Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
Letusan tembakan


__ADS_3

...🇵🇱 Kalimantan 🇵🇱...


Niko duduk di lantai seraya memandang botol bir yang kosong, berserakan. Stress memikirkan fakta bahwa dia harus mengikuti rencana George untuk menyingkirkan David.


“Dengar, kandidat pimpinan Xaverio Grup setelah Marcho adalah David. Jadi, kami akan membuat seolah-olah Marcho adalah pelaku dan tidak ada yang tahu jika kau adalah pelaku sebenarnya.


Marcho akan kebingungan dan menyangka bahwa dia sendiri yang membunuh David. Publik juga berpikir bahwa Marcho tidak menyukai David. Lalu keluarga itu bercerai berai, belum lagi paman-paman David, sibuk merebutkan Xaverio Grup. Pada akhirnya mereka takkan mendapatkan apapun. Karena kita yang akan memilikinya.


"Aku akan mengirimkan orang khusus, untuk mencuci otak wanita itu dan menjadikan sepenuhnya mengingatmu. Tidak ada nama David yang keluar dari mulut wanita itu lagi. You and her have a happy ending, Right?"


Semua kata-kata George sepertinya benar.


Niko beranjak dari kamar dan melihat ke ruang tengah. Para anak buah tidur beralasan kasur tipis. Dia menarik pintu kayu dan menuruni tangga saat langit kelabu dan suara burung pagi telah berkicau. Lalu masuk ke dalam rumah sebelah, melewati dua penjaga yang sedang merokok.


Melangkah dengan perlahan, Niko melihat Lena sedang sholat. Pandangan Niko meredup.


Setelah diperhatikan dan ditunggu lama sembari duduk. Ternyata pergerakan Lena justru makin tertunduk. Rupanya wanita itu tertidur dalam duduk.


Dengan Jantungoberdegup kencang, Niko merangkak dengan lutut dan tangan, bergeser pelan sampai ke samping Lena. Jantung terasa berhenti sesaat melihat wanita itu terkantuk-kantuk. Niko menutup mulut, merasa terhibur. Lucunya.


Ya, Lena hanya boleh untuknya. Dia harus mencuci otak Lena, lalu mendatangkan kedua orang tuanya kemari. Menanamkan ke pikiran Lena agar mau meyakini bahwa anak itu adalah anaknya dengan Lena. PERFECT.


...****************...


...🇮🇹NAPOLI🇮🇹...


Satu bulan berlalu ….


David menggigit telunjuk kiri yang tertekuk dan dagu bertopang di meja bar. Tangannya terus memutar-mutar gelas vodka. Dia tersenyum pada ingatan saat dia berjalan di stadion.


Karena dia tinggi, matanya menangkap sesuatu di sisi kiri saat seorang gadis berlari cepat dan dia yakin pasti wanita itu tidak akan berhenti. David tertawa. Niatnya hanya ingin mengerjai volunter yang begitu sibuk. Oh, siapa mengira pada saat si volunteer mendongak ke arahnya. Lalu dia terhipnotis oleh mata hazel yang terkena cahaya matahari.


“David …. “


David mengelap embun bening yang menutup pandangannya dari melihat Lena. "Kamu pulang? Aku tahu kamu pulang!”


Pria mabuk itu memeluk wanita di depannya, meraba-raba kandungan Lena. Loh, kenapa rata? Oh, anakku sudah lahir? Apa aku salah menghitung? Aku ayah yang buruk bagaimana bisa aku salah menghitung. Mana anakku? Hu cengeng sekali aku, pasti karena merindukan kamu dan anakku.”


“David ayo, kita pulang.”


“Iya, sayang, kita pulang. Mana anak kita, laki atau perempuan?” David tertawa. Melihat ke bar yang ramai pengunjung. “Lenaku pulang. Kupikir selama ini ini kamu diculik? Sepertinya aku mimpi buruk, padahal kamu bersamaku. Aku jadi bingung?”


