Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 28 : INTEROGASI


__ADS_3

Langkah mungilnya langsung terhenti, begitu Lena mendapat pandangan tajam dari seorang pria tua di meja makan hingga membuat Lena diam membeku seperti diceburkan ke kolam es, begitu dingin dan menakutkan. Tampak David yang duduk berhadapan dengan sang papa, menoleh dan mata deep blue itu berbinar.


"Lena kamu di sini?" David memundurkan kursi dan berlari menghampiri gadis berwajah pucat pasi. Mamahnya lalu tersenyum dan menyuruhnya membawa Lena.


"Katanya Mamah sakit, jadi itu cuma alasan biar David ke sini dan Mamah justru membawa Lena?" David tersenyum bangga dan mengecup pipi sang mamah.


Dia membungkuk dan berbisik di belakang telinga Lena sambil memijat bahu Lena yang kaku. "Selamat datang di keluarga Ardian, Sayangku. Jangan tegang."


"Ekhem!" Ardian bergidik pada tingkah putranya itu, yang justru ngobrol sendiri. Sang istri menghampirinya dan mengelus bahu kekarnya, lalu berbisik.


"Papa tolong lebih santai, ya. Mungkin dia jodohnya David."


Ardian geleng-geleng kepala dengan tidak terima. Dia kurang setuju pada gadis keturunan Asia. Matanya terus berkedut bahkan saat David menarik kursi untuk duduk si gadis Asia itu saat Bilqis pergi ke lantai atas.


"Selamat malam, Om Ardian." Lena mengangguk dengan senyum kehangatan yang seperti dipaksakan karena mendadak otot-otot di wajahnya begitu kaku. Dia memberi hormat dengan sedikit membungkuk dan kembali berdiri tegap dengan canggung. Dia sangat ingin kabur saja karena tatapan dingin calon mertua.


"Duduk." Ardian dengan nada sangat dingin, lalu membaca setiap gerak-gerik Lena walau sekecil apapun, bahkan kerutan di kening gadis itu tak luput dari matanya.


Benar-benar tidak sopan. Berpakaian asal. Pasti juga kotor. Seleranya sangat rendah. Jika bukan karena kehamilan Shinta, pasti dia memilih agar David kembali saja pada Shinta. Batin Ardian masih duduk tegap dengan tangan merem4s kepalan tangan di atas meja.


"Perkenalkan dirimu!" tegas Ardian dan mengabaikan tatapan memohon sang putra yang baru saja duduk di samping Lena.


"Pah, bisa kita santai minum dulu?" David tak mengerti, papanya yang biasa santai justru sekarang seperti anjing penjaga yang sangat menunjukkan taringnya.

__ADS_1


"Geser duduk mu? kenapa dekat-dekat?" Ardian dengan pergerakan tangan untuk menyuruh David menjauh dari gadis Asia karena hatinya sangat tak nyaman dengan pemandangan ini.


David memilih menggeser duduknya , dan terus memandang Lena dari samping. Tangannya menggenggam tangan Lena yang berkeringat dingin, di pangkuan mungil itu untuk memberi kekuatan.


"Om Ardian, ijinkan saya mengenalkan sedikit tentang saya. Nama saya Lena Paramita dan tahun ini memasuki usia 26 tahun. Saya tinggal di Pulau Bali dan saya memiliki seorang Kakak laki-laki yang sangat saya sayangi bernama Sean. Dua orang tua saya dalam keadaan sehat yang juga selalu mendukung setiap usaha saya. Pekerjaan saya di bagian administrasi di salah satu perusahaan Jasa Angkutan di Bali, Om," kata Lena dengan sopan dan ramah. Dia bersyukur karena bisa menyelesaikan kata-katanya dengan lancar.


"Berapa pendapatan kamu? apa itu cukup untuk memenuhi keseharian mu, Lena? Dan apa yang sudah kamu mampu hasilkan dari sana?" Ardian dengan kening berkerut. Dia mengayunkan jari memberi isyarat agar David diam dan tak ikut campur, saat putranya akan menginterupsi.


Lena memutar mata, dia berpikir bahwa gajinya sangat kecil bila dibandingkan kurs negara lain. Dia menelan Saliva dengan kasar dan pasrah bila dia tidak bisa masuk kriteria menantu idaman. " 3.450.000 rupiah, Om. Itu sangat mencukupi karena saya sendiri masih tinggal dengan kedua orang tua saya."


