
Marcho duduk dengan menarik Stef tanpa melepaskan 'kegagahan.' Kemudian lelaki itu berbisik di tengah pakaiannya dan pakaian milik Stef yang lembab oleh keringat mereka. "Terimakasih, istriku. Tolong maafkan, aku .... Aku tidak akan mencurangi mu mulai dari sekarang."
Karena kau sudah bersatu dengan Anna? (Stef)
Stefanie sedikit condong ke depan untuk mengambil tas, Marcho ikut membantunya dengan satu tangan sembari terus menahan pinggulnya, seakan Marcho tidak mau itu terlepas. Perempuan itu menarik tisu kering dengan cepat dan langsung menutupi kebawah karena akan banjir. Begitu pun Marcho menarik tisu banyak. Saat Stef akan mencabutnya, Marcho langsung menutupi miliknya dengan tisu. Aroma pandan seketika menguar di antara mereka.
Mata Marcho tak pernah luput dari setiap gerakan Stefanie yang berdiri dan mulai memakai celana inti pink dan mulai menarik ke atas melewati pergelangan kaki. Pemandangan itu terhalang dress kuning sebatas betis. Rambut panjang yang sedikit bau keringat itu tepat membel4i di ujung hidung Marcho.
Stef dengan cepat memakai celana. Dia baru kali ini melihat milik suaminya, itu pun sebagian. Perempuan itu duduk dengan tidak nyaman dengan berbantal tisu karena cairan milik Marcho mulai keluar dan memenuhi tisu. Stef berdiri lagi sambil membawa enam lembar tisu baru yang sudah dilipat dan mengganti tisu bekas, dengan cara berdiri memunggungi Marcho. Dia tak peduli lagi dengan rasa malu, yang dia takutkan bila pintu itu digedor dari luar.
Satu sudut bibir Marcho terangkat dengan sendirinya, melihat kesibukan Stefanie, yang kini membungkus tisu yang penuh cairannya itu, lalu disembunyikan di dalam lipatan tisu kering. Stef menempatkan di pouch kosong terbuat dari plastik. Kini sang istri sibuk mengelap tangan mungil itu dengan tisu basah, antiseptik, lalu menyemprotkan parfum ke daerah pinggul.
Stef duduk dan bernafas legah, dia melirik Marcho yang menatapnya dengan tatapan sulit diartikan. Mata hijau memutar dengan dengan malas hingga Stef memutuskan naik ke tempat tidur, dan tidur miring menghadap Romeo.
Marcho meraih tisu yang melekat di miliknya. Tisu bekas dibuang ke dalam pouch plastik milik Stef. Dia mengelapkan tisu basah ke miliknya dan tangan, lalu memasukan bekas tisu ke dalam pouch. Hak terakhir yang Marcho lakukan adalah mengembalikan dan menempatkan pouch ke dalam tas sang istri. Pria itu naik ke tempat tidur dan memeluk pinggang Stef hingga menyatu. Tidak ada kata-kata yang mereka ucapkan setelahnya.
Suara mendengkur ringan membuat Stefanie berbalik, pria itu telah tidur tampak kelelahan. Seandainya, kau memelukku seperti ini, bukan hanya untuk kali ini, Mas?
"Itu mereka masuk, cepat keluarkan satenya untuk David dan keluarganya."
Suara Sumarni pada orang lain di luar kamar, membuat jantung Stefanie berdebar. Dia akan membangunkan Marcho, bibirnya tiba-tiba tertutupi bibir Marcho. Sang suami kembali melahap bib1rnya sampai suara batuk-batuk orang diluar menghentikan aksi Marcho.
"Stef .... " Kelopak mata Marcho bergetar lalu terbuka. Dia mengepakkan kelopak mata beberapa kali. "Kamu cantik .... "
Kalimat Marcho terdengar tulus, tetapi Stef tidak mau mempercayai. "Jika aku cantik, mengapa itu tak mampu mengalihkan matamu dari yang tercantik?" Perempuan itu langsung mendapat tatapan tajam. Benar saja, Marcho langsung duduk, dan hati Stef sangat sakit karena ini.
"Mami!" Romeo langsung terlentang dan duduk begitu saja. "Mami, Romeo mimpi buruk."
Marcho yang baru duduk, berbalik menatap Romeo yang akan menangis, tetapi bocil itu langsung terlihat tenang karena sang ibu mendekapnya. Marcho mengamati cara Stefanie menenangkan sambil memberi pengertian.
"Papi peluk Romeo."
Marcho benci pada tatapan memelas putranya, tetapi saat Stefanie menatapnya dengan kebencian, dia akhirnya mendekat dan memeluk Romeo yang berada dalam pangkuan Stef. Tangan Marcho gemetar saat akan memeluk punggung Stef, ditarik-ulur dengan bimbang, akhirnya dia menyerah dan memeluk punggung sang istri. Dimana telapak tangan itu mencengkeram lengan Stef yang ternyata sangat mungil dan lembut.
