
David membawa Lena pindah dari sedan BMW ke Jeep bersiap untuk dune bashing. Orang mengenalnya sebagai safari gurun. Mereka kini berada di gurun Sealine Qatar, sekitar 63 kilometer selatan ibu kota Doha.
"Kau tahu, Len? Pergi ke gurun adalah pelarian dari kehidupan." David mengemudi dengan kecepatan konstan, mengikuti mobil di depannya yang dibawa oleh dune basher profesional.
"Apa itu semacam kita pergi ke hutan, dan air terjun?" tanya Lena. Dia mulai menikmati sensasi berkendara di pasir yang lembut.
"Bisa dibilang begitu. Serius. Ini adalah alam semesta lain, jauh dari masalah kita, jauh dari lalu lintas. Pikiran jadi tenang. Aku sangat bahagia. Setiap kali libur kerja, aku datang ke negara ini, datang ke tempat penuh ketenangan ini," kata David bersemangat.
Lena berpikiran mungkin David ke sini dengan Shinta. Teringat itu membuatnya tak suka. Mata hazel terpaku pada pemandangan pasir yang keemasan.
"Gurun pasir di Qatar dianggap sebagai salah satu wisata gurun pasir terbaik yang ada di negara-negara Timur Tengah. Namun kau tau apa yang menurut ku terbaik dari semua itu?" David menoleh sebentar pada gelengan kepala mungil. "Kamu Lena, ada kamu di tengah gurun bersamaku, itulah yang terbaik."
Lena tertawa ringan dengan tidak percaya, tak tahu juga mau berkomentar apa. Turis ini memang hobi ngegombal kali.
"Len, aku serius," lirih David dan langsung membuat Lena berhenti tertawa dan menatapnya dengan serius, tetapi lalu tertawa lagi. "Lena, aku semakin senang di sini setelah mengenalmu."
Perempuan itu membeku, lalu tersipu. "David, aku rasa semua orang sebetulnya menyenangkan hanya saja beda-beda dalam hal penyampaiannya."
"Tapi, kamu beda, Lena. Kamu baik dan bersemangat. Semangat mu menular ke aku. Kamu apa adanya ramah sejak pertama kita ketemu kamu selalu tersenyum dengan tulus. Lalu bila ada ada kamu pasti rame."
Lena terkekeh dan meninju lengan David. "Kamu juga baik."
"Lalu apa lagi?" David menyeringai. "Apa aku menarik?"
"Bagaimana jika kamu nakutin?"
"Lena!" gumam David gereget.
Perempuan itu terkekeh. "Serius, Dave. Kamu nakutin, bila tidak terima tidak perlu kamu dengar."
"Aku tidak menakutkan."
Lena tiba-tiba berbicara dengan serius. "Kamu memang nakutin. Tatto mu ... atau mungkin aku saja yang tidak pernah melihat orang bertatto-secara langsung."
"Menurut mu tatto ku gimana, bagus nggak?" serak David dan menoleh ke Lena yang menggedikan bahu. Kamu mau
melihatnya lagi untuk menilai?" David melihat Lena menggelengkan kepala tak setuju. "Aku suka tatto, Lena. Itu seni dan menurutku menggambarkan sosok maskulinitas seorang pria."
"Aku tidak suka tatto," balas Lena dengan cepat. "Namun, tattomu begitu memenuhi dada, itu seperti Mahakarya bila aku menilai secara objektif. Lalu ukiran inisal di punggungmu itu tergambar indah."
Tubuh Lena terbanting ke belakang karena David mengerem mendadak. Begitupun mobil yang dikendarai Axel yang nyaris menabrak ke mobil sang tuan.
"Dav, kamu!" Lena kembali duduk tegak di tengah jantungnya mau copot karena penurunan tekanan darah tiba-tiba.
"Kamu bilang indah?" David menyeringai dengan bangga.
"Secara objektif." Lena mengerutkan kening karena David tak berhenti tersenyum dan mulai melajukan kendaraan kembali. Apa begitu senang dipuji sampai mengerem mendadak?
Axel yang baru loncat ke pasir, langsung loncat ke kursi pengemudi lagi. Dia pikir ada apa-apa dengan tuannya, kini dia batal memeriksa kondisi tuannya dan mulai melajukan kendaraan kembali.