“Tuan … “


David membuka mata. “Menyingkirlah dariku! Kau tidak lihat aku dengan Lena?” Dia menyingkirkan kedua tangan Axel yang memeluknya.


“Biar saya yang pulang dengan David, Axel.”


“Kau lihat, Axel. Istriku marah padamu-”


“Tuan, itu Nona Shinta. Kemari, Tuan! Jangan dekat-dekat nanti anda menyesal.”


“Kau buta! Lihatlah dia Nana!”


Axel pantang menyerah, menyingkirkan tangan tuan dari tubuh Shinta dan menatap wanita itu penuh peringatan. “Nona, anda punya bayi kecil. Mengapa anda tidak menungguinya di rumah?”


“Berani sekali kau?”


“Anda yang terlalu berani. Jangan terlalu berharap kembali kepada tuanku, karena saya sendiri akan menghadapi anda.”


“Oh ya? Sombong sekali.”


“Anda belum pikun kan bahwa status tuan itu masih sah suami orang? Dan jangan anda jadi perusak, seperti apa yang anda lakukan pada kehidupan rumah tangga Tuan Marcho."


"Apa maksudmu, Axel?"


"Anda menyuruh seseorang untuk menculik Nona Anna!"


Shinta tersentak dan mundur selangkah.


"Juga, Hubungan persaudaraan lebih kental dari pada darah, jangan bermimpi anda bisa membuat Tuan David dan Marcho saling bermusuhan.” Axel menyeringai karena mata Shinta berkedut. Sepertinya benar dugaannya.


“Kau akan menyesal berkata begitu, Axel.” Shinta membiarkan David dikuasai Axel dan memilih pergi. Berbahaya dekat-dekat Axel yang seperti mesin pemindai pikiran.


...****************...


...🇵🇱 Kalimantan 🇵🇱...


Hari mulai larut sore, ketika Lena selesai mandi dan keluar dari bilik sisi terdalam tempat pemandian yang kini sudah dibuat benar-benar tertutup. Lena terpaku pada dua orang yang tergopoh-gopoh memasuki rumah sebelah.


Penjagaan semua sedang lengah, Lena melirik  ke sekitar pada pepohonan liar. Bagaimana bisa dia keluar dari hutan ini dalam keadaan perut besar, jalan dari rumah ke sumur sudah membuat kakinya pegal. Belum lagi kalau kandungan nanti bermasalah. 


Lena berpikir harus belajar skill untuk keluar dari hutan ini saat nanti anaknya lahir dan dirasa bisa bertahan di alam.  Impossible harus menunggu berapa tahun lagi.


Wanita itu bingung darimana pasokan kebutuhan seperti susu kehamilan. Dia tak pernah melihat seseorang membawa apapun, atau itu dilakukan saat malam.


Lena akan masuk rumah, dan melirik samping. Tiga hari ini Niko tidak kelihatan.  Dia turun dari tangga dan berhenti di ujung tangga rumah panggung yang lebih kecil.


“Anda dilarang masuk, Nona.”


“Minggir.” Lena mencengkeram tangan itu dengan kedua tangannya. “Di mana Niko?”


“Bos sedang istirahat dan tidak mau diganggu. Pergilah, Nona.”


“Aku tidak melihatnya tiga hari ini. Kenapa dia?” Lena mendorong tangan si pria yang berambut pirang gondrong. Lalu memaksa menaiki anak tangga.


“Ada apa?” Pecco assisten Niko  berdiri di pintu.


"Nona memaksa masuk, Bos." Si gondrong melapor .


“Anda mau masuk, Nona?” Pecco membantu memegangi  Lena dari atas dengan sedikit menarik. Kasian sekali melihat wanita dengan perut besar itu kesusahan naik tangga.


Pintu kamar didorong lebih lebar oleh pria berambut keriting. Lena melihat Niko terbaring dengan wajah pucat. Dia menyentuh kening yang basah oleh keringat. Panas menyengat di telapak tangannya.


""Niko kamu kenapa?" Lena beralih menatap pria berambut kering. "Dia sakit apa?"


