
Emma masuk ke dalam kamar, melewati David yang juga ikut masuk. "Kamu tidak lihat dia sedang seperti itu, Len? Kamu malah menangis, tidak berpikir kah kau bisa membuat dia sedih. Kalau mau menangis jangan di sini!"
David tidak mengerti kenapa seorang Emma bisa berbicara seperti itu pada istrinya. Padahal, sudah tahu kondisi Lena.
"Kamu siapanya Niko? Aku istrinya!" Lena mendorong wanita di sampingnya agar menjauh dari Niko, membuat Emma mengangkat kedua tangan dan menepis dengan kesal.
Tangan Emma terkepal, tangan lain menahan kepalan tangan David. Dua orang itu cemberut dengan bibir manyun, tidak suka melihat apa yang di lakukan Lena pada Niko, walau mereka tahu mungkin Lena tak sadar melakukan itu.
Emma berkedip bingung melihat jari Niko bergerak atau itu tangan Lena yang bergerak. Perlahan, diamati, jempol pria itu memang menekan Lena!
"Niko .... " Lena mengecupi punggung tangan itu dengan perasaan gembira, tetapi sebagian hatinya ada yang mengganjal. "Aku di sini .... Bangun, ayo kita pulang, membuat bintang .... bersama Pecco."
David yang sudah berwajah merah padam langsung mengernyitkan kening. Siapa itu Pecco. David terkesiap melihat kelopak mata Niko yang bergetar, dan sebutir air mata keluar dari mata yang terpejam itu. Lebih mendekat dan berdiri di samping Lena, yang masih seperti tak menyadari, karena masih menciumi tangan Niko dengan pandangan kosong.
"Aku hancur, Len, " batin David. Diraih tangan sang istri dengan paksa.
"Jangan pisahkan kami .... " rintih Lena sambil menggelengkan kepala tanpa menoleh ke David. "Aku mau menunggui suamiku.
"Kakak ..... " Emma memutari ranjang pasien, tersenyum pada pandangan Niko yang sayu. Dia cemberut begitu Niko melirik ke arah Lena.
"Aku tahu Kakak akan baik-baik saja." Emma menyibak rambut Niko memberi kekuatan, padahal melihat mulut Niko terpasang ventilator membuat dia sendiri merasa tak berdaya.
"Suamiku ...." Menggeser tubuh David, Lena berdiri di depan David untuk mendapat perhatian dar Niko yang baru melihatnya.
Otak begitu lemah untuk berpikir, Niko melihat ada Lena .... Siapa yang dipanggil suami oleh Lena? Bibirnya akan berbicara tetapi tenggorokan itu terasa dicucuk sesuatu besar. Niko ingin mengeluarkan benda dari mulut dan tenggorokannya, tetapi saat menggerakkan tangan, dia terjebak dan dua tangannya seperti terikat pada ranjang.
Niko berusaha menggerakkan tubuh yang lemah, tetapi itu tak berhasil dan nafasnya kian terasa sakit saat dia mengambil udara semakin banyak.
"Kak, tenanglah. Kakak jangan berbicara, di mulut Kaka ada ventilator agar kakak tetap bernapas, jangan dilawan, Kakak akan sakit kalau gitu," bisik Emma ke telinga Niko.
Lena menyingkirkan tangan wanita itu yang berani memegangi kening Niko, namun karena David menariknya menjauh, dia jadi tak bisa memegangi Niko.
Niko melirik lelaki di belakang Lena, tahu itu David yang posesif menahan Lena yang terus memberontak. Kemudian, dirinya tak dapat merasakan apa-apa lagi setelah melihat orang berseragam medis masuk ke dalam dan entah melakukan apa padanya. Lalu Niko kembali bermimpi panjang, meski mendengar suara keributan tentang Lena yang tak mau pergi, tetapi seolah dipaksa Emma dan David untuk meninggalkan tempat ini.
.
.
Ketika Niko terjaga lagi, dia batuk, mengeluarkan cairan dari mulut, membuat dia makin tak bisa bernapas. Rasanya, seperti malaikat maut sedang menggodanya. Dia melihat Emma di sana yang lalu mengelap mulutnya dengan handuk dan terus berbicara, tetapi dia masih tidak bisa mencerna. Merasakan tubuhnya sendiri sudah sangat payah.
