
...⚓AARE- BERN SWIS⚓...
David mengerutkan kening, sangat penasaran dengan apa isi dus biru persegi panjang, yang berpita putih. Dia tertawa renyah. “Mah, ini serius untuk Papah?”
“Iya, untuk Papah. Masa untuk angsa tadi,” celetuk Lena dengan nada keibuan. Dia melirik ke kanan pada birunya air, berusaha menenangkan jantungnya yang makin berdebar.
Ya, dia sangat bersemangat untuk berbagi berita dengan David dan ingin mengejutkannya.
“Kan, kamu yang ulang tahun Mah, lucu deh. Eh tapi nggak apa-apa si. Pantas saja, tahun ini aku nggak dapat kado, ternyata kamu yang kasih. OH! Ya Allah!” David mengulurkan tangan gemetar, dia menaruh kotak di pangkuan dengan hati membumbung ke angkasa. Diraihnya stick putih.
Alisnya lalu berkerut.
“Apa ini?” David mendadak ngelag, saat memegangi stik putih seperti model pena dengan kedua tangannya, membolak-balik. Sang istri lalu membalik stik dan tampak wajah Lena makin menegang. “Ini apa? Pena?” David melihat pena, lalu menarik tutupnya.
“A ... h! Papah, bukan itu.” Lena mendorong penutup stick dengan gemas. Apa suaminya tidak tahu. Telunjuknya menyentuh ke bagian tengah stick. “Ini ... Pah, dua garis merah.” Lena mendongak dan menunggu tanggapan David yang tampak tersenyum begitu culun, sepertinya sang suami kebingungan.
“Oh? Terimakasih, Mamah. Apapun semua hadiah dari mamah, Papah suka." David mengecup pipi sang istri dengan penuh penghormatan.
Lena memutar mata bingung, apa reaksinya begitu saja, kok David seperti biasa saja. ”Kita harus cari nama mulai sekarang, Pah.”
“Nama untuk apa?” David menaruh pena itu di dalam tas sang istri, dan memegangi tangan kedua sang istri yang masih saling meremas. Tampak sang istri meraih sesuatu dari tas, lalu menjerengnya sebuah kertas dengan tersipu malu.
“Nama untuk calon bayi kita," lirih Lena dan tertawa gugup penuh haru.
Lena berkedip pelan pada wajah tampang yang bingung. Dia bisa membaca seratus perasaan dari wajah suaminya, dan sangat yakin David lebih dari bahagia, bersemangat, takut, sedih, dan yang lainnya.
“Bayi? Apa kau hamil, Lena?” Suara David meninggi, karena itu topik yang sangat serius dan jantungnya berdebar kencang, indra penglihatan dan pendengarannya langsung dipasang benar-benar. Dia melirik perut sang istri masih rata.
“Pah?” Mata Lena menyipit, lalu berbinar. Dia menarik tangan David dan menaruhnya di perut. Dia mengangguk pelan dan berbicara lembut. “Dua garis merah tadi, tanda Mama positif hamil. Memang Papah belum tahu alat itu?”
Bola energi dalam diri David meledak, pikirannya sibuk memutar ulang kata-kata demi kata yang keluar dari mulut sang istri, dan kaliamat yang ditulis istrinya. Dia mengelus tangan sang istri dengan tangan kiri, sementara tangan lain meraih stik tadi. "Jadi, ini alat tes kehamilan dan kamu akan menjadi ibu, Mah!"
David menggaruk kening dan dua sudut bibirnya terangkat setinggi hidung. Gigi-gigi rapi nan putih tampak ketika David menganga, berikutnya dia tertawa karena saking bahagianya.
“Iya, Pah. Kita akan jadi orang tua.” Lena melingkarkan tangan ke tubuh David. Kehangatan menyebar ke seluruh tubuhnya karena kebahagiaan tiada terkira. Dia masih duduk di pangkuan David, pria itu masih tertawa dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tidak tahu itu alat tes kehamilan, kalau kamu tidak menjelaskan itu padaku, aku takkan tahu Mah. Aaaaaaaaaaaaaaaah! Aku akan jadi seorang papah untuk anakku!”
Para wisatawan di perahu yang berbeda dan di tepi daratan langsung berpandangan. Mereka yang mayoritas sudah memiliki anak, langsung tersenyum. Ya, mereka jadi teringat saat para suami mendapat kabar paling membahagiakan dengan kehadiran janin dalam perut sang istri.
“Huuuu! Selamat menjadi Papah!” seru wisatawan pria pada David , yang berada di perahu terdekat. "Kami berharap pria anda mendapatkan humor seorang ayah!"
__ADS_1
"Huuuu! Petualangan besar akan segera dimulai! Selamat atas kehamilan Anda." Sang istri wisatawan lalu bertepuk tangan dan bersorai.