Lena terdiam sesaat dan menatap David yang memberi tatapan penuh dukungan, lalu beralih pada Ardian yang mengelus dagu seolah berpikir Sangat dalam. "Saya bisa membeli satu unit sepeda motor, dan bisa membayar akomodasi ke Qatar dengan tabungan yang telah saya kumpulkan dua tahun." Lena menggigit bibir bawah, walau sebagian uang pinjaman dari kakaknya.


"Kenapa terlalu tegang?" Bilqis yang baru datang dengan gaun rumahan sambil membawa pizza yang masih mengepul ke atas meja.


Pembicaraan terjeda saat mereka semua melahap sampai satu potong pizza tanpa nanas khas Italia. Ardian berdeham karena David mencoba menyuapi Lena dengan garpu. "Lena, dimana kakakmu bekerja? Kudengar kakakmu sangat dekat dengan pria bernama Niko?"


Lena langsung batuk-batuk dan sejujurnya dia tak suka bila nama Niko disebut. "Kakak saya seorang Insinyur teknik mesin Lift di Bali. Dia adalah teman sejak SMA dari mantan kekasih saya bernama Niko.


Ardian mangut-mangut, dan tersenyum licik saat wajah David berubah masam. Dia menatap sang istri di samping yang barusan mengelus pahanya. Lalu kembali menatap tajam sang calon menantu. "Apa pekerjaan kesibukan orang tuamu?"


"Mereka pengusaha, Papa," balas David dengan cepat dan merem4s genggaman tangan mungil yang gemetaran.


"Pengusaha apa? Berapa pegawai yang dipekerjakan kedua orang tua mu, Lena?"

__ADS_1


Lena menelan Saliva kasar dan menatap Bilqis yang ikut menyimak dengan seksama. David akan menjawab, dan lagi-lagi tangan Ardian memberi isyarat agar tak menginterupsi. Lena menarik nafas dalam-dalam. Dia menjawab pertanyaan om Ardian dengan gugup "Mereka pengusaha keripik pisang dan mengerjakan semua dengan tangan sendiri tanpa memperkerjakan orang, om."


"Tanpa mesin? Kenapa?" Alis Ardian berkerut dalam. "Apa itu makanan dengan syarat produksi menggunakan teknik tinggi yang harus diproses dengan sentuhan tangan?"


Lena tertawa ringan dan menjadi lebih bersemangat. "Sebetulnya itu industri rumahan, Om, yang hanya ditangani oleh ayah dan ibu. Beberapa ibu rumah tangga di desa tradisional sangatlah hidup pas-pasan hingga kami harus menggunakan segala macam hal dengan penuh efisien terutama dalam hal biaya produksi. Meskipun demikian, saya sangat bangga memiliki kedua orang tua saya yang semangat dalam bekerja, saya tidak malu sedikitpun walau usaha mereka terbilang kecil."


Ardian mangut-mangut dan sedikit menarik kesimpulan, lalu tersenyum licik. "Senang berbicara dengan mu, Lena."


"Senang juga bisa mengobrol dengan Om Ardian." Lena menghabiskan pizza-nya dengan perasaan riang luar biasa, karena anggukan dan senyuman puas dari Bilqis, mungkin itu sedikit kabar baik baginya.


David membawa Lena naik ke lantai dua dan terus tersenyum bangga. Dia bersiap-siap mengantar Lena pulang. "Kupikir ini perkembangan positif, Sayang."


"Benarkah? Aamiin. Tapi .... " Lena tiba-tiba terpikir masalah utamanya. "Mas, agama kita berbeda. Kupikir, Ayah Sujatmiko takkan menyetujui pernikahan kita, juga bila sampai Ayah tahu kamu memiliki tatto?"


"Aku akan berbicara dengan Papa dan Kakek dulu, ya?" David tersenyum hangat sambil menyingkirkan rambut Lena yang menutupi wajah. "Masalah tatto, Mas akan menghapus satu-satu demi kamu, Sayang."


Ketika David mengantar Lena sampai gerbang mess. Dia memeluk sang kekasih tanpa minta ijin dulu. "Aku tak sabar ingin menjadi suami kamu, Sayangku Lena."


Kehangatan berbau citruz memerangkapnya. Lena merasa nyaman dan membalas pelukan sang kekasih. "Ini terasa seperti mimpi bagiku, Mas."


"Ini bukan mimpi, Sayang."


__ADS_1


__ADS_2