Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 18 : RUANG RAHASIA


__ADS_3

David menahan tubuh mungil Lena yang terkulai di lengan kiri, ditepuk-tepuk cukup keras pipi mungil yang basah karena air mata. Leher Lena terasa dingin dan lembab. "Len! Lena! Kau mendengarku, Na? jawab kalau kamu mendengar suaraku!"


Axel yang baru datang, membelalakan mata dan segera berlari dari ujung lorong, lalu mengambil tas hitam dari lantai begitu tuan menggendong tubuh nona yang terkulai, dan membawa ke dalam kamar.


Kenapa nona bisa di sini ? Axel menutup pintu, dia ikut gelisah karena tuannya yang panik. Tas nona ditaruhnya di sofa. Pria berjas silver itu, berjalan tergesa-gesa melewati sekat pemisah dengan ukiran kayu tua, yang bernilai ratusan tahun dan langsung diimpor dari Jepang.


Axel terpaku saat David melepas sneaker hijau, lalu menaruhnya di dekat nakas. Sang asisten merogoh saku celana dan mengambil ponsel Apple nya. "Saya telepon Dokter Jamal, Tuan."


"Jangan," titah David. Dia mengecek napas dan denyut nadi Lena yang lemah saat Axel sudah menempelkan ponsel ke telinga, sontak asistennya itu langsung mematikan telepon.


"Jangan panggil dokter keluarga, nanti kakek salah paham dan mengira aku yang sakit. Jamal sangat setia dengan Kakek. Lagi pula Lena hanya butuh istirahat sebentar."


Axel memutar mata bingung saat tuanya mengambil air panas yang di campur angin dingin dan madu dari dapur mini. Tuannya juga mengambil botol kecil dari laci bawah, di nakas samping tempat tidur. Ah! kalau cuma pingsan nggak perlu secemas itu si? Bikin deg-deg an saja, Tuan! Kupikir nona serangan jantung karena menghadapi sikap absurd tuan!


Axel melirik jam seraya berpikir lebih dalam, dan langsung mengingatkan tuannya, "tersisa 45 menit lagi, Nona harus sudah di stadion. Waktu tempuh menggunakan bis bisa sampai 30 menit. Jadi, kita harus bagaimana?"


"Kau tidak lihat Lena sedang sakit? suruh orang lain untuk mengurus ijin. Jangan sampai kakek mengetahui bahwa Lena disini."


David menuangkan minyak telon cap 'Njonja Meneer'. Dia terkekeh karena asal produk ini yang satu negara dengan Lena. Mata deepblue berbinar begitu melihat pergerakan tangan Lena. "Sayang! Kau bikin jantungku copot!"


Gadis itu memerjapkan mata beberapakali, karena menghirup aroma jamu pedas. Tangannya memilin kening yang sakit. Dia mengarahkan pandangan saat mendengar panggilan David.


"Na, minumlah dulu air madu ini."


Lena merasakan lehernya diangkat tangan David. Dia terpaksa meneguk air hangat manis berwarna kuning hingga berkurang setengahnya. "Mmmh." Lena mendorong gelas agar menjauh. "Su-dah."


"Nih! Keringat dinginmu sangat banyak, apa kamu belum makan?" David membaringkan kepala Lena dengan hati-hati, lalu menaruh gelas di atas nakas.


Lena menggelengkan kepala dengan lemah. "Belum sempet." Dia belum mengambil jatah sarapan, karena Niko tiap pagi selalu mendatanginya. Demi tidak berpapasan dengan Niko di mess, Lena langsung pergi naik bis dan melupakan jatah sarapannya.


Biasanya Ika akan membawakan jatah itu untuk makan di Stadion. Sayangnya tadi saat absen tak bertemu Ika. Sumpah demi apa perutnya seperti dikeruk, dia beneran masuk angin.


"Tunggu sebentar, Na. Kasian sekali sayangku ini." David beralih ke Axel dan menatap dengan tajam. "Mana lama sekali?"