Hari berganti hari sampai Niko mulai terbiasa dengan sesuatu di mulut dan bisa mencerna apa yang di katakan Emma.
"Aku sedang mencari kedua orang tua Kakak. Lokasinya sudah di dapat, dan aku akan membawakan mereka untuk Kakak," kata Emma dengan tulus dan penuh semangat.
Mata Niko melebar, saat kemudian Emma mengecupi pipi kanannya. Dia mencoba menggelengkan kepala, mata berkedip-kedip, Emma tidak boleh memasuki arena bahaya. Namun, dia tak bisa berbicara dan hanya bisa menitihkan air mata.
"Aku tak sendiri, jangan pikirkan. Anggap itu adalah bentuk permintaan maafku, ya." Emma mengusap pipi yang basah itu. "Kakak, harus cepat sembuh."
"Anghh-anggh."
"Kakak, mau menulis?" Emma mengambil kertas dan menaruh di bawah tangan Niko setelah memegang pena, tetapi tangan pria itu seperti belum kuat memegang.
Niko menitihkan air mata, marah pada kondisi tubuhnya yang tak mau di ajak kompromi. Dokter datang dan justru menyuntikan sesuatu, yang perlahan membuat dia tak bisa menahan kantuk. Pada akhirnya, saat dia terjaga, sudah tak mendapati Emma di sana.
Lelaki itu berusaha meronta, tetapi justru membuat cairan keluar dari mulutnya dan membuat susah bernapas. Bunyi alarm terdengar seolah pertanda dirinya tidak dalam keadaan baik. Niko menekan tombol panggilan, saat perawat sudah berlari ke arahnya dan menenangkannya.
Ketika lelaki itu kembali menunggu Emma, Sean datang membawa bunga matahari dan ditaruh di vas. Sahabatnya itu menatapnya dengan tatapan dingin, ini pertama kali dia melihat Sean pasca siuman. Jari telunjuk Niko terus bergerak. Persetan dengan dirinya yang tak bisa berbicara.
"Apa?" Sean mengelus dagu karena Niko berusaha menggerakkan badan dan berkedip-kedip. "Kau akan mempunyai banyak waktu untuk nanti berbicara denganku. Simpan saja semua itu, dan fokus pada pemulihanmu. Kamu harus mempertanggungjawabkan semua ini."
Perawat masuk karena mendapat panggilan dari tombol. Dia tahu pasien mencoba berkomunikasi. Diambilnya kertas dan di taruh di tangan pasien. Pria itu menulis nama Emma dengan tidak beraturan.
"Kenapa dengan Emma?" Sean menghela napas kasar. Masih cemburu karena Emma jadi menjauh karena Niko sakit. Dia ingin Niko cepat sembuh agar Emma tak mempedulikan Niko lagi. Tulisan berikutnya, walau tak jelas adalah kata "Help'.
"Apa maksudmu .... Emma butuh bantuan?" tanya Sean.
"Tuan, jika pasien berkedip satu kali itu artinya 'Iya'. Sedangkan jika berkedip dua kali, itu artinya 'Tidak'," kata perawat pada si pengunjung.
"Ah, menyusahkan saja. Kau mau bilang apa?" Sean menggaruk kepalanya pusing. Dia pusing dengan sikap Emma yang belakangan aneh.
Niko berusaha menulis dengan jelas. Vivere Pericoloso. Dalam bahasa Italia artinya : hidup menyerempet bahaya.
"Emma dalam bahaya?" Sean mendapati mata Niko berkedip cuma sekali, yang artinya iya.
.
.
Sean masih tidak mengerti apa yang dikatakan sahabatnya dengan kata bahaya pada Emma. Dia melihat buket bunga tulip di pangkuan, sepertinya dia terlalu curiga pada Emma sampai wanita itu jadi tidak nyaman dan menjauhinya.
Taxi baru akan berhenti di butik, kemudian melihat mobil Emma keluar dari parkiran. Sean menyuruh supir taksi mengikuti Emma.
Mobil itu berhenti di sebuah rumah. Sean mengikuti rumah yang tidak ada security, dia membuka gerendel, lewat pintu besi dan mencari Emma.
