
Ketika Niko baru pulang kerja, dia mendapati Emma duduk tertunduk di depan pintu apartemen. “Hei, untuk apa kamu di sini?”
Niko berjongkok karena tak ada balasan, dia mengangkat dagu wanita itu dan Emma membuka mata dengan tangan mungil menggosok mata. “Kau tidur di sini sejak kapan? Bahaya tahu.”
“Kak Niko sudah pulang. Aku-” Emma melihat jam tangan pukul delapan pagi. “Sudah satu jam disini. Biasanya kamu pulang jam tujuh?”
“Bangun, ayo masuk, aku ada pekerjaan tambahan tadi.” Niko berdiri dan memencet sandi pintu.
Emma mendongak dan jadi tahu sandi apartemen itu yang adalah ulangtahun Sean. Dia melengkungkan bibirnya ke atas, suatu saat dia masuk langsung ke sini. Emma berdiri, matanya terpaku pada apa yang dibawa Niko lalu ditaruh di meja. “Apa kamu selalu membeli makanan di luar, tidak masak sendiri?”
Niko duduk di sofa, melepas sepatu hitam, lalu ditaruh di samping sofa. “Aku dan Sean tidak bisa masak.”
“Kalau begitu aku akan bawakan kalian sarapan setiap pagi.” Emma dengan mata berbinar, dia bisa punya kesempatan untuk melihat Sean lebih lama.
“Sean jarang sarapan pagi,” kata Niko sambil melihat Emma yang tampak canggung.
Mata Emma berkedut seakan Niko bisa membaca pikirannya. Dia mengikuti Niko menuju kamar. “Kalau gitu, sarapannya untuk kamu saja.” Emma dengan penuh harap, asal dia tetap bisa melihat Sean.
Niko berbalik di garis pintu dan menatap Ema dalam-dalam. "Tidak usah, terima kasih,” ucapnya dengan tidak ramah, menutup pintu dan mata wanita itu membulat karena terkejut.
“Kenapa ditutup?” tanya Emma dengan suara meninggi dan begitu sebal.
“Ganti baju.” Niko berganti baju dan matanya terpaku ke dalam lemari di rak paling bawah. Itu bingkisan untuk Donna yang tempo hari dibeli saat bertemu Lena. Dia keluar dari kamar dan memberikan bingkisan itu tepat di depan perut Emma. “Untuk Donna.”
“Donna tidak ulang tahun, tetapi terimakasih,” ucapnya dengan penuh ketulusan dan tatapan penuh arti. Emma duduk di depan Niko saat Niko mulai memakan sarapan. Dia terus memperhatikan Niko yang cuek dan sibuk makan.
“Untuk apa kau masih ke sini? tahu kan Sean baru pulang nanti. Aku butuh istirahat. Sebaiknya kau pulang saja.”
“Kenapa terus menyebut Sean si, aku kan ke sini mau minta maaf sama kamu.”
“Udahlah nggak perlu pura-pura. Kau suka dengan Sean, kan?” Niko menatap Emma dengan malas. Wajah cantik itu seketika memerah seperti kepiting rebus. “Tak usah menyembunyikan senyuman juga. Ketika kamu mengigau nama Sean kamu sebut-sebut, nyaris saja aku jadi korban.”
“Korban apa?” tanya Emma dengan perasaan malu yang tak tertahankan.
Niko menghabiskan pasta suapan terakhir. “Tidak apa, lupakan saja. Sana kau pulang, aku mau tidur.” Niko dengan penuh gereget ingin menarik Emma keluar, tetapi kasihan, karena kemarin Emma menunggu dua jam di luar dan dia tak membukakan pintu.
“Tidur saja, aku masih mau main di sini.”
Emma tersenyum dengan percaya diri.
“Kamu ini tak tahu malu sekali, ini tempatku!” protes Niko.
“Ayolah, Niko, aku begini ini cuma sama kamu. Kau temanku lalu kemana lagi aku-”
“Bilang saja kau mendekatiku karena Sean, bukan murni karena berteman denganku.” Niko membawa piring kotor ke bak cucian dan membuang dus kotor ke tong sampah. “Jangan berharap ke Sean, nanti kamu patah hati. Kalau patah hati jangan menangis-nangis di depanku, ya.”
