewajibanmu, maka aku takkan memenjarakan Niko atas kasus penculikanmu. Aku benci dia, karena kamu jadi membenciku!"
Lena menghela napas dengan putus asa. Namun, sensasi menyusuuuui bayi membuatnya takjub jadi pikiran tentang Niko terdistorsi oleh bayangan wajah imut sang bayi.
"Huft." David menjatuhkan kepala di bahu Lena. "Ini termasuk!" tegas David. Dia kemudian berbicara pelan. "Jangan menolakku, istriku."
.
.
__ADS_1