Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
Bab 38 : -2


__ADS_3

17 Desember 2022


Ini adalah hal tersulit yang pernah aku tangani dalam hidupku dengan semua kebaikan dan persiapan yang antusias yang kamu berikan untuk pernikahan kita. Itu seperti mimpi saja bagiku, sepertinya aku tidur terlalu panjang dan bermimpi indah. Walau aku tahu ini bukanlah mimpi.


Aku ingin membuatmu sebahagia mungkin dengan memberi kamu cinta terbaik yang aku bisa. Semua pengorbananku akan lebih berharga daripada keegoisanku. Aku ingin melakukan yang terbaik, apapun yang terjadi, tetapi ada sesuatu yang tak bisa kuungkapkan padamu soal alasan kepergianku. Memang, aku menjadi pecundang dengan pergi diam-diam. Tapi aku bisa apa lagi?


Batin Lena saat David menyuruhnya mencoba berbagai pakaian mahal di butik, di Mall terbesar bergaya Venice-Italia. Mereka lalu memasuki salon perawatan, padahal Mall itu belum buka dan kosong pengunjung, tetapi bagaimana bisa David masuk dan tempat yang dituju pun sudah buka. Satu jam mereka berada di salon untuk perawatan kilat spa rambut, juga pijatan di bagian tangan dan kaki.


Keluar dari salon, Lena telah mengenakan gaun musim panas. David terus tersenyum dengan berseri-seri, dengan tatapan nakal. Lena yang merasa ada yang salah pada dirinya, makin memeluk lengan David lebih erat dan makin tertunduk untuk menyembunyikan malu tak tertahankan


David kembali melihat gaya rambut Lena yang bergelombang dan berkilau. Dia tidak mengira setelah di make up, ternyata Lena memiliki lekukan mata yang sangat bagus dan tajam, sampai jantungnya bertambah dag dig dug ser. "Kamu seperi putri kerajaan."


David dengan nada lirih dan malu-malu sendiri setiap mendapat tatapan tajam dari Lena, dimana pipi itu memerah. "Aku beruntung memilikimu. Untung aku gerak cepat hehehe."


"Apa si? gombal." Lena dengan tidak percaya, dia menggaruk terlinganya dan makin tertunduk. Matanya berputar dan jadi senyum-senyum sendiri.


"Ayolah, jangan sembunyikan ini dari calon suamimu." David menyengir sambil mengusap pipi Lena, sekaligus agar dia bisa melihat kecantikan calon istri yang menggemaskan. "Kamu cantik cantik cantik!"


"Mas sudah dong, jangan terus membuatku malu." Suara Lena mengecil seperti tercekik. "Aku mau absen loh."


Satu kecupan mendarat di kening Lena dengan begitu lama, sampai Axel yang dibelakangnya , beralih melihat ponsel. Tangan kekar menutup telinga Lena dan satu kecupan lembut mendarat di bibir mungil, David menatap mata hazel dalam-dalam. "Aku ingin mengenalkan indahnya dunia ini padamu, Sayang. Berbagi banyak hal menarik, dan menjerit bersama-sama. Uh, apalagi jika ada ..... "


"Ada apa?" Lena mengernyitkan kening karena wajah David yang memerah dan mata deepblue memandang ke atas dengan penuh misteri. "Katakan apa!"


"Itu .... " David tertawa kecil dengan bahagia. "Ba-by."


"Baby!" Pekik Lena dengan kening berkerut begitu dalam dan hatinya bergetar kegirangan. Namun, mendadak tulang punggungnya terasa begitu dingin.


"Gimana kalau kita nyicil dulu, Sayang." David menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Dia jadi salah tingkah sambil melirik Axel yang melihat ke arah lain. Huh mulutku benar-benar susah di kontrol!


Pandangan mata hazel meredup, bibir mungil itu makin tertekuk. Tidak mungkin itu tidak boleh, walau aku siap memberi seutuhnya diriku padamu karena aku juga mengharapkanmu, Mas. "Nyicil Baby? Mas, kamu kira cicilan rumah apa?"


David melirik ke Axel dengan tajam, lalu berdeham agar Axel mengikuti jalannya. Apa aku salah ngomong! David menyusul jalan Lena yang terasa terburu-buru baginya. "Mah! UPS!" David membeku karena Lena baru berbalik dan menatapnya dengan tajam.


"Maxud aku, lebih cepat ... lebih baik, Sayang. Kamu bayangkan coba, Lena kecil .... Leo kecil."