“Kenapa?” Emma dengan takut-takut mendekati Niko yang memasang wajah galak.
“Eh, tetapi aku pernah dengar dia menyebut perempuan.” Niko jadi ingat saat dia baru tiba di rumah David, di pinggir tebing, saat itu Sean pernah bilang bahwa Sean tidak berani mengutarakan perasaaan ke seorang perempuan.
“Perempuan, siapa?” Bibir Emma tertekuk. Dia menghela napas kecewa, tetapi Niko lalu tertawa sambil menaruh piring yang baru di cuci di atas rak piring.
“Aku juga tak tahu itu siapa. Tuh, kan, kamu patah hati duluan! Mending sama aku saja, ya?” kata Niko dengan nada seperti kakak pada adiknya.
“Uh, Niko, siapa wanita itu …. “ Emma dengan tak semangat, lalu memasuki kamar Sean dan tengkurap di tempat tidur Sean.
“Keluar dari kamar! Apaan kamu, sih!” Niko berdiri di garis pintu.
“Sean hanya boleh bersamaku.” Emma menarik bantal Sean, lalu memeluk erat-erat. Dia masih tengkurap dan menghirup bau Sean dari bantal
Niko menarik napas dalam-dalam, lalu menyalakan laptop di atas meja, di sudut kamar. Dia membuat laporan sebentar pada perusahaan keamanan tempat bekerja tentang penjagaan tadi malam.
__ADS_1
Sebuah email masuk dengan tertera nama Papa George. Sial padahal Niko baru membuka laptop, bagaimana bisa George tahu dia baru online. Apa laptopnya disadap.
Dengan cepat, Niko meraih ponsel dari dalam tas ransel untuk menghubungi Amar tetapi takut hpnya disadap. Dia ingin minta tolong pada Amar, karena adik Amar jago dalam urusan meng-hacker. Dia menoleh ke belakang, Emma masih terpejam. Lelaki itu menggigit jari dan berpikir apa apartemennya disadap atau ada kamera tersembunyi yang dipasang diam-diam.
Ponsel Apple yang adalah ponsel kerja, dipandanginya lekat-lekat, sepertinya, ponsel ini sudah tak aman. Niko membaca Email yang berisi lampiran foto Emma.
Kenapa jadi Emma. Apa karena Emma bepergian denganku? Untung George tidak menyebut Lena. Aku ingin tahu siapa George sebenarnya. Di dunia keamanan, teman-teman terlihat ketakutan dan bilang tidak tahu George. Padahal bila dibaca dari mata mereka, aku yakin mereka tahu sesuatu. Lalu apa yang diinginkan George dariku ? ( Niko )
Niko mengakui kehebatannya sendiri. Meskipun dia direkomendasikan David, bukanlah hal mudah menjadi pengawal dengan golongan Beta. Di perusahaan itu terdapat tujuh tingkatan, dan dia menempati golongan nomor dua dari atas yang berkemampuan khusus, yaitu golong B atau biasa dipanggil Beta. Dia mendapat kode angka nomer 20. Jadi dikantor dia biasa dipanggil Beta 20. Dari tingkat B ini dia mendapat pembekalan khusus dari senior dari tingkatan A. Niko mengakui kebaikan David padanya dan itu tandanya David juga mengakui kemampuannya.
Laporan harian telah dikirim ke perusahaan, Niko bangkit dari kursi kerja, lalu memeriksa Emma yang tertidur. “Kenapa ini anak hobi tidur sembarangan, lagipula memang dia tidak bekerja? Enak sekali jadi dia, mau tidur seharian pun, dikelilingi kemewahan yang mungkin takkan habis sampai tujuh turunan.”
Sebuah selimut diraih dari tempat tidurnya, Niko menyelimuti sampai punggung Emma. Lalu garuk-garuk kepala. “Aduh, selimut Sean dibawa Paolo! Kalau Sean tanya selimut itu, aku jawab apa?”
