
Tara mengurus Shinta yang bercucuran keringat dingin. Dia kini membawa Shinta ke rumah sakit karena kondisi Shinta yang lemah.
Kini dia duduk di sofa dengan tangan merangkul pundak putrinya. Teresha telah telah tertidur dengan bersandar di dadanya. Mereka bahkan belum sempat berganti baju, kalau Shinta memakai baju pasien dan tengah diinfus karena kekurangan cairan.
Tara teringat, dulu sering menghabiskan waktu tak disengaja dengan Shinta sejak dua bergabung ke kantor pabrik minuman milik David. Posisinya adalah manager pemasaran.
"Ada apa dengan wajah itu?" Tara menyipitkan mata. Berulangkali melihat kesuraman menyelimuti wajah Shinta.
"Tidak apa-apa." Shinta mengerutkan bibir, masih duduk di sofa ruang kerja David.
"Katakan kenapa?" Tara jelas-jelas melihat wajah merana itu.
"David mau ke Ausy selama satu bulan." Shinta menghela napas kasar.
"Oh. Kenapa kamu tidak ikut ?"
Shinta menggelengkan kepala. Berikutnya David muncul dan wanita itu lekas berlari dan loncat ke arah David dengan wajah seterang rembulan. Tangan mungil itu mengalungkan di leher pria itu dengan canda mesra. David hanya melirik ke arahnya sedikit lalu sibuk bercengkerama.
Beberapa setiap kali tahu David akan ke luar negeri lalu wajah Shinta selalu suram. Suatu malam, saat perayaan ulang tahun teman. David mendatangi Tara.
"Aku harus ke Jerman, kini tiga bulan." David menggaruk kasar kepalanya.
"Hem?" Tara yang sedang asik menikmati pemandangan ke pesta malam di kolam renang dari balkon lantai dua. Lalu menoleh dan tampak kebingungan di wajah David. "Sudah menjadi hal biasa Kamu sering bolak-balik luar negeri."
"Shinta ngambek lagi. Lalu aku mendapat berita ini. Hu, apa dia tidak tahu, aku juga sedang berjuang?" David dengan wajah frustasi.
"Bawa saja dia."
"Kamu mau aku diterkam Tuan Luigi?" David berdecak kesal.
"Ayolah, kau pernah melaluinya. Dia pasti akan mengerti." Tara mengerutkan kening karena David menatapnya begitu lama.
"Aku minta tolong bisa? Temani dia selama aku di Jerman. Ajak dia jalan-jalan." David mengulurkan sebuah kartu kredit. "Pakai ini."
"Okey." Tara menyimpan kartu kredit itu.
Ketika David kembali dari Jerman,Shinta kembali menjadi dirinya. Tara menjadi kebingungan, dia biasa bersama Shinta jalan-jalan mendatangi tempat indah bahkan sampai ke Swiss, Roma, menghabiskan uang David. Kini Shinta benar-benar tidak mengirimi pesan.
"Tara, aku bisa minta tolong?" suara David terdengar frustasi dari telepon.
"Hm ?"
"Aku telah memesan tiket bioskop. Tapi pas satu jam lagi aku ada meeting. Dia marah padaku, tolong katakan kamu dimana, Axel akan mengantar tiketnya. "Aku benar-benar harus menghadiri meeting. Kau tahu Kakek seperti macan kan?"
"Iya, aku mengerti. Aku kirimkan lokasiku sekarang." Dua sudut bibirnya terangkat. Dia menunggu sepuluh menit hingga menerima tiket itu. Bergegas ke rumah Shinta.
Wanita itu tengah kesal melayangkan tongkat baseball ke Samsak tinju- yang biasanya untuk latihan Shinta muay Thai.
"David! Aku benar-benar akan memukulmu!" Shinta melayangkan tongkat itu ke guling itu sampai samsak bergoyang. "Aku sudah membeli tiketnya untuk ke 20 bulan ini dan kamu membatalkannya lagi!"
"Shinta!"
"Akhirnya, kamu datang!" Shinta melayangkan tongkat ke udara dan berhenti mendadak dengan tangan gemetar.
"Sigh, kamu mau memukulku!" Tara meringis melihat tongkat yang masih di udara itu. Wajah Shinta begitu penuh aura gelap dengan keringat bercucur deras di wajah itu dan sebagian kemeja kuning gadis itu basah, mempertebal cetakan warna dalam merah yang indah. Sial, dia melihat perut Shinta yang begitu licin berkeringat.