"Leo?" Lena menarik tangan David dan menggenggam telapak tangan dingin itu. Tampaknya David sedang banyak pikiran, tetapi wajah pria itu sangat bahagia.

__ADS_1


"Leo- panggilan ku saat kecil. Teman-teman kakek selalu memanggilku Leo, karena mereka pikir aku sangat mirip dengan Kakek saat kecil. Leo sebenarnya nama panggilan Kakek, tetapi kakek sendiri lebih sering panggil aku Baby Leo."


David tertawa dengan malu sampai pipinya begitu terasa hangat, membuat Lena pun tak kuasa tersenyum begitu gereget karena ekpresi malu David yang juga sangat menawan.


"Gimana, Sayang. Aku ingin Baby Lena-David." David melirik Lena sambil jalan, tatapan hazel yang tak bisa ditebak itu membuat David gusar sendiri karena Lena tak kunjung menjawab. "Pasti lucu."


"Aku tak paham maksudmu, Mas," kata Lana datar dan mulai memasuki mobil yang baru dibukakan pintunya oleh David. Lena duduk dan meram4s jarinya dengan tatapan terus memutar, begitu merinding pada kata-kata David. Kekasihnya itu masuk dan mulai menjalankan mobil dengan pelan. Waktu berdua seperti ini membuat Lena lebih lega karena dia akan puas memandangi David.


"Maksud aku, Mah, ah maksud aku. Seandainya, kita membuat bayi sebelum ke Bali. Apa kamu mau memberi itu, Sayang?"


Lena menelan Saliva dengan kasar sampai kepalanya terayun ke depan dan dia langsung menolaknya. "Mas, kita harus menikah dulu."


"Ah, yasudah," kata David lesu dengan wajah kini tertekuk. Dia terus memandang ke depan. Padahal apa salahnya itu jika sebelum menikah, toh itu hanya beberapa hari sebelum pernikahan.


"Marah?" Suara Lena menggantung di udara dan menatap nanar pada kekasihnya.


"Nggak."


"Jelas kamu marah." Lena menggigit bibir bawah karena nada mengambek David.


Setiba di rumah besar kakek, David terus menggenggam tangan Lena. Kedatangan mereka langsung disambut Bilqis yang ikut mendampingi Lena sampai di halaman belakang.


Walau sudah berdandan sedemikian rupa, sulit sekali Lena untuk bisa percaya diri di depan mereka. Bilqis membawanya ke arah kakek Leora yang duduk di kursi ujung. Seharusnya suasana ini sangat sempurna dengan cerahnya langit dan pantai pasir putih, sungguh sangat luar biasa. Namun, Lena justru merasa seluruh otot tubuhnya makin tegang.


Nenek Leora bangkit dari duduk, dan seketika anak-anaknya juga ikut bangkit, setelah Leora cipika-cipiki dengan Lena. Sementara Nenek Leora memeluk cucu kesayangannya. Suasana mulai menghangat setelah Nenek Leora menyapa Lena dengan mengusap Lena dan mencubit pipi gadis itu yang begitu tegang.


Tentu saja Nenek Leora sadar, anak-anaknya langsung cari muka pada Kakek Leora dengan ikut bersikap manis walau di belakang mereka sebetulnya sudah menentang Lena secara halus. Siapa yang bisa melawan Kakek Leora? Tidak ada. Jika Kakek Leora pro terhadap sesuatu maka mereka semua akan pro. Begitu juga mereka di luar sangat mendukung David dan Marcho, tetapi diam-diam mereka kompak menjatuhkan dua putra Ardian.


Meja panjang itu telah hampir terisi penuh, saat para orang tua kembali duduk dan sibuk mengobrol masing-masing. Nenek Leora mengenalkan enam orang sepupu David yang baru datang. Nenek tua yang tidak ada keriputan di wajahnya itu tersenyum semeringah karena David tampak begitu bahagia, dan tidak terpengaruh atau sedih dari berita kehamilan mantan tunangannya.


Sejujurnya, sudah dari lama, Nenek Leora tidak setuju dengan keluarga Luigi karena dia tahu betul karakter kakek Shinta itu seperti apa, yang dia akan takutkan akan menurun pada cicitnya nanti. "Di mana kakakmu, Leo?"


David menggigit bibir bawah harus berbohong pada neneknya. "Aku tidak tahu, Nek. Mungkin sedang sibuk."


Lena yang baru duduk di salah satu kursi meja panjang, itu sampai menghitung enam pasang orang tua, tidak termasuk orang tua David. Kini di samping kanannya duduk perempuan yang disebut istri Marcho oleh Bilqis. Kenapa harus pas banged si.


