Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 77 : DAVID BERHARAP INILAH PELABUHAN TERAKHIR HATINYA


__ADS_3

Ketika matahari kembali ke peraduan, warna keemasan matahari diufuk barat memberikan satu kehangatan. Kembalinya sang surya ke peraduan begitu indah seindah hati Niko yang tengah berbunga-bunga. Bagaimana tidak?


Di jok kiri, duduk Emma yang bernyanyi mengikuti lagu One Direction. Sementara di kursi belakang, Lena sibuk bermain ponsel. Niko menyunggingkan senyuman dengan sering melirik ke spion tengah dan terpesona pada wajah anggun nan cantik Lena. Memang hidup seindah ini, pikirnya.


Kebahagiaan Niko tak bertahan lama saat melihat David yang baru turun dari mobil sedan Fiat hitam, mungkin baru pulang kerja. Niko mematikan musik. “Kita sudah sampai, euy.”


“David baru pulang, Len.“ Emma meremas tali tas dengan gugup sambil melihat ke belakang.


Dengan panik Lena mengalihkan pandangan dari ponsel ke arah lobi. Mata hazel membesar, Lena memasukan secara asal ponselnya ke dalam tas dan menepuk bahu Niko. “Tolong berhenti di sini saja.”


Wajah Lena kian memucat dan lebih keras meneplak bahu Niko. Dia tak mau bila David mengetahui Niko bersamanya. “Berhenti, Nik!”


“Santai. Kenapa, sih?” Niko merasakan dadanya berdebar. Sangat tidak suka bila disuruh-suruh.


“Kamu nggak dengar apa kata Lena. Berhenti!” Emma ikut was-was dan mencubit lengan Niko. Namun, Niko mengabaikan dan baru berhenti setelah sampai di depan David.


Jendela kaca mobil terbuka, David membungkuk dan matanya berkedut manakala tahu bahwa Niko yang mengemudikan mobil milik Emma. Jantung berdegub lebih kencang dan panas menyebar ke dalam dada. “Wah, ada tamu istimewa?”


“Hai, Kak Dav.” Emma meringis saat melihat wajah David yang berubah dingin.


“Hm.” David berdiri tegap dan melirik sang kekasih yang baru turun dari kursi belakang dengan pendar netra hazel dipenuhi rasa bersalah. Apalagi saat Lena datang mendekat lalu mencium punggung tangannya dengan tangan mungil yang gemetar. “Sore sekali, Mah?”


“Ada meeting tambahan, Pah.” Lena berdiri sejajar dengan David, tangannya mengelus punggung David yang kembali membungkuk karena terus melirik ke arah Niko.


Bibir Niko berkedut dengan rasa cemburu yang membakar hatinya begitu tangan kekar David melingkar di pinggang Lena. “Pamer,”gumamnya yang didengar Emma.


“Kalian mau mampir. Nik, Emm?” David semakin mengangkat satu sudut bibir dan mengejek Niko.


“Ti-tidak Kak kami mau ada acara lagi!” Emma menjawab duluan dengan tengkuk merinding. Dia mencubit pinggang Niko agar segera jalan.


“Atau kamu mau ikut kami nonton film Fast Farious versi terbaru?” Niko menantang David dengan nada sedikit meremehkan. Dia mengabaikan panasnya cubitan Emma.


“Oh, tidak usah, sudah mau maghrib. Silahkan kalian menonton berdua saja, ya! Terimakasih tumpangannya.” Lena tersenyum masam dan sempat terpejam, juga sesekali memberi kode dengan kedipan mata pada Emma, supaya mereka lekas pergi. “Kami tidak ingin mengganggu waktu kencan kalian.”


“Lena!” Emma menggedikan bahu dengan tidak terima. Siapa yang kencan? Jangan sampai Lena salah paham, lalu tidak mendukung perasaanya pada Sean. ”Kami hanya pergi nonton bukan kencan.”


“Apa jadi masalah kalau kita beneran kencan?” tanya Niko pada Emma dengan senyuman yang dibuat paling manis. Dia harap Lena cemburu.