"Makanan sudah dibawa Chefnya langsung dan baru sampai lift, Tuan." Axel yang berdiri di dekat tempat tidur, gemetar karena aura gelap dari netra deepblue. Sementara Lena menggigit bibir bawah karena panggilan 'sayang'. Namun, otaknya sedang tak sanggup berpikir. Dia sampai mual saking laparnya. Setengah piring anggur tadi masih tidak mengganjal lambungnya yang kini melilit.


"Kamu bisa duduk?" David yang duduk di samping Lena, lalu menaruh minyak telon di samping gelas.


"Aku bisa duduk, jangan khawatir, Dav," lirih Lena sambil duduk dibantu David. Dia melirik jam tangan dan matanya membulat karena jiwa tanggung jawabnya. "Eh! Kurang 40 menit lagi. Aku mau berangkat sekarang."


"Tidak perlu, sayang." David menarik bahu Lena yang akan pergi, lalu disandarkan lagi pada bantal. "Axel sudah memberitahu temanmu. Nanti surat dokternya menyusul."


"Aku tidak mau bolos, Dav." Lena menggigit bibir bawah karena aura mendominasi dari pria berbadan wangi itu.


"Bandel! Apa gunanya kamu masuk, kalau sakitmu tambah parah? Yang ada kamu menyusahkan orang! Huh, Egoisnya kamu. Biar badanmu itu fit dulu." David geram karena Lena tidak memperhatikan kondisi fisik sendiri. "Sudah, jangan melihat jam lagi."


Lalu amarah David reda seketika karena tangan mungil menarik jubah milik David di bagian pinggang.


"Jika aku tidak datang sekarang, besok aku tidak bisa menemuimu."


Pria itu tersenyum dengan lembut "Kamu sakit dan ingin tetap masuk hari ini agar besok ... kita bisa bertemu lebih lama, begitu? kamu memikirkan waktu untuk kita?"


Axel membulatkan mata karena Lena mengangguk dengan lemah. Sang asisten terpaku pada pandangan mata hazel yang menatap David penuh arti dan seakan mengharap sesuatu pada David. Axel yang melihat mereka jadi ikut berdebar, seakan-akan dia merasakan cinta masa mudanya dengan sang mantan.


Hah ada apa dengan mereka. Bukannya, perempuan itu kemarin menolak mentah-mentah? Apa itu sekarang? Kenapa juga tuan ... tak bisa berhenti tersenyum! Hih sok manis. Apa tuan kira perempuan itu adalah Nona Shinta? (Axel)


"Kamu yakin kuat meski badanmu lemas? Bukankah kamu harus istirahat," tanya David dengan penuh perhatian.


"Aku selalu kuat." Lena tersenyum lemah, dan keringat dingin semakin bercucuran dari atas kening. Dia ingin menyeka keringat, tetapi tak mau terlihat lemah di depan David. "Aku akan naik bis. Tekanan darahku hanya turun tiba-tiba. Sekarang sudah baik-baik saja, kok."

__ADS_1


"Aku ingin kamu libur. Kamu istirahat dulu. Besok baru masuk Stadion. Kemudian besok aku bikin waktu kita menjadi luar biasa dan lebih lama setelah kamu pulang kerja," kata David dengan lembut.


"Makasih sudah peduli denganku, Dav."


Pria itu mengangguk dan senyum dengan cara menawan. Tangan kekar menarik tisu yang berada di atas nakas, lalu menyeka kening Lena. Poni basah itu terbelah dua dan menyingkir ke samping. Mata hazel hanya berkedip perlahan membuat jantung David makin berdebar.


"Na, Lihat ini kok bisa kamu berkeringat banyak begini." Tiga lembar tisu telah basah. " Kamu mandi keringat. Memangnya kamu semalam nggak tidur? Wajahmu pucat sekali."


