Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 11 : SOUQ WAQIF


__ADS_3

Lena bersyukur karena yang menelponnya adalah nomer Ika, teman di depan kamar. Dia kira David menelponnya, tetapi ya mana mungkin. Sampai dunia kiamat juga mungkin takkan menelponnya. IMPOSSIBLE. Kenapa ada sedikit rasa kecewa. Memang kenapa kalau David tidak telepon. Ah bukan urusannya!


"Hei, aku gedor kamar, nggak keluar-keluar. Kamu nggak pulang atau ada penjahat menculikmu?" tanya Ika dari telepon tanpa jeda.


"Tenang-tenang Ika," Lena memelankan suara, " aku di rumah temenku."


"Oh, jam berapa pulang? ngomong-ngomong ini ada 10 paper bag titipan dari keamanan, katanya buat kamu. Jadi, aku bawa ke kamarku dulu."


"Ya, sudah. Nanti aku ke kamarmu, aku mau cuci muka, soalnya baru bangun nih," kata Lena mengurungkan niat saat ingin tanya bungkusan itu dari siapa.


Telepon dimatikan Lena saat Niko keluar dari kamar mandi. Dia berpapasan Niko yang harum. Hampir saja Lena tak tahan dan ingin menghambur ke pelukan Niko. Hehe setelah ingat Niko yang hobi getok kening, nggak jadi deh.


Di tempat lain, Axel mengeluarkan amplop dari dalam saku dan disodorkan ke atas meja. "Jangan katakan apapun pada temanmu."


Ika membuka amplop yang berisi lembaran uang. Dia menyeringai karena lembaran uang yang diterimanya. "Ini untuk saya semua?"


"Terimakasih Tuan! jangan sungkan-sungkan bila butuh bantuan saya lagi." Ika memandang pria tampan yang dari tadi diam saja. Dia pikir pria itu menyukai Lena sampai pagi-pagi seperti ini sudah mengantar banyak barang belanjaan. Ika kembali ke kamar dengan kegirangan, memang benar, pepatah banyak teman banyak rejeki.


"Buat dia pulang lebih cepat, Xel." Rahang David makin mengeras karena Lena tak menjawab pesan Axel sama sekali.


"Caranya gimana Tuan?"


"Cari tahu sendiri, Bodoh." David beranjak dengan hati panas. Apa yang dilakukan Lena di tempat kumuh. Apa mereka berpelukan, atau ciuman?


Ketika David kembali ke hotel, dia mendapat laporan bahwa Lena jalan-jalan ke pasar tradisional bersama Niko. Detak jantung itu kian tak terkendali hingga membuat dada David terasa sesak. Teleponnya terus berdering, dia kira dari Lena, tetapi dari Shinta, yang membuatnya semakin bad mood.


Aku butuh kamu, Len.


Di loby David menjumpai Tara berkelahi dengan security. Perkelahian terhenti begitu Tara melihat David. Tara meludah ke samping security, lalu mendekat ke David yang menebarkan racun mematikan lewat mata deepblue.


"Dav, ayo kita makan di luar. Telepon dan chatku kenapa tidak pernah kau balas." Tara memelas di depan David. "Kita 10 tahun berteman susah senang, apa kau hanya diam begini mengabaikanku bahkan mengusir ku? Jawab!"


Belum selesai Tara berbicara, David memandang ke sekitar dengan santai pada semua pegawai yang menunduk dengan pucat pasi. Enam orang security datang dan menarik Tara yang sudah kalang-kabut meminta penjelasan pada David, tetapi kali ini security berhasil menarik Tara hingga ke jalan.


David geleng-geleng kepala, dengan tangan terkepal. Bom dalam dirinya siap meledak. Jika dia Hulk pasti melemparkan Tara ke kutub utara agar dia tak pernah melihatnya lagi. Mobil yang dikendarai David keluar dari pintu keluar hotel, di jalan trotoar dia melihat Tara yang berlari berusaha mengejar mobilnya.


"Dav! Kemarilah berbicara denganku! Ini pasti ada salah paham!"


David menendang kursi pengemudi, dan sopir semakin meningkatkan laju kendaraan. Dia benci pernah menyayangi Tara, karena sahabatnya kini begitu menjijikan. Tidak hanya sampai sini, dia akan membuat perusahaan frozen food Tara hancur berantakan. Begitu pun Shinta, dia bersumpah akan membuat tunangannya lebih menderita daripadanya.


...----------------...