“Niko, kita bukan kencan,” geram Emma. Dia takut bila David melaporkan pada Paman Paolo. Emma mendekat ke Niko dan berbisik dengan penuh penekanan, “ayo, pergi. Jalankan mobilnya atau aku yang menyetir! Filmnya keburu mulai. Cepat jalan!”


“Sampai jumpa Lena dan Suami Lena.” Niko dengan nada dan tatapan menggoda pasangan baru.


“Dahh, Kak Dav!” Emma tertawa dengan takut-takut.


“Hati-hati di jalan, Emma,” teriak Lena saat mobil sedan hitam mulai jalan. Lena mengelus dada suaminya karena bibir David terkatub rapat.


Axel yang masih duduk di mobil, melirik ke samping pada mobil yang baru lewat. Terlihat Niko tersenyum licik padanya, entah apa artinya. Axel memutar bola mata dengan malas sambil mengarahkan mobil ke garasi. Wajah bete tuannya terlihat dari kaca spion tengah.


“Sabar, Tuan. Tak perlu cemburu. Anda memiliki segalanya. Sekarang, kuncinya tinggal anda sendiri yang menjaga nyonya, kan?” Axel berbicara pada earpiece.


David meraih earpiece dari telinga dan menonaktifkan earpiece, lalu memasukan ke dalam saku celana. Benar juga kata Axel, dia hanya perlu menjaga Lena. Sepanjang melewati ruangan, David mengabaikan penjelasan Lena. Setiba di kamar, dia juga melewati Lena dan mengunci diri di kamar mandi.


“Mas, jangan diam aja, aku memang ngobrol dengan Niko soal Kak Sean, tetapi soal itu aja. Selebihnya kami nggak ngobrol yang laen. Lagi pula Niko lagi PDKT ama Emma.” Lena mengetuk pintu, baru kali ini pintu kamar mandi dikunci.


“Lah itu kamu tahu dia PDKT. Tandanya kamu ngobrol panjang sama dia.”


“Eh?” Lena memiringkan kepala dan mengelus dagu. Dia mencerna kalimat David, lalu mengetuk pintu tiga kali. “Mas, itu kakak yang cerita. Cepat, aku ingin pipis, nggak tahan. Buka dulu dong ….”


Setelah melepas jas dan menaruh di westafel, David dengan berat hati memutar kunci, lalu Lena membuka pintu dan memeluknya. “Tadi bilang mau pipis, ngapain peluk-peluk.”


“Dedeknya ingin peluk, nggak boleh?” Lena mendongak, mendapati David berwajah merah padam.


“Yaudah, peluknya nanti lagi. Mama pipis dulu. Papa masih kotor belum cuci tangan.”


Mengerutkan alis karena nada sinis suaminya, Lena mengusap-ngusap lengan sang suami. “Mama juga kotor. Tadi habis megangin bahan kain buat dijait besok.”


Jari-jari lentik mulai melepas kancing kemeja dan menanggalkan kemeja warna light blue dengan gerakan sensual dan tatapan mata hazel yang menggoda. Lena akan berjongkok dan menurunkan resleting celana, tetapi David mundur lima langkah sambil melepas celana luar dan celana inti sendiri, lalu ke ruang bilas seolah-olah berusaha menghindarinya.


“Mas, maafin, Lena.” Lena dengan suara seperti anak kecil. Dia terpejam kaget karena David menutup pintu dengan kasar hingga pintu kaca bergetar. Begitu juga saat menarik kran air secara maksimal hingga shower segi empat menyemprot dengan power paling kencang.


Menghela napas panjang, bahu Lena merosot. Dia menurunkan resleting punggung dan gaunnya merosot jatuh di lantai. Lena menatap bingung pada David yang memunggunginya. Apa cuma karena dia berbicara dengan Niko, lalu suaminya marah bukan main.