"Aku tidak bisa tidur semalam, Mas." Lena menggelengkan kepala dengan lemah. Niko selalu menghantui tidur malamnya. Tidak datangnya David juga turut menyumbang kekacauan pada dirinya, kesepian semakin parah, hingga dia terjebak pada perasaan tidak terima. Aku sangat membenci Niko demi apapun.


"Kamu bodoh," cebik David. Kenapa tidak telepon aku kalau tidak tidur?"


"Kukira kamu mungkin sudah tidur?" lirih Lena dan tersenyum, walau dalam hati ingin menangis. Kenapa bukanlah Niko yang seperti ini. Kenapa haruslah orang asing.


Wajah perempuan itu semakin panas karena tatapan Axel di kejauhan yang membuatnya risih. Pasalnya Lena sedang di tempat tidur dengan David yang menempel di samping. Ini sangat memalukan karena dia bukan siapa-siapanya David, tetapi harus terjebak pada keadaan seperti ini.


Tuan Axel apa tidak bisa pergi atau setidaknya jangan melihat kesini ? (Lena)


"Pokoknya mulai sekarang, kamu harus sering menelpon. Jangan peduli jam. Kita memang tidak bisa sering bertemu. Minimal kamu harus Video call ke aku, atau sekadar mengirim chat juga pesan suara. Ya? Ya! Mari kita melakukan yang seperti itu mulai dari sekarang. Ideku briliant ya, Na!"


Mata David berbinar dan berbicara dengan penuh semangat. Lena mengangkat dua sudut bibirnya dengan hati lapang. Dia bagai seorang ibu yang senang karena anaknya dalam kegembiraan.


"Lena sayang, bila kamu tadi mengabariku dan bilang mau ke sini. Aku pasti pulang lebih awal. Memang kamu berapa lama, sudah menunggu aku di bawah?" David masih duduk di sisi kiri Lena. Kaki kiri di lantai dan kaki kanan bersentuhan di kaki mungil.


"Aku sudah chat kamu, tetapi belum dibaca. Cuma sebentar kok," lirih Lena dengan sungkan.


"Ponselku dalam mode hening. Sorry, Lena aku tidak tahu kalau ada chat dari kamu."


Pria itu menekan pipi mungil dengan kedua tangan hingga Pegangan tangan besar itu langsung mengendur karen Lena meringis kesakitan. Netra deepblue menatap Lena dengan sangat dalam, seolah dengan tatapan itu mampu menggambar pola-pola aneh yang hanya diketahui David.


Axel melotot dan menduga pasti mereka akan ciuman. Dia berbalik dengan tidak menimbulkan bunyi. Satu: memegangi wajah. Dua: saling pandang. Yang Ketiga: Pasti tuan menyerobot nona !


David melirik sebentar ke asisten yang berani-berani di posisi memunggungi. Itu hal paling tidak disukai David. Menurutnya sangat tidak sopan. Dia berdeham sangat keras. "Ekhem!"


Axel kira David ingin waktu untuk berduaan. Jadi, dia melenggang pergi dan semakin mempercepat langkahnya ketika deheman itu makin keras.


David langsung melotot karena Axel mengabaikan deheman David berulangkali. Asisten bodoh! Seharusnya berbalik kenapa justru pergi! Biar kuhukum kau nanti, Xel !


"Tenggorokanmu sakit, kah?" Lena mengangkat satu alis, dan meringis, karena pegangan David seperti mau membejek-bejek pipi mungil.


"Sepertinya aku haus, tenggorokanku gatal, Sayang," kata David beralasan, lalu mengendurkan pegangan di pipi mungil. Dia sangat ingin memakan Lena. "Ini kenapa bentuknya sangat mungil, seperti kue saja."


David menekan kuat pipi Lena dengan telapak tangan. Bibir mungil itu kini sangatlah manyun oleh tekanan dari tangannya. Pria itu terkekeh. "Lucunya." David tak sadar jarak mereka saring berkurang. Bahkan hidung nyaris bersentuhan.