Ketika mendapati Emma dan teman-temannya, dikelilingi pria. Emma yang memakai sepatu seakan penuh waspada, Sean keluar dari persembunyian. Dia melongo pada teknik muanthai yang baru dipake Emma saat menghajar mereka.
__ADS_1
Sayangnya, mereka menggunakan senjata api, hingga Emma dan teman-temannya kembali tak bisa berkutik. Sean berteriak menghentikan aksi mereka.
Sungguh terkejut, Sean mendapati dirinya tertangkap dari arah belakang. Dia dan Emma lalu dibawa ke dalam rumah itu, duduk diikat dengan mulut di isolasi.
Pintu terbuka saat berikutnya, muncul di depan mereka Paman Ketiga, yang di cari semua orang. Paman ketiga tanpa ba-bi-bu langsung menggampar pipi wanita itu.
"Eggghh!"Emma menggeram kesakitan, dia bertekad takkan lemah asal dia bisa membawa pulang orang tua Niko.
Sean berusaha melepaskan diri, nyatanya dia mendapatkan gamparan yang sama. Paman Ketiga mengumpat ke Emma yang coba ikut campur dalam urusannya.
"Apa yang kau cari? Kedua orang tua pacarmu?" geram Josh dengan mencengkeram dagu wanita yang mendelik tidak suka.
"Pacar?" Tanya Sean dalam hati dan melirik Emma.
Paman Ketiga menatap nyalang mata Sean. "Kau, kakaknya Lena, mencoba ikut campur? Namun, aku tak bisa membunuhmu sayang, kau dan Lena masih bisa ku andalkan untuk tujuanku." Josh memerlukan itu untuk mengendalikan Niko.
"Tapi aku tak butuh gadis nakal ini." Josh semakin mencengkram dagu Emma. Dia melirik anak buahnya, yang membawa akuarium kaca berisi bulu babi.
Sean mendongak, tangan robotiknya itu mencoba memotong tali tanpa sepengetahuan mereka. Dia sudah menekan tombol sos sejak dirinya ditangkap, tapi sepertinya, itu mungkin belum dibaca Axel atau David, buktinya David tak kunjung datang.
"Mari kita bermain cucu Banchero. Lama sudah, saya ingin melihat kamu menangis kesakitan. Ku rasa mendiang Goerge akan senang. Apa kamu dan Niko, yang selama ini menghancurkan rencana George. Demi apa? Oh demi pria Asia yang kini terbaring cacat di rumah sakit?"
Sean tidak terlalu paham apa yang diucapkan Paman Ketiga. Rencana George? Seberapa dekat Emma selama ini dekat dengan Niko? Apa selama ini Emma tahu keberadaan Niko, lalu menyembunyikan?
Emma menggelengkan kepala saat kakinya akan dipaksa masuk akuarium, dan dipaksa menginjak bulu babi. Emma terkejut dalam gerakan cepat Sean menendang kepala Paman Ketiga. Lelaki tua itu jatuh terhuyung, membentur akuarium.
Sekejap kaki Emma seketika seperti tersengat listrik. Dia melihat kaki kiri di sekitar bulu babi akibat akuarium pecah.
Geraman tertahan menyakitkan, seluruh tubuh Emma bergetar, sakitnya sampai ke ketiak ke jantung dan Sean fokus menarik bulu-bulu kaki itu dari telapak kaki Emma. Seluruh tubuh Emma semakin bergetar dengan air mata berjatuhan dan Sean terjatuh setelah mendapat benturan benda tumpul di belakang belakang kepala.
.
David dan Paolo masuk ke dalam rumah besar yang belum tahu milik siapa, lalu berpencar. David berpapasan dengan paman ketiga yang berpakaian basah dan tengah dilepas.
"Paman?"
"David!" Paman Ketiga syok. Tanpa pikir panjang dia menggerakkan tangan agar anak buahnya menyerang dan berikutnya terdengar tembakan beruntun, yang membuat semua orang kalang kabut karena melihat kilatan cahaya.