"Romeo, belum makan tadi siang? Ayo, kita makan?" Marcho belajar untuk perhatian.
"Papi pulang! Romeo tidak mau tidur di sini." Romeo mendongak dan sang papi membantu mami untuk mengusap keringat di wajah mungilnya. "Romeo kalau tidur di sini, mimpi serem. Romeo takut."
"Kita pulang sebentar lagi .... "Marcho tanpa sadar mendaratkan kecupan di rambut Stefanie hingga dia masih terdiam dan bibir itu tak ingin lepas dari sana.
Menelan saliva, Stef menjadi dilanda kebingungan. Suaminya sore ini bersikap diluar nalar sampai detik ini, pasti itu trik Marcho supaya dia bersikap baik pada Anna. Namun, kecupan ini membuat hatinya hampir meleleh.
Tidak Stef! Jangan arahkan hatimu pada Marcho lagi!
"Papi seperti paman. Paman cium tante, Romeo nggak di cium. Sekarang papi cium mami, Romeo juga ga tidak dicium," protes Romeo yang masih sangat mengantuk.
"Memangnya, Paman mencium tante Lena seperti apa?" tanya Marcho dengan alis terangkat satu. Dia melihat putranya yang berusaha berdiri walau sedikit limbung, hingga tangan kekarnya memegangi lengan sang putra.
"Seperti ini." Romeo mengecup kening, lalu pipi mamah. "Seperti itu." Anak kecil itu, lalu memegangi wajah mamah dan menatapnya dalam kebingungan. "Tapi waktu itu, tante habis dicium paman ... langsung senyum. Kok Mami dicium aku, nggak senyum malah sedih!"
Mata Stef membulat, dia tak tahu putranya ternyata tahu dia sedang sedih. Dia membelalakkan mata karena kecupan Marcho di pipi, lalu keningnya. Rahangnya hampir-hampir jatuh ke bumi saking terkejutnya.
"Loh, mami tambah sedih!" Romeo dengan kebingungan. "Papi pasti ciumannya kurang!"
Marcho berpikiran apa dirinya sedang dikerjai oleh putranya. Tadi itu refleks. Namun kini, Marcho memejamkan mata dan membenamkan bibir di pipi sang istri hingga mengusap-usap dengan bibirnya. Seumur-umur baru ini dilakukannya, ternyata tidak membuatnya jijik. Beda sekali dengan apa yang dipikirkannya selama ini.
"Sudah .... " des4h Stef mendorong dada Marcho menjauh. Dia selalu menjaga tampak baik di depan putranya. Namun, kali ini dia berusaha menjaga hatinya, takut salah mengartikan kecupan itu yang hanya ditujukan untuk sang putra.
"Kau tidak lihat putramu ingin aku menciummu sampai kau tersenyum?" tanya Marcho bingung. Giliran mau menyenangkan hati putranya malah menemui jalan sulit.
"Sudah ayo makan, Romeo. Mami lapar." Stef beralasan.
"Romeo tidak mau makan, sampai Mami senyum," protes Romeo. Kini dua tangan mungil melipat di depan dada dan menatap tajam sang papi. Biasanya Papi tak pernah sedekat ini. Sejak tadi siang papi datang mencium mami di bibir, dia menjadi senang, sampai membuatnya mengantuk. Romeo tak pernah sesenang ini. "Papi cium Mami di bibir, pasti mami senyum."
"Ro .... " Kata Stefanie terhenti saat tatapan Marcho itu meredup dan mengecupnya di bibir begitu lama. Detik kian bergeser, nafas Marcho kian meningkat.
"Sesulit ini membuat Mami Stef tersenyum?" bisik Marcho di depan bibir istrinya. Dia mencoba menggelitiki pinggang sang istri, tetapi tak bereaksi. Dia naik ke atas dan menggelitik di belakang telinga Stef tak bereaksi. Jarinya bergeser ke cuping mungil, Stef langsung menyengir dan berusaha menutupi telinga.
"Geli! Marcho!"
"Hahaha!" Romeo tertawa saat maminya tertawa kegelian akibat ulah papi. "Mami seperti tante kegelian." Anak kecil itu memeluk leher papinya. "Berhenti Papi, kasian mami!"
"Papi berhasil buat mamimu tersenyum?" Marcho menatap dalam-dalam ke mata coklat. Anak kecil itu tertawa kecil, bahkan mungkin lupa dengan mimpi buruknya.
