
Malam Minggu itu Lena baru keluar dari salon kecantikan bersama sang ibu. Ibunya dengan makeup tipis dan rambut disanggul modern menjadi sangat cantik, seperti bukan ibunya yang sehari-hari. Saat masuk ke dalam mobil, Lena melongo karena ayahnya menggunakan batik, padahal sudah dibelikan baju bagus. Lena terdiam karena tidak berani berkomentar.
Saat telah sampai di rumah David, Lena makin melongo karena Axel tampak menurunkan sesuatu dari bagasi, dimana kotak Tupperware itu milik mamahnya karena warna ungu, hendak dibawa masuk. Dia mendekati Axel dan bertanya. "Apa itu, Tuan Axel?"
"Ini sate lilit, katanya dibuat saat Anda bekerja."
Lena mangut-mangut, lalu menunggu sang mamah yang baru keluar dari mobil. "Ibu bawa apa?"
"Itu buat keluarga David. Masa kemari tidak bawa apa-apa. Kamu itu gimana si?" Sumarni masih senyum-senyum sendiri karena pujian suaminya barusan, yang mengatakan dirinya sangat cantik. Sumarni menatap sang putra yang murung, lalu merangkul sambil mengelus bahu sang putra. Dia tahu maksud sang putra baik. Sean dari kecil sangat menjaga adiknya, dan tujuan ikut les judo, katanya untuk melindungi sang adik.
Leora menyambut Sujatmiko dengan jabatan tangan yang hangat di ruang tamu. "Selamat datang di keluarga kami, saya Leora Xavero, Kakek dari David."
Ardian menyalami Sujatmiko dengan tatapan dingin. "Ardian Leora, Ayah dari David. Panggil saja Ardian. Baju anda bagus. Itu Batik?" Tanya Ardian dengan kepala sedikit miring. Sementara Lena terus memperhatikan percakapan Bapak dan Papa Ardian.
Syukurlah, jika Papa Ardian menganggap itu bagus. Aku takut Bapak sampai sakit hati karena kata-kata pedas dari Papa Ardian. (Lena)
"Iya, batik khas Bali. Kami juga membawa beberapa bahan batik tulis dengan sentuhan tangan berkualitas tinggi. Anda bisa membentuk pakaian itu sesuai yang anda inginkan."
Ardian tertawa karena senang, mata coklatnya berbinar, ternyata ayah Lena tahu tata krama. "Sungguh? Anda terlalu repot-repot. Silahkan masuk."
Sujatmiko menyipitkan mata pada perempuan sangat fashionable yang ternyata Ibunya David, begitu juga sang nenek walau mereka berumur tetap sangat menjaga penampilan seperti anak muda.
Lena menghembus nafas lega, sejauh ini keluarganya, terutama bapak-ibu diterima dengan baik oleh keluarga David. Mereka menuju meja makan besar di taman penuh lampu kuning, suasananya sangat penuh kekeluargaan dengan musik saxophone.
Sean baru balik dari kamar mandi dan dia berpapasan dengan seorang wanita cantik yang sepertinya baru datang. "Secha ...."
Perempuan dengan dress warna pastel itu berbalik, mata hitam itu seketika berbinar. "Eh, Sean? Kok bisa di sini. Kamu kenal keluarga ini?"
"Kenapa kamu di sini?" tanya Sean balik. Lagi, jantungnya berdebar saat menghirup bau enak dari rambut Secha yang bergelombang.
"Papahku wakil direktur di perusahaan Tuan David. Papah tidak bisa hadir, aku manager operasional pabrik di PT Mutiara Pangan Indonesia."
"Pabrik apa?" Sean terpesona pada cara bicara Secha yang sangat menarik perhatiannya..
"Pabrik makanan ringan. Eh tapi apa kepentinganmu di sini, Sean? Setahuku, ini acara keluarga. Hanya pejabat tinggi perusahaan yang dipanggil ke acara makan malam Tuan David."
Sean menyengir kuda, seorang pelayan datang memanggilnya. Dia berjalan berdampingan dengan Secha yang sangat cantik dan penuh semangat. "Bisakah kamu duduk di sampingku? Aku sangat bosan."
Lena yang sudah siap semakin berdebar, siapa mengira ini makan malam formal. Tampak Ibunya semakin pucat dan gugup.
Di depannya meja makan yang sangat panjang satu baris. Karangan bunga mawar kuning, oranye, merah muda di atas meja. Kaca kursi Chiavari, Tiffany terbuat dari plastik transparan. Kata David , semua terdiri dari 45 orang keluarga David, 10 orang kantor. Di tengah-tengah taman terdapat tampilan proyektor besar yang menampilkan sisi tengah dimana Kakek Leora, orang tua David dan Orang tua Lena, juga David dan Lena. Sehingga yang duduk di ujung bisa melihat secara detail.
