Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
Bab 27 : RUMAH PAPA ARDIAN


__ADS_3

"Ini kenapa begini? Hu! Aku nggak mau datang ke sini lagi, pokoknya, Mas Sayang,"isak Lena saat merasakan jempol panjang, menghapus air mata ketakutannya. Tatapan David kali ini sangat menakutkan, dia belum pernah melihat David sekelam ini.


Lena yang terbaring miring ke kiri, berusaha membebaskan ke dua tangannya dari belitan ikat pinggang, saat jemari David kini mencapit dagunya dan menatap dengan tatapan dalam. "Mas sayang, aku mau pulang! Ini sudah malam."


David tersenyum karena terhibur pada gerutuan Lena. "Maukah kamu menjadi istriku, Lena Sayang?"


Lena ternganga dan makin terisak saat melihat tatapan netra Deep blue yang kini serius. "Kamu bercanda, Mas Sayang?"


"Aku serius, Na. Aku ingin memiliki seorang istri yang setia dan yang mau mengerti diriku." David tersenyum penuh kehangatan. Jika kamu tak mau, aku takkan mau melepas ikatanmu sampai pagi."


"Pemaksaan," kata Lena dengan senyum menyengir kuda.


"Mau tidak?" Alis David berkerut dalam karena Lena mengangguk. "Apa itu?"


"Aku mau menjadi istri David Leora. Walau hubungan kita sepertinya belum ada perasaan yang dalam, tetapi aku akan berusaha untuk membuat pernikahan kita bahagia, Mas Sayang."


David mengecup kening Lena yang bau citruz. Dia duduk dan melepas ikatan tangan Lena. "Apa kamu mau mengabari orang tuamu tentang rencana kita? agar mereka tidak kaget saat bertemu denganku?"


Lena dibantu David duduk, dia melepas ikatan di kaki sendiri. Kemudian menatap netra deepblue David dalam-dalam. "Besok akan ku coba, ya Mas Sayang."


"Boleh aku memelukmu?" tanya David kembali bersemangat, tetapi Lena menggeleng kepala dengan wajah memerah membuat wajah David kembali tertekuk.


"Aku mau pulang sekarang ya? Biar aku naik taksi." Lena mengelus punggung tangan David dengan gugup dan tak kuasa melawan debaran jantungnya.


"Kamu tidur di kamar sebelah, Ayo." David menarik lembut tangan mungil itu dan mengantar Lena melewati lorong. Dia berpisah setelah mencuri ciuman di bibir Lena dan langsung berlari saat Lena memekik karena tidak terima. Kini David kembali ke tempat tidur dengan bersiul, pikirannya jadi Sibu mulai merancang pernikahan seperti apa yang dia akan tawarkan pada Lena.


...----------------...


Langit pagi sudah sangat cerah saat Bilqis menemui Axel di hotel. Putranya bahkan belum melihat ponsel, tetapi sudah keluyuran pagi mengantar gadis volunter. Di ujung restoran Balqis mendengar dengan seksama semua laporan Axel setelah dia menekan mantan asisten papa mertua itu.


Wajah Bilqis menegang, saat mengetahui kehamilan Shinta. Dia begitu terkejut sampai dirinya seperti terbelah jadi dua. Axel juga menyampaikan rencana pernikahan David dan Lena yang penuh keseriusan, yang membuat Bilqis geleng-geleng kepala karena. tampak tak masuk diakal.


Siang nya Bilqis tiba di Stadion, karena dia tak memiliki tiket jadi dia tak bisa masuk. "Bisakah saya membeli tiket di sini?


Lena yang baru berpaling langsung terbelalak. Dia seperti mengenali wanita itu, tetapi dimana. "Maaf Ibu, Anda harus memesan tiket via online di situs resmi FIFA. Kami tidak menyediakan pembelian tiket di tempat."


Bilqis mangut-mangut dan terus mempelajari fitur wajah gadis itu yang sibuk melayani penggemar bola dengan penuh ramah. Apa yang dilihat dari gadis mini ini?