Stef mengangkat dua sudut bibirnya. Kebahagiaan Romeo adalah kebahagiaannya. Ini pertama kali Marcho bersikap sedikit luwes lembut pada putranya. Wanita itu duduk di bawah dan bergegas menyisir rambut yang berantakan. Tiba-tiba tangan Marcho merebut sisirnya, dan membantu. Jantung Stef berdebar kencang, dia seperti melambung ke langit ke tujuh dengan kesenangan yang tak terkira, bahkan pria itu mengusap tengkuknya.
"Ini merah, sembunyikan ini."
Sembunyikan dari Anna? Seketika kesenangan Stef berubah, seakan dia dijatuhkan dari ketinggian hingga hatinya remuk tak berbentuk.
Tas YSL itu kemudian dirapikan isinya. Stefanie akan meraih sisir dan duduk menghadap Marcho. Lagi, pria itu memakan bibirnya dengan lembut. Sangat manis. Mengapa aku menyukainya? Mungkin ini ciuman terlama kita, sampai aku hampir kehabisan nafas.
"Tolong aku , Stef .... "
Tatapan Marcho sangat memohon. Ya, dia tahu ini hanya demi Anna. Semua hal manis itu palsu. Stef melirik sang putra yang tersenyum dengan penuh kegembiraan, seakan Romeo begitu senang saat ini. Hanya demi Romeo, aku bertahan. Asal kamu dapat tersenyum, Nak.
⚓
Pengajian berjalan lancar, para tamu sudah membawa pulang besek makanan, setelah sebelumnya mereka makan sate lontong dan soto. Lena dan Ana masuk ke ruang tamu, lalu duduk di sana.
Mendadak punggung Lena terasa dingin, saat pintu kamarnya terbuka dan berderit. Tatapan mata Kak Stef dan Kak Anna bertemu. Namun, Marcho tampak biasa saja dan begitu tenang. Lena meram4s tangan David yang duduk di samping kirinya. Sementara orang-orang bersliweran di sisi lain ruangan, karena rumah ini kecil. Sulit memiliki area privasi kecuali di dalam kamar.
Lena menunduk, tetapi dia tahu situasi kecanggungan ini. Bahkan dia tidak mengerti apa-apa dan menjadi sangat tidak enak pada Kak Stef. Entah Kak Stef marah atau tidak, karena Kak Stef sama sekali tak melihat ke arahnya.
"Rencanamu akan langsung terbang ke Italia kapan, Dav?" tanya Marcho dengan tenang. Sulit sekali mempertemukan situasi ini. Walau Stefanie sudah mengijinkannya dan memberi restu untuk dia menikahi Anna, lalu dia akan masuk Islam, tetapi dia juga tahu perasaan Stef yang terluka.
"Satu bulan setelah urusan surat perijinan selesai, kami akan langsung pindah." David lalu memandang Lena yang masih tampak ragu-ragu. Dia tahu, itu hal berat bagi Lena untuk menetap di Napoli.
Stefanie melirik Anna dan sempat bersitatap. Jangan ditanya perasaannya seperti apa. Dia sudah mati rasa, walau berkali-kali itu hilang timbul tiap sewaktu-waktu. Seperti saat ini, bahkan dia sebetulnya tak memiliki kekuatan saat melihat tatapan lelaki itu pada Anna. Mendadak dia seperti tak bersemangat.
Anna bingung harus bagaimana, Marcho tak memberitahu bahwa di sini ada Stefanie. Meski beberapa kali Marcho menyatakan niatnya, bukanlah hal mudah untuk langsung menerima lamaran Marcho. Dia tidak pernah menginginkan untuk jadi istri kedua, ataupun berniat menyakiti hati Stef. Namun, dia selalu saja lemah terhadap permintaan Marcho.
"Mama, sate!" Romeo langsung tahu itu sate, karena kemarin memakannya.
"Ini sate ayam bumbu kacang ala Indonesia, Sayang," kata Lena pada Romeo saat tetangganya menyuguhkan untuk mereka makan bersama.
"Makan lagi," pinta Marcho dengan serius pada Anna. Dia masih duduk dengan bingung.
"Sudah tadi," lirih Anna dengan tidak enak hati. Apalagi tatapan kepedihan Stef, walau Stef tak memandang kemari tetapi dia merasakannya.
Piring di tangan Stef diambil Marcho dan langsung di santap isinya. Jantung Lena berdebar, tampak Stefanie tak menggerakkan kepala dan masih melihat ke piring Romeo. Mata Lena dan Anna membelalak bersama, karena mereka tidak salah melihat, barusan tetesan air bening yang jatuh dari mata Stef. Lena jadi penasaran karena Stef terus menunduk.
"Saya mau ke toilet."
