
"Tidurlah, Paman ada di sini." Sean memangku dan mengusap punggung Romeo, dimana Stef duduk di sampingnya. Sementara, wajah mungil Romeo kini terbenam di dada kurusnya karena Romeo tidak mau ikut Stef. Kata anak kecil itu, sang mami sudah membiarkan papi pergi, jadi Romeo marah sama mami.
Ponsel Stefanie berdering, dia tahu panggilan itu dari Marcho, tetapi dia abaikan. Wanita bergaun biru itu, menatap ke luar jalanan yang gelap dan membiarkan sopir Sean mengantarnya. Semua orang sibuk dan mana ada keluarga Marcho yang mau peduli terhadapnya, terutama pada acara penting seperti ini.
Sikap Marcho yang berubah-ubah membuatnya menjadi jengah. Ucapan Marcho sulit sekali dipegang, sekarang bilang A dan kenyataannya besok bersikap B. Marcho mengabaikannya di atas panggung, setelah seharian dia mencari keberadaan Marcho.
Rasanya tuh sakit sakit sekali di dada, dia juga enggan berbicara dengan Marcho saat di atas panggung daripada ribut di depan umum. Stef menusuk punggung tangannya dengan kuku, menyadari sudah dua Minggu dirinya telat datang bulan. Aku lupa KB, tetapi aku belum siap hamil lagi.
"Terimakasih, Sean. Kemarikan , biar aku menggendongnya." Stefanie turun dari mobil, di depan loby saat sopir baru membukakan pintu mobil, tetapi Sean sudah turun duluan.
Mobil Marcho yang baru memasuki halaman dipercepat, lalu mengerem mendadak. Kepala Marcho mau mendidih karena Stef tak menerima panggilannya dan begitu kesal lagi saat melihat Sean memindahkan Romeo ke bahu Stef.
Tampak pemuda itu langsung naik mobil sedan, begitu melihat Marcho keluar dari mobil SUV. Marcho berlari mengejar Sean hingga sejauh tiga meter. Namun, mobil sedan itu jauh lebih kencang meninggalkannya.
"Stef .... "Marcho berbalik, lalu mengikuti istrinya ke dalam rumah dengan menjaga jarak. Dia menunggu sampai sang istri membaringkan Romeo di tempat tidur, dimana sang istri menyelimuti putranya.
Stef menggelengkan kepala dengan malas, saat-saat Marcho akan memeluknya. Dia gesit menghindari terlebih dulu. Perempuan itu keluar dari kamar anak, menuju kamarnya sambil melepaskan kalung, tetapi tangan kekar dari arah belakang berhasil merangkul dadanya.
"Singkirkan tanganmu. Itu bau perempuan tadi! Kamu tidak tahu malu sekali? Aku benci kamu, Marcho!"
"Dengar dulu."
Marcho masih menahan berontakan tangan Stef. Dia menarik nafas dalam-dalam menenangkan dirinya sendiri yang juga kesal karena dicuekin. "Shinta hanya minta tolong ke aku, dia ingin mengucapkan selamat pada adikku."
"Terserah kamu. Bisa-bisanya kamu membawanya. Sementara keluargamu dan juga David sendiri, tidak ada yang mengundangnya? Kau tidak memikirkan perasaan Lena?
__ADS_1
Kamu adalah lelaki paling tidak berperasaan sedunia, Marcho! Lepas! Atau aku bawa Romeo ke rumah Papi Allegra. Kemarin Anna, sekarang Shinta, lalu siapa lagi nanti? Pernahkah, sedikit saja kau memikirkan perasaanku?"
Marcho sontak melepas Stef karena nama Anna disebut. Gigi Stef sampai terdengar gemertuk. Tangan kekar terkepal dan dia membiarkan Stefanie masuk ke dalam kamar lebih dulu.
