Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 23 : AKU PACARMU, DAV.


__ADS_3

"Lena, Tante mau beritahu, ya. David kalau sudah marah bisa berhari-hari," kata Bilqis dengan serius.


"Betul," imbuh Adrian. "Dia juga suka keluyuran malam."


"Betul," imbuh Bilqis dan membuat mata gadis itu berputar.


"Papa, Mamah, apaan sih?" David jadi salah tingkah karena lirikan Lena yang jelas sedang memperhitungkan.


"Dan dia punya sakit," imbuh Bilqis dengan suara rendah."


"Dan dia punya tunangan yang sudah dipacarinya sejak SMP," imbuh Adrian dengan nada penuh penekanan.


Lena membeku dan kehabisan muka, saat David langsung merem4s pingganngya. Lena cuma menghembuskan nafas kasar tidak tahu mau bilang apa.


"Dan pernikahan mereka akan diadakan enam bulan lagi," imbuh Adrian, lalu melirik istrinya yang masih terdiam karena mengamati ekpresi gadis itu.


"Pertunanganku dengan Shinta, sudah batal, Pah." David membela diri.


"Itu hanya bagimu. Bukan untuk kami dan dua keluarga besar Xavero dan Luigi."


"Maksud Papa, kamu harus membereskan hubunganmu dengan Shinta dulu, Sayang." Bilqis dengan nada datar dan masih mengamati ekpresi Lena yang sudah makin tegang, tampaknya bahkan tidak ada kecemburuan dari sepasang mata hazel. Entah, putranya hanya pura-pura untuk menyudahi pertunangan atau memang menjalin hubungan yang serius.


"Di sana sudah malam kan? antarkan Lena pulang dan jangan membuat masalah," tegas Adrian tak mau dibantah.


"Tapi, Mah, Pah, kan di sini banyak kamar."


"Antar pulang, Sayang," nada Bilqis meninggi.


"Saya akan pulang sendiri, Tante, Om," kata Lena dengan sungkan dan wajah memerah, sangat malu. Tadinya, dia juga sudah menolak. Untuk apa pakai telepon-telepon segala.


"Kamu itu perempuan, tidak boleh pergi sendirian malam-malam. Biarkan David mengantarmu, ya Cantik Lena?" Bilqis meminta dengan senyum kehangatan.


"Benar, biarkan David mengantarmu. Jangan sampai ada apa-apa denganmu gadis manis," imbuh Adrian.


"Juga jangan mempercayai kata-kata David lagi. Dia mungkin hanya sedang marah dengan tunangannya." Adrian lalu tertawa ringan dengan sindirannya dan suasana menjadi semakin canggung saat David pamit menyudahi telepon.


"Aku harus terbang ke Qatar. Anakmu itu tidak boleh main-main dan aku harus berbicara langsung dengan gadis tersebut." Adrian meletakkan ponsel Bilqis di nakas samping tempat tidur. "Bahkan siapa tadi namanya? Lea ya? Kenapa di banyak diam, tidak sopan. Oh masih pintaran Siska."


"Jangan mencampuri urusan putramu, Papa." Bilqis berbaring, jarinya menarik selimut hingga batas dada, lalu memunggungi sang suami dengan ketegangan di mimik mukanya.


"David itu yang lebih tahu. Setahu Mama David tidak pernah berbohong kepada Mama. Bahkan David belum juga cerita apa-apa soal Shinta, pasti ada sesuatu antara dia dengan Shinta. Pantas beberapa hari ini setiap telepon yang dibahas gadis asal Indonesia," imbuh Bilqis, lalu memejamkan mata pusing. Padahal ini masih jam setengah lima sore waktu Italia, tetapi dia jadi tak bersemangat dan ingin tidur saja. Dia sedih karena sang putra tak terbuka padanya.


Bilqis masih ingat beberapa kali menjumpai Shinta bergandeng tangan dengan Tara, dan itu langsung dilepaskan saat dipergokinya. Bila itu hanya teman untuk apa dilepas. Entah, tatapan dua orang itu saat tidak ada orang, selama tiga tahun ini membuatnya tidak nyaman.