Pecco meringis. "Bos hanya membutuhkan waktu istirahat, Nona."


"Ini kenapa ada tumbukan dedaunan?" Lena terpaku pada lengan Niko yang bengkak memerah. Dia akan menyentuh dan jari-jarinya ditahan tangan Niko. Padahal, pria itu terpejam, masih saja sadar pada pergerakan. Jari-jari Niko itu meremas ke jarinya dengan erat di atas dada Niko.


"Lena, jangan pergi," suara serak Niko dengan mata masih terpejam.


"Niko, aku di sini." Lena bersuara dengan lembut. Dia menyentuh pipi Niko dengan tangan lain, tetapi tak ada reaksi lain selain genggaman itu terasa makin erat. Tampaknya pria itu hanya mengigau.


“Mengapa bisa seperti ini?” gumam Lena saat pria keriting duduk di lantai dan memunggungi tempat tidur.

__ADS_1


“Bos sempat terpleset ke jurang dan bertahan di akar kayu, tetapi sayangnya …. “ Pecco melihat Niko yang belum sepenuhnya sadar. “Dia terkena sengatan kalajengking.”


“Apa ada dokter di antara kalian?”


“Tenang, Nona. Umai Maharati dan aku sudah mengobati." Pecco tertawa kecil.


“Ada yang lucu?”


"Anda mengkhawatirkan Bos. Itu terlihat dari wajah anda.” Pecco tertawa lagi pada mata Lena yang serius dan justru malah semakin terlihat semakin khawatir.


Bohong kalau tidak khawatir. Bagaimanapun Lena tumbuh bersama Niko cukup lama. “Kau tadi bilang jurang? Apa itu disekitar sini? Apa kalian membiarkan dia ke dekat jurang?”


“Ya, apa anda ingin tahu, caranya menyelamatkan diri dari Macan bila nanti tersisa anda seorang diri, di sini? Terjunlah ke jurang.”


Lena langsung bergidik. Pria berambut keriting itu walau sedikit-sedikit tertawa  sepertinya jauh lebih mengerikan dibandingkan yang lain.


"Saya bercanda, Nona. Ya, tetapi apa yang saya katakan juga benar. Jika anda mau kabur, saya akan beritahu jalannya. Hanya saja, setelah aku mendapat persetujuan dari Bos." Pecco terkikik lagi.


Semua orang di sini seperti robot. Lena jadi lebih rileks dengan kehadiran pria keriting ini. Tangannya menunjuk lengan kanan Niko yang dibubuhi dedaunan. “Di sini bekas sengatannya?”


"Benar di situ. Tiga hari ini Bos kesakitan dan baru bisa tidur dengan tenang semalam.” Pecco memutar bola mata dengan bibir manyun  dan melihat Lena lagi. “Anda harus berterimakasih pada Bos. Dia sampai terluka karena mencari obat untuk kaki anda yang keram dan suka kejang-kejang."


"Apa?" Lena menarik kursi dan duduk di samping Niko. "Niko sakit karena mencari sesuatu untukku?"


"Ya, dan Bos nyaris tak terselamatkan setelah menghilang dua jam dan tergantung pada akar pohon. Hal itu setelah Bos tampak kebingungan setiap kali melihat anda yang tidak nyaman dengan kaki anda. Bos banyak bertanya pada Umai Ratih soal keluhan wanita hamil dan cara mengatasinya. Mungkin, anda perlu mempertimbangkan, biar Bos memijat kaki anda, untuk mengurangi gelisahnya."


Mata Lana mulai berkaca-kaca, hatinya bergetar. Walau selama ini Niko sangat dingin padanya. Nyatanya, pria itu diam-diam memikirkan kondisinya. Dia dihinggapi rasa bersalah saat melihat lengan bengkak itu. Bagaimana kalau kalajengking itu berbahaya dan Niko tidak terselamatkan, dia tak tahu hidup di hutan ini tanpa ada Niko.


