Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
BAB 34 : KEMAH DI GURUN


__ADS_3

Kerumunan penggemar bola berkaos timnas biru (Argentina) dan berkaos merah (Kroasia) dalam barisan acak. Lena dan teman-temanya kewalahan dalam memeriksa tiket karena setiap tiket memerlukan waktu 3 sampai 4 menit pemeriksaan. Tangan Lena sampai mati rasa karena 2000 tiket lebih telah diperiksanya non stop sampai jam menunjukkan pukul 10 malam, waktu Lena bertugas pun telah berakhir dan dia segera berganti pakaian.


Ketika Lena tiba di parkiran, sang kekasih justru menariknya untuk masuk ke bagian ticketing hingga membuat jantung itu berdebar terutama saat teman volunternya memeriksa dua tiket dari tangan David. Mata hazel membulat karena David telah memesankan satu tiket untuknya.


"Mas Sayang, kok nggak bilang-bilang pesen tiket untuk aku. Ini mahal loh?" Lena makin merem4s telapak tangan David yang kering dan hangat. Mereka duduk di kursi penonton, dimana pertandingan telah dimulai.


"Iya, aku juga ingin nonton bareng calon istriku."


Lena tersenyum dengan malu. Bahunya merasakan usapan hangat karena David merangkulnya. Namun, senyuman itu pudar karena tatapan tajam Marcho. Benar, pria itu berjalan kearahnya.


David mengikuti arah pandangan Lena. "Marcho yang membelikan tiket untuk kita, Sayang." David tertegun karena wajah pucat kekasihnya. "Kamu kenapa, sakit?"


"Aku nggak apa-apa, Mas. Cuma sedikit lelah." Lena sedikit memiringkan kepala saat perempuan di belakang Marcho yang berkerudung, menyalami nya. Tampak Anna sangat ramah saat memperkenalkan diri sebagai teman Marcho.


Marcho tersenyum sinis saat adiknya memegangi kening Lena. Dia menganggap gadis itu sangat pintar mencari perhatian adiknya. "Sorry, aku terlambat, habisnya jemput Anna dulu."


"Tak apa, Kak."


Posisi Lena berubah kini dia di tengah dan duduk bersebelahan dengan Anna, dan para lelaki di samping. Awal mulanya Lena canggung, ternyata Kak Anna orang yang sangat luwes hingga Lena bisa duduk dengan nyaman.


"Dia mantan pacar Marcho," bisik David di telinga mungil.


"Oh, ya." Lena manggut-manggut. Marcho mengulurkan paperbag membuat Lena refleks menerima, tetapi wajahnya menjadi terasa kaku dan tak sadar bahwa tangan mungilnya telah gemetar.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Anna pada Lena yang melamun.


"Aku tidak apa-apa, Kak Anna." Lena menggigit bibir bawah dengan pikiran berkecamuk, sedih marah dan putus asa menjadi satu hingga dia merem4s paper bag di pangkuan.


Anna tertawa ringan. "Pakailah, aku dan Marcho membeli itu sebagai hadiah untuk kamu. Itu aku yang pilih size-nya, loh."


"Terimakasih, Kak Anna." Lena tersenyum hangat, lalu kaos merchandise belang-belang biru putih itu dikeluarkan dan dikenakan dengan menumpangi kaos yang telah dipakai. Apa tak apa-apa aku menerima ini?


"Lihat, sekarang pakaian kita semua jadi kembaran, Sayang." David menarik kaos bolanya sendiri dengan dalaman sweater putih panjang


,lalu dan tertawa ringan, yang disambut tawa Lena.


"Iya sama, kita perlu foto bareng." Lena selfie berdua dengan David, dan berusaha tidak menoleh ke kanan agar tidak bertemu pandang dengan Marcho. Namun Lena terkejut, lalu memeriksa ke pinggang mungilnya. Dia melihat ujung jari tengah dan telunjuk milik Marcho menyentuh pinggangnya.


