Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 90 : STEF- SEAN


__ADS_3

Di tempat lain, di Roma, Stefanie menangis begitu sakit hati karena mendengar mamanya menelpon bahwa Marcho dua hari lalu terbang ke Qatar. Mama memanas-manasinya, tak mungkin Marcho meninggalkan perusahaan yang sedang bermasalah, kecuali menemui orang penting, itu dugaan mamah. Pastilah karena Anna.


Meski tak percaya, memanglah hatinya terasa sakit tanpa sebab. Dia yakin pada sinyal ini, instingnya yang bekerja saat-saat Marcho menemui Anna. Dia membenci insting ini.


Sean sudah mencari Stef sejak selasa sore, tetapi tidak ketemu, dia yakin Stef tidak di kamar. Karena bila di kamar pasti ketukan pintunya bisa didengar oleh Stef, lalu wanita itu keluar dari kamar.


Sebuah pesan masuk yang entah adalah kabar baik atau buruk. Membuat Sean bergegas ke klub malam terbesar di Roma.


Dia masuk dengan membayar tiket masuk ke klub, dan menemui pegawai kantor yang jabatannya di bawahnya, sedang menjaga Stef dengan menjaga jarak. Sean melihat wanita hamil itu sudah dalam keadaan mabuk.


Dengan hati-hati Sean memapah Stef dengan satu tangannya. Dia benci seperti ini, menggendong di belakang juga tidak bisa dengan tangan satu. Bila meminta pertolongan orang, dia tidak enak dengan Kak Stef.


"Sean- Hahahhaa."


"Kakak, bisa jalan sendiri?" teriak Sean ke telinga Stef di tengah bisingnya suara musik yang bagai mau memecahkan gendang telinga. Saking kerasnya musik bas itu membuat jantung Sean berdebar, semoga saja tak sampai copot, mungkin jantungnya lemah.


"Apa-an si cupu. Bisalah- aku punya dua kaki, aku bisa jalan Hahaha."


"Ayo, pulang," teriak Sean kelabakan memegangi pinggang Stef dengan tangan kanan. Dia terus mendapat lirikan sinis karena kondisi tangan kirinya.


Ketika Stef akan terjatuh ke depan, Sean menghadapkan diri ke Stef hingga Stef tertahan dadanya. Sean berjalan dengan sebagian badan Stef, menempel padanya. Meski dengan aneka drama, dia akhirnya sampai juga di kamar Stef.


Sean keluar dari kamar mandi dengan tanpa mengenakan kaos, karena kaosnya baru dikucek dan dibersihkan dari muntahan Stef. Sean jadi tidak enak, karena lorong di depan terdapat muntahan Stef. Dia sudah menelpon petugas hotel agar membersihkan muntahan di karpet mahal mereka.


Mata Sean mendelik melihat kulit perut bulat tanpa sehelai benang dan sekarang Stef seolah berusaha melepaskan kaitan atasan inti di tengah dada. "Oh, jangan Kak Stef!"


Berlari, jantung Sean berdebar saat berusaha menjauhkan dua tangan rese Stef, dari dada yang menggunung, di balik kain hitam itu, tetapi tetap kaitan itu terlepas. Dalam kecepatan cepat, Sean membuang muka untuk menghindari melihat dada yang terpampang itu dan meraih selimut dengan susah payah karena menghindari Stef yang mulai memeluknya dari arah belakang. Hangat kenyal.


"Kak Stef nggak lucu, aku bukan Marcho!" Sean meraih selimut itu dengan tangannya. Namun, dia kini beralih melepas dua tangan Stef bergantian dengan satu tangannya. Sumpah demi apa, susah dia melepas tangan kiri mungil itu, saat tangan kanan mungil memeluk dadanya membuat geli dan bergidik.


"Sean!"


"Kak Stef berhenti! Aku akan keluar dari kamar ini!"


Entah Stef yang tidak kuat atau apa, dua tangan itu terlepas dari punggung kekarnya. Sean berbalik cepat, dan menangkap sigap sebelum kepala itu jatuh dengan kasar di kasur. Sial, matanya berdosa. Bukan kemauannya. Dia merebahkan bahu Stef hati-hati agar perut itu tak terbanting ke kasur.