"Saat kami menemukan Bos di pinggir jurang, dia masih bersikeras mengambil tanaman obat itu sebanyak-banyaknya. Lalu Bos masih marah-marah dengan Umai Maharati karena lupa untuk langsung membuatkan ramuan untuk anda, dua hari lalu. Ya, karena Umma sibuk dengan Bos yang kesakitan." Pecco meringis sambil cengengesan seolah memperagakan orang yang sedang kesakitan.


Lena meraba dada yang sakit, mungkin karena efek emosional. “Niko.” Lena menunduk, menelan saliva kasar, melihat bibir Niko yang putih.


“Mengapa kamu membahayakan nyawamu sendiri,” gerutu Lena meremas genggaman tangan Niko.


“Racun kalajengking bisa membunuh orang dewasa.”


Lena tersentak, melirik ke kiri dengan wajah tegang dan pria yang tadi sudah keluar itu kini berdiri di pintu sambil tertawa. Bagaimana bisa orang mengucapkan itu dengan tawa


“Namun saya rasa, jika anda menungguinya, Bos akan sembuh lebih cepat.” Pria berambut keriting itu tertawa cekikikan lagi. “Panggil saya ‘Pecco’ . Jika anda butuh sesuatu, saya ada di tangga.” 


Pecco cekikikan sambil  mengacak-ngacak rambut sendiri lalu pergi.


Lena menggedikan bahu. Sepertinya, pria bernama Pecco itu baru di sini sekitar satu bulanan.


“Niko …. Bukankah pulang ke Italia jauh menyenangkan, ayo kita pulang dan hidup dengan nyaman. Kau tidak rindu dengan Emma?” Lena menekuk bibir. "Aku juga ingin berbicara denganmu seperti dulu. Tapi, kamu melarangku banyak berbicara. Kenapa?"


“Niko, bulan ini jadwalnya kita launching gaun musim panas, itu pasti keren. Aku menyukai gaun musim panas dengan sedikit sentuhan batik. Mungkin kita bisa memakai kostum itu bersama Emma dan kaka di pantai, di bawah tebing depan rumahku. Di situ selalu rame. Kita akan bersenang-senang bersama."


"Ngomong-ngomong Emma terlihat antusias setiap itu tentang kamu. Aku jadi berpikir selama ini dia suka kamu? Kalian .... serasi. Niko, aku ingin kamu bahagia meski tanpa aku.” Lena melihat lengan Niko yang bengkak. “Maaf ini karena aku."


.


Keesokan paginya, Lena bangun tidur langsung ke tempat Niko. Mulutnya ternganga saat melihat para petugas tiduran saling mepet seperti di pengungsian. 


"Ekhem! Jangan melihat mereka. Hati-hati insting mereka kuat, mungkin langsung terjaga gara-gara tatapan anda pada mereka."


Lena mengangguk, ada benarnya ucapan Pecco.


"Nona, saya tidak mau bila mereka refleks menyerangmu dan mengira anda musuh, lalu bila anda terluka, bos akan marah. Jadi, cepat menjauh."


Lena kembali mengangguk. Apa mereka tidak berani melawan Niko? Padahal mereka banyak. Dia melirik sedikit ke dalam, tampak Niko baru bergeser. Perempuan itu mendekat  dan Niko yang baru membuka mata tampak terkejut, lalu duduk.


"Pecco …. " Niko menekan suaranya.


"Ya, Bos. Tapi, Nona yang memaksa masuk. Jangan marahi saya."


Lena menajamkan pandangan, pada perubahan sikap Pecco, nadanya pun datar. Tidak cengengesan seperti tadi.


"Panggilkan Umai!" Nik berbicara dengan lantang. Hanya pada Lena, Niko berbicara dengan nada sedikit lembut dan posesif.


Pecco keluar dari kamar meninggalkan Lena yang kebingungan karena tatapan Niko yang dingin.


"Kenapa cuma berdiri. KELUAR." Niko dengan nada tinggi tanpa penekanan sambil melepas bubuhan daun dari lengan


"Tidak mau." Lena menggigit bibir bawah, ingin tahu apa yang akan dilakukan Niko.