Mata Lena membulat saat di tampilan layar, seorang pelayan membisikan sesuatu di telinga Sean, lalu tampak Sean murung berjalan ke arahnya dan kini duduk di samping kanan Lema. Sementara David duduk berhadapan dengan Lena.
"Ibu tadi bawa sate lilit berapa?" bisik Lena saat ada hidangan sate lilit yang baru datang, yang dia yakini buatan ibu, karena aromanya sangat menantang.
"100 biji, bapak dan ibu yang bikin, kakakmu yang manggangin. Tadi ibu sudah minta Tuan Axel biar di panggangin itu sebentar biar anget."
Lena mengangguk. Tampak semua keluarga David mencoba, begitu Kakek mencoba mencicipi. Cara Kakek mencicipi itu seperti layaknya chef, membuat Lena merem4s tangan sang Ibu. Ya ampun mereka cuma mencicipi, tetapi ekpresi mereka serius banged. Jantung Lena berdebar, karena mereka ada yang mangut-mangut sambil berbisik, ada yang terpejam dan memakan kembali.
"Sate ini ... kaya rempah." Ardian menatap ibu Lena. "Delizioso ...." Ardian tersenyum sambil menatap sang papah.
"Iya, Lezat seperti katamu."
"Gustoso ... " Bilqis menyukai sate lilit, ini enak, rempah Indonesia tak jauh berbeda dengan rempah Italia.
__ADS_1
*Gustoso : enak. Delizioso: Lezat.
David mengedipkan mata genit pada sang kekasih yang tersenyum malu, saat dia baru menghabiskan satu sate. Namun, senyumannya pudar karena tatapan tajam Sean. "Sean, makanlah, perkenalkan itu Pizza khas negara kami, yang jarang ada toping ayam dan nanas seperti halnya pizza khas Amerika, seperti yang kebanyakan di jual negara ini."
"Lena, itu pizza Margherita, hanya adonan yang ditutup saus tomat, keju dan daun basil segar. Simple," Bilqis tersenyum pada Lena yang sedang mencicipi pizza.
"Ibu Sumarni, itu khas kota kecil kami, namanya pizza Napoli. Hanya berisi toping tomat, keju, anjing laut dan oregano. Semua diterbangkan langsung dari Italia." Bilqis menjelas dan Sumarni langsung menutup mulut seolah terkejut.
"Ibu, walau namanya anjing laut dan bentuknya menyerupai anjing, itu halal. Ibu tak usah takut," kata Sujatmiko pada sang istri, dia yakin dua anaknya turut mendengarkan kalimatnya.
Bilqis mangut-mangut. "Anda pasti terkejut. Jangan takut, di rumah ini, di dapur kami memastikan makanan yang kita santap malam ini halal. David sudah mengusung dapur kami dalam konsep makanan halal."
"Terimakasih, untuk semua suguhan luar biasa yang Anda berikan. Kami semua sangat menikmatinya." Sumarni mengikuti cara makan Bilqis yang memakan piza menggunakan tangan, begitu juga Kakek Leora makan pizza dengan menggenggam pizza. Syukurlah, jika pakai pisau, pasti aku tidak bisa.
Sean berbisik di telinga Lena. "Kenapa yang mereka sajikan ke piring kakak, pizzanya lebih tipis? Mereka membeda-bedakan, ya?"
Lena tersenyum malu karena tatapan David yang menyelidik, lalu Lena berbisik pada Sean. "Kakak, tadi, semua pizza beda varian. Kata David kalo versi Napoli lebih tebal, punya kakak versi asli lebih tipis. Lebih tipis dari pizza AS, tapi itu renyah, enak ... aku pernah mencicipinya. Kakak mau tukeran punyaku yang lebih tebal?"
Sean tak menjawab, dia menegakkan punggung dan menggenggam roti itu seperti cara David makan. Dia memakannya, memang ... renyah. Sangat tipis, hampir menyerupai kreker yang lebar sebesar piring. Kalau cuma makan ini tak membuatnya kenyang.
"Apa anda tahu, Pizza kami tidak pernah diiris setiap dihidangkan dia atas meja, berbeda dengan pizza Amerika," kata Leora pada Sujatmiko, dengan gerakan tangan khas Italia yang membuat lawan bicara selalu memperhatikannya. "Secara tradisional itu dijual sebagai makanan genggam yang dimakan oleh orang-orang neapolitas termiskin di jalanan. Itu tidak dipanggang, digoreng dan bisa polos atau sepiring adonan mentah yang hanya diisi dengan keju dan sayuran.