__ADS_1


Lena melirik bingung pada perempuan yang terus memandanginya, jadi dia menghampiri. "Apa ibu membutuhkan bantuan?"


Bilqis tertawa ringan. "Apa kamu sudah tidak mengenal saya, cantik Lea?"


Mata Lena langsung melotot tak percaya sampai mulutnya dia lindungi dengan kedua tangan karena pekikkannya. Dia menoleh belakang pada Ika yang mengangguk penuh tanya. Lena kembali menatap mamahnya David dari atas ke bawah. "Tante Bilqis?"


Bilqis tertawa karena ekpresi baby face gadis itu lucu sekali. "Benar, Lea Cantik. Akhirnya kamu mengenali saya juga."


"Nama saya Lena, Tante." Lena menggaruk tengkuk yang tidak gatal, badannya panas dingin.


"Iya, Lena. Nanti malam saya akan menjemputmu. Jadi, kamu jangan bilang-bilang David soal kedatangan saya, ya?"


"Apa?" Lena mengerutkan kening dan tersenyum sangat malu. "Tante Bilqis, nanti malam David juga akan menjemput saya?"


Bilqis tertawa lagi. "Kamu harus beralasan pulang sendiri, ya?" Wanita itu menerima satu bingkisan dari pengawalnya dan memberikan Lena. "Ini makan bersama temanmu itu."


"Oh Tante repot-repot, tetapi terimakasih."Lena dengan kegirangan karen mamahnya David sangat ramah. Sampai kepergian wanita itu, Lena masih terbengong-bengong tak percaya. "Wow keren!"


"Siapa itu?" Ika melirik Lena yang bertingkat kegirangan dan terus memekik dan salah tingkah.


"Tenang-tenang, Lena!" Ika dengan gemas memegangi dua bahu Lena agar mau diam dan loncat-loncat. "Siapa dia?"


"Mamahnya David! aku salah ngomong nggak ya? Ya Tuhan Aku malu sekali! Aku nggak bawa pakaian ganti. Gimana nanti malam aku terlihat sangat buruk!"


"Huh kenapa mamanya David nemuin kamu?" Ika mengerutkan kening karena penasaran dan jadi ikutan gelisah karena tatapan Lena yang terus memutar bola mata tampak berpikir.


"Aku tidak tahu Kenapa?" Lena menggigit bibir bawah dan kembali lesu. Di jadi terbayang penolakan Tante Bilqis tempo hari.


...----------------...


Setelah menempuh perjalanan setengah jam, Bilqis memasuki kantor hotel dan mendapati sang putra yang tertidur di meja. Di mengusap kepala sang putra hingga David mendongak dengan mata memerjap beberapa kali, tangan kekar itu menggosok mata. "Putraku."


"Mamah, maaf, David mengantuk. Dimana Papa?"


"Papamu sedang menemui kakek. Sepertinya itu tentangmu." Bilqis berjalan ke meja dan memeriksa ponsel untuk mengabari sang suami bahwa dia telah di kantor. Pipinya tiba-tiba di kecup sang putra hingga dia menaruh ponsel Applenya di samping.


"Mah .... Shinta .... " David dengan nada lesu, kepalanya bersandar pada bahu kiri Mama.

__ADS_1


"Iya, Shinta kenapa?" Bilqis dengan penuh kelembutan kini mengelus rambut sang putra yang tertidur di pangkuannya. Dia pura-pura tidak tahu apa-apa, walau dia sudah tahu dan sakit hati dengan penghinaan keluarga Luigi karena tak menjaga putri yang mereka bangga-banggakan.


"Tidak apa-apa." David menghela nafas kecewa tak mau mamanya tahu soal kehamilan Shinta. Dia menatap ke atas pada kepedulian sang mamah. "Mah, David lelah."


"Tidurlah, Nak. Mamah akan menjaga dan selalu ada untukmu." Bilqis mengusap kelopak mata David yang terpejam. "Mama tahu ini pasti berat bagimu. Tapi kita harus selalu maju ke depan. Apa kamu tak coba menemui kakekmu? Kasihan Kakek sedang tak enak badan sampai harus batal pulang."