"Terus apalagi, Lena?" tanya David dengan nada meninggi. "Kamu tertarik bukan padaku?" Dia mengerutkan kening karena Lena tertawa terbahak-bahak. "Apa yang lucu?"
"Nggak ada apa-apa." Lena lalu tersenyum semeringah. "Kamu tampan, kamu menarik, kamu baik, loyal. PUAS?" tanya Lena dengan penuh penekanan dan usapan lembut datang tiba-tiba di pipi Lena, yang membuat perempuan itu menunduk, lalu membuang muka karena tak tahan dengan rasa malunya.
Beberapakali Lena melirik David, dan tak sengaja bersitatap penuh kecanggungan karena senyuman percaya diri David yang menawan.
"Dune bashing bisa berbahaya. Perlu keterampilan mengemudi tingkat tinggi dan pemahaman tentang cara mobil bergerak di gurun," kata David memecah kesunyian.
"Ini adalah olahraga yang berbahaya. Kesalahan mungkin terjadi, pada para profesional sekalipun. Kita harus memperkirakan apa saja bisa terjadi. Jadi, sini, Len, kamu harus coba," katanya sambil menarik tangan Lena ke paha pria itu.
"Aku tidak bisa mengemudi!"
"Ini mumpung datar, Lena! justru di sini kamu bagus untuk berlatih karena, tidak ada bangunan. Cepat sini!" David menghentikan kendaraan dan memundurkan kursi jok paling mentok.
Lena mematuhi David untuk melepas sneaker dan hanya memakai kaos kaki, begitupun David ikut melepas sepatu. Sepatu mereka dipindah ke belakang.
Lena naik jok lalu berpindah ke jok David sesuai arahan. David terpejam karena mengendus paha Lena saat berputar, dan aroma sensual langsung ter copy di kepala pria itu. David ditambah terjebak dengan aroma kenanga kuat yang membuat jantungnya terus kembang kempis.
"Dav, ini agak terlalu .... "Lena menggigit bibir bawah, karena terperangkap kehangatan paha dan dada David. "Aku tak berniat kursus mengemudi."
"Lena, kau hanya perlu menginjak pedal sedikit dengan ujung jari kaki kecilmu. Aku akan handle rem kaki." David memberi perintah dengan nada tak mau dibantah.
__ADS_1
Lena menyimak pengarahan David, dia melirik ke kanan pada Axel yang berdiri di luar melihat ke arahnya. "Aku tak bisa, Dave. Nanti nabrak, mobilnya rusak, nanti-" Lena terdiam saat kedua tangan mungil yang gemetar ditempatkan di stir oleh David, lalu telapak tangan besar menutupi di atasnya. "Dav!"
"Taruh jemari kakimu di atas pedal gas, ayo, aku ikut menginjak." David merasakan kaki mungil yang dingin dan gemetaran sudah di atas pedal.
"Aku tekan dikit, ya, seperti ini," kata David setelah mengoper tuas di tangan kiri, ke posisi D.
Kaki kanan pria itu, menekan ujung kaki Lena. "Tekan, nahh, kan mulai jalan. Pelan-pelan saja, seperti ini, Lena sayang."
Lena merasakan kaki besar yang menekannya. Dia mulai kepanasan entah oleh tubuh David atau cuaca di luar yang memang terik.
"Aku lepaskan kakiku, kamu tetap seperti itu." David mengangkat kaki, sementara tangan kanannya memberi kode pada Axel agar mobil di depan agak menjauh.
Axel yang sempat berlari mengangguk, dia langsung berbicara pada sopir di mobil pertama agar jauh-jauh dari depan mobil David. Sang asisten tersenyum karena tuannya kembali tampak sibuk dengan mainan barunya.
"Lemaskan bahumu. Lihat di depan tidak ada pembatas, trotoar, gedung, kamu takkan menabrak apa-apa," titah David sambil memijit bahu Lena, sekaligus menekan punggung Lena. "Jangan bungkuk juga, kamu perlu mundur sedikit!"
David menarik Lena hingga punggung itu kini menempel di dada David. Pria itu menyeringai karena akal pintarnya. Dia bisa menyentuh Lena dan Lena tak menolak karena sibuk dengan kebingungan itu sendiri.