Lena dan Niko mengelingi pasar tradisional Souq Waqif. Mereka istirahat sejenak untuk sarapan di pinggir jalan dengan biaya antara 8 - 20 ribu per porsi. Mata mereka menikmati lalu lalang orang timur tengah, di antara bangunan yang hampir semua tertutup plasteran semen kasar, berwarna krem dan tidak ada genteng!


Kemudian Lena mengikuti Niko yang masuk toko Emas. Pacarnya itu memilih dan membayar sebuah kalung. Mungkin untuk ibunya Niko.


Saat berada di tengah Souq Waqif, Niko minta tolong pada seorang pria agar mengambil gambarnya. Mereka berfoto di Le Pouce, patung berbentuk ibu jari yang sangat menarik karena selain bentuknya, warna emas yang melapisi seluruh permukaannya membuat patung ini terlihat mencolok. 



"Apalagi saat malam hari, patung ibu jari ini terlihat mengagumkan, lho," kata Niko pada Lena yang melihat hasil gambar mereka.

__ADS_1


"Oh, ya, memang kamu sudah ke sini malam-malam?" tanya Lena.


"Itu kata temenku, Sayang," kata Niko berbohong. Dia sudah dua kali ke sini bersama Marsha saat malam hari.


Lena cheers saat Niko mengambil foto selfie dengan pipi mereka saling menempel, dimana patung ibu jari menjadi background. Mereka tidak tahu bahwa David di kejauhan beberapakali mengikuti Lena.


Niko menarik pergelangan Lena memasuki sebuah toko, lalu memesan sebungkus coklat. Dia mengeluarkan dompet dan membayarnya menggunakan kartu, sedangkan Lena menghitung dengan kalkulator ke rupiah.


"Sayang, mahal. 400 ribu sayang uangnya," bisik Lena ke telinga Niko.


"Tak masalah. Aku ingin membahagiakanmu. Kita bisa mencicipinya setiap ketemu," bisik Niko di depan wajah mungil Lena yang memasang tampang sangat serius.


"Kalau kelamaan Expired dong?"


"Kalau gitu, kamu harus langsung habisin demi aku, Sayang. Ini cokelat Al Nassma kan ada campuran susu unta, hanya bisa didapat di sini, di Qatar. Mumpung kita di sini." Niko begitu gemas sampai mencubit kencang hidung Lena hingga meninggalkan jejak merah, dan gadis itu menggerutu karena tak terima.


Saat akan pulang, Lena membeli satu kg permen dan menawarnya hingga 20 riyal Qatar atau sekitar Rp 77 ribu. Niko membeli satu pashima warna krem, lalu Lena menawar dari harga aslinya 30 riyal Qatar (Rp 116 ribu), dan bisa dibeli 25 riyal Qatar (Rp 96 ribu).


Begitu juga saat memilah Dallah. Teko arab dengan permata indah, Lena kembali menawar. Hal itu membuat Niko tercengang, bahkan sampai di dalam mobil.


"Kamu pintar nawar, si?" Niko senyum-senyum sendiri, ada rasa takjub yang sangat menghiburnya.


Lena terkikik malu. "Kan, lumayan."


"Eh rambut belakangmu ada apa, coba aku lihat. Kamu hadap jendela!" sentak Niko dan Lena langsung patuh. Niko terkikik sambil mengeluarkan sesuatu dari saku.


"Ada apa si? Cepat ambil! Kamu nakut-nakut ... tin." Mata Lena membesar dan mulutnya ternganga. Kalung bermata hijau menggantung di depan matanya. "Sayang, bukankah itu ... untuk ibu kamu?"


"Aku juga mencintaimu, Niko Alfarizi." Air mata Lena berjatuhan begitu terharu, pada Niko yang selalu membuatnya tersentuh. Dia beneran tidak tahu harus berterimakasih bagaimana pada Niko yang masih memikirkannya. Uh!


"Nyicil mas kawin, boleh kan ya?" Niko mengancingkan kalungnya. "Nah, sudah, sekarang .... " Niko mengedipkan matanya yang panas, saat menyibak rambut sepunggung Lena untuk di keluarkan dari kalung. Dia mengelap air mata yang lolos saat melihat kulit tengkuk Lena yang berambut halus.


"Nyicil mas kawin?" suara Lena serak.


Niko menelan saliva kasar, dan hatinya ngilu saat harus mencurangi Lena. Maaf, Sayang. Kau harus tahu, cuma hanya kamu yang berarti.