Niko melangkah ke ruang tamu dan mendapati ponsel Emma bergetar di atas meja. Matanya melebar saat melihat nomer Lena. Dia gatal ingin menjawab dan mendengar suara Lena, tetapi apa kata Lena nanti bila Lena tahu Emma berduaan di apartemennya, nanti Lena jadi mikir macam-macam.
.
Di butik, Lena menatap layar, tidak biasa-biasanya Emma tidak menjawab telepon dan belum datang. Dia jadi harus memimpin breefing pagi ini di depan manager desain, manager produksi dan manager pemasaran yang semuanya perempuan.
Lena juga memberitahukan rencana kunjungannya dengan Emma ke pulau Kalimantan ke penangkaran buaya dan akan memilih dua pegawai yang beruntung untuk diajak ke Indonesia.
Manager pemasaran itu mengusulkan ide agar yang dipilih tiga orang dan bukan dua. Jadi, satu orang masing-masing dari divisi agar anak-anak semangat bekerja dan Lena menyetujui, tetapi tinggal menunggu persetujuan Emma.
.
David di kantornya sendiri, baru selesai meeting online di laptop dan 15 menit lagi giliran meeting dengan kantornya. Tiba-tiba Axel membawa laptop ke mejanya dan melapor soal penyusup yang sempat memasuki kantor Stefanie.
Komputer Stef sudah di cek oleh orang suruhan Axel. Entah tenaga ahlinya yang kalah hebat, atau penyusup itu yang terlalu pintar sampai orang suruhan Axel itu tidak menemukan kejanggalan pada komputer kakak iparnya.
David memang diam-diam mengirim tenaga ahli ke kantor kakek, saat tidak ada orang. Jelas, penyusup itu punya niat tidak baik pada perusahaan coklat milik kakek. Apalagi Kak Stef memiliki posisi penting di perusahaan Kakek.
“George ….” David meremukkan pena di tangannya dengan geram. “Sudah lama, setelah terakhir kali George mencelakai Paolo. Melaporkan ke polisi juga percuma. Pada ujungnya George bebas dari tuntutan hukum, padahal semua bukti mengarah padanya.”
“Atau dia akan berbuat buruk pada kakak ipar anda, karena mereka menggunakan komputer Nyonya Stef, padahal ada komputer Kakek Leora?”
“Ya bisa jadi. Kirimkan satu penjaga masing-masing untuk melindungi Kak Stef dan Romeo tanpa sepengetahuan siapapun," perintah David. Dia melihat ke seluruh penjuru ruang kerjanya yang berwarna krem dan wangi kayu cendana di ruangan dihirupnya dalam-dalam.
David sudah diberitahu Marcho, bahwa Marcho sedang mencari tahu motif Shinta dalam bisnis berlian di Jepang. Jadi, Marcho memintanya untuk menjaga Kak Stef. Namun, karena Kak Stef mendapat tugas di Praha, jadi David meminta tolong kepada Sean, karena dia tahu Sean dapat diandalkan.
.
Setelah mendarat di Napoli, Sean mengantar Stef ke rumah. Tentu saja, Romeo anak berusia enam tahun itu langsung menghambur ke Sean dan minta digendong. Sean memaklumi karena dua minggu adalah waktu yang sangat lama bagi Romeo karena ditinggal Stefanie, apalagi Marcho sudah satu bulan lebih tidak pulang.
“Paman, Romeo kangen Papa!” Romeo melingkarkan tangan ke leher Sean dengan manja.
Sean menatap sendu pada Stefanie, satu tangannya menahan pantaat Romeo. “Papahmu mungkin sebentar lagi pulang.”
“Paman Sean, tidur disini temani Romeo dong,” kata Romeo saat pamannya menggendong dia melewati ruang tamu.
“Paman Sean kan lelah, Nak. Romeo main sama Mommy dulu.” Stefanie berjalan di belakang Sean, dia mengelus kepala Romeo dengan kasih sayang.