Apa David benar-benar sibuk hingga meninggalkan permata seperti ini.
"Tara? Kenapa kau di sini!"
"Hey tiketnya ini mulai blima belas menit lagi. Ayo, mumpung masih bisa."
"Jadi, David meminta mu kemari bukannya dia datang sendiri! Beraninya, " Shinta melempar tongkat itu dengan asal dan mendarat di sofa tanpa mengenai apapun. Padahal, Tara sudah tegang takut mengenai badannya atau memecahkan barang lain.
"Ayolah, ini ... kalau tidak salah, hari terakhir penayangan kan?"
"Tunggu!" Shinta melengos naik ke tangga. "Lima menit aku bersiap-siap."
Sepanjang menunggu, Tara mengingat bayangan memabukkan barusan. Seharusnya, David bersyukur, bukannya, dulu di kampus Shinta itu menjadi buruan para lelaki kan? Dan David selalu menempel di dekat Shinta tak memberi orang lain kesempatan.
Tara melihat Shinta telah memakai jeans dan kaos fit hitam , yang menonjolkan kulit. wow. Sederhana tetapi pesonanya. Dia pun pergi menonton dan mengantarkan kembali ke rumah, tepat David ada di depan rumah Shinta....
"Sayang ..."
"Pergilah!" Shinta dengan cepat melewati David dan membanting pintu rumah.
"Dia benar marah!" David dengan kesal dan melirik Tara. "Kau sudah bilang kan, kali ini aku memang tidak bisa meninggalkan pekerjaan."
"Aku sudah bilang dan dia malah memarahi ku , katanya aku cuma membelamu." Tara bilang apa adanya.
Sampai lambat laun dia dan Shinta terus terjebak kesibukan David.
Tara datang ke rumah Shinta dan mendapati wanita itu menangis di sofa taman belakang, di depan kolam renang. Tara lekas berlari, dan duduk di samping Shinta.
"Aku kesini karena kamu tak menjawab telepon David, dia gelisah kenapa seharian kamu tak menjawabnya?" Tara seolah merasakan hatinya terselimuti es, dingin dan sakit melihat wajah sendu yang setengah terbenam di bantal , yang ada dalam pangkuan Shinta.
"Sampai kapan dia terus sibuk ?" Shinta menoleh dan tampak begitu kesepian.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita cari kesibukan, ikuti les melukis. Sepertinya bagus!"
Shinta menatap mata Tara dengan linglung.
"Dari pada kau menghabiskan energimu! Kita alihkan, y, Shinta ?"
"Dia ke Qatar dua bulan. Aku seperti mau mati saja."
Tara terkekeh karena nada kesal Shinta. "Kalau kau mati lalu David hidup dengan siapa ? Kau melepaskan dengan perempuan lain, ikhlas?"
Shinta mengerutkan kening. Lalu melemparkan dengan keras bantal ke Tara.
"Dia memang harus mengurus persia'penggubahan hotel besar itu. Tidak mungkin dia tidak ke Qatar. Bisa-bisa Kakek Leo itu akan memakanmu kalau kau melarangnya.".
Shinta tertawa geli. Dia menyeka pipinya. Lalu beranjak. "Kita mau kemana ?"
Sebuah galeri seni dikunjungi Tara dan Shinta. Kebetulan di sana ada pameran kelas melukis. Shinta ikut mencoba melukis di sebuah kanvas dan Tara duduk di sampingnya.
"Mereka bilang kita gunakan imajinasi kita. Jadi, aku .... "Shinta menggerakkan tangan membuat kerangka kue muffin.
Tara meraih kuas dan ikut membantu Shinta, dia menggambar di sisi bagian atas Kanvas sebuah apel merah. .
Jadilah gambar mereka berdua. Tara dan Shinta tertawa karena ini karya pertama mereka.
"Kita telah mendaftar dan lusa aku akan menjemputmu." Tara melihat formulir di tangannya. Itu adalah jadwal kelas dan materi.
"Yups. Kenapa kamu menggambar apel, apa kamu menyukainya?"
Tara terkekeh saat masuk mobil dan menyalakan mesin. "Hanya itu yang aku bisa!" Mereka lalu tertawa.
