Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 32 : TERNYATA KAKAK BERADIK


__ADS_3

Berulangkali Marco mencoba untuk memberontak. Namun, pengawal kakek bukanlah tandingannya. Dia tidak mengerti darimana Kakek bisa tahu bahwa dia berada di Negara Qatar. Padahal Marcho sudah mengatur janji dengan Anna pagi ini, dan semua itu jadi berantakan.


"Aku bisa jalan sendiri!" Marco melepaskan diri dari cekalan pengawal, dan bergegas masuk ke dalam rumah, melewati para pelayan yang sedang beres-beres. Tampak di kejauhan sang kakek tengah menyesap secangkir minuman yang mengepul, pasti itu teh Chamomile.


Leora mencoba bersandar di sofa, di ruang terbuka yang menghadap ke taman. Sang cucu datang dan duduk merapat ke bahunya, lalu menyerobot tongkat kayu dan menjauhkan. "Apa kau tak punya keluarga? datang-datang tak mampir dulu, dan sibuk dengan penjual kurma. Dimana kamu semalam, jangan bilang kau dengan dia lagi?"


"Jika aku pulang lebih dulu, lalu Kakek melarangku bertemu Anna."


"Jika kau sudah tak mau dengan Stefanie, ceraikan dia. Jangan terus selingkuh di belakangnya. Kau tak takut penyakit?"


Marcho memutar mata dan memilih tak menjawab. "Mending Kakek rayu papah agar hotel PEARL ISLAND itu diberikan padaku. Daripada David yang terlalu sibuk, atau David saja yang ke pemerintahan. Aku mau tinggal di sini dan mengurus hotel."


Leora menarik nafas dalam-dalam dan cangkir porselen digebrak ke meja marmer. "Bilang saja to the point bahwa kau ingin kembali dengan penjual kurma."


"Namanya Anna, bukan penjual kurma," ucap Marcho dengan begitu serius, walau dadanya membusung karena masih terkejut. "Tenang saja sekarang bukan Anna lagi. Karena aku akan bermain-main dengan gadis Asia lain. Lalu aku tahu, pasti kakek akan mencari datanya untukku. Kalau sudah dapat, kasih tahu aku, ya Kek!" Marco terkekeh dan masuk ke dalam rumah meninggalkan Leora yang geleng-geleng kepala.


"Turun dari siapa sifat berandalmu?" Leora dengan suara meninggi.


"Dari Kakek!"


Leora menelan saliva kasar. Dia tidak seperti itu, walau banyak perempuan, dia tidak bermain-main. Ke empat istrinya dinikahi dengan cara baik-baik, bukan dengan berselingkuh. Namun, kenapa cucunya menyontek dengan cara yang tidak bertanggung jawab.


Teh Chamomile baru dihabiskan Leora, David baru tiba hingga membuat Leora melihat sekitar. Apa dia sendiri? Bilangnya mau ....


"Lena di kamar mandi." David berbicara dengan lembut, seakan tahu kebingungan kakek, lalu kakeknya manggut-manggut.


David mengetuk-ngetuk ujung sepatu ke lantai. Leora tanpa sadar meraih cangkir kosong, lalu terus merem4snya. Kedua orang itu dalam kecanggungan, dan berusaha melihat ke arah lain walau duduk bersebelahan.


Leora melirik cucunya yang terus menghembuskan napas kasar dan mulai bergeser menjauh darinya. Apa dia masih marah?


"Huh, cuaca di sini sangat panas," gumam David. Jari panjangnya lekas melonggarkan dasi dan melirik tak sengaja ke cangkir kosong. David langsung menarik teko, kemudian menuangkan cairan berwarna coklat yang masih mengepul ke dalam cangkir, di genggaman tangan keriput kakek. "Apa masih sering sakit kepala, Kek?"


Leora berdeham dengan canggung, jantungnya berdebar. "Ya, masih sedikit pusing. Namanya juga orang berumur. Kau sudah berbicara dengan awak media? Sepertinya berjalan lancar."


"Ya, sejauh ini lancar." David melirik ke wajah kakek yang tidak segar, lalu melihat ke depan lagi. Dia jarang-jarang secanggung ini dan kembali terjebak saling diam.



Marcho baru akan naik tangga, saat dia menjumpai sosok imut. Dia berjalan cepat dan memblokir jalan hingga si mungil yang tak siap, langsung menabrak ke lengan kekar yang direntangkan ke tembok. "Manis, apa kau memutuskan untuk mencariku hingga kemari? Luar biasa sampai kamu bisa melewati penjaga."