"Stefanie Aily." Perempuan di samping Lena memperkenalkan diri dengan wajah datar dengan mata sedikit membesar. "Saya adalah istri dari Marcho, kakaknya David. Kamu Lena?"

__ADS_1


"Iya .... "Lena meringis dan sempat mematung, lalu melirik anak laki-laki sekitar seusia TK yang sangat mirip Marcho. "Saya Lena Paramita. Putra anda sangat tampan."


Stefanie tertawa ringan. Dia terdiam dan mengamati Lena yang mengusap putranya yang baru bersandar di perut. "Dia habis demam jadi tak ceria seperti biasa. Berapa usiamu, Lena?"


"24 kak Stef." Lena masih terpaku pada mata coklat anak kecil itu yang mengingatkan pada Marcho. Jantungnya berdebar dan ini sangat canggung. Apa jadinya bila kak Stef tahu bahwa Marcho dan aku tanpa disengaja tidur bersama. Tetapi keterlaluan sekali setelah penyambutan seperti ini. Aku justru mundur, lalu mereka semua terutama David akan marah. "Siapa namamu adik tampan?"


"Romeo, Tante." Stefanie dengan nada ringan dan tersenyum tipis sembari mengelus rambut sang putra.


"Romeo .... nama sangat bagus, Kak Stef." Lena berusaha terlihat wajar. Dari sekian orang kak Stef yang sikapnya tampak paling normal dan membuatnya merasa nyaman, tetapi dia juga takut.


"Marcho yang memberinya nama." Stefanie dengan wajah datar dan menatap mata hasel, gadis didepannya yang tampak begitu canggung. "Santai saja aku tidak menggigit."


Glek. Lena menelan Saliva dengan kasar dan punggungnya terasa begitu dingin. Wanita didepannya tidak terlalu cuek juga tidak terlalu tersenyum lepas, seolah sangat waspada, tetapi juga tidak kaku. Bagaimana aku bisa santai di tengah rasa bersalahku?


"Apa kamu sudah bertemu kakaknya David?"


Lena menggigit pipi bagian dalam, jemarinya mencengkeram paha pada nada keingintahuan perempuan itu. "Kemarin .... " Belum selesai kalimat Lena terpotong oleh tatapan keingintahuan Romeo.


"Mami, Daddy mana? Romeo mau bertemu Daddy. Romeo kangen Daddy."


Mata Lena memanas pada nada sendu anak itu, hatinya menjadi sakit seakan-akan baru dipukul. Lagi-lagi Stefanie tersenyum tipis dengan penuh waspada padanya.


"Marcho!!"


Semua orang beralih karena teriakan sepupu David ke arah pintu ruangan. Sepoi angin menerbangkan rambut sebahu Stefanie yang terus diamati Lena saat mata perempuan itu tampak membesar.


"Daddy!"


Lena masih membeku menatap anak kecil itu yang mendadak berubah ceria dan melihat ke arah pintu. Anak itu lalu melepas pelukan Stefanie dan berlari ke arah pintu. David duduk di samping Lena, dan berbisik pada kekasihnya yang menunduk.


Tangan kekar itu menarik tangan mungil ke pangkuan, dan David tersenyum pada Stefanie yang selalu memasang wajah kaku, bahkan wajah itu sangat datar dari sebelum menikah dengan Marcho. Masih dibalas senyum tipis itu luar biasa, karena perempuan itu jarang tersenyum.


"Jangan tegang, kamu kelihatan banged tegangnya. Sayang," bisik David di telinga Lena, saat Stefanie berdiri untuk menghampiri Marcho.


"Mas, gimana aku nggak tegang?" Dibilang seperti itu otot di wajahnya justru kian menegang. Lena merasakan tekanan ringan di kedua pipinya oleh jari-jari David. "Mas, malu lepas." Lena berdebar karena David membungkuk hingga jarak wajah satu kilanan. Malunya luar biasa, bagaimana nanti penilaian keluarga David padanya dengan tingkah David seperti ini.


Suara berisik orang-orang tiba senyap. Lena berpaling dari wajah David, begitu juga David yang mencari tahu. Mata orang-orang tertuju pada Stefanie yang berdiri dan menatap tajam pada Marcho. Ternyata Marcho menyingkirkan sang putra yang menggelayut ke paha panjang itu.

__ADS_1


Ayah seperti apa dia? batin Lena yang jadi sakit hati karena Romeo semakin murung karena Marcho terus menepis tangan mungil dari tubuh itu.


__ADS_2