"Tidak mau?" Niko kembali menatap tajam Lena. "Keluar!" Ucapnya dengan tegas.


"Itu sakit?"


"Mau tahu? Rasanya seperti aku telah menjejalkan lenganku ini dengan kekuatan penuh ... ke dalam batang baja. Ya ampun itu sakit, Lena! Tetapi itu tidak seberapa. Tidak sesakit dibandingkan saat aku bangun di suatu hari lalu tidak melihat kamu di sekitar ku.”  Niko lalu mengulas senyum simpul dan perlahan menyeringai.


Lena bergidik, menjatuhkan pandangan ke lantai. "Kupikir itu yang kurasakan pada David," gumamnya.


"Apa kau bilang, aku tidak dengar? Berbicara lebih keras." Niko melepas kaos karena bau asam mengganggunya.


"Aku tidak bilang apa-apa." Mata Lena berkedut saat melihat dada polos Niko, sampai dia nyaris keselek air liur sendiri.


Niko meredam tawa melihat Lena yang salah tingkah dan pipi memerah. "Lihat .... Kenapa kamu, Lena?"


Lena menggelengkan kepala dengan tangan meremas rok sutra. Dia melangkah keluar dan berpapasan dengan Umai Rati yang membawa baki. Lena kembali berbalik dan mengikuti Umai Rati.


"Kenapa masuk lagi, Lena? Keluar, aku mau berbicara dengan Umai Rati." 


"Kamu mengusirku," gerutu Lena. "Tapi tidak mengeluarkan aku dari hutan."


Niko mengernyitkan kening. Kita akan keluar dari sini kalau kau sudah tidak berusaha pergi dariku, Len.


"Umai." Niko menatap datar pada Umai Maharati yang membawa ramuan dedaunan dan menaruh di sampingnya.


Lena memperhatikan gerakan tangan Niko. Dia tidak hafal-hafal dengan cara Niko berkomunikasi dengan  Umai Maharati, padahal dia ingin belajar banyak pada Umai.


Niko membubuhi ramuan di lengan, setelah Umai Rati keluar dar kamar. "Kamu mandi dan makan sana."


Lena menggelengkan kepala. "Niko, darimana kamu mendapatkan uang untuk operasional semua ini? Kamu memperkejakan mereka semua .... Itu bukan uang yang sedikit."


"Uang." Niko menghela napas panjang. "Jadi kamu mulai tertarik dengan uang sekarang?" Niko terpejam sesaat lalu menatap mata Lena. "Aku ingin memberimu uang banyak, tetapi kau bilang tidak butuh. Semua yang kuberi, juga kamu tidak menerima. Jadi, untuk apa aku menjawab pertanyaanmu. Kamu juga tidak menghargai pengorbananku. Jadi, keluarlah."


Kenapa Niko jadi sensitif sekali dengan kata 'uang'. "Ayo, kita pulang Ke Napoli …. "  Lena menunggu jawaban dan Niko hanya terdiam. "Aku kangen Abang. Aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana cemasnya ayah sekarang." 


"Ayah Sujatmiko kupikir lebih senang saat kau denganku." Niko menyeringai dan membubuhkan tanaman obat ke lengan kanan. Dia menarik kain kasa dari atas meja, dan membelit dengan kesulitan sampai merasakan langkah seseorang.


Pria itu mematung dan mendongak saat jari-jari lentik merebut kain kasa, wanita itu menambahkan ramuan daun lalu membelitnya secara perlahan.


Niko mendongak dan merasa lemah saat memandang wajah ayu itu. Jantungnya berdebar semakin cepat setiap kali ujung jari mungil menyentuh kulitnya. Dia merasa mabuk karena sengatan kasat mata dari jari-jari mungil yang berbahaya. Dia bisa menghitung dengan jari kapan Lena menyentuhnya selama mengenal Lena.