Kenapa dia di sini. Apa maksudnya menyusul ke sini ? Lena meraba-raba saku celana bagian kanan, dengan jantung berdebar. Tadi banyak pelayan lewat, tetapi sekarang mereka pada kemana. Lena geleng-geleng kepala. "Aku tidak menyusul kamu."


"Tidak menyusul?" Marcho tersenyum dengan bangga. Oh, gadis ini romantis sampai tidak mau mengakuinya, tetapi bagaimana bisa masuk kemari. Marcho mengangkat satu alis. "Lalu untuk apa kamu di rumahku?"


"Ru-mah siapa? rumah ka-mu?" suara Lena tercekik. Dia terus mundur, tetapi punggungnya telah membentur tangan kekar yang satunya.


"Rumah kakek, ya rumahku."


"Kakek? Kakek Leora?"


"Leora Xavero adalah Kakekku. Masih saja kau berpura-pura tidak tahu. Ah pasti kau tahu latar belakang keluargaku dan mencoba mencari peruntungan denganku? Selamat kamu beruntung! Aku tertarik dengan racauanmu."


Lena bergidik, tidak tahu apa yang dimaksud pria dengan tatapan lapar itu. "Jangan berbicara macam-macam. Ini tidak ada urusannya denganmu. Aku mohon jauhkan tangan itu, kita bisa bicara baik-baik."


"Bicara baik-baik?" Marcho mengulangi dengan penuh penekanan dan senyum licik. "Apa, bicara secara pribadi? atau int1m. Mari, aku akan membawamu ke kamarku." Dalam sekejap Marco menarik tangan Lena, tetapi tangannya justru dibanting oleh tangan mungil yang kuat juga, membuat Marco berbalik menghadap gadis itu, lalu melepaskan cengkraman tangan kekarnya. Saat Lena akan kabur, Marcho memegangi jari mungil. "Kau bilang bicara baik-baik, tetapi kau mau kabur?"


Sungguh akting luar biasa. Siapa dia? Batin Marcho mengikuti ke lorong, yang dia yakini buntu. Dia terkekeh dan justru menguntungkannya.


"Aku mau bertemu dengan Kakek Leora. Jangan ikuti aku." Lena dengan tegas, tetapi suaranya bergetar karena tawa menyeramkan dari Marcho, hingga dia kesulitan menyembunyikan rasa takutnya. Terlebih jalan didepannya buntu. Tangan mungil itu masuk ke dalam saku celana dengan waspada, Lena berbalik menghadap pria yang tersenyum dengan garang.


"Kakek Leora?" Marcho mengangguk pelan. Otaknya berpikir cepat. Seketika dirinya menyusut dan satu alis terangkat dengan penuh tanya. "Apa kau menyamar untuk memata-mataiku? Ah pantas saja! kau pura-pura polos? tetapi kamu tak tahan dengan pesonaku jadi kamu membelai dan merayuku dengan pakaian mini malam itu. Kau pura-pura tidur saat di Bar?"


Aku memb3l4inya? Tak mungkin! Jika iya pasti aku ingat. Pakaian mini? Apa yang dia katakan? Batin Lena dengan kelopak mata bergetar dan mencoba menebak-nebak wajah pria itu yang mirip Tante Bilqis.


Marcho tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya, lucu sekali ini baginya. Pintar sekali kakeknya dalam memilih mata-mata. Jadi, pantas saja kakek tahu keberadaanya dan mengirim gadis ini di malam pertamanya di Qatar. "Oh kau datang ke sini mau melapor ke kakek? tetapi ketahuan aku, ya?"

__ADS_1


"Tidak! Tidak! aku bukan mata-mata." Lena dengan suara gagap dan menggelengkan kepala dengan cepat. Tubuh pria itu tinggi mendominasi membuatnya sangat tidak nyaman.


"Bukan? lalu kamu siapa?" Marco menyudutkan Lena ke sudut ruangan dan tak mengijinkan wanita itu menjawab. "Daripada jadi mata-mata kakek, lebih baik jadi kekasihku dan sebagai gantinya aku akan membayarmu lebih mahal!" Marcho dengan geram, gadis licik ini masih tak mau mengakui.


Lena menarik semprotan merica karena jarak mereka yang berkurang. "Marcho," panggil Lena saat mata pria itu terpejam. Mata pria itu terbuka dan pada saat yang sama dia langsung menyemprotkan bubuk merica ke netra coklat, yang langsung bereaksi dengan efektif dari cara Marcho memekik dan menggosok mata.