Pizza panggang baru lazim dalam beberapa abad terakhir. Saya juga dahulu penjual pizza, dan saya selalu menimbang dalam 80 gram adonan. Saya membuatnya begitu tipis, lalu dilipat empat hanya dengan sentuhan toping sederhana dan dibungkus kertas. Sampai saya menemukan perempuan hebat ... karena itu." Leora mengayunkan kepala ke kiri dan semua orang tertawa.
"Itu nostalgia pertemuan kami." Nenek Leora mengelus bahu suaminya dengan terharu disertai tepuk tangan anak-anaknya.
Sumarni menatap Sujatmiko dan saling melempar senyuman. Kisah Kakek-Nenek Leora membuka kenangan lama, karena dulu Sumarni sering membeli kue pancong yang dijual suaminya.
"Menurut pandangan anda pribadi, apa keunggulan pizza negara anda, dibanding pizza Amerika untuk orang awam seperti kami?" tanya Sujatmiko penuh minat pada Ardian. Dia bertanya karena Ardian terus diam, tetapi seolah ingin terjun ke dalam obrolan.
"Iya benar apa yang anda katakan," balas Sujatmiko dan tersenyum setuju. Dia menatap sang putri yang meringis tampak kebingungan.
"Mungkin kita perlu bekerjasama membuat pizza Italia di sini." Ardian menatap Sujatmiko, seolah dia bisa menebak pemikiran Sujatmiko.
"Terdengar bagus." Sujatmiko menimpali.
"Mungkin kita juga perlu membangun perusahaan lift dan saya dengar dari putri anda, bahwa Sean seorang insinyur mesin?"
"Itu terdengar sangat bagus juga." Sujatmiko mulai melunak seperti halnya nada bicara Ardian yang mulai luwes dan terdengar hangat.
Sean melotot sambil menunduk. Jadi, Lena juga menceritakan soal aku di depan ayah David? Kenapa orang kaya begitu mudah membuka bisnis? sedangkan orang sepertiku butuh usaha keras untuk meraih kebebasan secara mandiri.
David dan Lena saling lirik, lalu tersenyum puas. Sebuah bingkisan kado datang dari tangan pelayan. Itu Sujatmiko sendiri yang tadi siang membungkus itu dengan kertas kado bermotif batik.
Leora membuka kotaknya dan mengusap kain batik dengan teliti, sang istri juga turut menyentuh apa yang dipegangnya. Begitupun Ardian membuka jenis batik yang baru diberikan, dan menyetujui perkataan istrinya, akan barang dengan nilai seni tinggi, bagi mereka.
"Hadiah ini sangat berkesan untuk kami, khususnya bagi saya pribadi," kata Ardian menatap Sujatmiko, Sumarni, Lena dan Sean secara bergantian. "Terimakasih karena kedatangan Anda semua. Saya dan keluarga memohon maaf bila ada yang kurang berkenan dalam cara kami menjamu."
Sujatmiko dan Sumarni mengucapkan terimakasih kembali. Sampai Kakek Leora berbicara serius dalam rangka melamar Lena untuk David di minggu depan, dan bila itu diterima, di hari berikutnya akan melaksanakan pernikahan. Selama perbincangan itu berlangsung, David dan Lena menunduk dengan perasaan malu dan canggung.
Sean keluar dari kursi saat semua keluarga David mulai asik sendiri di sekitar taman. Sean menyendiri sembari menatap kolam ikan koi, sampai seseorang menepuk pundaknya. Dia hanya tersenyum tipis tanpa bisa menyembunyikan kesedihan.
"Mereka cocok, Sean. Sungguh adikmu diberkati, Keluarga Xavero dianggap sangat menjunjung tinggi kedamaian dan kebahagiaan terutama untuk para menantunya. Kehidupan mereka jauh dari gosip."
"Mengapa kamu seakan tahu banyak soal mereka, Secha?" Sean menoleh pada Secha yang baru duduk di sampingnya. Dia melirik tangannya yang disentuh Secha.
__ADS_1
"Apa kamu ragu pada mereka Sean? Papahku bukan baru awal ini bekerja dengan Tuan David. Awal mulanya, Kakekku bekerja dengan Kakek Leora, lalu Papahku bekerja pada Tuan Ardian. Sampai Papaku bekerja di hotel milik Tuan Ardian, yang lalu dioper ke Tuan David. Sekarang Papahku pulang ke Indonesia, Karena dipercaya oleh Tuan David. Papa juga merekomendasikan ku sampai aku lulus tes wawancara, dua minggu lalu di Qatar.
