Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
Shinta 2


__ADS_3

Masih di pesta pernikahan Niko-Emma.


Niko merasakan otot-otot di tubuh menegang saat Lena di depannya, mengangguk. Dia masih melongo sampai Emma meneot tangannya dan membuat dia malu sendiri.


"Kak." Emma menekan suaranya dan sangat tidak senang.


"Iya nih, Niko terpesona dengan ketampananku sepertinya." Sean tertawa dan mendapati gelengan kepala Niko yang tidak terima dengan kata-katanya.


"Terimakasih Kak Se, telah datang." Emma tersenyum ramah pada Sean.


"Sama-sama, masa aku nggak datang untuk memberi selamat pada pilihanmu?" Sean dengan tatapan penuh arti pada Emma.


"Iya,, habis kakak tidak konfirmasi kedatangan dulu." Emma merasa seakan Sean menyindir keputusannya untuk menikah dengan Niko.


"Selamat." Lena mengulurkan tangan. Untuk beberapa alasan, dia merasa seperti anak domba yang memasuki sarang harimau saat di depan Niko. Walaupun dia bersikap wajar tetap saja dia sesungguhnya takut. Dia takut akibat dia menjadi penyebab pria di depannya berbuat hal keji. Ya ampun, pria di depannya adalah mantan pembunuh. "Selamat untuk kebahagiaanmu."


"Terimakasih telah datang." Niko tak bisa berkata-kata banyak, karena mendadak pikirannya kacau. Dia membalas jabatan tangan mungil yang sangat dingin dan berkeringat. Inilah akhirnya kisah cintanya dengan Lena saat Lena justru memberi restu padanya.


"Ternyata, aku tidak tahu banyak tentang kamu. Jadi, apapun itu aku minta maaf karena selama ini ... hidupmu jadi kesulitan karenaku." Lena dengan pandangan tulus dan melepaskan jabatannya.


"Tidak apa-apa, memang sudah jalannya seperti ini. Aku tidak menyesal." Niko mengangguk dan dua sudut bibirnya terangkat penuh, meredam hati yang masih saja terluka melihat Lena dalam rangkulan David.


"Lama tak jumpa," ucap Sean sambil menjabat tangan Niko, menggeser Lena agar tidak berlama-lama karena jelas sekali wajah David yang meredam cemburu.


"Lama memang .... apa sekalinya datang kamu akan merestui pernikahan kami?" Niko melengkungkan bibirnya dengan canggung akibat anggukan Sean yang entah ikhlas atau tidak.


"Inginnya aku tidak mau merestuimu, kawan." Sean menekan kalimat sambil menepuk lengan Niko. Lalu ,terkejut karena Niko memeluknya. "Oh, Sial!"


"Aku mendengar kau dekat dengan Kak Stef? Benar tidak?" bisik Niko.


"Huh, omong kosong darimana," bantah Sean dengan jantung mendadak berdebar.


Niko tertawa kecil dan melepaskan pelukan Sean.


Mereka lalu foto bersama. Niko masih saja terus melihat kepergian Lena yang menggenggam tangan Aneira.


Jika saja dulu rencananya berhasil ... Sayangnya Emma ikut campur, membuat dia sedih melihat David yang kini merangkul Lena, harusnya dia yang ada dalam posisi itu.


.


.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Tara dengan dada terasa panas karena tatapan Shinta yang dalam ke arah David, saat David turun dari panggung. Sepertinya, Shinta ingin sekali berbicara dengan David.


Tara melamun,


Tara datang ke berkunjung ke penjara tanpa membawa Teresha. Shinta mulai mengeluh dan minta bantuan untuk menyingkirkan Lena. Juga, Shinta menyalahkannya karena ditinggal David.