Tumbukan semprotan air hangat dipunggung kekarnya seperti suatu terapi yang melemaskan ketegangan. David terpejam dan meraup air yang melewati muka dengan sesal yang mendalam. Seharusnya, dia tidak bersikap seperti itu pada wanita yang tengah mengandung anaknya. Dia mengintip Lena yang tertunduk sedang menurunkan celana inti. Pria itu membuang muka manakala Lena melihat ke arahnya dengan tatapan nanar.


Setelah buang air seni, Lena menyusul sang suami yang baru mematikan kran air. Lalu dengan ragu, menutup pintu kaca, menempelkan telapak tangan dan menggosok punggung sang suami, yang sudah dipenuhi busa sabun. David sempat menolak, tetapi akhirnya David luluh juga.


“Mah.” David berbalik badan dan menghadap ke tubuh polos sang istri, membiarkan sebagian busa shampo mengalir dan menutupi di dada bidangnya. “Bisa kan, kamu pergi jika ada Niko?”

__ADS_1


“Kalau dia pas di butik, aku akan berusaha menghindarinya. Dia sedang mendekati Ema, kata Kak Sean.” Lena menggigit bibir bawah. Dia menekan pump botol dengan tangan kanannya dan sabun cair mengalir ke tangan kiri.


“Dia masih mengharapkan kamu.” David meraup semua cairan sabun dari tangan Lena, lalu berjongkok dan menyabuni betis Lena dengan lembut. Jari-jari panjang meluncur ke bawah dan menyeka telapak kaki mungil. David menempelkan kening ke paha Lena, sesak setiap membayangkan kebersamaan Lena dan Niko saat sebelum bersamanya. “Dan sengaja memancing kesabaranku.”


Lena menahan geli karena gosokan David di telapak kakinya. Sementara dia berpegangan pada pundak suami . Lena berpikir tidak mungkin mengusir Niko dari studio yang adalah milik Emma. “Kita sudah menikah dan takkan ada yang bisa memisahkan kita.”


Lena mundur saat suaminya berdiri sambil menarik kran air. “Lagipula kita akan bertambah satu keluarga lagi. Dan takkan ada yang mengalihkan hatiku dari Papa.”


Air hangat mengguyur badan mereka dari atas, seperti hujan deras. Lena mangap-mangap dan tertawa karena David memeluknya, membuatnya geli dan hampir kehabisan napas karena derasnya air, mau melihat ke atas pun takut matanya kesemprot air hangat.


Dengan penuh cinta, David menekan pipi Lena menggunakan kedua tangan, dan dalam aliran air bening mengepul. Dia menyingkirkan rambut sang istri dari wajah ayu yang masih mangap-mangap. “Benar? Mama jangan bohongi Papa. Pokoknya kalau Mama bertemu dia lagi bila tidak ada Papa, harus langsung kabari Papa!”


“Mama janji.” Lena tersenyum semeringah dan merasa sedikit lega.


“Terimakasih, Sayang.” David mematikan kran, lalu memijat kepala sang istri dengan cairan shampo berbau vanila. Dia membalik tubuh sang istri, dan menarik Lena agar menempel padanya, tetapi wanita itu tertawa kegelian dan menjaga jarak dengan kelelakiannya.


Sulit untuk David menghilangkan trauma akibat dikhianati dari hubungan yang sebelumnya. Jadi, besar harapan David semoga Lena menadi pelabuhan terakhir hidupnya. Karena jika hubungan yang terakhir ini gagal, entah dia tak tahu akan jadi apa nantinya. Hidupnya akan gelap tanpa senyuman dan tawa Lena.


Selepas mengeringkan tubuh sang istri, David memakaikan jubah mandi mini. Dia melilitkan handuk di pinggang, lalu sikat gigi saat sang istri mengeringkan rambut dengan hairdryer. David membungkuk penuh dan mencengkeram pinggang sang istri dari belakang dan mengusel-ngusel kelelakiannya pada pantaat sang isteri hingga sang istri menghentikan aktifitas mengeringkan rambut dan menaruh hairdryer di meja westafel.


“Keringin, dong.” David mengangkat pantaat Lena, dipindahkannya ke meja meja marmer hitam. Tangan mungil itu mulai mengeringkan rambut David, dengan hairdryer pada kecepatan penuh.