“Paman Sean harus tidur sini!” rengek Romeo. Lalu saat Sean duduk di sofa ruang keluarga, dia turun dari perut Sean lalu menarik tangan Sean. “Ke kamar Romeo, Romeo mau main sama Paman.”
Stef menghela napas panjang, tidak enak pada Sean. Dia mengambil jus jeruk dari tangan pelayan, lalu menggelegaknya habis saat Sean memegangi kedua pipi Romeo sambil memberi pengertian. Bahkan Sean memberikan pengertian bahwa besok sepulang kerja, Sean akan kemari.
“Romeo nurut mama, ya? Kan mau punya adek,” kata Sean lalu memeluk Romeo sebentar, bahkan anak kecil itu begitu menghayati saat dipeluknya. Pasti Romeo sangat merindukan Marcho.
Romeo menggelengkan kepala dengan cepat dan menatap benci pada perut mama yang membuncit. “Romeo tidak mau punya adik, nanti Mama nggak sayang Romeo!”
Pelayan yang baru menaruh segelas jus jeruk terkejut karena gelas itu terlempar karena hentakan tangan Romeo yang seperti tak disengaja. Dia lantas mengambil gelas dan menarik tisu untuk segera menyerap air di karpet mahal itu. Hati pelayan wanita mulai bergetar karena sang nyonya yang mungkin karena hormon bayi jadi sensitif dan membentak Romeo, yang membuat Romeo langsung cemberut dan menahan diri untuk tidak menangis, tetapi tentu saja air mata itu berjatuhan di pipi mungil itu, sepertinya anak kecil itu hanya minta diperhatikan.
__ADS_1
Sean menahan napas, menikah saja belum, harus dihadapkan pada situasi seperti ini. Mau ikut campur takut kesalahan, padahal dia juga ingin cepat pulang. Kini pikirannya tentang kehidupan pernikahan yang dulu dia pikir enak, kini terbantahkan setelah melihat kehidupan Stefanie. Sean jadi tak mau buru-buru menikah.
“Dengar apa kata Mommy. Romeo harus masuk ke kamar, sekarang,” tegas Stef dengan suara pelan dan penuh penekanan, kata demi kata, tatapan mata emas begitu tajam.
“Paman pulang dulu. Besok pagi, Paman akan antar Romeo ke sekolah, ya?” Sean kasihan pada Romeo karena bahu mungil itu sampai bergetar.
Romeo mengangguk dengan bibir tertekuk dan masih menangis tanpa suara karena takut pada mommy. Dia berjalan ke kamarnya yang terletak di lantai satu. Sesampai di garis pintu kamar, Romeo melihat ke arah paman yang sedang pamitan pada mommy.
Romeo masuk kamar dengan lemas. Ponsel di diraih dari atas tempat tidur, dia berusaha menelpon Papi Marcho dengan dugaan Papi takkan mau menjawab. Matanya langsung berbinar karena tebakannya salah. Dia masih tak percaya bisa melihat wajah papi di layar ponsel.
“Hai Boy, maafin Papi karena baru jawab telepon.” Marcho yang di Jepang dan sedang istirahat sore di rumah kuno, mengerutkan kening karena mata merah putranya. “Romeo kenapa menangis? Romeo sakit?”
“Mommy baru pulang, terus marah sama Romeo. Romeo ingin main sama Paman Sean, tetapi tidak boleh sama Mommy.” Romeo mengadu sambil duduk di lantai dan menyeka air mata dengan tangan mungilnya. “Papi pulang, Romeo kangen Papi,” katanya dengan suara terisak.
Stefanie yang akan masuk kamar, mengurungkan niat dan memberikan privasi pada sang putra. Untung Marcho menerima telepon, kalau tidak pasti dia sendiri yang akan menelpon Marcho dan akan menumpahkan kekesalan pada suaminya.
“Seminggu lagi, ya, Papi pulangnya. Papi harus cari uang, Boy, maafin Papi.” Marcho tak tahu harus berkata apa. Hati dipenuhi rasa bersalah, tetapi sebetulnya dia tidak ingin meninggalkan Romeo.