"Dav!" Lena teriak saat dia kebanyakan menginjakan pedal, dan kecepatan meningkat mendadak. Untung tangan David menarik kakinya. "Sudah ah!"
"Belum, sekarang, kamu coba injak rem, dengan kaki kirimu. Nah, dua kakimu harus bekerja."
Lena mengikuti arahan David, sesekali David menekan paha kiri mungil hingga Lena menginjak rem. David akan menarik kaki kiri Lena agar melepaskan rem bila perlu. "Aku takut, Dav .... "
"Ada aku." David menyeringai dan merasa menang banyak. Tangannya kini bahkan di atas paha mungil Lena. Astaga Luar biasa. David menaikan suhu AC, dia semakin panas saja. Tubuh Lena meski kecil, tetapi benar-benar sedikit panas hingga membuatnya benar-benar kegerahan. Jantung David juga makin berdebar saat menyingkapkan rambut Lena yang tergerai ke sisi kanan.
Lena merinding oleh sentuhan panas jari David ditengkuk. Sedangkan matanya terus terfokus ke depan. Dia ingin menyudahi ini, tetapi susah sekali mengatakannya. Kakinya refleks menginjak pedal gas lebih dalam hingga mobil melaju makin cepat. Lena berteriak histeris tak tahu harus berbuat apa, justru kendaraanya makin cepat jalan. Otaknya nge Blank.
"Kamu kecepatan, kurangi dikit. Kamu mau balap?" David menarik kaki kanan Lena hingga kecepatan pun berkurang.
David jadi tidak bisa menyentuh tengkuk menggoda itu lama-lama, karena tangannya kini berjaga-jaga di dekat tuas. Bila Lena tiba-tiba menambah kecepatan tak terduga, dia bisa mengoper tuas di tangan kirinya. Nafas David memburu, dia ngeri juga gara-gara barusan.
"Sudah, Dav. Capek " Lena risih pada David yang mulai tak bersuara justru suara hembusan panas memburu di atas telinganya, bahkan entah kapan dua tangan David melingkar di perutnya.
"Sayang," serak David. "Coba ini dulu." David mengarahkan stir ke kanan pada bukit, dan menekan paha kanan milik Lena.
"Dave, aku mau turun!" Lena berteriak karena mobil kencang naik bukit hingga pantaaatnya tertekan ke belakang pada kehangatan paha milik David. Mobil ber penggerak roda empat itu sedikit oleng dan Lena hilang kendali justru makin menginjak gas lebih dalam.
Mobil menerjang pasir keemasan, jendela tertutup pasir sebagian hingga Lena tak bisa melihat di depannya.
"Lena, kau merasakannya?" Kata David dengan nada makin meninggi, saat David kembali mengambil stir.
"Lena!" David menggeser kaki Lena dari gas, mengendalikan stir ke depan saat naik makin tajam ke bukit pasir yang memiliki kemiringan 30 derajat.
"David, David, kita akan terbang!" Lena terkungkung dan berteriak di tengah mual. Dia mencengkeram lengan David dan lupa dengan stir nya!
.Perut Lena mual karena guncangan tak rata, kepala Lena membentur dada dan lengan David.
David mendapat celah pandangan saat pasir mulai menyingkir oleh angin dan melewati puncak bukit, bahkan melayang.
Mobil putih itu terbanting kembali, meluncur kebawah dengan cepat tak beraturan, disertai suara mobil derungan mesin saat Lena merasakan tangan kiri David menahan perutnya tetap menempel di perut pria itu. "Daviiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiid!
Ribuan pasir menyembur ke kaca mobil, menghalangi pandangan, roda terbanting dan mendarat tak bersamaan di pangkal bukit. Tubuh Mereka terbanting ke sisi kanan dan mereka pikir akan guling dengan hantaman kuat, tetapi tubuh mereka terbanting beberapa kali karena mobil berhenti dengan mesin yang menggerung.
David tertawa terbahak-bahak karena roda mobil depan ambles di pasir dan terjebak, sementara Lena yang masih menyembunyikan wajah di lengan kiri David masih merintih ketakutan.
