Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 69. : Rencana Shinta


__ADS_3

Niko uring-uringan sore itu karena foto Lena, dia beranjak dari sofa dan menghampiri Sean yang baru selesai bekerja. "Ayo, jalan ke luar."


"Boleh juga, saya ikut." Stef melirik Niko, lalu mematikan laptop. "Kau harus mulai melihat dunia luar, Se. kudengar David sedang mencari produsen bagus, tempat penghasil tangan robotic, untuk tangan kananmu."


"Oh ya?"kata Sean dengan mata membesar dan hatinya berdebar. Dia tak menyangka adik iparnya masih memikirkannya.


"Bagus lah," ucap Niko dengan penuh harap. Walau dia tak suka David, tetapi dia sangat peduli akan nasib sahabatnya. "Semoga kau cepat mendapatkannya."


"Ya, sudah. Aku ambil ponsel dulu." Sean seolah mendapat sedikit harapan karena berita barusan. Dia tersenyum penuh arti pada Niko dan mengelus bahu Niko saking senangnya, saat kembali ke kamar.


Sementara Stef menggendong putranya yang tertidur dari sofa, setelah mengirimkan foto Sean yang bekerja hanya dengan tangan kiri. Pasti David senang melihat ini.


Di rumah Paolo, Emma menepuk bahu Paman dengan keras. "Terimakasih, Paman! Aku tidak akan pulang malam-malam, kok."


"Jangan dekat-dekat dengan Niko. " Paolo memperingatkan, dia tak suka keponakannya dekat-dekat temannya Sean.

__ADS_1


Emma keluar ke halaman rumah. Di sana mendapati di dalam mobil Sean, juga terdapat iparnya David. Sebelumnya, Emma sudah beberapa kali bertemu Stef. Merekapun pergi ke sebuah kafe, yang terdapat arena bermain anak.


Romeo bangun dari tidurnya, lalu bermain dengan Dhona di area permainan, dan orang tua mereka tidak jauh dari mereka.


"Kapan-kapan kita nonton bareng, dong. Seru kalau ngajak Lena sekalian, " celetuk Stef.


"Benar, itu seru banged, setuju." Emma menimpali, dia berdebar karena kaki Sean yang di bawah meja, bersentuhan dengannya


Niko bertanya soal musik yang di didengarkan oleh Stef saat bekerja tadi, dan Stef menceritakan soal musik Reggae kesukaannya. Tampak Niko mulai santai mengobrol dengan Stef, karena Sean dan Emma justru sibuk dengan ponsel.


-


Di tempat lain, George menemui seorang anggota keluarga Leora. Dia tengah membicarakan kerja sama dengan Pamannya David yang gila kekuasaan.


Sedangkan Shinta di tempat lain, berusaha tersenyum manis dan menunggu tanggapan Marcho.

__ADS_1


"Apa kau serius?" Marcho dengan rasa penasaran.


"Iya,dong. Itu sangat menjanjikan. Bisnis berlian yang akan kita pusatkan di Jepang itu pasti akan jadi lahan uang. Ayolah, Marcho bantu aku. Tetapi kita rahasiakan ini dulu dari siapapun, sebelum launching. Kita juga perlu ke Jepang untuk peninjauan lokasinya. Kebetulan di sana ada pelelangan pabrik Minggu depan."


"Oh, mendadak ya? tapi aku harus menemani Romeo di sekolah. Aku sudah janji."


"Ayolah, Marcho. Ini penting tahu." Shinta mengelus punggung tangan Marcho di atas meja, pria itu terkejut dan sontak langsung menarik tangannya.


"Shinta, tolong jangan asal menyentuh. Orang akan salah paham. Kau mantan tunangan adikku. Apa jadinya kalau Netizen sampai tahu."


"Kau hanya perlu bilang pada mereka kalau kita itu sedang berbisnis."


Marcho berkedip bingung saat lagi-lagi Shinta tersenyum sangat manis. Dia menjadi mengingat malam panas. Pikirannya berkecamuk, dia tak ingin menyakiti Stef lagi. Tapi dia sangat lemah pada godaan seperti ini.


-

__ADS_1


David mengerutkan kening saat melihat status Stef. Mereka berfoto berempat dengan Niko. David meremas ponsel, Tiba-tiba Lena datang di samping, sontak David mematikan telepon. Dia masih belum siap bila Lena melihat ada foto niko


__ADS_2