Selimut itu ditarik hingga menutupi leher Stef. Sean duduk di sofa. Bayangan daging kembar tadi, sungguh membuatnya malu sendiri. Dia begitu menghormati Kak Stef sekaligus kasihan. Mengapa Kak Stef tak memikirkan kandungan 3 bulan itu. Kasihan si jabang bayi.


Apa dia harus menelpon Marcho. Mana yang bilang, katanya Marcho akan menyusul ke Roma.


Sean pusing karena tidak tidur, mau keluar kamar takut wanita hamil itu ada apa-apa, soalnya ini kan masih tanggung jawabnya.


Ketika Stef bangun, Stef mengadu karena merasa pusing. Dia melihat Sean yang menyandarkan kepala di sofa dengan posisi terpejam dengan tanpa memakai kaos. "Se-an kau tidur?"


"Hah, aku belum tidur. Kakak itu pakai baju yang benar dulu." Sean dengan suara parau, masih terpejam.


"Jangan berpikir macam-macam. Aku memang melihatnya, tetapi tidak sengaja karena Kakak yang buka sendiri. Aku baik hati untuk menutupinya, tanpa menyentuh. Tapi aku juga tak memandanginya lama-lama, cuma saat akan menangkap Kakak agar tidak jatuh," ucap Sean terdengar seperti mengeluh.


"Apa yang kau maksud? Memandang apa?" Stef di balik selimut sambil memakai atasan intinya. Dia tak tahu apa yang terjadi


"Kakak itu yang menyebalkan! Sudah tahu tanganku cuma satu? Kakak memelukku dan aku sangat malu," keluh Sean seperti seorang adek pada kakaknya dan Stef langsung melebarkan mata.


Stef berharap tak berbuat aneh-aneh pada kakaknya Lena. "Hah, lupakanlah." Stef berjalan ke kamar mandi dengan rok dan atasan inti. "Dimana blouse ku?"


"Nggak tahu, mungkin Kakak lempar saat aku di kamar mandi. Biarkan aku tidur sebentar," suara Sean parau dan masih terpejam, tak bisa menahan kantuk lagi.


Stef mencari blousenya yang terlempar ke balik kursi. Jauh sekali. Dengan kepala pusing Stef masih tanpa memakai kaos, pergi ke kamar mandi. Dia percaya pada Sean, mungkin Sean juga takkan bernapcu pada wanita hamil. Tapi masa bodo dengan semuanya, kekesalan kembali menyelimutinya karena Marcho. Dia sedang fase 'tidak mau tahu dengan segala hal' apalagi soal hubungan dengan pria.


Setelah mandi dan mengeringkan rambut, Stef keluar dari kamar dengan membawa kunci kamar Sean yang diambil dari atas meja. Dia masuk ke kamar Sean dan mengambilkan pakaian Sean berikut dalaman.


Stef kembali lagi ke kamar dan menaruh semua itu di samping Sean. Juga pakaian Sean yang berbau muntahannya telah di loundry kan. Stef sudah sibuk dengan komputer dan sarapan di kamar.


Sampai jam 9 pagi, Sean baru bangun dengan mata menyipit karena silau dengan cahaya dari jendela di belakang Sean.


"Mandilah, itu bajumu, aku sudah berbaik hati mengambilkan," ujar Stef.

__ADS_1


Sean membulatkan mata dengan sempurna. "Kakak kok mengambil bajuku tanpa seijin ku, sih? Aku kan malu," protes Sean.


"Nggak usah cerewet. Aku takkan bernapcu denganmu. Aku juga punya saudara cowok, melihat seperti itu yang kau sembunyikan itu hal biasa saja itu. Lagipula cowok cungkring seperti kamu aku takkan berselera."


"Dih, sombongnya. Kau membuatku tersinggung, Kak. Padahal semalam kau peluk-peluk aku!" Sean dengan ketus berlalu ke kamar mandi.


Stef meringis lalu tertawa kecil. Dia kembali ke laptopnya. Setengah jam berlalu, Sean keluar dengan rambut segar, celana panjang dan Hoodie pilihannya. "Hei, makan, aku sudah pesankan."