Mengapa juga Tara tampak pernah mengendap-ngendap di kamar putranya. Terlebih perkataan ibu mertuanya dengan kata 'hati-hati' pada keluarga Luigi membuatnya terus berpikir. Apa Shinta orang yang dikirim keluarga Luigi untuk menghancurkan keluargaku, sepertinya juga tidak mungkin.Jika kalaupun benar, pasti ayah mertua sudah bertindak. Bahkan Ayah kini justru yang paling terdepan membela Shinta.


Adrian ikut berbaring dan juga memunggungi sang istri. Putra sulungnya perlu waktu tiga bulan lagi untuk maju menjadi anggota Dewan. Jika hubungan David dan Shinta bermasalah, kemungkinan besar putra sulungnya akan gagal pencalonan. Dia jadi terpikir ucapan Ayah Leora.


Jika itu gagal maka pabrik coklat Xavero Group mungkin akan diserahkan pada putra sulungnya. Dia tidak senang bila itu terjadi, karena putra sulungnya akan semakin dimangfaatkan oleh menantu pertamanya. Perusahaan coklat itu harus jatuh ke tangan David agar perusahaan tetap aman, tetapi putra keduanya kini membuat ulah dengan mengenalkan gadis berketurunan Asia.


...----------------...


Begitu telepon dimatikan, Lena bergeser menjauh dan menunduk. Merasa bersalah, dia pun tak menginginkan ini. Mengapa aku harus mempercayai David.

__ADS_1


"Ini nggak akan berhasil," lirih Lena saat David duduk di lantai dan memeganginya. "Mungkin kamu tak perlu mempedulikanku. Keluargamu takkan menerima keluargaku yang orang biasa. Kita berbeda, Dav."


Lena melihat kesungguhan di mata David.Dia merasakan usapan hangat David punggung tangannya. "Aku tidak mau diserang oleh keluargamu, lalu mengganggu kenyamanan keluargaku."


"Len, aku yang akan melindungimu." David dengan penuh ketulusan dan mengecup jemari Lena.


"Ayo, kita makan dulu. Jangan terlalu dipikirkan. Kedua orangtuaku tidak sekeras Kakek. Mereka memang seperti itu, tetapi sebetulnya mereka sangat menghargai keputusanku, Len. Kita perlu meyakinkan mereka, makannya aku butuh dukungan dari kamu, yah?"


Lena mengangguk dan mencoba mempercayai ucapan David. Dia mendadak ingin menjadi bagian dari hidup si jakung. Bukan tanpa alasan. Usianya sudah 26, diapun ingin segera menikah.


Mengapa David yang baru beberapa hari ditemuinya sudah berani memperkenalkannya pada orang tua David. Namun, Niko yang sudah bertahun-tahun masih saja tak pernah mengenalkannya pada keluarga Niko, dan setiap kali bertanya tentang itu jawabannya pun sangat alot dan banyak alasan.


Kata-kata Niko memang 1000x jauh lebih meyakinkan. Dia pun meyakini itu mengandung ketulusan. Sayangnya, keyakinan itupun sekarang sirna, begitu teringat cincin berlian di jari manis Marsha. Dia bahkan belum pernah dibelikan cincin oleh Niko, walau Lena juga tak mengharapkan, tetapi itu sangat mengecewakannya.


Dia sangat marah pada Niko, mengapa Niko membuatnya sangat percaya bahwa hubungan serius diantara mereka akan berhasil sampai pernikahan. Mereka bahkan berangan-angan pada rumah seperti apa yang akan ditinggali dan dibangun untuk masa depan nanti. Niko juga berinisiatif untuk membuat rekening bersama, yang dibuka dari buku tabungan Lena. Tabungan BCA Lena pun otomatis terpotong setiap bulan 300ribu dan Niko juga rutin transfer 400ribu ke rekening Lena yang tak memiliki kartu ATM itu.


Semua itu dan seribu kata-kata manis Niko, benar-benar omong kosong saat pria justru melamar perempuan lain lebih dulu. Itu cincin berlian! Di Stadion! Yang bahkan Niko tahu aku di situ!


Apa dirinya sedang ditipu? Sepertinya tidak mungkin, karena uang tabungan bersama takkan bisa diambil oleh Niko. Niko hanya memiki akses internet banking, tetapi itu hanya sebatas untuk mengecek. Lena benar-benar tak sanggup memikirkannya lagi.