"Lain kali aku menggambar samsak yang melenceng karena kau pukul dengan tongkat baseball," sindir Tara dan Shinta mendelik dengan wajah memerah.
Sudah satu bulan mereka mengikuti les melukis. Itu di luar jam kerja Tara. Shinta juga agak sibuk karena dia melanjutkan S2 nya. Tara datang malam itu membawa ayam goreng karena yakin wanita itu pasti belum sempat makan. Rumah Shinta selalu sepi, orangtua mereka hampir tidak pernah di rumah.
Selepas makan ayam goreng, Tara duduk di samping Shinta dan dia mendapati Shinta bergeser dengan tidak nyaman. Tara mengatakan. "Tidak apa, kita hanya teman."
Keserakahan mulai muncul karena lirikan protes Shinta barusan, saat Shinta menjauh darinya. Dia membenci penolakan. Memang Tara memiliki niat apapun, tetapi ini membuatnya jadi berpikir, seperti apa rasanya mencium pipi itu.
Tiap kali melihat David merangkul bahu Shinta atau mengecup pipi Shinta dengan gemas, atau saat David melakukan sesuatu pada Shinta di belakang punggungnya dari jarak 8 meteran, ya mereka kira Tara tidak mengetahuinya, bahkan dia bisa merasakannya bahasa cinta mereka, pemindai kecemburuannya menjadi aktif.
Dia mulai tidak menyukai David setelah David pulang dari Qatar. Dia datang mencuri kesempatan saat David kerja untuk menjemput Shinta dari universitas.
Malam, dimana David ada kumpulan keluarga, Tara datang ke rumah Shinta saat wanita itu sibuk mengerjakan tugas. Dia menaburkan obat pada jus jeruk. Saat dia kembali dari dapur, Shinta sedang teleponan dengan David dan tertawa dengan sangat indah.
Sampai jus jeruk itu habis diminum Shinta, barulah telepon Shinta dengan David berakhir. Shinta kembali sibuk mengerjakan tugas, saking asiknya sampai mungkin nggak sadar bahwa Tara telah duduk di samping Shinta. Padahal lelaki itu terus menghirup wangi tubuh itu dari jarak dekat.
"Sepuluh."
Shinta menoleh. "Kamu tidak pulang?" Wanita itu terkejut karena usapan di pipi sampai membuat wanita itu terpejam, lalu menepis tangan Tara.
"Ini ada tisu."
"Oh." Shinta berdiri, entah menghindar atau refleks. Tara ikut berdiri.
"Aku mau tidur, bisa kamu-" suara Shinta serak saat Tara menjatuhkan wajah di bahu Shinta.
"Tara," lirih Shinta. Tangannya sudah menyentuh bahu Tara dan akan mendorong.
"Aku sedang sedih. Pinjam bahumu sebentar."
"Kamu ada masalah?"
"Bisa kamu duduk dulu dan memberi aku waktu?"
Shinta dengan wajah kebingungan duduk di sofa, Tara menyusulnya dan tepat duduk di samping Shinta.
"Tara, maaf kamu terlalu dekat." Shinta berusaha melepaskan pelukan tangan Tara dari lengan kirinya.
Tara berakting dengan sedemikan rupa dan berbohong mengarang cerita demi bersandar di bantu Shinta.
Esoknya, saat di kantor Shinta menemui David. Entah, rasanya Shinta menghindari tatapannya. Dia sengaja tak langsung keluar dari ruang David dan pura-pura bertanya soal pekerjaan pada David. Tara tidak suka melihat Shinta di ruangan ini, dengan wajah cinta di antara mereka yang membuatnya sesak.
Malamnya, Tara yang sedikit mabuk mencoba menelpon Shinta. Dia minta tolong Shinta untuk menjemputnya. Ketika wanita itu memapah ke dalam apartemen, dia menyudutkan Shinta ke tembok dan langsung mencuri ciuman Shinta.
"Tara!" Dengan keras Shinta mendorong Tara hingga Tara terduduk. "Kamu keterlaluan!" Wanita itu pergi dengan kemarahan.
Hampir seminggu sudah Shinta tak mau menemuinya, menghindar dan menolak pesan dan telepon. Namun, bukan lelaki namanya, kalau menyerah. Tara duduk di depan rumah Shinta dan bersikeras takkan pergi sampai Shinta mau membukakan pintu.