"Dav, sakit," lirih Lena. Ingin memukul David tetapi tidak punya tenaga. "Enak saja, kau samakan mukaku dengan kue."


"Tapi kamu memang seperti kue, terlalu manis," bisik David di wajah Lena. Tentu saja Lena hanya tersenyum tipis. Gombalan takkan menghilangkan rasa laparnya.


Lalu David terdiam, kecewa terhadap dirinya sendiri setelah tak sengaja membuat Lena menunggu. Kesabaran seperti itu membuatnya takjub dan makin tersentuh. Bila dia harus menunggu orang lebih dari 10 menit, pasti David memilih pergi. Kecuali dengan Shinta saat dulu.


"Maaf sudah membuatmu menunggu. Kamu juga bodoh si? Kenapa tidak telepon Axel!" teriak David yang menyesal karena pergi dari pagi demi memamerkan dua cewek tadi ke depan Shinta.


"Maaf, Na!" pekik David sambil menjewel pipi Lena berkali-kali sampai meninggalkan jejak merah karena perempuan itu hanya mengernyitkan kening.


"Sakit," ringis Lena dan David langsung mengangkat dua tangan untuk menjauh dari pipi mulus.


"Aku tidak apa-apa. Lagipula aku bosan di mess." Lena mencoba tersenyum dengan tulus sambil mengelus pipinya yang perih oleh cubitan David. "Lagipula di bawah aku di beri kue oleh manager hotel."


"Manager?" David mangut-mangut bangga. Manager pilihannya ternyata sigap dengan kedatangan Lena. Jadi, dia akan memberi bonus pada manager yang peka. David menyeringai sangat senang.

__ADS_1


Axel mendorong meja stenles berisi makanan ke dalam kamar dan melihat dua orang itu dalam keadaan canggung dan tuannya langsung berdiri.


Kenapa mereka? Habis ciuman kah? ( Axel)


Ketika David menyuapi Lena, ponsel Axel bergetar. Dia berjalan ke ruang tamu, dan mengangkat telepon dari Kakek Leora dengan jantung berdebar.


"Hallo, Tuan Besar?" Axel menduga pasti akan menerima misi baru.


"Datang ke kamar David dalam lima menit. Saya sudah di lift," tegas kakek Leora dari balik telepon.


Axel menganga lebar, matanya mendelik, dan langsung berlari ke kamar. "Baik, Tuan Besar. Saya sudah di kamar Tuan." Axel mematikan telepon saat David mendelik ke arahnya dan tahu situasi menjadi darurat.


"Tuan, Tuan Besar di lift." Axel terus berpikir saat tuannya langsung menaruh piring di meja stenles.


"Ayo, pergi ke kamar sebelah dulu, Len." David turun dari tempat tidur dan menggendong Lena. Bahkan hampir berlari menuju pintu dan berkejaran dengan waktu. Paling tidak dia hanya memiliki waktu tiga menit untuk melewati lorong.


Axel menarik tas Lena. Saat membuka pintu, matanya melotot karena melihat Tuan besar Leora yang diikuti empat pria berjas hitam. "Mereka baru keluar dari lift."


David hampir menabrak Axel. Dia sampai melepas tangan dari paha Lena karena menahan di tembok agar larinya terhenti. Lena yang baru jatuh langsung berjinjit karena ketinggian tubuh David, dan masih menopang punggungnya.


"Sorry, sayang," des4h David kembali menggendong Lena. Uh pikirannya sangat kacau.


"Kita terlambat, Tuan," suara Axel retak.


Sontak Axel mundur dua langkah, tetapi masih di garis pintu. "Tuan David, Tuan Besar sudah datang."