Anna melihat Stefanie yang mengelap mata dengan cepat walau menunduk, dia melihat Lena yang sepertinya peka juga. Sayangnya David dan marcho seperti tak menyadari itu saat Stef masuk ke dalam kamar sampai cukup lama.
"Anna, makan lagi." Marcho memandang Anna sebentar, lalu menatap dua tusuk sate yang baru di makan dagingnya. Dia tadi lapar, kini menaruh piring karena selera makannya mendadak hilang.
"Iya." Anna langsung mengambil piring sate dan makan untuk ke dua kali hanya untuk memecah suasana yang tidak nyaman.
"Aku ambi ponsel sebentar," kata Marcho sambil berdiri.
"Iya." Jantung Anna berdebar. Stefanie bilang mau ke toilet, tetapi tidak keluar-keluar dari dalam kamar. Kini mereka berdua di dalam, yang dia tahu mungkin tidak baik-baik saja di sana, setelah apa yang tadi dilihatnya.
__ADS_1
"Paman, Romeo minta sate milik Paman." Romeo menunjuk daging berjajar dalam satu baris di dalam tusukan, di piring David. Dia langsung meraih semua tangkai sate yang masih utuh, saat David mendekatkan piring.
"Kenapa milikku diambil semua?" tanya David heran, padahal di depan masih banyak tumpukan sate ayam di tengah mereka.
Lena menahan tawa karena tatapan David padanya, eh piring Lena justru diserobot David, dan langsung dimakan isinya. "Mas, itu punya ku."
"Paman lupa dengan bisnis kita?" Romeo mengingatkan dengan mulut belepotan bumbu kacang.
"Bisnis?"
"Kalau Tante Lena kasih sesuatu ke paman, lalu paman akan berikan itu pada Romeo. Paman janji saat di rumah Kakek di Qatar, di pantai. Ya, kan, Tante Lena?"
"Oh, itu janji permen coklat, ya?" Lena terperangah, dia mendapat tatapan protes David.
"Bukannya itu cuma permen coklat?" David melengkungkan alis dengan bingung. "Ini kan, sate!"
"Kan, Romeo yang memiliki bisnis, Paman. Sekarang peraturannya berubah, bukan hanya coklat tetapi juga sate. Romeo suka sate Indonesia, Paman." Romeo dengan tatapan galak, yang membuat Anna dan Lena saling tatap lalu tertawa geli karena ekspresi Romeo yang menggemaskan dan David yang tidak terima.
"Mas, kamu yang sudah dewasa mengalah dong," bisik Lena di telinga David.
Anna yang melihat mereka bahagia, jadi terpikirkan ingin pulang. Dia menyesal mau menyusul kemari, setelah sayang dengan tiket yang sudah terbeli. Karena Marcho telah memesan tiket penerbangan dan hotel, atas namanya. Katanya untuk sekalian berlibur di Pantai Kuta.
⚓
Di dalam kamar, Marcho duduk berlutut di depan Stef yang duduk di pinggir tempat tidur dan tak mau melihatnya.
"Stef ... "
"Aku tidak apa-apa, keluarlah. Anna menunggumu." Stefanie bersyukur karena dia tak menangis di depan Marcho. Hanya saja dia muak melihat Marcho, apalagi dua tangan kekar itu memegangi pipinya.
"Kita pulang ke hotel, ya? Kasian Romeo di sini. Bising pasti sampai malam."
"Mamah memintaku mengecek persiapan di sini."
"Ini tidak nyaman untuk kamu? Tatap aku Stef."
"Sejak kapan kamu peduli dengan kenyamananku?"
"Stef, lihat aku, please. Romeo tidak akan tidur nyenyak di sini."
"Kalau begitu kamu bawa putramu, bersamamu, di hotel."
"Dia tidak bisa tidur tanpamu, kan? Besok pagi aku akan mengantarmu ke mari. Sekarang ayo, kita keluar sebentar menunggu Romeo menghabiskan makan, lalu kita pulang."
"Aku pulang ke tempat David."
"Tidak, itu rumah adikku. Kita tidur di hotel."
"Kita? tidak salah dengar ya aku? Untuk apa kita di hotel. Untuk kau tinggalkan aku seperti biasa? Lebih baik aku di rumah adik mu tidur dengan Bianca atau di sini. Aku sudah muak dengan sikapmu yang mau menang sendiri, Mas. Aku sudah setuju kau berdua dengan Anna, Sanaaaa. Tak usah mengajak-ngajaku, egois!" cebik Stef dengan nafas pendek dan sering. Tenggorokannya seperti disumpal dengan batu kerikil yang banyak, begitu sesak dan sakit, hanya sekadar untuk berbicara dan bernafas.
"Aku tidak akan pergi tanpamu, please." Marcho akhirnya mendapati mata hijau itu mau melihat kearahnya. Tatapan itu seperti mata tombak yang begitu tajam dan menusuk jantungnya. "Mau,ya?"