"Apa kau menyesal memiliki Teresha? Sungguh dia kecewa besar bila sampai mendengar ini, bukan? Aku hanya mau fokus pada Teresha. Dan kau tahu kenapa aku masih ke sini, itu karena Teresha ingin agar aku sering menghiburmu. Jadi, jika kau mau terus mengungkit David, Demi apapun aku takkan mengunjungi kamu lagi!"


Tara mengucapkan dengan penekanan dan setelah itu Tara tidak datang lagi ke penjara. Padahal biasanya seminggu bisa sampai dua kali.


Teresha menangis karena mendengar kondisi mamanya ngedrop dan menyalahkan Tara karena tak mengunjungi Shinta. Tara tidak mau peduli, tetapi Teresha mogok makan dua hari padahal anak itu hobi makan. Takut bila Teresha ketinggalan pelajaran akibat tidak mau sekolah, Tara mengalah.


Tara kembali berkunjung dengan ditemani Teresha. Shinta bahkan menghindari tatapannya. Itu berlangsung beberapa minggu, hanya saling memandang tanpa bersuara satu sama lain.


Sebenarnya, Tara juga penasaran dengan apa yang ada di pikiran Shinta. Mengapa wajah itu belakangan seperti tak ada gairah hidup sama sekali. Wajah itu terlalu suram, tanpa terasa embun bening jatuh di pipinya.


Tara dengan cepat menunduk dan mengelap pipi sendiri. Shinta tadi sempat melihat. Ini sangat konyol kenapa dia menangis hanya karena melihat kondisi Shinta ?


"Aku sudah datang. Apa kamu tidak mau berbicara apapun? Terserah kamu sajalah." Tara mendongak.


Sial, dia membenci wajah suram Shinta. "Katakan apapun. Aku takkan melarangmu, walau kau terus menyebut soal David. Tapi aku tetap tidak bisa membantumu."


"Kenapa kamu tak bawakan aku kue!" Sentak Shinta terlihat kesal. Lalu berdiri meninggalkannya padahal waktu kunjungan baru dipakai 5 menit.


Loh, Shinta tadi marah karena kue?


Sebelumnya, Tara memang selalu membawa makanan manis setiap datang. Tapi dia pikir, Shinta takkan memakannya, setelah yang sudah-sudah wanita itu selalu meninggalkan kue di meja. Penjaga juga bilang, kue pemberiannya selalu diberikan pada sipir.


Kemudian di tahun kedua, saat ulang tahun Shinta. Wanita itu terkejut setelah menyalakan sebuah lilin di atas kue. Keberadaan mereka terpisah oleh tembok setinggi satu meter. Jadi, Shinta sempat tidak melihat kue yang tadi disembunyikan di pangkuan.


Kaca memisahkan wajah mereka, di tengahnya ada lubang setengah lingkaran berdiameter 30 senti. Di kanan-kiri mereka ada pembatas, yang memisahkan dengan pengunjung dari narapidana lain. Namun, di atas mereka ada cctv, pertanda begitu ketat pengawasan di sini.


Tara mendorong kue ke depan hingga melewati lubang kaca.


"Kamu bukan David!" Shinta mencibir Tara dengan jengkel. Wanita itu bangkir, dengan masih melihat kue seakan adalah itu barang berharga. Dia mendesah dan duduk lagi dengan dua tangan terkepal di atas meja.

__ADS_1


"Aku menyesal datang hari ini," Tara menggerutu.


Shinta menatap kue itu seolah penuh kebencian, tetapi tangan mungil itu mulai memegangi kuenya. "David dulu selalu datang untuk membawakan aku kue ulang tahun."


"Jadi, lagi-lagi David." Tara berdecak dengan dada panas. "Ke depannya aku berhenti saja membawa kue."


Bibir Shinta mengkerut dan wajah itu kian aura suram. Dia berkata dengan serak, "David selalu memberi ucapan selamat ulangtahun. Itu dulu. Dia ijin ke orangtuaku malam-malam untuk menemaniku sebentar di jam 12 malam."