Paman Ketiga yang berlari ke pinggir, terjatuh karena kakinya seperti ditepuk dengan keras. Dia melirik celananya terdapat noda cetak lebih gelap dan basah. cairan merah amis menetes di lantai dan dia jatuh tak memiliki tenaga untuk berdiri. Saat mendongak, Paman Ketiga mendapati Paolo. Tidak hanya itu, tetapi di belakang diikuti polisi yang baru saja mengacungkan senjata ke udara dan melepaskan tembakan berulangkali. Anak buahnya kabur tapi tertangkap oleh polisi dan anak buah David.
.
Paolo masuk ke dalam dan mendapati Emma dalam keadaan terikat dan bergetar kesakitan seperti orang menghadapi sakaratul maut. Sementara, Sean terikat dalam keadaan tak sadar.
Petugas polisi dan medis yang baru masuk, membantu Paolo menangani Emma.
Paolo melongo pada Emma yang masih sempat-sempatnya mengatakan itu di sela kesakitan sendiri. Dia bergegas keluar dari ruangan dan berunding dengan David dan petugas polisi.
.
.
Ketika Sean terbangun, dia keluar dari rumah sakit, dan menanyakan keberadaan Emma. Dia tersentak begitu memasuki ruang perawatan, melihat Emma di kelilingi ayah dan ibu dari Niko. "Eh?"
"Sean ..... " sapa ayah Niko. Dia menyambut salaman Sean di punggung tangannya.
"Bapak dan Ibu kok bisa di sini?" Tanya Sean setelah mencium tangan ibu Niko.
Mereka duduk di sofa di samping ranjang Emma. Lalu orang tuan Niko menceritakan. Bahwa awalnya mereka dibawa orang karena mereka bilang Niko sakit, lalu berbulan-bulan mereka di bawa ke sebuah rumah yang di dalamnya semua bule, dan satu bulan terakhir mereka di pindahkan ke rumah yang terakhir dan mulai di sekap.
Sean mengangguk, dia berdiri dan duduk di kursi samping Emma. Menatap wanita itu yang menghindari pandangannya. "Apa aku banyak berbuat salah sampai kamu marah?"
"Tidak, Kakak tidak salah sama sekali," kata Emma sambil menatap Sean dengan wajah datar.
"Apa maksud Tuan Josh, dia bilang kamu menolong orang tua pacarmu? Pacar?"
"Itu adalah perkataan asal Paman Josh." Emma menjelaskan dengan mantab.
"Tapi bisa-bisanya kamu ke sana sendiri, kalau tadi ada apa-apa gimana?"
"Aku tidak apa-apa." Emma meringis malu. "Kupikir aku bisa melawan mereka karena ku kira mereka hanya penjahat kelas teri." Emma menegang akibat sentuhan Sean di keningnya.
"Ah, aku ingin duduk." Emma menarik tangan Sean dari kening, dan berusaha duduk. Mengapa tangan Sean menjadi membuatnya tak nyaman saat hinggap di tubuhnya. Dia menepis halus dari tangan Sean yang berusaha membantunya duduk.
Sean masih terbengong, apa dia membuat Emma risih. Dia kembali duduk di depan orang tua Niko dan menawari untuk menjenguk Niko yang sakit. Saat ini Sean memilih tidak menceritakan perbuatan jahat Niko. Bahkan orang tua Niko bingung melihat ada sepuluh orang berpakaian polisi menjaga ruangan yang ditempati Niko.
Niko yang perlahan terjaga dari tidur, bingung karena sentuhan familiar dan tangisan di depan wajahnya. Dia membuka mata dan butuh 20 detik untuk terus mencerna siapa yang di depannya. Sepuluh detik selanjutnya dia beruraian air mata mendapat ciuman dari ibu.
Entah hatinya mengkerut maksimal, bertanya-tanya apa orang tuanya sudah tahu perbuatan jahatnya, walau polisi juga belum tahu soal dirinya yang membunuh George. Kedatangan orang tua itu membuat dia bimbang, mungkin dia tidak perlu mengakui perbuatannya.
Niko terkejut melihat Emma di atas kursi roda yang di dorong Paolo. Tampak Paolo melihatnya dalam kebencian.
.
.
__ADS_1
Dua Minggu berlalu ....
Di kamar, Lena terdiam, mendengar penjelasan Tamara. Otaknya mencoba berpikir, melihat video David dengan background salju, yang katanya di Swiss.