"Aku mau pulang sekarang, ini begitu sesak buat aku. Kalau mau bersenang-senang, kamu sendiri saja. Jangan memaksaku untuk melihat kemesraanmu padanya dan membuatku semakin terlihat bodoh didepan semua orang. Aku malu, Marcho. Aku tak punya muka di depan mereka."
"Ayo, kita pulang." Marcho menarik tas YSL hijau dan tangan Stef, menunggu wanita itu berdiri. "Sembunyikan kemarahanmu. Mereka tidak boleh menilaimu lemah."
Pintu kamar Lena terbuka. David, Lena dan Anna melihat dua wajah itu tersenyum dengan Marcho membawa tas Stefanie.
David mengernyitkan kening, sejak kapan kakaknya menggenggam tangan kakak ipar. Apa hubungan mereka ada perkembangan?
Benar kan bukan karena ke toilet. Syukurlah, sepertinya Marcho bisa membujuk Stef. (Anna)
"Pulang, Yuk?" ajak Marcho sambil membungkuk dan tampak putranya langsung berdiri dengan tangan dan mulut masih belepotan. Tubuh mungil itu langsung digendong. "Sudah malam."
"Di sini banyak sate, Papi. Romeo suka sate, Papi."
"Tadi katanya mau pulang. Nanti kesini lagi, yah?" Marcho heran sendiri kenapa suaranya jadi lembut. Dia menatap Anna dengan tidak enak hati. "Ayo, kita pulang." Marcho menunggu Anna berdiri.
Lena yang berdiri lebih dulu, lalu megambil bungkusan sate yang masih terbungkus. "Kak Stef, tadi kak Stef belum makan. Bawa ini, ya?"
"Tidak usah, Lena, itu untuk tamu." Stef bingung karena bungkusan itu lalu dibawa David dan diberikan ke supirnya Marcho. Sepanjang menuju ke mobil, warga lokal memandangi bule yang cantik dan tampan dengan mata berbinar.
Stef masih termangu menatap kemeja putih bermotif horisontal itu jadi ternodai oleh tangan mungil Romeo. Biasanya Marcho akan langsung marah bila itu terkotori.
Pintu belakang sisi kanan dibuka oleh sopir. Marcho menoleh ke kiri. "Anna masuk."
Marcho berjalan ke sisi kiri dan membuka pintu sisi kiri untuk Stefanie, ketika Anna sudah masuk ke dalam mobil. Dia menunggu Stef yang tampak ragu-ragu.
"Aku pulang dulu, besok pagi aku kesini, Len." Stefanie dengan wajah dan suara datar, seperti biasa, yang terlihat tidak lemah. Si4l aku tidak suka tatapan kasihan Lena.
"Hati-hati di jalan, kak. Tak usah khawatir."
Stef menatap Marcho. Ya ampun! jika tidak ada Lena. Aku akan memilih jalan kaki, daripada harus duduk berdampingan. Namun lagi-lagi Stef tidak mau lemah. Dia masuk ke dalam dengan menahan nafas dan duduk mendekat ke Anna.
"Papi, itu Tante siapa? Kenapa ikut mobil kita?" tanya Romeo. Dia senang karena pertama kali dipangku papi. Anak kecil itu melihat sopir yang mulai menjalankan mobil.
Suasana di dalam mobil mencekam, tetapi tidak ada jawaban dari Marcho. Begitu tiba di hotel, sebetulnya Stef tidak mau turun begitu melihat Anna sudah turun duluan dan berjalan lebih dulu ke lobi seperti menghindarinya. "Dia di sini, Mas? Aku pulang saja."
"Aku bilang, aku akan menemani mu." Marcho menunggu si bocil keluar lebih dulu. Sesampai di kamar, Stefanie akan memandikan Romeo.
"Mami, aku malu! Romeo mau belajar mandi sendiri." Romeo tak mau melepas bajunya.
"Kenapa?" tanya Marcho. Putranya terlalu banyak berulah.
"Mandi sama papi mau?" tanya Stef bingung dan putranya mengangguk.
"Sudah cepat, sini." Marcho memegangi kepala seperti cengkir kelapa itu dan menggerakkannya ke depan. Tampak Romeo menutup pintu kamar mandi dan menguncinya.
"Kenapa di kunci?" tanya Marcho sambil melepaskan pakaian luarnya dan meninggalkan celana inti.
"Malu sama Mami."
"Malu? Dia kan mamimu?" Marcho gamam karena putranya kesulitan membuka baju. Dia menariknya baju mungil dengan mudah dari dua tangan mungil. "Memang kamu biasanya mandi dengan siapa?"