Shinta mendesah seolah tengah menanggung beban berat. Lalu katanya-katanya terdengar lesu, "sejak ulang tahunku ke 8, untuk pertama kali mama dan papa tidak merayakan ulangtahunku. Dari dulu mereka sibuk bahkan tak punya waktu. Itu merambat ke hari terpenting, ulangtahunku. Bagaimana aku tidak kesal? Itu gara-gara ayah masuk ke pemerintahan, jadi sangat sibuk. Namun, David tidak pernah melupakanku. Jadi kesepianku sedikit terobati. Luar biasa, di hari ulangtahunku masih ada satu orang yang mempedulikan ku."


Bibir Tara mengkerut melihat lelehan air bening dari mata sendu wanita itu, beserta ingus cair itu, ikut mengalir ke bibir merah muda. "Jadi, satu orang yang ada saat itu David?"


Shinta mengangguk dan berkedip pelan. "Aku pernah mendengar tanpa sengaja di tahun berikutnya, Mama berbicara pada David agar tetap memberikan ucapan ulangtahun untukku setiap tahun. Sejak itu .... .... Mereka seolah tak pernah sempat untuk mengucapkan itu sendiri, walau lewat telepon di sela kesibukannya. Mereka benar tidak peduli."


Dada Tara terasa mengkerut. Rasanya mau sekarat melihat mata wanita itu yang kini sedingin es. Dia tak habis pikir pada Luigi apa begitu sibuknya hanya meluangkan waktu untuk sedikit peduli pada putrinya!


Shinta mengelap pipi yang basah dengan punggung tangan. Api terus membakar sumbu lilin. "Bukan hadiah yang aku tunggu. Haha sekadar hadiah itupun juga tak mereka siapkan sendiri! Pelayan yang mencari dan membungkus kadonya. Aku hanya butuh kepedulian mereka sendiri! Jadi, aku mengabaikan luka di hatiku, karena kupikir ada David di sekitarku. Itu sudah lebih dari cukup."


"Tapi duniaku hilang saat David pergi-" Bibir Shinta bergetar, tangannya saling meremas di atas meja dengan air mata berjatuhan ke tangan.


"Aku takkan make wish itu omong kosong!" Shinta berdiri. "Bahkan tiap tahun aku sudah berharap Tuhan berikan satu saja orang yang peduli terhadapku! Maka aku berjanji akan mencintainya seumur hidupku. Nyatanya David tidak pernah datang lagi! Itu sejak ada wanita itu, David jadi melupakanku!" Shinta menunduk dan menutupi wajah dengan kedua tangan.


Tara reflek menggeser kue itu dan tangannya masuk melalui lubang lingkaran. Lalu menarik dan menahan tangan Shinta karena wanita yang marah itu akan pergi "Duduklah, mamanya Teresha. Kalau bukan demi aku, lakukan demi Teresha."


Shinta mengerutkan bibir saat Tara mengeluarkan ponsel. Ya, mereka akan berfoto untuk Teresha.


"Aku tidak akan pernah absen di ulang tahunmu! Maukah kamu meniup lilinnya sekarang untukku?" Tanya Tara dengan sungguh-sungguh.


Shinta menatap mata Tara seolah memindai sambil duduk perlahan. "Cepat foto, katakan pada putri kita, ini air mata kebahagiaan karena memiliki Teresha," suara Shinta terdengar tulus.


"Aku akan rekam saat kamu meniup lilinnya. Shinta, Aku memang tidak se-spesial David, namun aku papahnya Teresha."


Shinta mengangguk. "Aku tahu, harus berapa banyak kau menjelaskannya?"


"Tolong tersenyum tulus, jangan tipu putri kita. Dia akan tahu." Tara mulai melihat ke kamera, menyapa Teresha, menyanyikan lagu ulang tahun untuk Shinta.


Shinta terpejam sesaat dan tertawa ringan seraya tepuk tangan. "Doakan mamamu ini, Teresha. Mama janji akan lebih baik, tak sabar Mama untuk kita bisa berkumpul lagi."