Dia menjadi bimbang dengan perasaanya dan bingung. Dua orang pria memenuhi pikirannya, dan di belakangnya ... mereka sama-sama ada perempuan di sekitarnya. Lena menjadi muak sendiri, apa sesulit itu memiliki hubungan yang baik-baik saja. Apa kata Paman Adrian, David akan menikah dalam enam bulan lagi?


Apa aku harus melihat Niko menikah empat bulan lagi? Dan David menikah enam bulan lagi? Lalu setelah itu aku baru sadar bahwa ternyata aku diberikan janji manis oleh dua pria yang sebenernya sama-sama menyebalkan dan sama-sama menipuku ! Oh aku harus hati-hati, benar kata Paman Adrian, jangan percaya pada perkataan David.


...----------------...


Ketika sebuah panci baru dikeluarkan dari pendaman pasir yang diatasnya penuh bara api. Kata David itu sudah dibakar delapan jam, kini panci berlapis alumunium foil dibuka. Daging dengan khas aroma rempah berwarna coklat semi kering sebanyak satu panci itu dituangkan kedalam nampan mangkok porselen. Lena tak bisa berkutik karena aura mendominasi di samping. Dia hanya menurut saat David menyuapinya nasi briyani dan daging unta.


"Ini wazir yang mengajariku di hari ke dua aku bertemu dengannya." David tersenyum menawan, lalu mendorong nasi berwarna orange ke mulut sendiri.


Lena termangu, mengapa tidak jijik pada suapan jari-jari David yang telah terkena liur pria itu. Kini Lena ikut melahap langsung dengan tangannya pada nasi berbumbu kari di nampan yang sedikit lebar, mungkin itu nasi sebanyak tiga piring. Jari panjang David juga sesekali menyodorkan daging ke mulut Lena, hingga Lena tak sengaja menjil4t ujung telunjuk David dan membuat pria itu tersenyum malu-malu.


Sekarang David baru tahu, bahwa makan dalam satu piring seperti ini terasa lebih nikmat saat dimakan bersama kekasih. Terlebih melihat Lena yang kelewat lahap, sampai satu nampan pun habis, dan gadis itu masih menyesap tulang unta. Padahal daging yang lain masih ada di mangkuk kaca.


Selesai makan, ponsel Lena berdering. Gadis itu mengangkat telepon dari Abang Sean dan berjalan ke dalam karena tak tahan angin malam, hingga duduk di depan TV lantai satu.


"Gimana sudah ada kabar Niko belum?" tanya Sean dengan serius.


"Aku nggak tahu kak, nomernya masih tidak aktif. Ini juga bukan pertama dia seperti ini. Tiga bulan kemarin juga sempat lost kontak."


"Yang tiga bulan kemarin, karena dia di pelosok. Sekarang beda. Coba kamu datangi tempat dia seminar."


"Aku nggak tahu, kak."


"Coba kamu tanya temannya."


"Aku juga nggak tahu."


"Lalu yang kamu tahu apa, Dek?"


"Marsha."


"Yaudah, Kamu coba tanya Marsha."

__ADS_1


Perkataan kakaknya itu sangat menusuk di bawah tulang rusuknya. Kok bisa aku memiliki abang seperti dia, yang lebih peduli pada temannya dari pada adik sendiri.


"Untuk apa tanya-tanya? Bukan urusanku juga dia mau hilang atau gimana. Aku nggak peduli. Asal kakak tahu Perempuan yang dilamar oleh Niko dengan cincin berlian itu, sudah siap bawa pentungan dan mungkin untuk memukulku! Maksudnya apa coba? Sampai aku kena peringatan dari ketua tim karena mengganggu kenyamanan tetangga," gerutu Lena dengan kesal dan berusaha berucap pelan agar tak didengarkan oleh David.


"Ya, Marsha memang gitu. Makannya kamu coba tanya baik-baik." Sean menunggu suara Lena yang tak menjawab. "Tanda tangan Messy dan Mbape, sudah dapat belum?"


"Belum Abang, aku belum ketemu."


"Cepet dong, Dek. Yaudah kalau ada kabar dari Niko, kabari Abang."