Niko mengelap air matanya, mencoba tegar kala Lena berbalik. "Nah, kamu sangat cantik, kalungnya tambah cantik karena kamu."


"Iko, uhh, makasih ya?" Mata Lena berbinar. Dia meneliti mata Niko yang merah. "Aku jadi makin sayang."


"Aku kangen kamu, Lena." Niko merem4s jari-jari Lena.


"Aku juga, Niko." Lena makin mencengkeram remas4n jemari Niko yang penuh setrum4n cinta dan membuat detak jantungnya kian tak beraturan.


Niko mengacak pucuk rambut Lena. "Yang penting kamu harus terus semangat, Lena cantik ku!"


"Iya, Iko gantengku!" Lena mengecup pipi kiri Niko, hinga membuat Niko membelalak.


"Hei,hei, Nakal!" Niko menggelitik perut sang kekasih sampai Lena tertawa kegelian minta ampun hingga menangis tak kuat menahan geli. Mereka tertawa sepanjang perjalanan saat Lena bercerita mendapat coklat dari seorang kakek, karena jadi tukaran permen.


Setelah menaruh barang di mess Lena, Niko mengantar pacarnya ke Stadion Lusail. Kemudian Niko menunggu di parkiran saat Lena absen. Namun, teleponnya berdering dari sang teman.

__ADS_1


"Halo, Nik. Ini Marsha nyariin kamu ke rumahku!" teriak Amar dari telepon. "Cepat telepon dia suruh pulang! Dia gila apa masa tidak percaya, padahal aku bilang kamu tidak di sini!"


Tangan Niko terkepal. Kepalanya sudah mau pecah menghadapi Marsha. "Iya, Amar, sorry, aku kesitu sekarang." Niko segera meluncur ke tempat Amar, dia sampai lupa bahwa dia sedang menunggu Lena.


Ketika Lena keluar dari stadion, mobil Niko sudah tidak ada. Dia lalu dapat chat masuk, bahwa Niko dapat panggilan mendadak dari kantor. Saat dia berbalik David muncul di depannya dengan sebuket bunga mawar di depan dada.


"Dav, kamu nggak telepon dulu, kok sudah di sini. Itu bunga buat sapa? Untuk Shinta ya?" Lena langsung membelalak karena bunga itu dibanting lalu dibejek-bejek.


"Nona itu bunga untuk Anda," kata Axel penuh penekanan.


"Astaga, David!" Lena langsung berjongkok, lalu meneplak kaki David dengan keras. "Kalau sudah tahu buat aku, kenapa dibejek-bejek! Sayang belinya pakai uang, kan?"


Bodoh aku susah-susah merangkainya sendiri ! ( David)


David menggertakan giginya, melihat Lena mengibas bunga yang lecek dengan jari mungil. "Untuk apa kamu ambil! aku bisa belikan lagi! Cepat masuk!"


Perempuan itu melirik jam tangan, lalu masuk ke jok belakang. "Untung ini masih bisa diselamatkan. Tapi kenapa kamu bawa bunga, ada perayaan apa, David?"


David yang duduk berjauhan dengan tangan terlipat di depan dada, sedikit terhibur walau baru mendengar ocehan Lena.


"Lagi-lagi tak usah menyebut nama si tukang selingkuh," titah David.


Mata Lena membesar. "Shinta maksudmu?"


"Siapa lagi? Ya itu lah, masa pacarmu! "


"David, kau kejam sekali. Hati-hati kata-kata adalah doa."


Emang pacarmu selingkuh !(David)


"Kita mau kemana?" tanya Lena saat Mobil sudah mulai lewat gurun pasir.


"Belanja."


"Nggak mau."


"Harus mau!"


"Dav, kemarin aku melihat mantanmu di Stadion."


"Bukan urusanku."


"Bukannya kamu kemarin di Stadion bersama dia?" Lena bertanya tanpa menghadap David, tangan mungil itu bermain pada kelopak bunga warna merah.


"Tidak, aku di hotel." David mendekat ke Lena. "Tidur di mana kamu semalaman? Kau senang seharian bersama pacarmu dan melupakan aku?"


Lena menghadap David, lalu menghalangi wajah David dengan bunga mawar. Dia trauma bila David menciumnya lagi. Tubuh perempuan itu mendadak gerah di dekat David.


"Siapa yang nggak senang bertemu pacar. Bohong bilang aku bilang tidak. Pertanyaanmu aneh. Dia kan calon suamiku, Dav. Jadi, untuk apa aku mengingatmu?"


...----------------...

__ADS_1



__ADS_2