Lena mendongak ke kanan pada senyuman Marcho yang dia yakini ke arahannya. Lena memindah tas mini ke samping yang otomatis mendorong tangan Marcho hingga tak bisa menyentuhnya. Dia memilih tak menggubris gangguan Marcho demi kewarasannya.


Sampai kapan kamu bertahan? aku akan membuatmu terus merasa tidak nyaman. Sampai kamu meninggalkan adikku. Batin Marcho dengan senyuman sinis.


David merangkul pinggang Lena, pacarnya itu tampak fokus ke pertandingan bola. Sampai di menit ke- 32, Argentina mendapat hadiah penalti dan Messi menjadi algojo pun menuntaskan menjadi gol untuk membawa Argentina memimpin 1-0. Lautan manusia berteriak histeris dalam kegembiraan, termasuk Lena yang tak sadar telah memeluk perut David.


"Messi keren!" Mata Lena berbinar melirik ke tengah lapangan dengan perasaan luar biasa.


"Lebih kerenan aku, kan Sayang?" David mengeratkan pelukan bahu mungil, dan mengayunkan tubuh hangat Lena, ke kanan dan ke kiri dengan gemas. Hatinya bergetar karena dagu mungil bertumpu di dadanya dan wanita itu mengangguk dengan senyuman tak pernah lepas dari bibir mungil dan seksi.


" .... " Marcho merasa dadanya seperti terbakar saat melihat mereka berdua. Dia tidak senang, dan ingin menarik Lena untuk terlepas dari David.


Pendukung timnas Argentina kembali riuh karena Alvarez sukses menggandakan keunggulan timnya pada menit ke-39. Lena berdiri dengan mulut ternganga , rasanya senang bukan main dan tertawa lepas dengan terus memandang ke lapangan pada gol ke 2.


"Ya Tuhan, kerennya." Dia merasakan pelukan David dari arah belakang hingga tangan mungilnya terperangkap tak bisa menyalurkan kegembiraan secara maksimal. Dia pun bersandar pada dada bidang beraroma citrus yang memperangkapnya.


Suhu di dalam Stadion seperti di dalam Chiller. Lena lupa hari ini tak membawa jaket sampai dia menggigil dan makin memeluk lengan. Seorang pengawal datang membawakan dua paper bag dan memberikan ke Marcho. Satu kantong berisi sweater tebal untuk Lena. David memasukan lubang sweater ke kepala Lena dan membantu Lena menutupi tubuh mungil itu. David juga duduk mepet pada Lena dan merangkul sang pacar yang masih menggigil hingga bibir itu tampak biru.


Paper bag satunya berisi kopi, lalu masing-masing kopi panas itu dibagikan oleh Anna. "Kamu kenapa? Sedang banyak pikiran, kah? Kok tidak seperti biasanya kamu tidak fokus pada bola? Bukannya tim kesayanganmu menang."


Marcho membeku karena pertanyaan Anna. Saat dia melihat Anna otomatis dia melihat kemesraan adiknya yang mengganggu hatinya. Dia meraih gelas milik Anna dan menyeruput se cup kopi susu, tepat di bekas bibir Anna. "Aku kedinginan. INI SANGAT TIDAK NYAMAN," ucapnya, lalu menyeruput kopi lagi. "Kau mau ikut berkemah? Kalau iya, kita bergabung dengan adikku."


"Seru juga bisa semakin dekat dengan calon adik Iparmu." Anna mengangguk setuju. Dia senang karena bisa lebih lama menghabiskan waktu bersama Marcho.


Marcho menggenggam tangan Anna dan kembali fokus pada pertandingan. Dia masih memikirkan cara untuk menjauhkan Lena selama-lamanya. Pertandingan pun selesai dengan kemenangan Argentina yang mencetak 3 gol dan membuat Lena banyak tertawa bahagia, begitu juga adiknya.


Ketika David dan Lena berfoto dengan posisi Messi di antara mereka, Marchi sedikit berlari untuk menghampiri. Pada saat pengawal akan mengambil gambar, Marcho loncat ke samping Lena. Seorang pengambil gambar meminta foto ulang karena si perempuan menganga dan mata hazel melotot. Lena tersenyum kaku saat jepretan ke tiga karena cengkraman Marcho di pinggang mungilnya.