Tanpa Stef bilang dua kali, Sean sibuk menghabiskan sarapan di atas meja dengan perasaan kesal. Sean melirik ke kerjaan Stef. Dia mulai sibuk berkirim pesan dengan Lena yang sudah bertemu dengan Ayah Sujatmiko.


"Se, makasih." Stef tanpa berpaling dan fokus pada laptop di depannya.


"Makasih apa?" Piring kosong lalu dipindahkan Sean ke sudut kamar dekat pintu.


"Makasih, semalam."


Sean duduk di sofa di samping Stef dan melihat wajah wanita itu yang masih fokus ke laptopnya. "Nggak tulus amat ngucapinnya. Malu, ya?"


Stef menoleh kiri. "Kenapa harus malu, ha?" suara Stef meninggi.


"Malu karena sudah nyusahin aku?" Sean lalu membeku saat keningnya ditekan ujung telunjuk wangi sabun dari tangan putih Kak Stef.


"He, kita impas, Anak kecil."


"Kenapa memanggilku anak kecil? Ngeselin! Lagian anda ke tempat begitu, aneh deh kakak."


"Ngaca, kamu pun begitu. Ngapain mabuk? Katanya anti alkohol? Kau bilang temanmu yang mengajak, setahuku kau tak punya teman kecuali Niko."


"Kok jadi aku yang kena omel? Supir taksi langgananku juga teman." Sean menjauhkan tangan Stef darinya. "Kenapa Kak? Kakak tak kasihan pada calon bayi kakak?"


"Sean, ingat batasanmu," tegas Stef tanpa menoleh ke Sean.


"Terserah kamu lah, mau apa." Sean berdiri dengan kesal.


"Mau kemana, kau?" suara Stef meninggi, tetapi tak mendapat balasan dari Sean. Pemuda itu sepertinya marah.


Rabu malam ketika Sean mungkin sudah tidur. Stef pergi ke tempat kemarin malam lagi. Di sana, Stef terkejut karena Jefri tiba-tiba muncul di depannya.


"Aku tak mengundangmu ke mejaku," teriak Stef di sofa khusus sambil masih melihat orang-orang turun di lantai desa. Dia akan minum ****** tetapi gelas itu ditahan Jefri. "Lepas!"


"Kau tak boleh minum!" Jefri dengan kasar meraih gelas itu dari tangannya. Pria itu melirik minuman yang baru diantarkan pelayan.


"Kau jangan ikut campur!" Stef kesal dan meraih minuman yang baru dicicipinya adalah cola-cola. Dia menyiramkan es cola-cola ke baju Jefri. Dia tahu apa yang dilakukannya adalah hal gila dan bisa menyebabkan Jefri marah, tetapi selama di tempat umum, mungkin pria itu takkan berani berbuat macam-macam.


"Stef------" Jefri dengan napas turun naik menahan marah. Dia menghentikan anak buahnya yang akan mendekati Stef seakan refleks mau memberi pelajaran Ke Stef.


"Pergi! Aku tak menginginkan mu di sini!" teriak Stef dengan kepala pusing. Dia berdiri dan berjalan ke meja bartender meninggalkan Jefri, dan mulai memesan minuman manual. Padahal dia sudah membayar satu meja khusus tadi, tetapi kenapa pegawai di sini justru menurut pada Jefri.


Minuman yang dipesannya datang, Stef meraih gelas itu, tetapi gelas itu direbut. Stef dengan kesal berbalik dan terkejut mendapati Sean sudah berdiri di depannya dengan tatapan dalam.


"Kau gila, ya Kak? Kau ini hamil! Kalau kau tak peduli denganmu. Setidaknya, pikirkan nasib bayimu! Kau akan menyesal kalau sampai ada apa-apa dengan kandunganmu!"


"Sudah berapa kali aku bilang, kau dilarang masuk ke rana pribadi! Kau tak bisa mengatuku, hidupku bukan urusanmu!" Stef meraih kembali gelas itu dengan paksa dan menenggaknya di depan mata Sean yang baru kali ini melihatnya dengan tatapan kebencian.


Jefri melepas mantelnya yang basah dan kini hanya memakai kemeja santai yang masih kering dan selamat dari guyuran air, berdiri menjaga jarak mengamati tingkah Stef yang terlihat sedang gila. Maksudnya, mungkin sedang patah hati karena sang suami.