"Kamu yang paling berarti untuk Mama, Teresha. Mama mencintaimu," kata Shinta lagi sambil terus menatap ke arah kamera dengan penuh arti. Shinta meniup lilin.


"Yah! Selamat ulangtahun mamanya Teresha, yang paling cantik! Saya dan Teresha mencintai mama Teresha." Tara dengan penuh semangat dan ketulusan. Laki-laki itu mengucapkan beberapa hal untuk Teresha bahwa dia dan Shinta sangat mencintai Teresha.


Mereka mengatakan bahwa saat itu Shinta dan Tara saling mencintai. Shinta terpaksa berbohong demi menjaga hati Teresha, putrinya, sejak lahir mengalami dunia berat. Teresha bahkan tak diperbolehkan memiliki akun media sosial.


"Tara, bisakah kamu menyalakan lilin ini lagi ?"


Tara menyimpan ponselnya. Dia menyalakan pemantik api. Begitu lilin itu menyala. Tara melihat kesepian yang menyakitkan di mata Shinta yang melihat ke arah lilin menyala. Wanita itu mengulurkan tangan ke dekat angka 32 seolah mencari kehangatan dari api.


"Bagaimana aku bisa melupakan David, kalau dari ulangtahun yang ke 6 sampai 29 dia tak pernah absen. Dari sekian orang bahkan keluarga Luigi, hanya David yang selalu setia di dekatku." Shinta beralih dari lilin dan menatap tajam ke arah Tara. "23 tahun dia selalu menemaniku."


Tara mengembus napas kasar. "Tatapan mu itu seperti sedang menyalahkanku."


"Pft !"


"Apa yang lucu?" Tara mengangkat satu alis. Ada ya orang tersenyum lepas setelah beberapa menit lalu menangis.


"Apa kamu membawa kado .... "


"Kamu mau kado apa? Biar besok aku bawakan," tanya Tara dengan antusias.


"Emh, apa kamu sekarang memiliki pacar?"


"TIDAK."


"Kamu memang tidak ingin menikah?"


"Tentu saja ingin! Kenapa?"


"Apa delapan tahun lagi, kamu masih sendiri?"


"Kenapa, kamu mau melamarku?" Tara mengangkat alisnya.


Shinta mengelengkan kepala. "Mau kah kamu datang setiap ulang tahunku, sendiri. Di waktu yang terpisah dari Teresha?"


Hati Tara bergejolak. "Kan, tadi aku sudah bilang, setiap tahun aku akan datang di hari spesialmu."


"Terimakasih, itu hanya berlaku jika kamu belum memiliki kekasih, ya!" Shinta berdiri sambil menarik angka 32. Kedua lilin itu diberikan ke tangan Tara. Bahkan menggenggam tangan pria itu. "Kuenya akan kuhabiskan. Em, kalau bisa, bawa angka ini di tahun depan."

__ADS_1


Tara menyeringai. "Apa kamu tidak terima karena umur kamu yang terus bertambah?"


"Aku sedih jika kedua lilin ini habis dalam kurun waktu 8 tahun."


"Apa?


"Aku tidak mau terlihat buruk, meski aku menghabiskan sebagian umurku di penjara. Setidaknya lilin itu bisa kutipu. Tidak ada yang menginginkan akhir seperti ini kan?" Shinta melambaikan tangan dan berbalik.


Tara mengangkat alisnya, sejak di penjara ini pertama kali Shinta melambaikan tangan. Walau bibir itu cemberut, dia melihat sedikit ketenangan dari mata sendu itu.


Ditatap angka 32 itu dengan penuh arti. Memang sepertinya ulang tahun itu sangat sakral bagi Shinta. WANITA ITU SANGAT KESEPIAN. JADI,DAVID ADALAH SATU HAL PALING BERHARGA BAGI SHINTA? Apa dia masih memiliki perasaan tersisa di hatinya?