Bagaimana tidak guncangan tak terkendali di dalam mobil, kaca tertutupi pasir dan gerungan mesin menimbulkan perasaan campur aduk di dalam diri, terutama Lena yang tadi terus berteriak histeris saat berusaha melindungi jiwanya karena adrenalin yang meningkat dengan tajam. Namun kemudian Lena tertawa lemas, dan jatuh tak berdaya di dada David, yang terguncang karena tertawa terbahak-bahak.
"Asik, kan, Len?" tanya David masih tertawa sambil mencari tangan Lena yang terkulai. Pria itu menggenggam tangan Lena yang dingin dan memeluk di depan dada Lena yang masih menangis dalam rintihan. "Sudah dong, Len. Kita tidak akan mati hanya karena terjebak, paling mobil guling, itu seru tahu. Sudah dong jangan menangis Len."
"Kamu nyebelin!"Mata Lena masih mendelik di tengah nafasnya yang tersengal. Keringat dingin bercucuran, dan semakin kesal karena David masih saja tertawa di tengah penderitaannya. Lena turun dari mobil dibantu Axel, dan Lena hampir jatuh saking lemasnya dan langsung ditangkap Axel, tetapi David yang melihatnya langsung mengambil alih dan menggendong Lena di depan, dengan gagah memindahkan tubuh tak bertenaga itu ke mobil di belakangnya.
Mobil SUV Toyota lalu berhenti di teluk, yang tidak jauh. David mengangkat Lena di depan, dan membawa ke luar mobil, lalu mendudukkan Lena di tepi pantai.
"Dav, panas!" Lena menggerutu, padahal tubuh Lena masih lemas karena ketakutan tadi. Dia bersumpah takkan DUNE BASHING dengan David lagi.
"Ini tidak terlalu panas kan mau musim dingin. Sekarang adalah musim paling tepat. Kamu jadi mau kasih judul apa pada tempat ini, sayang?
"AKU BENCI KAMU PEMAKSA!" Lena bahkan tak memiliki tenaga dan pasrah saat David menarik kepalanya hingga bersandar di bahu kekar David.
__ADS_1
"Begitu ya," lirih David langsung tak bersemangat.
Lena menghela nafas berat, disaat seperti ini kenapa juga harus peduli terhadaap perasaan David. Dirinya saja sudah kelelahan atas ketakutannya sendiri, tetapi melihat tatapan David, seakan-akan pria itu adalah orang yang paling menderita sedunia.
"David, di Bali begitu banyak pantai. Makananku pantai setiap hari," kata Lena mengalihkan tatapan kelam David. Dia tidak ingin egois, karena dari awal memang kontrak ini dibuat untuk mengalihkan kesedihan David.
"Uh, Ya, apa di Bali banyak gempa?" jawab David datar, matanya terpejam. Dia ingin tertawa dan sedang membayangkan dirinya tengah terdampar berduaan di gurun. Tak ada bantuan, lalu Lena mau tak mau bergantung padanya. David terkekeh lagi sampai membuat Lena berpikiran mungkin pria di sampingnya adalah orang gila yang sebentar sedih, sebentar tertawa, sebentar marah.
Oke, semua pasti ada hikmahnya. Tenang, Lena. Tenang! Batin Lena mencoba memikirkan semua kebaikan David yang telah diberikan kepadanya.
"Tempatku tidak ada gempa," balas Lena. "David, kenapa kita harus berjemur?"
"Lihat keindahan air jernih di depanmu, abaikan panasnya. AIR dan TERIK. Luar biasa, Lena."
David memandang penuh arti ke laut tanpa ombak. Ini adalah tempatnya dulu saat sering bermain dengan Wazir. Dia bahkan pernah berceloteh di sini, tentang siapa akan yang akan menikah lebih dulu diantara dia atau Wazir.
Hati David bagai jatuh ke bumi, bergetar dan terluka atas kepergian temannya. Mata David memanas saat bayangan di depan terdistorsi dengan gambaran wajah Wazir lima tahun lalu. Siapa kira waktu berlalu sangat cepat.
"Dav, apa ini pertama kali kamu ke Qatar?" tanya Lena dengan canggung. Mengapa dia harus berduaan dengan pria menyebalkan ini.
"Ini bukan pertama kali, Len. Aku pernah mengajakmu ke hotel, itu adalah hotel milik Papaku. Aku pertama kali ke sini saat pembangunan hotel itu, saat aku liburan sekolah."