Lalu aku harus apa? Aku terlanjur janji pada Shinta sebagai bentuk permintaan maaf ku. Kalau memang wajar aku akan membantunya untuk sekadar menghilangkan rasa bersalahku. (Marcho)
⚓
Angin malam membelai tengkuk David dini hari, dia berdiri di balkon kamar yang menghadap ke kamar Paolo, yang gelap. Sepertinya, itu tidak dihuni lagi. Dia tidak mengerti mengapa dulu dia bisa sedekat itu dengan Paolo, bahkan dia jauh lebih dekat dengan Paolo daripada Marcho.
Kebersamaannya bertiga dengan Emma, seketika membayangi dan menghangatkan hatinya. Kerinduan menyelimuti seluruh tubuhnya. "Paoooool!" David melirik ke belakang, sampai lupa dengan pintu yang terbuka. Dengan hati-hati, dia masuk ke dalam dan menghembus napas lega karena Lena tidak terbangun. Hadiah dari Paolo di masukan ke dalam saku samping celana selututnya.
David berjalan ke sudut, meraih perangkat tali dari laci paling bawah, lalu membawa ke balkon. Sebuah tembakan tali diarahkan ke sela pagar besi milik Paolo, dan ujung tali di tangannya diposisikan pada pagar miliknya. David memasang safety pada tubuhnya, dia keluar dari pagar dan tubuhnya mulai tergantung pada tali. Setiap tombol ditekan dan diri mulai bergeser.
David menekan sakelar dan matanya membelalak, kakinya sampai mundur dua kali. Tampak Paolo terbaring dengan berselimut dan tengah menatapnya tanpa ekpresi.
"Untuk apa kau ke sini? " Paolo tak berkedip saat David menggaruk tengkuk sambil mendekatinya. Alis Paolo terangkat dengan malas. "Jangan mengajakku berkelahi malam-malam, Okay?"
"Aku hanya mau kembalikan ini." David mengembalikan hadiah itu ke Paolo dengan meletakan kotak putih di atas nakas.
"Sangat tidak menghargai," kata Paolo dengan nada sangat dewasa. Dia melirik pita hitam yang masih rapih. "Jadi, aku datang ke pesta hanya untuk kau ... rendahkan seperti ini? Bisa kutebak kau tak tahu isinya!"
David duduk di tepi ranjang hingga menempel di paha Paolo." Katakan kenapa kau pergi ke New York?"
"Kenapa kau tak mengundangku ke Bali?"
__ADS_1
Mereka terdiam. David selama ini terlarut pada hubungan cintanya, sampai lupa dengan Paolo. Sedangkan Paolo, sibuk mengejar pecundang yang tak mau bertanggung jawab pada Emma.
"Kau sudah menemukan dia?" tanya David dengan suara datar, tetapi sangat ingin tahu.
"Sudah."
"Apa katanya?"
"Dia tetap tidak mau, menemui Dhona. Padahal aku sudah menghajar dan menganggunya."
"Lalu kau menyerah ... pulang tanpa hasil?"
"Apakah aku terlihat menyerah?" tanya Paolo balik. "Lalu, kau au sudah tak memiliki perasaan ke Shinta?"
"Menurut mu?"
"Bukannya kau dulu pernah bilang, kau hanya akan menikahi gadis Neapolitan."
David tertawa kecil. "Omong kosong. Siapapun pasangan hidup ku adalah dia yang bisa menghargai ku, dan aku akan lebih menghargainya." David menatap Paolo dalam-dalam. Dia dengan cepat meninju paha Paolo sangat keras hingg PaOlo meringis. Dia bergegas kabur saat Paolo meneriakinya dan akan mengejar.
"SIAL4N kau David! Beraninya!" Paolo mengejar, dia menarik leher David saat pria itu memakai safety pada pinggang. "Mau kemana!"
David tertawa ngeri. "Mau pulang."
"Pulang?" Sindir Paolo sambil terus menarik leher David, sampai tiba di kamar Emma.
__ADS_1