__ADS_1


Mungkin sebuah pelukan juga tidak sampai dua puluh kali saat pacaran. Pelukan yang kesemuannya karena refleks. Jika dulu dia selalu menolak saat Lena akan mencoba kontak fisik. Kini dia menyesal, sekarang sulit dipungkiri tubuhnya sangat lapar akan sentuhan wanita itu. Dia ingat bagaimana senangnya Lena saat dia ke Qatar, lalu mendapat dekapan hangat yang tidak disangka-sangka. Dia takut betulan gila hanya karena memikirkan ini.


"Maaf, ini karena aku. Untuk apa obat keram kaki itu, jika terjadi sesuatu denganmu? Kau tidak hendak meninggalkanku di hutan ini sendirian kan? jangan lakukan itu lagi."


Niko tersenyum simpul. "Bagaimana kaki kamu masih pegal?"


"Sudah lebih baik. Terimakasih." Lena mengikat kasa dan membentuk kupu-kupu.


"Biarkan Umai memijat kakimu, jangan memendam ketidaknyamanan itu sendiri."


"Ini semua tidak apa-apa. Aku hanya ingin kita pulang, aku akan meminta David untuk tidak mengganggumu. Ayo, pulang." Lena merasakan remasan tangan kuat di kelima jarinya saat akan menjauh.


"Hanya ada kita, aku tidak mau kamu menyebutnya lagi. Sebaiknya, camkan itu jika kau tak mau aku menyingkirkan David dari bumi ini, Sayang?"


Lena menggeser pandangan kecewa dan menatap mata Niko yang meredup dan bernapas sering dan keras. Sengal-sengal. Secara harafiah jaraknya dua kilan. Menegakkan tubuh, tetapi Niko tidak melepaskan genggaman.


Aku jadi ingin mendekapmu. Niko tak rela saa Lena membelah jari-jarinya agar melepaskan pegangan. Dia membiarkan Lena. Akan tetapi dalam sekejap, Niko mencengkeram pergelangan tangan itu, menariknya lebih dekat. "Duduk ...."


Seolah terbius Lena duduk dengan susah payah di samping Niko dengan pikiran apa Niko benar-benar berniat buruk kepada David, dia takut pada kenekatan Niko dan tidak siap kehilangan David. Jari telunjuk pria itu menyentuh telinga kanannya, membuat Lena terpejam dan tidak tahan akan sensasi geli. Lena membuang muka dengan takut dan menahan tangan Niko, tetapi tangannya ditarik hingga mendarat di kulit Niko.


Wanita itu langsung melihat ke mana tanganya dibawa Niko, dia merasakan denyut nadi keras di dada Niko. Sontak dia berusaha menariknya tetapi ditahan tangan kiri Niko. Pada saat yang sama, Lena merasakan usapan jari Niko ke bibirnya .... lalu membelai rambut.


Lena menggelengkan kepala saat Niko menggigit bibir sendiri dan kembali meletakkan tangan di pipi Lena. Wanita itu mengerti satu hal bahwa Niko akan membawanya dan apa yang terjadi selanjutnya, lebih baik tidak berpikir.


Membuang muka, Lena mengatub bibir rapat, kedua tangannya tertahan tangan kuat. Dia memundurkan kepala menjauh dari bibir Niko yang terus mendekat. Setiap otot di bawah kulit membeku seperti granit. Bergidik, Lena dapat merasakan panasnya napas Niko itu di pipi.


"Berhenti," suara wanita itu tercekik, begitu merasa tertekan dan takut.


"Berhenti?"


"Aku tidak bisa." Lena merengek, karena Niko nyaris mencium. "Aku tidak mau dipenuhi rasa bersalah. Aku tidak akan pernah mengkhianati David sampai mati."


"Mengkhianati." Niko menggosok pipi Lena menggunakan jempol kiri, dia dapat melihat tangan Lena, bulu-bulu tipis itu sampai berdiri. "Kau bisa mengkhianatiku, tapi kau tak bisa mengkhianatinya? Saat aku menjagamu dengan baik, kau memilih mencium pria lain, apa itu karena aku tak memberimu sebuah ciuman? Kini giliran aku meminta, kau tak memberikan. Itu tidak adil, Lena."