"Nakalnya gadis ini! Oh Mataku terbakar!" Marco rembetan ke sepanjang dinding marmer dan terus mengelap ke dua mata yang berair ke baju, tetapi dia justru bersin-bersin. Hidungnya pun seperti di tusuk karena aroma merica sangat tajam dan pedas. "Aku takkan melepasmu, gadis nakal!"


Lena tak menyia-nyiakan waktu dan berlari melalui celah. Dia juga ikut batuk dan bersin karena serbuk merica ikut mengenainya. Berlari sekuat tenaga dengan sedikit menutup mata, karena matanya ikutan perih, Lena menabrak seseorang di ujung lorong dan orang itu terjatuh.


"Kalau jalan lihat-lihat dong!" bentakan seorang pelayan perempuan, yang mengejutkan Lena. Lena akan membantu berdiri tetapi David memanggilnya dan menyuruh Lena langsung berdiri. Seketika pelayan itu langsung berdiri dengan kepala tertunduk sembari meminta maaf pada Lena.


"Kamu dari mana saja, Sayang?" gumam David dengan merangkul pinggang Lena, setelah melirik tajam ke pelayan yang sangat tidak punya sopan santun. Dia tak peduli siapa yang salah, yang dia pedulikan mana yang tuan, mana yang perlu di disiplinkan.


"Aku salah jalan." Lena bersuara dengan sangat kecil. Dia merasa sangat kecil di dunia yang mengerikan ini. "Mas, bisakah kita tidak lama-lama di sini?"


"Kamu pasti takut dengan kakek!" David dengan gemas menjewel hidung Lena. Wajah mungil yang tadi suram pun kini terlihat lebih rileks.


Ketika Lena menunggu di sebuah ruangan yang dikelilingi kaca, dia melirik ke dalam dan di ruangan yang terpisah dengan sekat kaca, tampak Leora sedang menatap laptop dengan dua asisten di kanan dan kiri. Tak lama setelah itu, Lena membeku saat mendengar suara pintu lain berderit.


Memang Lena hanya melihat anggur hijau dan kurma di meja, tanpa berpaling. Namun, Lena yakin dia tengah ditatap tajam oleh Marcho. Suara sepatu Marcho makin mendekat, yang diikuti suara sepatu kaki orang lain. Tanpa basa-basi pria bercelana jeans dan kemeja putih itu duduk di samping, Lena menoleh ke kiri untuk menghindari Marco dan tampak kakek juga mengawasi dari dalam.


"Maaf Tuan Marco, Tuan Besar menyuruh Anda duduk di sofa satunya." Seorang pelayan pria menunjuk sofa yang berhadapan.


"Hanya duduk diatur-atur?" Marco menggigit bibir bawah karena begitu kesal dan benar saja, kakek dari dalam sana mengayunkan tangan untuk menjauh dari Lena. "Huh!"


"Kau selamat gadis nakal," gerutu Marco pelan sambil berdiri.


David mana sih, kok nggak kembali-kembali dari kamar mandi. Lena sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di kamar malam itu. Jadi, dia tidak tahu harus bersikap seperti apa, selain menghindari tatapan Marco. Suara jepretan ponsel berkali-kali terdengar membuat Lena risih. Kenapa pria itu terang-terangan memfotonya.


"Marcho?" gumam David saat Marcho menatapnya dengan terkejut dan langsung bangkit memeluknya. "Kau sejak kapan di sini?"


"Dua harian."


"Ada di hotel pusat hiburan."


"What?" David melirik Lena. Dia mau bilang kemarin di hotel yang sama, tetapi takut Lena mendengar.


"Lena Sayang? Kemarin perkenalkan kakakku.


," panggil David dengan lembut.


Apa aku salah mendengar? batin Lena menggosok telinganya berulangkali dengan tidak percaya. "Kakak?"


" 'Lena sayang' ?" Marco mengulangi ucapan David, saat gadis itu tersentak dan menoleh ke mari dengan mata hazel yang membulat. "Kau kenal dia, David?" suara Marcho retak dengan tak percaya dan sang adik tersenyum dengan bangga.


"Kemari Sayang. Dia calon kakak ipar!" David memekik kegirangan. Pasti Lena gugup sampai wajahnya pucat pasi, tetapi kenapa abangnya juga ikut-ikutan pucat. "Marcho, kamu kaget melihat calon istriku? kami akan menikah segera di Bali. Bukankah kamu suka Bali?"