Di dalam video itu seorang wanita yang mirip dengannya tertawa dan mengatakan kata-kata cinta dan menyebut nama 'Pah, Mas, Sayang, Cintaku.' Kalau orang mirip mungkin banyak, tetapi kalau orang mirip dan hamil di waktu bersamaan sepertinya hampir tidak ada. Benarkah, itu dirinya?
Lena mengulangi pernyataan Tamara dalam hati. Cuci otak? Dia kemudian memperhatikan video berjudul ' Malam Serenade' di sebuah rumah tradisional. Matanya meredup melihat seorang wanita dan pria paruh baya yang menangis terharu melihat acara yang tampak penuh emosional itu.
"Lihatlah baik-baik. Anda lihat ini Kakak Anda Sean. Di sampingnya, ini Nyonya Sumarni dan Tuan Sujatmiko. Anda biasa memanggil mereka dengan sebutan Ibu dan Bapak. Mereka adalah orang tua anda. Semua manusia memiliki orang tua. Coba pikirkan, berkat mereka anda ada di dunia ini."
Pandangan Lena meredup, lagi-lagi perasaan tidak nyaman ini. Dia melihat wanita yang mirip dengannya terekam muncul di jendela dan David bernyanyi di samping rumah di atas hamparan bunga mawar dikelilingi banyak orang dan lampu hias serta balon menghiasi.
Hati tersentil, seolah tersengat listrik saat Lena melihat rekaman video saat wanita cantik yang mirip dengannya muncul di pintu depan rumah, lalu semua orang bertepuk tangan, apalagi saat David menggandeng dan masih bernyanyi di depan semua orang.
'Mereka tampak mesra dan bahagia' batin Lena melihat
video.
"Anda menangis, itu artinya tubuh anda memiliki kenangan yang dilupakan pikiran anda. Coba diingat, bila anda tidak ingat rasakan perasaan hangat di hati dan pipi Anda. Itulah kenyataan yang sebenarnya. Setelah Niko membuat pikiran anda melupakan semuanya, membuat Anda hanya mengingat apapun yang Niko ingin tanaman pada anda. Niko telah memprogram anda sesuai keinginannya."
Lena semakin murung, pada apa yang dikatakan Tamara. "Tapi aku mencintai suamiku."
"Itu yang ditanamkan pada Anda. Itu tidak real. Anda bukan robot. Coba berpikir lah."
Lena mencoba berpikir, tetapi kepalanya lagi-lagi sakit. Dia tidak menemukan hal lain di otaknya selain bayangan wajah Nik sang tersenyum.
"Mereka ada di sini, untukmu .... "
"Mereka?" Lena beralih ke pintu yang baru terbuka. Dia merasa jantungnya dag dag dug. Pria paruh baya itu bersarung, tengah mendorong seorang ibu bertutup kepala di kursi roda. Wajah Lena semakin sedih, dia berdiri ingin pergi, tidak suka dengan semua yang dilakukan orang di sekitarnya yang akan menjauhkan dia dengan Niko. Melewati seorang ibu yang menangis, dan tubuhnya mendapat pelukan tak terduga saat akan keluar dari pintu.
Hangat.
"Annakku, Nana."
Lena gemetar pada suara pria yang berat, dia melirik tangan kekar di depan dadanya. Perasaan ini .... perasaan ini seolah mendiami titik terkecil di dalam hatinya. Dia tidak tahu kenapa air matanya berjatuhan. Ada ketakutan, ada .... Rindu? Rindu yang seperti dirasakan pada Niko.
Lena menunduk, merasakan cekalan di pahanya yang dipeluk oleh wanita paruh baya yang dari tadi beruraian air mata, wanita itu mengesot dan makin memeluk lututnya yang bergetar.
David memelintir bibir. "Bahkan tubuhmu itu tak bisa berbohong, Nana. Kau bisa melupakanku. Tapi apa kau juga melupakan mereka yang telah merawatmu dengan penuh cinta dari bayi?" Tanya David menggunakan bahasa Italia yang tidak dimengerti Sujatmiko dan Sumarni. "Ibumu yang melahirkanmu seperti perjuanganmu melahirkan, tidakkah kau kasihan pada ibumu?"