"Iya-iya, bawel." Lena mematikan telepon dengan ketus. Dia lalu termangu pada David di sofa seberang karena memasang mimik yang kian tertekuk.


"Kenapa kamu nggak kenalin aku ke Sean?" cicit David dengan kesal sambil menusuk-nusuk layar tabletnya. "Aku sudah jadi pacarmu, kan?"


Lena dengan mata berbinar, menikmati ekspesi David. Dia berjalan mendekat dan masih berdiri di depan David dengan terkseima. "Aku akan cerita saat kita bertemu mereka, agar


mereka tidak terlalu bertanya-tanya. Kan kasian ayah dan ibu kalau sampai keget karena ini terlalu tiba-tiba."


David menarik pinggang Lena dan kepalanya terbenam di tengah dada empuk, dan tak mengijinkan Lena memberontak. "Aku ingin kerumitan ini cepat berakhir. Semua seperti membelenggu pikiran, leher tangan dan kakiku, Lena. Huh!"


Bibir David terkatub rapat dan mengendus bau kenanga dalam-dalam. Lalu mendes4h putus asa. "Ini sangat melelahkan."


"Sayang," suara Lena gemetar dan tidak nyaman. Dia tersipu karena tekanan tangan lebar yang hangat di punggungnya dan menggelikan. "Lepas."


David mendongak, hingga dagunya menekan di antar dada Lena. Dia mengambil nafas dalam-dalam. "Katakan dulu bahwa kamu sekarang pacarku?"


Lena menyipitkan mata dan diam sejenak. "Kan, tadi sudah panggil 'SAYANG.' "


"Itu tak seperti panggilan 'SAYAAAANG." David mendengus, lalu mencontohkan panggilan yang penuh kelembutan dan kemesraan.


Lena bergidik hanya karena mendengar penyebutan 'sayang'. Tentu saja, dia kesulitan untuk mesra karena hatinya merasa sangat kosong dan lelah.


"Kamu itu masih memikirkan Niko." David menggigit bibir bawah dengan jantung berdebar-debar.


"Biarkan, aku menciummu, Dav." Lena berbicara pelan dan menghindari menjawab pertanyaan, dan benar saja pegangan David melonggar.


David tersenyum lebar dengan kecewa, tatapan suram Lena tidak bisa membohonginya. Dia menatap tajam kala Lena duduk di pangkuan, dan wajah cantk Lena, itu memerah saat menaruh jemari hangat dengan kaku di bahu kekarnya. David menggoyangkan alis dan tersenyum geli saat Lena berungkali menarik nafas dalam untuk mengurangi jarak.


Bola energi di dalam meledak dan David menggeram dalam kegirangan saat berusaha sabar kala Lena menempelkan ujung bibir mungil yang gemetar dan hangat, lalu diam begitu lama.


"Dav, jangan bohongin aku. Jika kamu kembali pada Shinta, aku mau kamu terus terang? Aku takut patah hati lagi, Dav?" bisik Lena dengan mata berkaca-kaca dan penuh kesungguhan di depan bibjr David yang hangat.


Senyum lebar di wajah David makin membara. Jari-jarinya memegangi pinggang mungil, sudut mulut sedikit terangkat begitu mendengar suara manis Lena.


"SAYANG," ucap Lena dengan mesra di depan bibir David saat merasakan napas panas di wajahnya. Dia merasa ngeri dan berniat menarik kembali idenya, tetapi dia menyerah. "AKU ADALAH PACARMU, MILIKMU SEKARANG."


David terpejam kegirangan pada suara serak indah yang menari-nari di kepalanya. "Oh kita pacaran? Kamu serius, Len?"


Lena mengangguk yakin dan hati itu menghangat, dia berharap David benar-benar menikahinya, karena pria itu sudah melihat tubuh polosnya. "Aku ingin hubungan serius, aku ingin cepat menikah," lirih Lena menumpahkan semua isi hatinya yang telah menyerah dari Niko.


"Ayo, kita atur. Aku akan minta bantuan Mamah untuk melamarmu saat kita menemui ayahmu." David mengecup pipi Lena hati-hati dan terus berpandangan dengan mata hazel yang kini tampak sedikit bercahaya.


__ADS_1


__ADS_2