Stef mengangkat gelas ke dua dan menunjukkan di depan wajah Sean yang masih membeku. Stef tertawa mengejek dengan tatap benci dan meminumnya di depan Sean.


Gelas ketiga, Sean sudah tak tahan lagi, tangannya terkepal dan penuh emosi lantas meraih dari tangan Stef dan menenggaknya sampai habis membuat Stefanie melongo.


"Se .... "


"Aku sudah bilang, pulang! Apa kamu perlu perlu ke THT? Memeriksa telingamu?" Sean mengucapkan kata demi kata dengan aura mendominasi yang entah datang dari mana, yang baru kali ini ditangkap Stef, sekaligus membuat Stef tak berkutik saat pria itu meraih uang cash dari balik mantel. Sepertinya, itu kelebihan atau mungkin sekaligus tips untuk bartender.


Tangan Stef tertarik Sean, Stef melangkah dengan terus melihat Sean sampai ke halaman parkir. Sesampai di taksi, hati Stef mengkerut, tak berani melihat ke arah Sean. Aura mendominasi ini juga membuat hati Stef kian sesak. Sean tak ubahnya seperti Marcho, kalau sudah marah, dia tak berani melawan.

__ADS_1


Stef melihat ke kanan pada kepala Sean yang bersandar di sandaran taksi. Atau mungkin hanya perasaanya sendiri yang ketakutan. Perlahan, Stef menempelkan punggung di jok dan matanya bertemu dengan lirikan dalam Sean.


Sial tatapan macam apa itu, membuat Stef tak berkedip, entah takut, atau apa, yang jelas membuatnya terintimidasi. Sean terpejam lagi hingga membuat Stef sedikit menghela napas lega. Stef merasa bersalah pada pria itu.


Perjalanan ke hotel setengah jam, jauh memang, tetapi bar itu sangat terkenal. Napas Sean terdengar bersisik cepat dan pendek. Stef menyandarkan kepala ke jok, lehernya pegal karena dia tegang sendiri.


"Kamu marah .... " lirih Stef dengan perasan entah kecewa. Stef mematung saat tangan kanan Sean meraih kepalanya dan disandarkan di bahu kiri Sean.


"Tidak," suara Sean rendah.


Perlahan Stef merasakan tangan kanan Sean menjauh dari kepalanya, kini berganti kepala Sean bersandar di atas kepalanya. Sepanjang perjalanan, lagu slow mendengung di dalam mobil membuat hati Stef kian sesak.


Dengan tetesan air mata di pipi, Stef memeluk lengan kiri Sean menyembunyikan tangisan di bahu cacat itu. Masa bodoh dengan jaim, sepertinya Sean juga sudah tidur.


Sean merasakan kepalanya sakit bukan main. Dia tak bisa minum minuman keras. Dia mulai sulit merasakan tubuhnya, seperti melayang diatas awan.


"Pak, tolong antar kami sampai kamar," kata Sean pada supir taksi. Entah, suaranya keluar atau tidak, tetapi karena sebuah jawaban supir itu dia yakin, supir mengerti maksudnya.


Sean tertegun pada tangan Stef yang merangkul tangan kirinya yang cacat, tetapi dia sudah tak merasakan pegangan itu, entah sejak kapan.


"Biar, aku saja, Pak." Stef turun dari taksi dan membayar dengan uangnya. Dia memapah Sean yang teler dengan satu gelas *****.


Dipapahnya lengan Sean di lehernya, dari lobi sampai ke kamarnya. Dia tak mau ribet mencari kunci kamar Sean, walau dia tahu bila kunci kamar itu tinggal mengambil di saku celana.


"Kalau mau jadi pahlawan, lihat kapasitas diri dong. Nggak lucu, sudah menggangguku, kau yang berniat menjemputku, kenapa aku yang jadi repot begini!" kesal Stef sambil menumbangkan tubuh Sean di kasur. Dia duduk di pinggir kasur, melepas sepatu flat Sean dan kaos kaki. Mantel Sean juga dilepasnya. "Kamu berat, Se."