Ingatan kembali ke masa kini.


Ya, hatinya terus meluluh setiap melihat wajah keputusan Shinta sejak ulangtahun Shinta yang ke 32. Apa aku bisa menggantikan posisi David di hatimu setelah aku tidak pernah absen dari ulangtahun mu selama 13 tahun ini?


"Kamu mau aku melakukan seperti yang dilakukan David?" Tanya Tara. "Mencium keningmu."


"Kamu membuat aku mau muntah!" Shinta mencebik.


"Aku bisa melakukannya juga," suara Tara menggoda.


"Tara, berhentilah membuatku jijik." Shinta berbalik dengan menarik tangan Tara. "Ada yang harus kau lakukan dan lihat putri kita itu terus memakan kue-kuenya. Apa dia datang untuk menghabiskan hidangan tamu!"


"Biar saja, apa kau tak melihatnya? Dia menyukai kue seperti mu. Anak kita tidak bisa hidup tanpa muffin."


"Tara dia baru tiga belas tahun dan beratnya sudah 53. Dia bisa mendapat bully kalau begitu terus." Shinta merangkul lengan Tara agar berjalan lebih cepat. Dia tidak nyaman dengan lirikan orang-orang yang seakan merendahkannya sejak dia keluar dari bui.


"Tapi tingginya 157 senti, Sayang. Dia hanya cubby. Biarkan kali ini dia makan dengan bebas mumpung di luar, kan. Jangan terlalu ketat padanya."


"Huh, aku hanya menyayangi dia. Tidak mau Teresha mendapat cemoohan. Kamu sih terlalu membebaskannya makan selama ini tanpa pengawasan ketat." Shinta merangkul Teresha. Lalu menarik ke meja bundar, dimana ada papan atas nama 'Ms.LUIGI'.


"Mam, aku tidak mau diet lagi!" Teresha menatap protes pada Shinta dengan memegangi sepiring penuh berisi macam kue.


"Hanya malam ini, ya. Jangan bantah Mama." Shinta dengan tatapan begitu dalam.


"Iya, Ma." Teresha, tidak punya pilihan melihat lirikan ketegasan Shinta. Jadi mengangguk pasrah. Sejak mama masuk bui sampai mama bebas, dia selalu mendapat kata-kata jahat di setiap tempat. Makanan adalah teman terbaik. Tidak ada yang mau berteman dengannya setelah tahu masa lalu mama.


Tak peduli seburuk apapun kesalahan ibu di masa lalu, ibu adalah manusia normal. Ibu orang yang begitu mencintainya. Dia pun sangat mencintai ibu setulus hati. Besar harapannya agar mama dan papa bisa benar bersatu. Lalu dia akan memiliki keluarga normal.


Tara duduk memotong puding menjadi tiga dan menukarkan puding yang sudah di potong dengan puding milik Shinta. "Sudah makan dulu. Main hp mulu."


"Bentar, aku akan membuat janji dengan perancang busana pernikahan kita." Shinta fokus mengetikkan sebuah chat. Dia melirik Teresha yang terus memperhatikannya. "Apa?"


"Teresha mencintai Mamah."


Shinta mengangkat kepala dengan kaget pada nada bergetar barusan. Sontak mata langsung berkaca-kaca. Dia melirik Tara yang juga baru menjatuhkan embun bening dan pria itu mengalihkan pandangan dengan mengelap pipi. Dia ingat jelas, saat di bui Tara seperti ini menitihkan air mata tiba-tiba. Memang apa yang ada dalam benak pikiran lelaki itu? Benarkah, adalah lelaki lain, selain David yang pernah menangis untuknya.