"Dengan Mami." Celana panjang itu kesulitan dibuka. Dia melorotkan tetapi enggak mau turun. Sang papi menarik pinggangnya hingga mendekat di depan papi.
"Kamu harus melepas kancingnya, seperti ini, boy. Sekarang coba lepaskan. Bisa kan?" Marcho mendapati putranya tertawa karena celana itu melorot hingga melewati p4n*t4t mungil.
"Kok, dinaikin lagi, Papi?"
"Sekarang kamu buka kancingnya sendiri." Marcho melirik Romeo yang begitu kesulitan mengeluarkan kancing dari lubang. Marcho mengguyur bathup membilas, lalu membuang air bilasan. Penutup pembuangan lalu ditutup, dan mulai diisi air hangat.
"Hore, Papi! aku bisa!"
"Pintar Boy, itu baru anak, Papi." Marcho mengangkat dua sudut bibir dan terdiam sesaat. Namun, dia gerak cepat karena putranya yang berusia lima tahun itu melayang ke belakang. Dia refleks menangkap kepala putranya yang akan membentur lantai.
"Boy, jangan loncat-loncat!"
"Kenapa! Ada apa kamu teriak-teriak Papi!" Stefanie menggerakkan handle pintu yang terus diputar karena tidak mau terbuka. Dia khawatir karena teriakan Marcho. "Romeo!"
"Tidak apa-apa!" teriak Marcho lagi, tetapi tak mampu menenangkan Stefanie. Sang ibu terus mondar-mandir di depan pintu.
Romeo baru diangkat sang papi ke bathup. "Papi, Romeo mau pipis dulu." Dia diangkat lagi oleh sang papi, lalu diturunkan di kamar bilas. "Aku bisa sendiri, Papi. Papi pergi, aku malu."
__ADS_1
"Kamu bisa membersihkan sendiri?" Marcho berdiri di luar menunggu. Putranya bahkan malu, dan tidak mau melepas celana inti. Apa anak usia segitu sudah memiliki rasa malu? "Katakan caramu membersihkannya?"
"Begini, Papi!" Romeo menyalakan kran yang tingginya sama dengan kepala Romeo. Itu air dingin dan Romeo mengguyur dari ujung kepala dan menciprat-cipratkan air ke arah papi.
"Papi tanya gimana cara mu membersihkan setelah pipis, Sayang?" Lelaki dewasa itu diuji kesabaran. Dia tak pernah berurusan dengan anak kecil, ini hampir membuat kepalanya terasa mendidih.
Stefanie yang menunggu setengah jam, akhirnya sang putra keluar dengan dililit handuk di bagian pinggang. Rahang Stefanie seperti akan jatuh saat Marcho juga seperti itu, terlilit handuk dan menampakkan keindahan bentuk tubuh sang suami.
"Jangan melongo, kamu bisa kemasukan lalat terbang. Ambilkan baju di lema ... " Marcho balik melongo karena tak biasanya Stef mempersiapkan pakaiannya. "Terimakasih."
"Mami, aku mau pakai baju sendiri. Aku mau handukkan sendiri. Mami, jangan lihat Romeo."
"Iya-iya. Memang kamu bisa pakai baju sendiri?" Stefanie masuk ke dalam kamar mandi. Dia dibuat bingung pada sikap Marcho. Kini air rendaman sudah dibuang. Biasanya pria itu cuek-cuek, dan menganggapnya seperti pembantu. Stefanie keluar untuk mengambil pakaian. Tampak anak dan bapak sudah memakai celana inti. Mata Stef terpesona pada tubuh sang suami. akhirnya dia kebagian berkah untuk melihat keindahan ini. Punggung kekar, ingin sekali dia menyentuhnya.
"Ekhem!" Marcho berdeham karena merasa diamati sang istri.
"Uhuk!uhuk!uhuk!" Romeo berusaha menirukan suara papah, tetapi tenggorokannya jadi gatal.
"Kamu batuk?" tanya Marcho bingung.
"Aku ikut Papi. Apa pakai celana harus pakai Uhuk! Uhuk! Uhuk!?"
Stefanie tertawa keras sampai membuat dirinya dipandangi oleh sang anak dan suaminya.
"Mami kok nggak mandi-mandi .... "
"Iya, ini mami mau mandi. " Stefanie berjalan melewati Marcho dan memilih baju di dalam tasnya. Dia melirik sang putra yang terus mengikuti papinya. Marcho memakai celana, Romeo juga memakai celana. Seandainya dia bisa mengabadikan. Dia langsung gercep mengambil hp dan memotret dan sedikit merekam video dengan diam-diam. Cukup.