Jam satu malam, Tara berpaling ke arah pintu yang baru terbuka. "Shinta aku menyesal ... Apa kamu masih mau marah? Kau tahu kan belakangan aku ini banyak masalah."
"Sudahlah, lupakan dan pergi sana. Mamaku sebentar lagi pulang."
"Janji dulu, jangan marah lagi?"
Shinta mengangkat alis dengan bibir tertekuk. "Jangan dekat-dekat aku lagi, kamu juga harus janji. Aku jadi merasa bersalah pada David!"
Tara tak punya waktu menjawab karena mobil Luigi memasuki loby. Tampak jelas wajah pria tua itu tak suka dan menatap dengan tajam.
__ADS_1
"Tara?" Luigi melihat jam tangan. "Sudah pagi kamu masih di sini?"
"Papa, Tara tadi, membantu Shinta soal tugas Shinta."
Tara melihat ketegangan di wajah Shinta, seakan begitu takut pada ayahnya sampai berbohong. Sejak terakhir kali itu. Tara lebih berhati-hati.
Pendekatan seperti itu rasanya tak cocok. Tara lebih memilih menyempilkan obat secara konsisten dan mengurangi agresifnya. Wajah wanita itu makin memerah di suatu malam .
Tara mengarahkan opini Shinta dengan dalih bahwa tubuh Shinta menerima setiap sentuhannya. Dia bertanya pada Shinta bahwa tubuh wanita itu sepertinya bereaksi alami terhadapnya. Dia mencium Shinta, dia yakin karena pengaruh obat itu,walau Shinta tampak berpikir keras, tapi Shinta sudah begitu mabuk karena obat.
Suatu saat teman-teman memergokinya sedang berbelanja dengan Shinta, lalu memergoki lagi saat ciuman di rumah Tara. Demi apapun Shinta marah besar saat itu dan seolah wajah itu begitu ragu dan takut. Dia mengulurkan banyak uang untuk membungkam mereka teman-teman David.
Shinta sempat menolak menemuinya. Tara marah dan cemburu karena Shinta membalas telepon David saat di kantor, tetapi Shinta tak menjawab pesannya. Dia datang ke rumah Shinta sepulang kerja. Tidak ada cara lain. Dia memberi obat itu lebih kuat dan berhasil meraih kesucian Shinta malam itu.
Sejak saat itu, Shinta seakan mulai kebingungan setiap kali akan menemuinya. Tara selalu meyakinkan bahwa dia lebih baik daripada David. Dia selalu ada untuk Shinta, sedangkan David selalu sibuk.
KESERAKAHAN itu semakin gila. Bahkan saat ulang tahun David, di rumah ayah David, Tara menggagahi Shinta di kamar David. Bahkan saat Ke Qatar di Piala Dunia, hubungan dengan Shinta menjadi lebih dekat. Teman-teman David tahu hubungannya dengan Shinta. Dia berani mencium Shinta di bar milik David, karena David bilang sedang sakit. David juga tak tahu bila dia membawa Shinta ke bar untuk bersenang-senang.
Namun, dua malam berikutnya. Tanpa pemberitahuan apa-apa. Kepala manager hotel milik David memintanya berkemas meninggalkan hotel. Dia menolak, berikutnya tiga pengawal David, masuk dan memberesi pakaiannya. Dia menelpon David, David tak menjawab. Dua orang bahkan menyeretnya keluar dari hotel itu hingga masuk ke taksi. Mereka memberi peringatan agar dia tak memasuki hotel itu tanpa penjelasan lebih lanjut.
Berikutnya, dia mendapat telepon dari Shinta setelah menaruh koper di hotel lain yang lebih kecil. Susah sekali mencari kamar kosong saat event besar dunia seperti ini.
"David telah tahu perselingkuhan kita!" jerit wanita itu dari balik telepon.
Bagai disambar petir. Tubuh Tara terasa menggigil. Ponsel terlepas dari tangannya. Dia tak mengira akan ketahuan, karena itu mustahil. Lelaki itu mengambil ponsel di pangkuan. "Katakan kamu dimana?"
"Aku di atas mobil! David melarangku memasuki hotel! Ini semua gara-gara kamu Tara!" Shinta terus menangis histeris. "Dia membatalkan pertunangan, kamu harus bertanggungjawab! Aku tidak mau berpisah dari David!"