Tubuh Lena ambruk tanpa sebab. Dia tidak mengerti kenapa tenaga hilang tiba-tiba. Diliputi kebingungan karena tubuhnya tidak menjauh saat wanita paruh baya memeluk dan menciumi pipinya. Seolah titik dalam hatinya tersentil. Sakit tidak terkira.
"Kalau kamu memang mencintai Niko, apa perasaanmu lebih besar dari sekarang apa yang kau rasakan?" David duduk di garis pintu dan terus menatap Lena yang tak bisa berkata apa-apa. Begitu Sujatmiko duduk lalu ikut menciumi wajah Lena.
"Ayah-" suara itu refleks keluar dari mulut Lena. "Ayah ...." seraknya dengan tenggorokan panas. "Ayah ....."
Mengatakan kata ayah seperti sesuatu paling ajaib, karena terasa menggetarkan hati, pikiran, jiwa dan seluruh energinya. "Ayah .... Ayah, ini Lena .... Ayah ..... "
Wow, Lena merasa dirinya mencelos keluar angkasa, perasaan itu keluar dari dadanya. Lena melihat kelopak mata pria paruh baya yang bergetar, mata merah itu, membuatnya sakit. Tidak mau melihat orang itu sedih.
David melotot dengan tidak percaya, tampak Sujatmiko memegang kedua pipi Lena dengan pandangan cinta seorang ayah.
"Nana, merasakan cinta ayah?" Suara Sujatmiko bergetar dengan senyuman tak percaya.
"Ayah ..... " Lena meringis kebingungan. "Lena?" gumam Lena sambil menatap Sujatmiko dengan menyebut kata Lena. Itu menguliti dirinya sendiri, seolah itu sudah sejak lama dan sangat kental melekat dengan dirinya.
"Iya, Lena itu putri Ayah."
"Ayah, Niko .... Niko suami Lena."
"Tidak. Suami Lena itu bukan Niko. Suami Lena itu David Leora." Ayah dengan suara berat dan bijaksana. Elna familiar dengan nada seperti ini, seakan masa kecilnya begitu selalu dipenuhi dengan nada penuh pengertian setiap mengajarinya sesuatu.
Lena menggelengkan kepala. "Niko .... Ayah .... Niko selalu menemani Lena. David datang menculik Lena."
"Tidak Sayang, dokter bilang kamu telah di cuci otak. Siapa yang kamu percayai?"
"Niko Ayah, Lena percaya Niko. Niko sakit. Ayah harus lihat dia. Ayah, ayah datang bawa teko oleh-oleh dari Qatar? Ayah itu mas kawin Niko. Masa Ayah lupa. Ayah seharusnya bawa itu agar Niko senang!"
Lena tersentak karena pelukan di belakang dan tangisan memilukan yang membuat hati terasa tersayat karena wanita itu menyalahkan diri sendiri dan bergetar saat memeluknya
"Ibu .... " Lena berbalik dan mendapat dekapan. Hangat, begitu menyejukkan hati, nyaman. Rasa ini tidak ditemukan pada perasaan selama ini yang dia rasakan pada Niko. Dia terlena dalam pelukan ini seolah dia adalah seorang bayi, di dalam gendongan ibu. Tapi dia tidak tahu kenapa dia begitu membenci David.
.
.
Niko belajar jalan dibantu perawat dan Emma dengan masih terpasang mesin ventilator dan mesin itu di dorong perawat mengimbangi setiap langkah Niko yang di papah dua perawat perempuan.
Sehari setelah itu, ventilator itu dilepaskan dokter. Begitu selang panjang itu dilepas dari tenggorokannya, rasanya sangat buruk tapi sebentar. Dia masih kesulitan berbicara karena terasa aneh. Niko menangkap pelukan Emma padanya, yang kegirangan setengah mati.
Senyuman wanita itu menjadi penyemangat akhir-akhir ini. Niko membeku, karena Emma mengecup bibirnya tanpa rasa jijik, padahal habis terlepas dari alat barusan.
Dia tersenyum lepas dan menggengam jemari Emma.
Tanpa mereka duga, Sean datang. Basket buah jatuh dari tangan membuat kegaduhan di pintu yang terbuka.
__ADS_1
Niko dan Emma melirik ke arah pintu, senyum mereka pudar, dan wajah mereka berubah pucat karena posisi wajah Emma masih di depan wajah Niko.