Kau tahu tidak, pabrik yang baru dibeli itu, nyaris dijual lagi. Karena .... maaf aku dengar dari papah, bahwa kekasih Tuan David itu, yang ternyata adikmu, sempat meninggalkan Tuan David. Tapi! ternyata seminggu lalu semua kepala manager dan direktur dipanggil mendadak! Hehehe.
"Kenapa kamu tertawa?" Sean mengerutkan kening.
"Katanya! itu mau jadi mas kawin untuk adikmu!"
"Apa?" Bahu Sean makin merosot. "Bagaimana bisa?"
"Semua itu sedang diurus ke notaris. Bosku sangat serius, kan? hehehe." Secha menusuk-nusuk pinggang Sean dengan telunjuknya. "Jangan cemberut dong, nggak enak dilihat. Sayang, loh, punya wajah cakep tapi disembunyikan."
"Apasih kamu, Cha? Disekelilingmu juga banyak pria cakep."
"Mungkin yang jual mahal seperti kamu jarang." Secha menutup mulutnya dan Sean kini menatapnya dengan alis berkerut.
"Sebenarnya, aku lebih setuju Lena dengan sahabatku. Aku tahu bagaimana luar dalam sahabatku, yang pasti takkan menyakiti Lena."
"Masa, kamu mau memaksa adikmu? Apa yang baik untukmu, belum tentu baik untuk Lena. Kita tak pernah tahu rencana Tuhan mempertemukan kita dengan jodoh yang telah Tuhan berikan. Kamu bukan Tuhan yang bisa mengatur perjodohan untuk mereka. Kita lemah, Sean .... "
"Kenapa kamu yang sedih?" Sean menatap Secha dengan tak berkedip.
"Aku mengikuti perjodohan Papa dan aku baru tahu, pria itu selingkuh saat aku sempat menaruh harapan padanya." Secha tertawa ringan. "Tapi, aku tak menyesal karena aku akan lebih berhati-hati dengan lelaki. Lalu bagiamana denganmu sendiri? Mengapa kamu sibuk dengan adikmu?"
"Aku tak penting. Mana ada perempuan yang mau denganku. Mereka kabur dan enggan dengan aku yang sering berkeringat dan bau badan."
Secha tertawa kegirangan. "Sean! Kamu lucu sekali?"
Sean mengapit kepala Secha di ketiaknya karena tak bisa berhenti tertawa. "Bau kan?"
"Ini memang bau alami, tetapi tidak akan membuatku sampai mati. Kau hanya perlu berolahraga lebih banyak, mungkin aku bisa membantumu? Sebenarnya ini bau yang macho, Sean ...."
"Apa kamu salah satu dari profesional pencium aroma ketiak dari pabrik deodorant?"
"Hahaha. Tidaklah ... lepas, Sean!"
"Kenapa, kau tak tahan baunya?"
David melihat Sean dari balkon lantai dua, dia tidka tahu sejak kapan pegawainya dekat dengan Sean. Dia mendapati tepukan sang pacar. "Lena .... bagaimana bila Sean tak menyerah untuk menghentikanku?"
"Mas, kakakku tak menghentikan kita. Dia yang memanggang 100 sate lilit tadi sendirian. Kakak takut, bila kamu akan meninggalkanku dikemudian hari, karena kakak tidak akan memiliki dana banyak untuk mencari Mas ke Italia bila Mas sampai mencampakkan aku." Lena tersenyum dengan lembut.
"Jadi, itu .... " David berfikir keras. Dia mengambil ponsel dan chat Axel untuk memindahkan Sean ke perusahaan lain dengan jabatan lebih tinggi. Berkat bantuan Mafia, David dapat mengenali siapa bos Sean yang masih bisa diaturnya melalui tangan kanan si mafia.
"Kamu sibuk apa?" tanya Lena dengan serius.
"Aku besok mau meeting dengan Wedding Organizer. Kamu besok ke rumah, kita kedatangan desainer terkenal yang baru naik daun, temannya Bianca. Seminggu bukanlah waktu yang cukup untuk menciptakan gaun pernikahan, Sayang."
"Terserah, Mas." Lena merasakan pelukan David yang tiba-tiba dari arah belakang.
"Dik, bikin Baby, yuk!"
"Mas .... "
David terkekeh pada rengekan kekasihnya, dia menggigit telinga Lena sedikit keras, lalu berbisik. "Siapa suruh pakai acara mundur-mundur?"
__ADS_1