“Uang Papi sudah banyak …. Papi pulang saja. Romeo sedih jauh-jauh dari Papi.” Romeo semakin terisak. Anak kecil itu semakin mewek karena melihat seorang perempuan cantik yang muncul di belakang papi dan melihat ke arahnya.
“Shinta ….” Marcho menyingkirkan tangan Shinta dari bahunya dan menoleh ke belakang, tetapi tangan itu justru melingkari leher. Semua itu dilihat oleh Romeo.
"Romeo, nanti Papi telepon lagi, ya? Papi ada pekerjaan," kata Marcho dengan cepat karena Shinta menempelkan pipi ke pipinya.
"Hai, Romeo-" Shinta dengan senyuman kegirangan, ingin menggoda anak kecil itu.
Romeo mengerutkan kedua alis dan bibirnya melengkung ke bawah, karena berikutnya telepon dari sang papa terputus. Sakit hati bukan main hati Romeo karena semua orang mengabaikannya.
Stefanie tertegun melihat ponsel itu terlepas dari tangan mungil. Tangisan jengkel itu membuat Stefanie menghampiri sang putra dan duduk perlahan karena kehamilannya.
“Mami itu tante Shinta cium pipi Papi,” isak Romeo dengan rasa cemburu. Papinya yang jarang dipeluknya justru dekat-dekat kakak cantik.
“Cium pipi?” Stefanie membawa kepala Romeo ke pahanya. Kini Romeo terbaring di lantai.
“Papi lebih suka main sama Tante Shinta daripada sama Romeo. Kenapa Tante Shinta nggak main sama Paman David aja, seperti dulu, biar nggak cium-cium Papinya Romeo?” tanya Romeo dengan sedikit ketus dan kesal.
Hati Stef bergetar karena mara. Bisa-bisanya Marcho bermesraan di depan putranya. Dulu dengan Anna sekarang Shinta.
“Tante Shinta itu peluk-peluk Papi, Mih. Romeo tidak suka!” Romeo terus mengadu dengan suara parau dan Stef tak dapat berkata apa-apa. Masih tidak menangis di depan Romeo saja sudah bagus. Entah, perasaannya sudah mati. Cintanya mulai berganti jadi perasaan jijik. Apa tidak ada wanita lain selain mantan dari adik sendiri.
.
Marcho mendorong bahu Shinta agar menjauh. Wanita dengan kehamilan empat bulan itu sangat agresif. Dia jadi geli sendiri. “Shinta, kau bisa masuk sini?”
“Kan tidak dikunci, Kak? Salah ya, aku masuk sini?” Shinta dengan senyuman manis.
"Nggak salah, tetapi kan ada bel, tekan itu dulu lain kali." Marcho dengan hati-hati jangan sampai menyinggung Shinta.
“Ngomong-ngomong, aku ingin pulang ke Italia besok saja.”
“Begitu? Tetapi kita belum bertemu, vendor terakhir?” Marcho duduk bergeser dan menjauh.
“Sepertinya tidak perlu lagi, karena papahku sudah mengurus sisanya dari Napoli langsung.”
Marcho mengangguk. “Apa kamu ingin jalan-jalan?” tawar Marcho daripada harus di rumah tradisional berduaan dengan mantan kekasih adiknya.
“Bagaimana kalau kita ke tempat spa. Habis itu kita beli es krim termewah di negara ini.” Shinta dengan tatapan berharap penuh. “Bantu aku, Kak. Bayiku ingin makan es krim itu. Katanya Kakak sebisa mungkin akan terus membantuku kalau aku butuh bantuan?”
Marcho mengembus napas panjang, gara-gara satu malam di hotel itu dia jadi terjebak sampai sekarang. ”Tunggu di sini, aku akan bersiap-siap dulu.”
“Baik, Kak.” Shinta tersenyum licik saat Marcho kembali ke kamar. Dia sudah tak sabar lagi menunggu Lena ke Indonesia. Kerja sama dengan Marcho sudah berhasil, George pasti akan senang dengan ini. Lalu dia akan menunggu George menjalankan rencana terakhirnya.
__ADS_1