Sekembalinya Stefanie dari kamar mandi. Dia melirik ponsel miliknya digenggaman tangan kekar. Dia mendekat ke Marcho yang duduk di kepala tempat tidur. Sementara Romeo sedang makan sate dengan duduk di karpet, sembari melihat kartun. Stefanie yang belum sisiran langsung menyerobot ponsel, tetapi tangannya ditangkap Marcho. Tubuh mungil itupun melayang dan mendarat di tempat tidur dengan wajah pria itu terbenam di dadanya.
"Kenapa kau merekamku?" Marcho membuang ponsel milik Stefanie jauh-jauh dan makin terbenam di dada menonj0l istrinya yang bau harum.
"Kamu yang jangan bersikap manis. Atau salah mengartikannya." Stef melirik ponselnya yang diujung tempat tidur.
Hampir satu jam Stefanie terjebak dalam jeratan tangan Marcho. Ternyata suaminya lagi-lagi tidur. Stef melepas tangan kekar itu, walau dia senang, tetapi dia tak mau terlalu berharap.
Sampai jam 11 malam. Stef masih memandangi ponselnya, tingkah di video bapak-anak ini mampu melipur hatinya. Stef bangkit membuat susu botol, lalu menidurkan sang putra yang mulai mengantuk sembari ng3mp3ng.
Stefanie tak terasa ikut tertidur. Jantungnya berdegup kencang saat membuka mata, kamar sudah redup, dan rem4san kuat di dada mengagetkanya. Dia baru sadar pengait B**Ranya telah terlepas.
Marcho tidak pergi malam ini?
Badannya berusaha terlent4ng. Dia merasakan hembusan nafas panas dari hidung Marcho di pipinya.
"Stef .... " bisik Marcho di telinga berbau vanila. Marcho menjamah kewanitaan istri, tetapi dihalangi tangan mungil itu. "Akhirnya kau bangun."
"Aku mau tidur," lirih Stef bergidik. Dia kembali memunggungi suaminya. "Kalau kau mau pergi, pergi saja. Aku tak keberatan." Dia merasakan tangan nakal itu menelusup ke dalam celana piyama di pinggang bagian belakang. Sontak Stef menarik tangan kuat itu dan Stef kembali terlent4ng. Dia memegangi tangan kiri Marcho dengan begitu kuat di atas perut, lalu dia merasakan kekekehan suaminya yang pelan di telinga, dan makin membuatnya geli.
"Stef, aku menginginkannya lagi," bisik Marcho. Dia menduselkan hidungnya dengan napas panas, menyerbu ke telinga yang kegelian. "Kamu tidak ingin Romeo memiliki teman main?"
"Setelah yang kamu lakukan tadi sore, kamu pikir aku akan menginginkan untuk hamil lagi? Tidak lagi. Kau juga tak pernah mau melihat bayiku."
"Bayi kita- Saaayang. Biar kali ini aku mengurus sepenuhnya?"
"Omong kosong. Kau baru menyentuh Romeo saat dia berusia satu tahun dan itu saat ulangtahunnya, itu pun karena perintah Kakek. Kau tidak tahu, bagaimana paman-bibimu mengucilkanku karena ulahmu?"
"Akan kutebus semua itu. Mari balas perlakuan paman-bibi padamu? Biar Romeo jadi cicit kesayangan kakek, kamu mau? kita perlu anak perempuan agar kakek-"
"Jadi, itu, kamu sekarang menjadikanku seperti mesin ternak?"
"Stop Stef, jangan terus berdebat dengan suamimu-"
"Lalu apa, kau mau pergi? Pergi saja sana, tak usah sok bersikap manis. Aku sudah membencimu. Aku lelah. Kalau perlu kita lakukan perceraian itu besok. Ternyata aku yakin, aku tak mampu menghadapi pernikahan gila ini-" Stefanie membelalakkan mata, dia menggigit bibir Marcho yang berusaha menciumnya. Stef lebih terkejut karena 'Kegagahan' suaminya sudah dalam mode on.
" Apa kau memaksaku untuk memperk0sa istriku sendiri, Stef-"
"Kau bilang istri? Kalau aku istrimu, kau takkan menikah lagi. Kau suami b4jing4n! Pergilah dariku. Pergilah dengan Annamu, bukankah kau tidur dengannya di hotel ini?" cebik Stefanie dengan geram dan suara parau.
"Aku tidak pernah tidur dengan siapapun, kecuali kamu, kau mengerti?" Marcho terpaksa berbohong. Dia tak mungkin cerita bahwa dia pernah tidur dengan mantan tunangan David, Shinta.
"Apa aku percaya? matamu penuh kebohongan."
"Kalau kau bisa mengetahui kebohongan, apa kau tak bisa mengetahui bahwa aku menginginkanmu," lalu suara Marcho berubah lembut, "dan bukan Anna."