“Papah ngantuk?” tanya Lena saat David menggendongnya hingga menempatkan dengan hati-hati di kasur.


“Hu'um. Full seharian kerja.” David yang tengkurap dengan wajah terbenam, lalu memiringkan kepala ke kiri dan menghadap wajah Lena. “Apalagi pagi-pagi habis lari maraton sama Mama.”


“Hehehe. Kan, Papa yang nakal duluan.” Jari mungil mengusap-ngusap pipi, yangmana janggut dan pipi sedikit kasar karena bulu yang mau tumbuh. Dia baru sadar, ternyata David terbiasa memotong habis rambut di dagu dan di tepi pipi. Suaminya kemungkinan memiliki ****** bila tidak dicukur.


“Mama yang menggoda dan Mama sangat cantik, Papa ingin gigit Mama terus.“ David tersenyum dengan mata tinggal lima watt.


“Memang Papa bangun jam berapa?”


“Setengah lima.” Perasan damai dan lelah fisik menyelimuti David hingga dia tak lagi merasakan apa-apa dan dia sadar sudah di alam mimpi.


Mimpi yang indah bermain dengan Lena dan anak-anaknya. Akan tetapi dia bingung, di dunia nyata, satu anak saja belum bangun. Ini tiba-tiba di alam mimpi anaknya banyak. David tertawa bersama Lena, lalu bermain di taman yang cantik.


“Pah, belum makan kok tidur?” Lena bangun dari tempat tidur dan berganti pakaian. Sudah lima belas menit tiduran, sepertinya tidak ada tanda-tanda David akan bangun.


Sekembalinya dari memakai piyama, Lena menyelimuti sang suami yang masih hanya memakai lilitan handuk. Dia tak tega membangunkan David hanya karena menarik handuk. Untung handuknya semi lembab, bukan basah.


“Hih, apa maksudnya si? Pakai kasih tahu segala.” Lena mengerucutkan bibir dan jadi uring-uringan hanya karena Marcho menyebut Shinta. Dia melihat riwayat panggilan telepon David dan Marcho di telepon yang tercatat 18 menit 20 detik, itu saat David di kantor.


“Huh, kuharap itu Kak Marcho yang telepon beneran, bukan Shinta yang telepon pakai nomer Kak Marcho. Mereka ngobrol apa, sih?”


Daripada makin negatif thinking, Lena menaruh gadget di nakas. Dia mengecup kening suaminya yang terlelap dan pergi ke dapur dengan membawa ponsel miliknya. Di sini jam 8 malam, artinya di Bali jam 2 siang. Lena melakukan video call dengan Ayah Jatmiko yang memakai kemeja dan duduk di kantor.


“Hallo assalamualaikum, Ayah yang paling ganteng.” Lena dengan lembut dan bersinar. Ingin memberi kejutan soal kehamilan pada Ayah tetapi paling asik kalau ketemu langsung.


“Walaikumsalam, Cah Ayu. Eh! Sudah pulang dari bulan madu?” Sujatmiko dengan wajah terkejut.


“Sudah, Ayah. Ehm, Ayah sudah makan?”


“Sudah di kantin, tetapi masih enakan masakan ibumu.” Sujatmiko mengadu pada putrinya.


“Ya, Ayah bawa bekal saja dari rumah, lebih keren tahu. Lena juga kangen masakan Ayah dan Ibu!”


“Pulang dong, hehe.”


“Lena rencana bulan depan mau ke Kalimantan sama Emma, lalu mampir ke Bali.” Lena dengan mata berbinar dan diikuti wajah keterkejutan Sujatmiko.


“Oh, iya. Alhamdulillah! Nanti biar Bapak kasih tahu ibumu, pasti senang.”


“Jangan Ayah! Lena mau kasih kejutan buat Ibu Sumarni. Hehe.”


Sujatmiko mangut-mangut. “Memang, mau acara apa di Kalimantan?”


“Mau ke penangkaran buaya, Ayah! Buat bahan tas.”


