Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 72 : TI ADORO! FIRST CLIF WALK BAR


__ADS_3

David menapakki jalan berbahan logam yang melengkung di sekitar tebing dan menonjol ke tempat terbuka. Dia merasakan usapan di pipi kirinya, dari tangan mungil, yang datang dari belakang. Tangan kekar makin menguatkan sanggahan di bo*Kong sang istri.


"Mah, menurutmu kunci hubungan untuk bisa sukses, apa?



Lena mengangkat dagu hingga tak bersandar pada bahu sang Suami. Dia melihat  perbukitan hijau di sejauh mata memandang sambil berpikir sejenak. Kenapa pertanyaan ini tiba-tiba, bukankah suatu hubungan hanya perlu dijalani dengan sepenuh hati?


"Pah, menurut Mama hubungan akan terbangun dengan kuat karena Satu: Dengan kepercayaan, saling bergantung satu sama lain dan saling mengandalkan.


Yang Ke-dua adalah Komunikasi terbuka, juga harus diupayakan tetap sehat. Dengan begitu kita bisa memahami, tanpa hambatan pikiran?


Yang terakhir, dukungan. Pepatah bilang 'berat sama dipikul ringan sama dijinjing'. Kita harus menjadi tulang punggung satu sama lain untuk membangun hubungan dalam jangka panjang.


Kalau menurut Papa apa?"


David menganggukkan kepala, membenarkan ucapan Lena. "Hampir mirip, kita harus mencoba banyak hal baru untuk menjaga api atau gereget di antara kita.


Ya, yang kedua adalah seperti pendapat Mama itu, soal komunikasi. Kita juga harus berbicara tentang satu sama lain, setiap hari atau lebih tepatnya setiap sebelum tidur.


Yang terakhir, sesekali, kita perlu bernostalgia, mengulang aktivitas saat pertama kita awal-awal jatuh hati.”


“Memangnya apa yang bikin papa jatuh hati sama Mamah-di awal?” Tanya Lena, dia masih sedikit belum percaya bahwa dia mendapatkan hati seorang David Leora. Yang saat awal begitu dingin. Kini, lihat saja, pipi David itu mulai semu-semu merah. Mengapa seorang David bisa berkata dan bersikap lembut padanya?


“Saat Papa tersangkut di seragam relawan Mamah.” David menurunkan Lena dari gendongan. Mereka menatap keindahan gunung di musim dingin. “Mengapa saat itu Mama melihat Papa dengan cara yang aneh?”



 


“Aneh seperti apa, Pah? Benarkah Mamah melakukan itu? Maaf Pah, jika tatapan itu mungkin dianggap tidak sopan, saat itu Mamah terpukau begitu melihat laki-laki yang paling tinggi di antara kumpulan orang-orang. Bahkan yang lain tingginya se dada papah. Mamah sekarang baru tahu tinggi papah 193. Menurut mamah itu sangat ke—ren!”

__ADS_1


Lena dengan malu-malu, memandangi David dengan hati berdebar. "Dulu saat mamah buka Instagram, melihat postingan opa-opa sangat tinggi, hampir 2 meter. Mamah tuh jadi memiliki impian ingin berpapasan, lalu ikutan foto bareng!"


Lena dengan gemas dan penuh semangat, dia kembali berbicara dengan cepat. "Agh! siapa mengira, Allah yang Maha Pengasih, yang sudah memberikanku banyak kebaikan. Ternyata mempertemukanku dengan suami yang tinggi plus TAMPAN! PLUS-PLUS nya masih banyak lagi. Mashallah Tabarakallah, Pah! Mamah merasa sangat beruntung."


David dengan senyuman bangga, tangannya langsung melipat di depan dada, mata biru itu kian berbinar, ingin mendengar semua pendapat Lena tentangnya. Satu alis David terangkat begitu tinggi, dia melihat Lena memposisikan kedua tangan mungil itu di depan mulut, lalu mulai berteriak.


“SUAMIKU KEREN! AKU BANGGA PADA TINGGI BADAN PAPAH! AKU MENCINTAI PAPAH!” Lena menjauhkan tangan dari mulut, sambil tertawa dengan lepas. Rasanya, di dalam dada meluap-luap dengan kebahagiaan. Sang suami mengusap pipinya sambil ikut tertawa lepas.


Mereka lalu terdiam dengan canggung, dan melihat ke arah lain. Setengah menit kemudian jantung David kian berdebar, membuat David tak bisa diam hingga tangan kekar itu meraih bahu sang istri dan mengikis jarak diantara mereka. David mengecup dengan gemas di pipi mungil, kanan dan kiri, yang dingin. Termasuk hidung dan kening sang istri. “Terima kasih, Sayangku, yang paling cantik!"


Lena mengangguk sambil mengusap bahu sang suami. Dia menyipitkan mata karena tatapan suami kembali seperti anak kecil yang punya keinginan. “Kenapa?”


“Ulangi lagi dong, Papah mau diteriakin lagi .… ” ujarnya sambil mengangguk-angguk dengan penuh harap. “Ya! Ya! Mah! Panggil aku keras-keras!” 