Apa Tara benar-benar memiliki perasaan denganku? Apa dia belum menikah dengan wanita lain karena menungguku? (Shinta)


Tubuh Shinta seketika lemas. Apakah Tuhan mengirimkan orang itu adalah Tara. Jika benar dari dulu Tara yang selalu ada untuknya dari awal, lalu untuk apa dari dulu aku menghubungi George memacari seperti orang gila. Sampai George terbunuh itu tidak tahu apa juga karena ku? Sepertinya, aku dulu benar-benar berhati iblis. Aku benar-benar jadi ingin minta maaf pada Lena dan Niko secara pribadi, walau mereka takkan memaafkan ku.


Shinta melihat genggaman tangan Tara yang bergetar, genggaman yang hangat. Dia bergidik karena dia begitu jijik pada dirinya sendiri. Shinta menatap mata Teresha, saat ini dia merutuki diri sendiri, merasa betapa dia adalah ibu yang buruk.


"Mama jauh mencintaimu," kata Shinta dengan nada lembut. Bibir sedikit tertekuk lalu tersenyum gemas.


"Sepertinya, Papa yang lebih mencintaimu," kata Tara menimpali dengan sombong. Tatapan Teresha itu menjadi berubah hangat.


"Hu?" Shinta dengan tidak terima. "Aku yang mengandungnya sembilan bulan."


"Hah, mamamu ini barang sedikit , mana mau mengalah?" suara Tara rendah. Teresha mengangguk setuju.


"Mah, apakah kita akan memberi selamat pada Tante Emma?" Teresha bertanya dengan ragu.


Shinta langsung menelan saliva. Ketegangan terbentuk di wajahnya. Dia dan Niko, menyebut dirinya penjahat, yang pernah melakukan hal keji di masa lalu, sepertinya Shinta kali ini benar-benar tak memiliki muka.


Belum lagi menahan malu di tengah seluruh pandangan pengunjung di gedung ini. Shinta malu dan tidak siap bila Teresha kena mental kerena cibiran orang-orang secara langsung.


"Ayo, kita mengucapkan selamat," kata Tara dengan suara rendah dan menganggukkan kepala, meyakinkan Shinta dengan ketulusan. "Tidak apa, kan Niko yang datang sendiri mengundangmu bahkan ke tempatmu."


Shinta menggigit bibir bawah, kemarin di rumah Niko tak berkata banyak. Niko hanya bilang mau menikah dengan Emma dan meninggalkan sedikit peringatan.


"Jika kamu masih berniat melukai Lena, meski lecet setitik saja. Demi apapun aku langsung akan membunuhmu tak peduli bila aku masuk penjara lagi atau bahkan dihukum mati," kata Niko dengan tatapan jengah.


"Aku habiskan ini dulu." Shinta memakan puding di depannya dengan kunyahan sangat pelan, kakinya gemetaran. Dulu dia yakin dirinya memang gila karena tidak ada takut. Sangat gila. Mengapa segila itu!


Shinta bergidik. Kenapa Niko sekarang lebih menakutkan daripada dulu. Mungkin karena dulu dia memiliki George jadi mungkin dirinya merasa di atas angin dan melupakan daratan.

__ADS_1


Shinta yakin tak bisa berdiri saat di depan Niko nanti. Kematian George, dia yang melihatnya. Mulut itu berbusa, George mendelik seperti mata itu mau keluar dari tempat dan suara teriakan George mengerikan. George terjatuh di kamar mandi saat sedang sikat gigi, saat itu padahal aslinya dia yang mau sikat gigi lebih awal! Tapi karena George akan pipis, jadi dia menunggu George keluar dari kamar mandi. Bayangkan, jika dia yang sikat gigi dulu, pasti dia tak ada di dunia ini SEKARANG.


Shinta batuk-batuk dan menarik serbet memuntahkan makanan. Karena dia takut diracun! Itu jadi ketakutannya setiap kali makan di luar rumah. Juga, setiap melihat bungkus pasta gigi maka dia akan reflek mual. Rasanya, mau mati karena ketakutan sendiri. Mungkin itulah hukuman dari Tuhan untuknya.


__ADS_2