"Kakek tidak menyetujui hubunganku dengan Lena." David dengan suara serak dan dadanya terasa berat. "Aku membenci Kakek. Mamah harus membantu, Mah."


"Kamu tolong temui kakekmu dulu. Beliau sangat patah hati karena cucu tersayangnya ini sudah ngambek berhari-hari. Kamu tidak kasian melihat Kakek memikirkanmu tiap hari?"


David membuka mata. "Aku akan membawa Lena saat menemui kakek. Mah, aku akan ikut pulang bersama Lena ke Bali."


"Apa kamu serius?" Bilqis bertanya dengan antusias saat putranya duduk dan memegangi kedua tangannya. "Kamu tidak main-main dengan perempuan Asia? tempatnya sangat jauh loh?"


"Mamah, aku serius. Hanya gadis mini itu yang bisa bikin David seperti menemukan pijakan saat David berulangkali akan jatuh. Ada Lena, Mah yang menarikku dari jurang kesedihan. Juga mama kan bisa buat pabrik parfum kenanga sendiri untuk diproduksi ke mancanegara bersama Lena. Apalagi bau kesukaan Lena sama dengan Mamah, aroma kenanga." David mengulas senyum dan hatinya kembali menghangat, bahkan dia bisa membayangkan sedang mencium aroma kenanga manis dari tubuh Lena.


"Baik, Mamah akan pikirkan." Bilqis tersenyum dengan bibir rapat dan mata berbinar. Dia mengusap kedua alis sang putra. "Demi kebahagiaanmu jagoanku."


David terharu dan terisak di dalam rengkuhan sang mamah yang selalu ada disaat-saat tersulitnya. Dia bersyukur memiliki Mamah yang mau melawan kakek dan papa jika David terus disudutkan oleh mereka. Mamah adalah pahlawan baginya.


...----------------...


Malamnya Lena begitu sulit untuk tidak membalas chat David dari sore sampai pria itu chat macam-macam dan berpikiran dia sedang chat dengan Niko. Namun, bila dia membalas, dia akan makin kesulitan beralasan pada David, nanti malam. Pokoknya dia sudah bilang akan pulang sendiri.


"Tante, David terus menelpon," lirih Lena pada wanita di sampingnya. Dia sudah berkendara lima belas menit.


"Biarkan saja, Lea." Bilqis menarik ponsel Lena. Dia melirik wallpaper Lena setelah panggilan itu mati. Tampak putranya begitu bahagia saat naik paralayang. Meski demikian dia tidak yakin pada hubungan David dengan Lena yang terlalu cepat. "Kamu siap bertemu papanya David?"


Lena bergidik dan memaksa senyum. "Sejujurnya, belum Tante. Saya takut bila Om Ardian tidak menyukai kedatangan saya."


"Lena, justru suami saya yang mengusulkan ide ini. Dia jauh-jauh dari Italia ingin melihatmu langsung. Jika ada sesuatu yang tidak suka, tolong kamu diam saja, ya? Papanya David, sebetulnya adalah orang yang mudah tersinggung berbeda dengan Kakek Leora yang sangat keras kepala."


"Baik Tante, Lena akan berusaha yang terbaik." Lena terus merem4s jemarinya di pangkuan karena gugup, apalagi saat mobil BMW hitam memasuki pelataran rumah di tepi pantai dan tampak mobil mewah David sudah di halaman depan.


Bilqis menunggu di depan pintu, pada Lena yang masih berdiri terdiam di dekat mobil. "Kemari, sayang. Jangan takut. Papanya David tidak akan melukaimu."


"I-iya." Lena melihat kanan kiri dengan jalan terseret. Keringat dingin di punggungny semakin terkena terpaan angin, makin membuatnya menggigil dan panas dingin. Apa aku akan dibentak atau terkena nada sinis dari Om Ardian?

__ADS_1


__ADS_2