"Bali? Menikah? Apa kamu sedang bercanda David? Kamu kemanakan Shinta?" gumam Marcho. Oh wanita ini benar-benar penggoda terbaik! "Kau, kau! tak bisa menikahinya!"


"Aku dan Shinta sudah membatalkan pertunangan. Makannya lihat berita. Heran, apa kau hidup di luar bumi? Perasaan kau punya hp. Masalah keluarga mu sendiri saja kau tak tahu."


"Anak ini!" geram Marcho. Masa iya dia mengatakan sebenarnya pada seperti apa gadis licik ini.


Lena geleng-geleng kepala. Kakak? Adek? Jika Kakaknya telah memperk0saku, aku tak boleh menikahi David!


David menyipitkan mata bingung. Kakaknya pasti sedang bercanda. David kecewa bercandaan kakaknya kali ini kelewatan, dia berjalan dan mengetuk pintu kaca hingga kakek mengangguk dan mengijinkannya berbicara. Dia melongokkan kepala. "Kapan aku dan Lena bisa masuk, Kek?"


Marcho merasa harus berbicara dengan gadis itu, tetapi gimana caranya, bila semua tempat ini terdapat pelayan.


"Sebentar, Lena. Aku masuk dulu, tunggu, ya?" David membungkuk dan mengecup kening Lena, hingga membuat Marcho berkedip berulang kali karena tak percaya. Sampai David masuk ruang pribadi Kakek, Marcho duduk berhadapan dengan Lena dan sedikit berbisik karena pengawal di sudut ruangan.


"Hei," bisik Marcho setelah mendorong meja marmer dengan kakinya untuk mengambil perhatian gadis yang menunduk itu. "Ada yang perlu kau jelaskan padaku, gadis nakal."


Lena panas dingin, karena dia apes berturut-turut. Kini calon ipar justru menakut-nakutinya. Rasanya ingin tidur saja, mana kewanitaannya semakin hari semakin nyeri saat pipis. Dia ingin ke dokter untuk mencari tahu kenapa.

__ADS_1



Pucuk dicinta ulampun tiba, saat David harus menemui klien di tempat kakeknya sampai sore, Marcho menawarkan diri untuk mengantar Lena. Tentu saja dia harus mencengkeram pergelangan Lena diam-diam tanpa sepengetahuan David dan Kakek saat tadi berbicara di meja bundar.


"Tinggalkan David." Marcho menggigit bibir bawah sembari mengemudi kan mobil. "Kau tahu kesalahan apa yang kita perbuat?"


Lena menatap ke luar jendela, dia terpaksa duduk di depan karena permintaan kakek Leora. "Aku harus bilang apa ke David?"


Marcho melongo karena nada lesu itu, entah mungkin itu juga pura-pura. "Bilang saja bahwa kau hanya main-main dengannya. Dan kau masih bisa menemuiku saat kau membutuhkan uang."


"Kenapa jadi uang?" geram Lena tertahan sembari merem4s tas di pangkuan. "Siapa juga yang mau bertemu denganmu!"


"Gadis Asia mendekati pria Eropa karena mereka mau hidup dalam kemewahan materi. Sudah biasa para perempuan mendekati aku dan David. Namun, jika kamu tahu diri, apalagi kau sudah tidur denganku, apa kau juga akan memakan adikku? Oh bahkan mungkin sudah, ya? dari caramu melakukannya, kau sangat berpengalaman dan sudahi actingmu! Kenapa kau diam?"


"Anjing menggonggong kafilah berlalu," umpat Lena dengan menggunakkan bahasa Indonesia. Bibirnya terus berkomat-kamit dengan begitu kesal dan ingin keluar dari mobil segera.


"Kau bilang apa? apa itu artinya? Jangan berbicara dengan bahasamu, aku tidak tahu, gadis nakal!" Marcho makin menambah kecepatan mobil.


"Kau sudah memperk0saku dan mengatai aku macam-macam! mana mungkin aku memb3laimu apa aku sudah gila?" Lena berteriak dengan bahasa Indonesia dan seketika mobil menepi dan mengerem mendadak.


"Oke." Marcho menghembus nafas panjang berkali-kali dan memulai berbicara dengan sangat tenang. "Nona manis, tolong ya. Berbicara dengan bahasa yang aku ketahui."


"Kamu yang meniduriku! mengapa kau menuduhku menggodamu?"


"Tunggu, kau tidak ingat?Astaga! seriusan?" Marcho memukul stir mobil dan wanita itu menggelengkan kepala dengan putus asa dan netra hazel tak bersinar.