Dunia Axel langsung gelap. Dia akan ketahuan masih membiarkan David bertemu Lena. Detik ini juga dia akan dipecat dan disingkirkan. Bayangan wajah menyeramkan tuan besar itu membayanginya. Tubuh Axel membeku dan memberi isyarat tuannya dengan gerakan tangan di belakang pantaaat, agar tuan menjauh.


"Lena, kamu tidak boleh terlihat oleh kakek," gumam David dengan jantung berdebar kencang. Dia jadi terbayang masa depan Lena yang suram. "Kamu bisa terkena masalah."


Lena makin mencengkeram jubah David. Tidak tahu dengan situasi apa yang dihadapi sekarang. Dia yakin jelas ini tidak baik.


Dua orang menyeramkan itu saja tampak tak bisa berkutik dan mungkin ketakutan. Lena tanpa sadar sudah gemetar, merinding dan berkedip berulang kali merekam wajah pucat pasi David yang baru pertamakali dilihatnya.


"Aku akan menyembunyikanmu." David dengan yakin berjalan ke dalam. "Beri jeda, Xel!" perintahnya pada Axel dan berlari.


Lena melotot karena setelah David menurunkan tubuh mungilnya, jari pria itu menekan tombol di bagian dalam lampion 'lampu tidur' , yang bersebelahan dengan nakas tempat tidur. Pintu kamuflase itu lalu bergeser, siapa mengira ada pintu.


Lampu sontak menyala, David membawa Lena masuk dan pintu dinding kamar tertutup. Kini di pintu berikutnya, David memasukan pola khusus pada layar sentuh. Juga memindai sidik jari dan kornea mata pria itu. Pintu berderit bergeser, pintu besinya sangat tebal.


"Kamu di sini dulu, tunggu ya." David mendudukan Lena di sofa yang ada di ruangan. "Jangan khawatir."


Lena terpejam ngeri setelah David mengecup kening kirinya. Dia menggosok-gosok kening. Kenapa pria itu asal mencium, tetapi bukan ini masalahnya.


Pintu besi itu tertutup, kini Lena menggigil. Apa bahkan di ruangan seperti ini ada AC yang tak terlihat. Ini seperti di dalam gua, dingin dan tidak bisa mendengar suara apapun.


Nafasnya menjadi sesak, walau ruangan terang seperti di Mall, tetapi berderet-deret lemari besi sampai menyentuh atap dan berwarna army membuatnya pusing. Entah ruangan ini untuk apa.


Seperti gudang penyimpanan barang. Hanya saja masing-masing tutup lacinya hanya selebar buku tulis. Dia berdiri dan melewati celah yang terlihat, ternyata itu lorong panjang seperti semacam perpustakaan.


Lena melangkah gemetar ke dalam lorong di antara deretan lemari. Lebar lemari satu meteran dangan depan belakang laci yang semua tertulis angka. Setiap lemari terkelompok dan terdapat kode Alfabet di bagian samping.


David yang baru keluar dari pintu rahasia, langsung menekan tombol di bagian kaki lampu. 'lampu tidur' yang tingginya hampir setinggi Lena itu, mulai bergeser dan tenggelam ke balik dinding. Hingga tidak ada yang tahu akses itu siapapun termasuk Axel. Namun, Lena ....


David garuk-garuk kepala dengan kasar. Dia loncat ke tempat tidur dan menutupi diri dengan selimut, lalu terpejam. Keributan terdengar jelas, sepertinya Axel dibekuk pengawal kakek. Namun, yang jadi masalah di sini karena sekarang dia menjadi was-was dan mencemaskan pada sesuatu di balik tempat tidur.


Aku sudah menutup semuanya belum, ya? Jangan sampai Lena menemukan itu. Sepertinya Lena hanya duduk di sofa. Tidak mungkin kan Lena berjalan lebih dalam! Kenapa aku membawa dia ke sana! Ah sudahlah yang penting selamat dari kakek dulu. Kenapa aku jadi tak tenang begini. (David)


...----------------...

__ADS_1



__ADS_2