Lamunan Tara terbuyarkan. Berulangkali rasanya mau gila setiap membayangkan ini. Dia menghapus setetes embun bening di suuat matanya.
Tara melihat putrinya. Dibaringkan Teresha di sofa, dia berjalan mendekati Shinta yang wajahnya begitu pucat. Mata wanita itu terbuka.
"Ma'af, aku mengacaukannya," lirih Shinta. Bibir itu terlihat kering dana pecah-pecah.
"Tidak, tidak. Sudahlah." Tara membantu Shinta duduk dan melirik jam 11 malam.
"Lalu bagaimana kita bisa mengucapkan selamat pada Niko?"
"Mereka tak butuh. Lebih baik mulai sekarang kita fokus pada Teresha. Masa bodoh dengan mereka, kau tak boleh merasa tidak nyaman."
"Ketidaknyamanan itu semua karenaku" batin Tara.
Keserakahan ingin memiliki Shinta dari awal, membawa petaka sebesar ini, yang hanya membuat Shinta yang dipujanya bertindak gila, dan kini justru dalam kesengsaraan wanita itu.
"Kita harus minta maaf!" Shinta bersikeras.
Tara mengerutkan bibir gemetar. Hatinya teriritasi dan makin merasa bersalah. "Baiklah."
.
.
Malam sudah larut, Niko keluar dari kamar mandi. Ada Emma di pinggir tempat tidur. Istrinya, sedang menunggu.
Sulit dipercaya. Kini Emma berdiri. Niko bimbang,karena Emma sangat agresif, berbeda dengan Lena yang malu-malu.
"Bisakah malam ini kita tidur saja?" Tanya Niko sambil memutari tempat tidur.
"Kak, aku mengerti kalau Kakak masih belum menerima aku sepenuhnya." Emma duduk lagi di sisi kanan, saat Niko lalu berbaring di sisi lain dengan menjaga jarak.
Apa aku tidak boleh mendekat ? (Emma)
Kenapa dia duduk jauh-jauh? Jadi tidak nyaman. Apa dia pikir aku ingin menjaga jarak? (Niko)
"Kemari." Niko dengan nada dingin karena kikuk. Berikutnya Emma bergeser. Dia membawa kepala Emma ke dadanya. Niko sendiri bersandar pada dua bantal yang ditumpuk menjadi satu. "Istriku."
Emma melotot dengan mulut terkatub. Namun, dia senang sekali. "Ya, Kak?"
"Aku ingin tahu, kamu ingin punya anak berapa?"
"Ha?" Emma menganga. Tubuhnya menggigil karena pertanyaan itu. "Empat, mungkin. Kalau Kakak ingin berapa?"
"Dua." Niko menjepit dagu itu, menatap mata Emma dalam-dalam. "Kamu percaya tidak kalau saya، sudah sangat menginginkan seorang anak."
Niko teringat melihat Aneira di pesta pernikahannya. Melihat remaja berusia 13 tahun itu membuatnya merindukan anak kecil itu. "Aku tidak sabar memiliki anak, Emma."
Emma mengangguk. "Kita perlu ke dokter kalau begitu."
"Ya, besok kita ke dokter." Niko mengecup kening Emma sangat lama. Baunya menenangkan. "Tidurlah, pagi-pagi kita perlu menemui semua keluarga kita."
Emma mengangguk, tangannya memeluk pinggang Niko. Pelukan hangat dan sangat nyaman. Tidak sia-sia menunggu belasan tahun demi pelukan ini.
Untuk ukuran cinta, Emma belum tahu apa dia mencintai Niko. Namun, sejak Niko masuk bui, setiap malam dia selalu menunggu Niko. Jadi, malam ini sungguh sangat berarti.
Emma tahu Niko adalah seorang pembunuh, keluarganya menentang. Namun, dia mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang dilakukan Niko karena tak memiliki pilihan lain, karena George sudah mengancam nyawa Niko.
George yang selalu saja bebas dari tuduhan hukum walau kekejiannya jauh lebih mengerikan, kalaulah Niko tak melakukan itu mungkin akan lebih banyak nyawa tak bersalah di luar sana yang tak tertolong.
__ADS_1
Terimakasih, Niko. Aku akan menjaga dan merawat - hati dan tubuhmu mulai dari sekarang karena Allah. Aku takkan memberi ruang kamu memikir Lena walau sebentar saja. Kau hanya boleh menjadi milikku. (Emma)