“Astagfirullah, kenapa harus pakai ke penangkaran buaya segala. Bahaya, Ndok, ntar digigit. Jangan ke tempat bahaya gitulah.” Sujatmiko merinding.


“Ih, Ayah, itu tempatnya Safety tahu!”


“Biar Ayah susul kamu dulu ke Kalimantan, jangan ke penangkaran sendirian. Pokoknya harus ada Ayah.”


“Lah, ntar kalau Ayah nyusul, ibu tahu dong?”


“Ayah bisa kasih alasan bisnis.”

__ADS_1


“Pasti Ayah ketahuan, Ayah kan nggak bisa bohong sama ibu. Katanya nggak boleh bohong, kok, Ayah bohongi Ibu,” gerutu Lena.


“Demi putri Ayah. Apapun akan Ayah lakukan.”


“Uchww.” Lena menekuk bibirnya sampai air matanya menetes saking terharu. “Tetap aja, Ayah bohong, Lena nggak suka.”


“Ma’af, Cah Ayu. Hu, gini, Ayah mau cerita dulu. Ini teman Ayah ada yang mau ngajakin pengadaan buah asli Jawa buat dikenalkan ke Eropa. Masa kata temen ayah, turis nggak percaya kalau manggis ada di Indonesia? Menurutmu gimana, Cah Ayu?”


“Uh, Ayah, aku belum tahu bisnis. Mending Ayah tanya David aja, daripada aku salah jawab. Lagipula, Ayah dah ngurusin pabrik keripik pisang. Ntar kalau Ayah kelewat sibuk, berimbas pada kesehatan Ayah? Lena nggak mau, ah.”


“Masa cuma kamu yang boleh belajar bisnis?”


“Bukan begitu, Ayah-“


“Itu buat kesibukan Ayah. Bosan di sini kerjanya cuma duduk, terus jalan-jalan ke pabrik. Ayah pengen ke lapangan, main ke kebun manggis, sirsak, nanas.”


“Ayah bisa ke kebun pisang milik Ayah, masih kurang?”


“Itu beda …. “


“Emh, aku tanya Mas David dulu. Lena mau makan dulu nih, laper.”


“Mana David? Sini biar Ayah tanya sendiri.”


“Mas David tidur, kecapekan. Yaudah besok Lena telepon lagi. Aku cinta Ayah, salam buat ibu.”


“Aku cinta Cah Ayu. Sehat-sehat, ya, Cah Ayu. Assalamualaikum.”


“Walaikumsalam, Ayah.” Lena mematikan panggilan video. Ponsel ditaruh di atas meja, Lena berjalan dengan tidak sabar ke kulkas. Daging Wagyu, potongan salmon di keluarkan, berikut sayurannya.


Daging Wagyu dan Salmon dikupas dari plastik dan ditempatkan di nampan, lalu di defrost satu persatu di Microwave.


Bawang Bombay dipotong, Lena menaruh pisau lalu menyalakan kompor listrik dan mengatur suhu 300 derajat. Dia menaruh frying pan di atas pan dan mengambil sepotong mentega dari kotak khusus -potongan mentega yang telah dia disiapkan untuk langsung pakai- dan dilelehkan.


Bawang bombay ditumis sambil Lena memotong jamur, dan menyusul jamurnya. Dia mengorak-ngarik jamur lalu menambahkan kecap inggris, saus tomat, sedikit mustard, garam, merica, dan sedikit air. Ditunggunya sampai mendidih.


Harum menyeruak dan suara mendesis pan semakin berisik, Lena menuangkan sebungkus cooking cream. Lalu mengaduk-ngaduk dan mengecilkan kompor ke suhu 80 derajat, tepat pada saat bersamaan bunyi ‘nit-nit’ Microwave yang menandakan prosesnya telah usai.


Daging Wagyu yang sudah tidak beku, di taburi garam. Lena memasukan potongan salmon ke dalam Microwave dan menekan defrost dan angka 5 menit. Dia mengambil pan bergerigi dan menaruh pan di atas kompor sampai permukaan sedikit mengasap, baru dia melelehkan mentega dan memanggang daging Wagyu. ‘Ces’ Suara daging bergemerisik dan baunya bikin ngiler. Lena mengelus perutnya. “Sabar, ya, Nak.”