"Itu pertama bagiku," lirih Lena dengan menatap lesu ke depan. "Kau merebutnya!"


Marcho masih sulit menerima, tetapi kenapa kalimat itu menghipnotisnya. Sampai wanita itu terus memegangi panggul. "Kenapa? kau berakting apa lagi?" Marcho berulangkali bertanya, tetapi gadis itu cuma merintih.


"Kau seriusan? bahkan aku tak tahu mana kamu yang seriusan atau yang bohong!" Marcho kembali menjalankan mobil. "Aku akan membawamu ke rumah sakit. Jika ada apa-apa dengan mu, adikku pasti akan memusuhiku.


"Jangan," rintih Lena. "Aku takut David mengikuti kita dan dia akan bertanya macam-macam."


"Manis, apa kau mau mati dan menjadikanku tersangka karena mereka mengira aku yang membuatmu mat1? Kali ini aku takkan mendengarkanmu. Ingat aku punya pacar di sini, jangan sampai reputasiku jelek gara-gara kamu," gerutu Marcho dan langsung ikutan tegang karena rintihan Lena.


Sesampai di rumah sakit, Marcho langsung mengikuti dokter dan dia bilang Lena adiknya pada dokter. Dia taku jadi penyebab Lena, ataupun takut jangan-jangan gadis itu membawa penyakit untuknya.


"Infeksi saluran kencing?" Hidung Marcho terus berkedut saat menunggu obat diproses. Syukurlah jika itu cuma karena kurang minum. Marcho mengabari David, bukan apa-apa, dia hafal betul tabiat adiknya.


Sesampai di mobil, air mineral dalam botol kecil dicampur serbuk antibiotik dan dikocok Marcho, lalu dibuka penutupnya. "Cepat minum, gih."


Lena melirik ngeri dan mengambil botol hati-hati tanpa menyentuk jemari panjang. Dia menggelegaknya. Pantas dia begitu kesakitan saat pipis. Memang si karena di Stadion sibuk, dia jadi sering lupa minum dan menahan buang air seni beberapa kali. Namun, dia tak tahu efeknya seburuk ini.


"Tuh ingat, minum yang cukup. Apa perlu aku membawakan mu minum yang banyak?" Marcho terus bertanya ini itu, tetapi dia dicuekin. Ya ampun, rasanya sakit hati di cuekin.


"Terima kasih, sudah mengantar ke rumah sakit," kata Lena dengan lesu dan memasukan obat ke dalam tas mini.


"Hei tunggu, Manis. Saat itu aku hanya mau menolongmu. Seorang pria nakal memasukan obat ke dalam minumanmu yang juga sudah mengandung alkohol. Kau sebenarnya pura-pura bodoh apa memang bodoh si?" Marco dengan gemas. Atau orang didepannya semacam memiliki ... berkepribadian ganda.


"Apa bedanya kamu dengan orang itu?" kata Lena tanpa warna suara.


"Aku sudah menyewa kamar, aku sudah pergi dan harus kembali sebentar untuk mengambil kunci mobil. Tapi kamu saat itu keluar dari kamar mandi dan memegangi ku, lalu setelah itu .... "


"Jika aku mabuk, apa bisa aku berjalan ke kamar mandi? Aku sama sekali tak mengingat apapun, tolong percaya lah dan jangan terus menuduhku."


"Ya ampun, tapi kamu semua yang berinisiatif!"


"Sudahlah!" Lena berteriak dan muak dengan kata-kata yang terus diulang."Aku sangat bingung. Bisa saja kau mencuri kesempatan! Kalau memang aku seperti itu, harusnya kamu tak menyentuhku! Setelah melakukannya, kau justru pergi tanpa bilang apa-apa atau sekadar minta maaf? Kau pecundang! Tak ada bedanya sama seperti orang itu."


"Diam! Keluar! Kau yang minta dan bukan aku!Kau juga menuduhku padahal kau menarikku!" Marcho membentak dan gadis itu keluar dengan membanting pintu. Matanya berkedip beberapa kali.


Apakah wanita itu pintar melakukan pemanasan karena menggunakan insting. Apa benar dia merebut kesucian calon istri dari adik sendiri? Benar kata gadis itu, dia harusnya menolak ajakan gadis itu, tetapi lelaki mana yang tahan saat dua tangan kekarnya sudah langsung diarahkan ke sesuatu yang menggoda.


__ADS_1


__ADS_2