Semua wisatawan di situ ikut-ikut bertepuk tangan dan memperhatikan saat si wanita asia langsung dipeluki dan diciumi sang suami yang tampan. Mereka yang sadar siapa pria yang bersama wanita asia itu, lalu menyerukan nama David Leora.
Nama David Leora terkenal di TV sebagai jajaran pengusaha kaya termuda dan masuk dalam majalah FORBES. Tepuk tangan penghormatan makin menggema.
Mereka yang mendengar itu, langsung tak berkedip langsung menebarkan pandangan kagum pada pria yang sering disebut di TV bisnis. Ternyata mereka sampai tak mengenal, karena aslinya jauh lebih menawan. Begitu melihat David, jantung mereka pun berdebar ingin sekali foto bareng, tetapi rasanya tak sopan.
Mereka semakin ketagihan untuk memandangi David, karena pembawaan pria itu yang sangat elegan bak Pangeran Wiliiam dari kerajaan Inggris. Ya, penuh dengan sejuta pesona walau dilihat dari jarak beberapa meter.
Begitu turun dari perahu, Lena merasakan tubuhnya melayang, karena gendongan suami. Dia mendapat tatapan iri dari para wanita. “Pah, turunin dong, malu ini di tempat umum.”
“Kamu nggak boleh kecapekan, Sayang. Jika aku tahu kamu hamil, aku takkan membuatmu berjalan, padahal tadi sudah jalan ada 5 km. Oh sekarang, ayo kita ke dokter periksa, aku takut bayiku ada apa-apa,”suara David dengan penuh kekhawatiran. Dia sudah menunggu ini sejak berkemah di Qatar. Perasaannya tiap menit, makin membuncah. Semua bayangan kebahagiaan berputar di kepalanya, bagaiamana dia nanti menimang bayi, mengadzankan di telinga bayi begitu lahir, dan masih banyak lagi.
“Baiklah,Mas, aku juga belum ke dokter,” Lena mengeratkan pegangan pada leher David menuju kendaraan yang telah di sewa. Mereka sering melempar senyum dengan gereget, dan wajah mereka makin bersinar, terutama David. Lelaki itu yang merasa ini adalah hadiah paling terindah dalam hidupnya, dia sangat mensyukuri.
...⚓ NAPOLI- ITALIA⚓...
Marcho yang baru datang langsung duduk di sofa ruang keluarga, di rumah David, dengan bermain dengan Romeo-putra kesayangannya. Sementara, Stefanie naik ke tangga menuju ke kamar Lena, untuk meminjam baju. Bajunya basah karena Romeo sudah menumpahkan minuman. Dia yang berjalan cepat, menghantam dan seorang yang baru keluar mendadak dari kamar.
"Ah, sorry." Niko yang tidak jatuh, menahan perut seorang wanita yang akan jatuh, lalu melepasnya.
"Terimakasih," lirih Stef bingung. Dia menoleh ke belakang ke arah tangga, memastikan ini pintu ke tiga dari tangga. "Bukankah, ini kamar David? Siapa kamu?"
"Oh, Sean? Dimana Sean? Dia mau berbicara denganmu?" Stef mendapat tatapan do perutnya yang tercetak basah.
"Tentu saja Sean mau berbicara denganku, sudah dulu, ya. Permisi."
Stef mengerutkan kening, lalu bergegas ke walking closet milik Lena. Dia sudah bilang ke Lena, dan Lena memintanya agar langsung ke kamar Lena untuk memilih sendiri pakaian yang akan dipinjam.
Begitu keluar dari kamar Lena, Stef menenteng kaos basahnya, melewati sebuah kamar terbuka. Dari sana terdengar suara tawa Sean. Kata David, Sean terpuruk, tetapi Sean baik-baik saja tuh."
"Kak Stef?" Sean yang terkejut, langsung bangkit dari karpet dan menaruh majalah pria. Dia berjalan ke arah pintu, tampak teman kerja dikantornya tengah berdiri di pintu dan menatap tangannya yang cacat.
"Huh! Kamu tak berniat balik kantor? Nggak seru, kerjaanku makin menumpuk tahu."
"Aku malu, kak." Sean melirik kaos batik milik Lena yang dipakai Stef.
"Aku meminjamnya, soalnya Romeo membasahi pakaianku. Daripada beli, aku mampir ke sini karena lewat. Ayo dong, kamu kembali ke kantor, ruangan ku jadi sepi karena nggak ada kamu." Stef dengan sopan.
Niko datang mendekat saat mereka berbicara. Dia dikenalkan dengan Stef yang katanya, iparnya David. Semoga wanita itu tidak curiga, atau melaporkan pada David Atau Lena, bahwa dia telah masuk kamar mereka.