Stef menoleh ke Sean, karena genggaman hangat itu yang menarik tangannya hingga dia terjatuh di samping Sean dengan lengan Sean melingkar di lehernya. "Lepas, dasar bayi beruang kutub!"


Stef yang setengah pusing, tak memiliki tenaga untuk menyingkirkan kaki Sean yang baru mengapit pahanya. Stef berpikir jika Sean mungkin mengira dia guling. Dada Stef berdebar, pertama kali pria lain memeluknya.


Bau musk dari pakaian Sean terasa menenangkan. Dengan ragu tangan Stef berusaha melepas tangan kekar perlahan. Namun, tangan kekar itu menangkup tangan kirinya, menarik dan mengecup di pergelangan tangan mungil sampai Stef merasakan kelembutan bibir Sean yang panas.


"Kau rusak badanmu, kau ng-ngak kasian pada bayimu?" gumam Sean.


Stef mengerutkan kening begitu dalam melirik mata Sean yang terpejam. Dia berusaha menarik tangannya dengan debaran jantung kuat. "Kau masih bisa mendengarkanku?"


"Biar aku menjagamu, Stef," suara Sean yang setengah sadar membingungkan Stef.


Stef membeku karena Sean memeluk kepalanya hingga terbenam di dada bidang yang panas. Detak jantung Sean begitu jelas di telinga kanannya membuat Stef bergidik, dan merinding.


Tersadar bahwa yang dilakukannya salah, Stef berusaha mengumpulkan tenaga, bangkit, tetapi berakhir dengan dia terbanting di tempat tidur dan Sean merangkak di atasnya, dengan Sean menduduki pahanya, hingga wanita itu tak bisa bergerak.


Stef menahan napas saat merasakan panasnya napas cepat pendek Sean yang berbau alkohol, bercampur aroma keringat dan parfum Sean di wajahnya. "Se-jangan- "


"Kau cantik, Ka, baik hati. Jangan habiskan emosimu karena Marcho yang tak mempedulikanmu," suara Sean, mata itu sedikit terbuka menatap mata Stef dengan pandangan mabuk.


"Aku bukan anak kecil," suara Sean dengan protes diikuti tawa disaat udara di sekitar wajah di antara mereka menjadi panas. "Aku bisa bernafsu denganmu. Kau yang jangan memancingku."


"Minggir," pinta Stef dengan napas pendek cepat karena marah.


Sean tersenyum mengejek di tengah sela kesadarannya. "Kau takut denganku? Lalau untuk apa i pergi ke tempat seperti itu? Jika ada yang berbuat buruk gimana?


Dengar Stef, aku akan jadi sasaran keluargamu, lalu mereka ikut menyalahkan Lena karena menganggap aku tak becus saat menjagamu di luar kota.


Kau berhutang satu padaku dan aku mau kau mulai dari sekarang mendengarkan semua mauku. Jangan kau pikir karena usiamu di atasku atau karen kau atasanku, lalu kau seenak hati memperlakukanku dengan semaumu."


Stef tercengang di tengah keputusasaan, detik berikutnya kecupan lembut mendarat di sudut bibirnya. Jantung berdebar pada kecepatan maksimal.


Aroma tubuh Sean memabukkan. Stef menarik dan menahan kemeja Sean hingga pria yang akan menjauh itu kembali ke depan wajahnya dengan bersangga satu tangan.


"Kau asal cium?" tanya Stef dengan suara berubah melunak.


Sean melihat wajah Stef, merasakan panas dan keinginan lelaki. "Aku jadi menginginkanmu karena minuman sialan ini," geram Sean.


Sean menghirup aroma pipi Stef. "Aku suka bau kulitmu. Lepas tanganmu dari tanganku atau .... Aku tak bisa menahannya lagi," suara Sean serak tertahan, dengan napas meningkat karena suatu keinginan.

__ADS_1


"Kepalaku pusing, Stef, kau yang membuatku pusing," serak Sean dan menyembulkan udara di telinga Stef yang baunya membuat Sean tak ketulungan meski dia berusaha menahan sekuat tenaga.


Satu kecupan di telinga Stef membuat wanita itu tak sadar melenguh. Sean memandangi bibir Stef dengan pandangan meredup.


__ADS_2