"Tidak." Lena menyipitkan mata. "Tidak mau, aku tidak mau." Lena meremas tangan Niko agar menjauh dari sudut bibirnya dengan bahu gemetaran.


Sekarang dia bahkan tidak peduli jika Niko bersikap kasar. Keheningan menekan, Lena mendengarkan terlalu dekat suara-suara di sekitar. Suara para penjaga yang sepertinya baru bangun. Ayolah, tolong seseorang datanglah kemari. Lena berpikir cepat saat air mata jatuh dari sudut matanya dan mendapat ide saat hidung Niko terasa tersisa setengah senti dari pipi dan dia merinding merasa jijik "Aku lapar!"


Niko tertegun. "Lapar?"


"Lapar sekali." Lena memundurkan kepala dan l gelisah dan mata Niko yang menyiratkan pria itu tengah berpikir. Niko menatap lebih dalam dan sesekali melirik ke bibirnya, lalu menjauh ke arah pintu.


Menghela napas panjang, Lena seperti selamat dari maut. Dia dapat mendengar Niko yang bergegas memanggil Pecco dan meminta makanan dalam waktu sepuluh menit.


"Aku mau coklat." Lena melirik Niko yang baru duduk di depannya. Dia panas dingin dan ketakutan setengah mati.


"Di hutan mana ada coklat?"


"Aku mau coklat, Niko," rengeknya.


"Huh, kenapa mintanya mendadak." Niko berdiri lagi dan berjalan ke ruang tengah. Dia melirik sepuluh anak buahnya yang baru membuka mata. "Kalian ada yang memiliki coklat?"


"Saya tidak punya, Bos." Seorang anak buah yang baru berdiri menjawab, dan yang lain juga jawabannya sama.


"Maaf, Bos."


Niko menoleh ke belakang pada Pecco. "Sampaikan pada logistik untuk membawakan coklat yang banyak dan makanan manis lainnya. Lalu keperluan melahirkan, bayi dan obat-obatan lengkap."


"Baik." Pecco memutar bola mata dengan ragu-ragu akan berbicara.


"Tunggu. Bawakan juga, Nyam-Nyam, Marsh Mallow, wafer berlapis coklat, Chiki keju, minuman coklat, aneka kopi instan, bahan-bahan roti . Ya itu semua harus ada."


Pecco melongo sambil melihat jarinya yang menekuk tujuh. Tujuh item tadi apa saja. Hu, menyusahkan saja.


"Eh, tambah amunisi lagi." Niko melirik ke arah pintu. Lalu berbisik. "Perbanyak Granat, Basoka-"


"Bos, apa kita akan kedatangan tamu?"


Niko mengelengkan kepala. "Berjaga-jaga saja."


"Baik." Pecco melirik kanan, mengambil napas pendek. ""Ijin Bos, saya membawa coklat Bali, tetapi tinggal dua bungkus." Pecco langsung melihat mata bos bersinar. "Saya ambilkan sekarang." Sebelum mendapat jawaban, Pecco berjalan cepat ke kamar belakang dan berlari menyerahkan dua bungkusan kepada Niko.


Dengan berbunga-bunga, Niko berjalan ke kamar dan tampak Lena sudah berdiri di dekat pintu dalam keadaan terkejut seperti maling ketahuan. "Lena .... Hanya ada ini. Aku akan membawakan yang lain nanti." Niko membukakan kertas coklat.


"Aku ingin pipis." Lena melewati Niko dan bergegas menjauh, tadi hanya untuk alasan agar dirinya mempunyai waktu untuk menjauh. Dia melirik ke samping pada para lelaki yang sudah bangun dan tampak sekali mereka semua kaget akan keberadaannya di sini. Seolah dari tatapan mereka, tidak menyangka, bahwa dia tak mungkin ke sini.