Di lantai bawah, Marcho, Kakaknya David itu menatap layar ponsel. Telepon dari Shinta. Dia ragu, tetapi akhirnya di angkatnya. Padahal dia dulu malas, si4l sejak malam panas itu, dia bahkan sulit berkutik untuk tidak menerima telepon Shinta.
__ADS_1
Marcho berbicara cukup lama dengan Shinta, dan menyudahinya saat melihat Stef turun dari tangga, bersama Sean. Dia tak suka setiap melihat istrinya dengan Sean. Pasalnya, Stef tipe orang sulit berbicara ramah dengan orang lain, tapi saat bersama Sean tampak sekali Stef begitu santai. Dadanya bergemuruh saat Romeo juga menghampiri Sean dan Sean bahkan menggendong dengan satu tangan kiri. Ah Stef, pria cacat begitu aja di ajak ngobrol!
...----------------...
Marcho keluar dari rumah David dengan kesal, Shtef tak ikut pulang dengan alasan ada kerjaan yang harus dikerjakan dengan Sean, bahkan putranya tak mau ikut dengannya. Teleponnya kembali berdering dari Shinta.
"Hallo, aku di tengah jalan. Ada apa?" tanya Marcho dengan dingin dan wanita itu terus nyerocos. "Kenapa harus di hotel? Di kafe tempat temenku saja. Di sana sedang sepi. Ya sudah aku bagikan alamat. 20 menit kamu tak datang, aku pergi, ya."
Marcho melempar ponsel, bukan apa-apa. Dia ingin tahu kenapa dia merasa Shinta menggunakan nada lembut padanya. Padahal, dia dulu selalu berbicara kasar. Bahkan wanita itu tampak biasa saja tidur dengannya.
-
Shinta bangkit dari tempat tidur, tetapi George menarik tubuh polosnya kembali dan kembali menyerangnya leher. "Aku harus pergi dulu, Marcho sudah menunggu."
"Berhati-hatilah .... " George yang masih berpakaian lengkap, terus memandangi keindahan tubuh Shinta yang ditin*dihnya.
"Aku bisa urus diriku sendiri."
"Kau bisa menghancurkan rencana kita." George dengan nada rendah dan penuh penekanan.
"Kau harus yakin." Shinta memagut bibir George dengan berakting sangat lembut. Padahal dia sangat jijik sekaligus ngeri bila dia membuat George marah.
"Kau harus membuat Sean keluar dari rumah itu," titah George.
...----------------...
Axel di kantor induk sang tuan. Dia melihat aktifitas mencurigakan dari Shinta yang menjual semua saham milik wanita itu di perusahaan milik kakek Leora. Tetapi dia juga tak mendapati Shinta membuka usaha baru. Padahal, dia pernah mendapati Shinta menyuruhnya setor dua koper uang dalam pecahan dolar Amerika. Gadis itu tipe paling malas menyimpan uang berbentuk tunai.
Notifikasi email berbunyi dari persatuan para asisten di keluarga Leora. Dia membuka isi pesan, tentang pertemuan keluarga besar, akan diadakan di rumah Marcho. Itu satu hari setelah bosnya pulang dari Swiss.
Ponsel Axel kembali berdering. Itu telepon dari Georgia. Alis Axel berkerut dalam, biasanya dia yang telepon mafia itu. Sepertinya, sang bos tidak ada masalah. Dia berpikir pada setiap kemungkinan dan mulai berbicara.
"Apa kau butuh bantuan, Xel? AKu mendengar sebuah laporan ada yang mengganggu keluarga bosmu. Maksudku, istri bosmu, dan iparnya. Kamu tak membutuhkan bantuanku?"
George tertawa kecil dengan cara yang seram dari balik telepon. "Biar aku membantu .... Tak enak rasanya, ini ada di wilayah ku, tetapi aku dibuat kecolongan."
Axel memeras ponsel di tangannya. Pasti ada udang di balik batu. Dia menyakini, George-mafia yang sudah tak butuh uang. Sungguh sulit tahu isi pikiran George. Banyak orang tak menyadari, bahwa George bermuka dua dan sangat pintar dalam mengelabuhi semua pihak
Padahal Axel yakin, George hanya mengambil keuntungan, lalu setelah pria itu berhasil, maka George akan pergi. Setelah beberapa waktu, timbullah masalah, di antara orang-orang yang ditinggalkan George. Orang mengira George membawa kebaikan, karena setiap ada George semua orang menjadi akur, padahal yang sebenarnya, lelaki itu begitu lihai mengadu domba dengan cara sangat halus.
Dulunya, Axel pernah kagum dengan George, tetapi begitu Kakek Leora memberitahunya. Semua omongan Kakek Leora menjadi masuk akal. Dia menjaga David, terutama dari George atas arahan Kakek Leora.
...----------------...
__ADS_1