“Malu,” lirih Lena sambil melihat ke sekeliling pada orang-orang yang ternyata tengah menonton ke arahnya, lalu mereka mengangguk dengan ramah.


Lena membalas senyuman mereka dan kembali pada sang suami yang kini bibir itu begitu tertekuk. Wanita itu merasa tak tega, tangannya kembali didekatkan ke mulut. Lena mengambil napas dalam-dalam dan berdehem tiga kali. Dia kembali berdeham tiga kali, lalu mengembuskan napas panjang dari mulut.


.


“LENA PARAMITA, SEI LA MIA VITA. STAMMI PIU VICINO. HAI UN SORRISO STUPENDO!” teriak David dengan logat khas Italia.


*Lena Paramita, kau adalah hidupku. Jangan pergi, tetap di sini di dekatku. Senyumanmu sungguh indah sekali!


David menoleh ke kanan, meraih ke dua tangan mungil hingga sejajar perut sang istri, lalu bersuara dengan mesra. “Voglio baciarti …. (Aku ingin sekali menciummu). 


Suara riuh tepuk tangan menggema di kanan dan kiri Lena, dari beberapa pengunjung. Lena kian tersipu malu dan kembali menatap David dengan ragu saat merasakan dirinya melayang ke atas karena sang suami mengangkat bo**kong dan menahan pinggangnya. Mau tak mau membuat dua tangan mungil itu melingkar ke leher David.


Lena dan menatap sang suami dengan penuh cinta. Seorang turis mengabadikan momen mereka, lalu memposting ke akun Instagram pribadi mereka. Tentu, hal itu disadari oleh David, tetapi David membiarkan mereka dan hanya melempar senyuman. Kemudian mereka terlarut dalam ciuman Perancis dengan mata terpejam.


__ADS_1


Setelah berfoto mereka duduk di restoran terbuka, di First Clift Walk Bar, di tempat terbuka sambil menikmati minuman enak yang harganya terjangkau.


"Capek, Pah?" tanya Lena pada suaminya yang dari pagi sampai siang terus menggendongnya.


"Nggak lah, Mah. Mana bisa papah capek? Kalau setiap dengerin suara Mamah, power Papa rasanya kayak di charge ulang."


David dengan senyuman menggoda membuat pipi Lena semakin memerah. "Jangan menunduk, Mah." David mengangkat dagu Lena sambil senyum-senyum di tengah dadanya yang dag dig dug ser.


David sejak kemarin merasakan panggilan jiwa untuk menjadi seorang ayah. Itu akan menjadi hal terbaik untuk masa depan. Dia menyesap epresso dengan tatapan nakal pada sang istri. “Ahh, memang Mamah nggak kedinginan kok minum dingin?”


"Panas, Pah. Dedeknya suka yang dingin-dingin." Lena memeluk pinggang David lima menitan sambil mengelus-ngelus dengan gemas dada bidang beraroma citrus. Matanya terus terpaku pada pemandangan alam dan merasakan kekuatan tangan yang kuat di bahu kirinya. "Pantas Papah suka warna biru."


"Biru, warna yang selalu meneduhkan dan menenangkan, seperti kamu, Sayang." David mengecup penutup rambut Lena, lalu jari-jarinya merapikan penutup itu hingga menutupi telinga Lena yang merah karena dingin.


Lima belas menit kemudian Lena mulai jalan kaki menelusuri, jalanan berbahan logam. Hari sudah menunjukan pukul setengah tiga sore.bLena mengerutkan kening penasaran pada apa yang dilihatnya.



Lena berbalik dan mendapati David memegangi tiga buah gembok berwarna merah muda."Wah, Papa sudah bersiap! Tapi untuk apa? Apa kita harus meninggalkan gembok di sini?"


"Kita coba." David berlutut dengan satu kaki, sambil membuka satu gembok, sementara dua gembok, diberikan pada sang istri. "Mari kita satukan gembok. Milikku akan aku pasang sendiri."


David menarik pinggang Lena hingga duduk di pahanya. "Mamah pasang milik mamah dan punya dedek. Semoga saat kita ke sini lagi, si dedek bisa melihat gembok milik kita bertiga. "Aku memberikan nama kita di sana."


Lena tersentuh melihat kesiapan sang suami, dia melihat penuh arti pada satu gembok yang berbentuk lebih mini, ini pasti ditujukan untuk dedek. "Kapan papah bawa ini? Kok mama nggak tahu?"


"Tadi pagi papa melipir, sewaktu Mama beli kentang di Mall. Papa mencari ini di estalase alat-alat." David tertawa kecil. "Orang-orang meninggalkan kenangan dan kita akan meninggalkan kenangan yang lebih indah dari mereka, karena kita menggantungkan gembok milik dedek sambil menunggu kelahirannya."


Lena tak bisa berhenti tersenyum, melihat ketiga gembok yang bertuliskan 'Lena David Leora.' Lena dengan hati-hati menaut kancing gembok paling kecil, lalu gembok kedua.


Nak, papah sudah menunggumu! Tumbuhlah dengan baik, ya! Papah dan Mama, sangat menyayangi mu ....

__ADS_1


__ADS_2