"Wow! Pantas kamu kaya!" Ups Lena langsung menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Namun, David tetap melihat ke depan terus.
Lena menggaruk tengkuk, lalu menusuk jemari David yang sehat. "Wah, sudah sejak lama ya, jadi sejak kamu masih sekolah, kamu sudah ke negara ini?" Lena masih terkesiap. Maklum David orang kaya yang baru pertama dikenalnya.
"Dahulu, papa sibuk dengan pekerjaan hingga membuatku bosan di kamar. Kemudian aku keluar rumah, dan tak sengaja bertemu pria seumuranku. Aku dibawa ke daerah ini menggunakan mobil pedagang, untuk dune bashing. Sampai saat itu aku pulang larut sore, aku dan temanku dimarahi papa karena pergi tak bilang-bilang." David tertawa pelan dan menoleh ke wajah Lena yang merah sepertinya kepanasan.
"Untung jaman dulu tidak banyak penculikan, Dav." Lena bergidik, tetapi lalu tertegun karena tawa David.
"Karena kejadian tersebut, lalu ayah temanku itu ditahan dan dijadikan sopir. Papa beralasan karena temenku itu sudah membuat semua orang kalang kabut. Setelah beberapa tahun terakhir, kata mamaku, hal itu papa lakukan agar aku sering keluar rumah dan berkumpul dengan penduduk lokal."
David tersenyum penuh arti pada Lena. Wazir pergi, kini justru digantikan Lena. Itulah mungkin dia terlalu mencintai negara ini.
"Siapa nama temanmu, Dav?"
"Wazir, dia yang paling dekat denganku. Jadi, dune bashing ini semacam budaya remaja di sini. Kalau masih muda, kita para remaja ini, hanya punya hobi mengemudi ke padang pasir atau menyaksikan orang lain dan itu menyenangkan," jelas David dengan sudut bibir terangkat.
"Sejak aku mengenalnya, dia juga sama ingin berkendara ke padang pasir. Hanya saja dia tak memiliki mobil. Nah, setelah ayah Wazir jadi sopir, aku minta diajak jalan-jalan ke sini. Saat itu aku minta diajarin mengemudi di pasir, sekaligus aku mengajak Wazir ikut belajar."
David tersenyum haru. "Tentu saja, berkali-kali aku dan Wazir terjebak di pasir. Seiring berjalannya waktu, lalu dia belajar dan menjadikannya sebagai sebuah profesi, tetapi .... "
Lena mengerutkan kening karena wajah David langsung suram. "Kenapa?"
"Dia meninggal lima tahun lalu, karena pendarahan di lambung. Aku kecewa di hari kematiannya aku tak bisa melihat Wazir untuk terakhir kali."
"Kenapa kau tak datang?"
"Saat itu aku ujian S2 ku di San Marino."
"Dav, dia telah tenang di sana. Dia pasti mau mengerti keadaan mu saat itu yang tak bisa datang." Lena mengelus lengan kiri David, dan pria itu hanya mengangguk. "Kita kan bisa ke makam dia kalau kamu mau."
"Kamu mau menemani ku?" alis David berkerut dalam.
"Ayo, kita mampir habis dari sini. Tidak jauh kan?"
David mengangguk senang sambil bangkit dan condong ke wajah Lena. "Sangat dekat."
Lena terbelalak, karena dalam sekejap mata, David menggendongnya di depan dada kekar. Tubuh Lena melayang saat David terus berjalan ke laut.
"Kamu mau apa, David, jangan bercanda," lirih Lena makin berpegangan pada leher David. Namun pria itu terus menceburkan kaki pada ombak yang mulai datang dan kaki panjang itu mulai terbenam. "Dav, maksudmu apa ini!"
"PILIH CIUM ATAU BERENANG!" David menyeringai saat dingin sudah membasahi kaki hingga sepahanya.
"Tidak! Tidak dua-duanya!" Lena memukul dada kekar David saat angin mulai berhembus kencang. Pria itu memiringkan kepalanya lebih rendah dari kaki hingga Lena merasakan dingin-segar membasahi rambut dan kulit kepalanya.
Dan ....
Kakek Leora berdiri di pinggir pantai memandang ngeri ke sang cucu ....
Bersambung🥲 Like
__ADS_1
...----------------...