Lena sampai harus ke kamar mandi, sekalian saja dia cuci muka dan sikat gigi. Sekarang di sini ada dua bilik. Bilik yang lain untuk pengawal. Sedangkan yang ini khusus untuk dia dan Niko.


Begitu Lena keluar dari kamar mandi, dia melihat Niko di luar pagar anyaman dan mengulurkan handuk dengan sudah tidak bertelanjang dada.


"Kamu jadi makan coklat?" Niko mengernyitkan kening dan melirik batang cokelat yang sudah dikupas di tangannya.


Lena meraup wajah dengan handuk, lalu mengangguk dan meraih coklat itu dan melirik langit yang mulai terang.


"Pagi-pagi makan cokelat?"


Lena tersenyum hangat dan mengisap ujung batang coklat. "Ya .... "


"Coklat itu, sepertinya, tak seenak dengan coklat susu unta yang kubelikan di Qatar." Niko dengan antusias melihat wajah Lena yang begitu menikmati makanan, setelah selama ini terus memasang wajah dingin dan tak semangat makan. "Apa kamu ingin coklat susu unta lagi?"


"Tidak Niko, ini sudah cukup." Lena menyampirkan handuk mini ke bahu. "Kamu mau coklat ini?"


Niko menggelengkan kepala. "Untuk kamu saja, nanti kamu kekurangan coklat, lalu memasang wajah sedih. Aku tidak suka itu." Dia tersenyum lepas, tetapi saat melihat perut Lena, pandangannya langsung kosong. Dia membenci bayi itu yang sudah membuat Lena kesusahan.


...****************...


Bulu kuduknya merinding,  saat Lena mendengar letusan tembakan. Matanya terbuka dan bergegas bangun karena keributan di luar letusan senjata saling bersahutan. Suasana mencekam karena berikutnya pintu kamarnya terbuka dan tanpa aba-aba Niko menggendong ke depan dan pindah ke kamar paling belakang, menurunnya di tengah ruangan dengan lampu dipadamkan juga pintu ditutup. Di lengan Niko menggendong senjata Laras panjang


"Niko, kenapa di luar menakutkan sekali?" Lena kebingungan dalam kegelapan karena berikutnya Niko duduk memeluknya dari belakang dengan napas Niko terdengar lebih cepat di atas telinganya. Dia merasakan tangan Niko gemetaran. "Niko katakan kenapa!"


"Apa itu David?" Lena memekik dengan mata melebar. Jantungnya seperti mau lepas dari tempatnya. Apa mereka berusaha mencegah David kemari. "Dia pasti David!" Harapan Lena seketika membumbung tinggi, akhirnya David datang dan menemukannya.


"Diam." Niko menggeram, yang membuat Lena terdiam karena mulai berpikir dan menebak-nebak.


"Pasti itu David!" Lena berusaha berdiri tetapi ditahan pelukan Niko di perut.


"Berbahaya, tetaplah di sini Lena! Peluru bisa saja menyasar ke perutmu." Niko membuang napas kasar.


Lena duduk ketakutan dan memegangi perutnya. Suara letusan itu terus menggema mencekam dan disusul teriakan kesakitan seorang lelaki. "Tidak! Kamu tidak boleh menembaknya. Tolong suruh mereka berhenti! Jangan tembak David."


"Tidak! Kamu tidak boleh menembaknya. Tolong suruh mereka berhenti! Katakan itu bukan David!" Lena menyingkirkan tangan Niko dari dadanya.


"Diam Lena!"


"Kamu tidak boleh melukai David!" Tangisan Lena pecah dan jantungnya berdebar kencang, gelisah ingin melihat ke luar. "Dia penting bagiku! Kamu bisa melakukan apa saja padaku, tapi jangan David!"

__ADS_1


Kelopak mata Niko bergetar, sebegitu wanita itu mencintai David?


"Niko tolong hentikan mereka. Aku mohon!" Lena menjerit histeris sampai tubuh wanita itu gemetaran dan tak berdaya.


__ADS_2