Tenggorokan Stefanie begitu panas. Dia merasakan kegagahan suaminya yang terus berkedut sedang menekannya. Pikirannya berkecamuk. "Aku lelah hidup seperti ini, Marcho," Isak Stef dengan suara nyaris tak keluar. Dia merasakan tekanan suaminya mulai berkurang dan perlahan mengendur. Kepala Marcho terjatuh di atas dadanya. Tiada suara lagi sepanjang malam itu ....
Perasaan kalut Stef membuat perempuan itu tertidur dan saat bangun, kamar telah kosong. Stef akan mengambil ponselnya. Matanya tertuju pada lilin besar putih berdiameter 8 sentian yang menyala, yang kini tingginya tinggal 15 sentian.
Sebuah kertas dibacanya.
...Untuk istri tercantikku,...
...Aku membuatkanmu sarapan. Walau itu perdana, kupikir rasanya tidak terlalu buruk. Lain kali akan kubuat yang lebih enak....
...Bunga mawar ini pun meski satu, dan aku memetiknya di hotel. Tapi ini tulus kupetik. Lain kali aku akan belajar berkebun, agar aku bisa memetik bunga mawar dari hasil kebunku sendiri....
...Jagoanku, ku bawa ke pantai Kuta. Aku menyayangimu, Stefanie Allegra....
...Dari : Suamimu yang bodoh tapi tampan....
Stefanie kesal sekaligus senang. Dia memeluk kertas ke dalam pelukkannya. "Kamu memang bodoh dan menyebalkan!" Stef mengelap air mata yang baru jatuh kepipinya dan kembali tersenyum dan tertawa tak tahu perasaannya campur aduk. Itu seperti pernyataan cinta Marcho yang kedua. Setelah pertama dia termakan bujuk rayu Marcho waktu kuliah.
Stefani memakan sandwich buatan suaminya yang berisi telur ceplok, walau itu sedikit keasinan, ini lebih enak menurutnya dari makanan apapun di dunia.
Saat Stefanie keluar dari hotel dan di lobby dia dicegat Anna. Seketika perasaan bahagianya mulai berangsur menyusut. "Saya pikir Anda bersama Marcho."
"Bolehkah, kita berbicara sebentar?"
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Stefanie setelah pelayan mengantar dia kopi, dan susu dengan cangkir terpisah di atas meja. "10 menit saja, saya sedang ada perlu."
"Saya akan mundur dan melepaskan cinta kami. Bukan aku yang mengganggumu. Tapi, kamu yang masuk ke dalam hubungan rumit kami. Namun, daripada aku membuat Marcho bingung .... Tolong bahagiakan dia. Hanya itu. Sudah. Saya sudah selesai berbicara."
"Apakah kamu mau meninggalkan dia begitu saja? Atau niatmu hanya untuk mengganggu, ketenangan rumah tangga kami?" Stefanie berbicara pelan tanpa tersulut emosi. Diapun sengaja memilih duduk paling jauh dari keramaian.
"Kurasa, kita sama-sama mencintai Marcho. Bukannya kita tak perlu munafik, bahwa kita tidak ingin berbagi?"
"Kamu mau membuat Marcho jadi menyalahkan aku? Atas kepergianmu? Tidak cukup ya, membuatku menderita selama enam tahun ini, karena cinta Marcho kepadamu?"
"Kalau begitu Anda hanya perlu membuatnya jatuh cinta hanya kepada Anda. Apa anda tak mampu?" Anna dengan serius. Dia menantang Stef, bukan lain agar Stef memudahkan keinginannya.
"Jika kau memang mencintai Marcho. Tidak mau melihat dia terpuruk atau sedih. Marilah bersaing secara sehat. Aku tak keberatan jika kamu menjadi istri Marcho. Hanya denganmu itu jauh lebih baik daripada Marcho harus keluyuran ke Bar tiap malam."
Anna tersenyum getir. "Anda bisa. Saya tidak bisa."
"Tolong, jangan pergi dari suamiku. Haruskah aku mencium kakimu?" Stef dengan suara lembut. Entah mengapa dia lebih takut pada apa yang terjadi pada Marcho.
"Maaf." Anna tersenyum lepas. Tangannya merogoh ke saku celana dan mematikan bolpoin yang adalah penyadap suara.
Di tempat lain, di pantai Kuta, Marcho meraup wajahnya masih tercengang. Dia melihat layar ponsel yang menampilkan panggilan telepon dari Anna. Dia tidak tahu apa .... tetapi Anna menemui Stef dan berbicara seperti tadi.
Kenapa kau melakukan ini padaku, Anna! aku sudah berjuang sejauh ini! Kau mau meninggalkan ku begitu saja! Dan seperti ini caramu membalas usahaku?
...----------------...
__ADS_1
...****************...