Saus jamur sudah mengental, Lena menyendokkan kuah dan mencicip rasa dari ujung sendok, lalu menaruh sendok di talenan. Saus jamur telah siap, Lena membalik daging sebentar lantas mematikan semua kompor.


Dua gelas disajikan di atas nampan. Lena mengeluarkan dus bertulis Soursop dari kulkas, kemudian dituangkan cairan putih kental ke dalam dua gelas. Entah, belakangan ini dia suka sekali jus buah sirsak yang asem-asem segar. Sayang, semua ada dalam kemasan kaleng, bukan buah yang metik langsung dari pohon seperti di Indonesia.


Lena memotong steak Wagyu menjadi enam dan menempatkan ke dalam piring. Bunyit ‘nit-nit’ kembali menggema di dapur yang sunyi. Lena memanggang Salmon, lalu bekas teflon untuk menghangatkan sayuran beku dan potongan kentang siap pakai.


Sayuran ditempatkan di samping tenderloin dan Salmon. Dua piring itu lalu ditempatkan di meja dorong, beserta dua gelas jus sirsak. Saus jamur dalam cangkir saus, sepiring kecil potongan buah melon yang sudah siap santap dari dalam kulkas. Tak lupa alat makan dan ponselnya di tempatkan dalam meja dorong. Lena mendorong meja beroda sampai memasuki lift, dia menelan saliva berulangkali sepanjang kembali ke kamar.


Ditepuk punggung sang suami. “Pah, makan dulu. Kamu belum makan, loh. Kata Tuan Axel, Papa makan tadi sore. Ayo temani Mamah makan, nanti tidur lagi.”


David terjaga dalam kebingungan. “Mah, kok bangunin Papah. Ah, barusan mimpinya sudah sampai ke gunung api abadi di Java island. Belum sempat selfie dengan anak-anak dan Mamah. Padahal, pemandangannya indah.”


“Anak-anak?” Lena menggaruk pelipis, lalu setengah tiduran dan menghadap sang suami yang wajahnya begitu lelah. “Anaknya siapa?”


“Anak-anak kita,” kata David dengan wajah polos dan Lena tersenyum semeringah.


“Mimpi yang indah, tetapi sekarang Papah makan dulu. Nanti lanjut lagi mimpinya.”


“Mana bisa mimpi dilanjut. Mamah ada-ada aja, ni. Buyar-buyar.”


“Memang Papa tahu arti kata buyar?”


David menggelengkan kepala sambil mengucek mata yang gatel. “Ambilin tetes mata.”


“Nggak tahu kok disebut.” Lena berdiri dan mencapai nakas untuk mengambil tetes mata.


“Memang artinya apa?” David melumah dan kembali mengucek mata, seharian dia terus melihat laptop, kecuali saat arisan keluarga. Pantas, matanya terasa kering banget.


“Aku juga nggak tahu. Hehe. Coba tanya pembaca kali aja ada orang Jawa yang tahu artinya buyar.” Lena duduk di samping kepala David dan memegangi kelopak mata David agar tetap terbuka. “Mata Papa merah, tahan jangan tutup.”


Melebarkan mata, David merasakan tetesan dingin di mata kanan dan kiri bergantian. Dia berkedip beberapa kali. “Sekali lagi, Mah.”


Beberapa tetesan dingin meringankan gatal di mata biru David. Dia menatap sang isteri. “PEMBACA ITU SILENT-SILENT WAE, MAH. MINTA KITA GELITIKIN KAYANYA.”


“Jangan, dong, nanti mereka kabur, terus Authornya sedih.”


Lena dan David tertawa, menertawakan Authornya yang lagi galau. Lena menarik David dengan manja ke sofa. David menyalakan TV manakala Lena mulai menyuapi dengan Salmon dan saus jamur kesukaannya

__ADS_1


__ADS_2