__ADS_1


"Tunggu." David meminta Lena berfoto berdua dengan Messi. Semua itu dilakukan dengan ponsel milik David yang kameranya sangat bagus. Kemudian dia mengingatkan pacarnya. "Kau katanya mau minta tanda tangan?"


"Oh iya!" Lena tergagap baru ingat dan cepat-cepat mengeluarkan kemeja putih dari dalam tas mini dengan gemetar saking nervous nya. Messi pun menandatangi kemeja putih di punggung pengawal yang digunakan sebagai alas dengan terus diperhatikan Lena yang tak berkedip. Lena juga terkesiap karena enam pengawal milik David ikut memblokir pengunjung yang akan minta foto dengan Messi.


Setelah menjabat telapak tangan hangat Messi yang berkeringat, tanpa sengaja Lena mengendus bau segar keringat Messi, Mata Lena masih berbinar terus memandangi tanda tangan Messi saat menuju pintu keluar. Dia terhipnotis oleh pesona Messi yang sangat manis dan tampan. Sampai dia baru menyadari tampang David kini telah ditekuk dan begitu cemberut.


"Loh, kamu kenapa, Mas sayang?" tanya Lena dengan kelembutan. Satu alis terangkat karena pria itu menghindarinya di sepanjang lorong saat melewati antara para pengunjung yang juga akan pulang.


"Kamu mengagumi Messi," kesal David dengan nafas memburu.


"Kan Messi memang paporitku. Dia juga pemain yang kamu paporitkan , iya kan aku betul Mas Sayang?"


"Tapi aku tidak suka dari caramu terkagum-kagum. Matamu itu hih! Kau membuatku cemburu," gerutu David. "Kapan kamu menatapku seperti itu, tidak pernah kan?"


Sontak Lena membulatkan mata dengan otot-otot di wajah mulai menegang. Namun, dalam hati tertawa karena David juga bisa cemburu. "Mas, maaf! Tapi kan yang aku sayangi cuma kamu."


"Mas, Maaf .... " Lena mengelus lengan kekar itu dengan putus asa karena wajah kesal David. Mulai sejak di Stadion, sampai di perkemahan, di gurun di tepi pantai, kekasihnya tak ada tanda-tanda memaafkannya.


Tampang David begitu dingin dan menjawab setiap pertanyaan dengan nada ketus. Sampai Lena melirik ke sekitar pada orang-orang yang sibuk mengobrol, lalu dia berinisiatif untuk mengecup pipi David.


Pria itu melongo dan mata itu berkedut. "Lagi."


"Apa?" Lena geleng-geleng kepala dengan wajah menghangat, begitu gemas pada sikap manja David. Jantungnya terasa makin tidak terkontrol dan di kegelapan malam yang mengandalkan cahaya api unggun, dia kembali mengecup dua kali pada pipi dingin nan halus. CUP CUP!


"Kamu pacarku, calon istriku." David mengulas senyuman dan memandang senang pada api unggun tanpa menoleh ke arah Lena. Jantung pria itu kembali menari-nari dan tangan kekar itu menarik pinggang Lena, hingga alas kain itu ikut terlipat.


"Aku takut kamu terpesona pada lelaki lain." David dapat merasakan panas pinggang mungil yang menempel ke pinggangnya. Suhu dingin gurun dibawah 10 derajat Celcius membuat tubuhnya tidak nyaman, tetapi ini menyenangkan bisa bersama-sama dengan orang terkasih.


"Jangan mengagumi pria lain, Sayang. Kamu boleh senyum seperti itu, tetapi hanya padaku," gumam David dengan serius dan menatap dalam-dalam pada mata hazel. Dia memandangi tanpa berkedip karena Lena memakai penutup kepala. Sangat manis, Ya Tuhan!


"Iya mas, Maaf. Sudah dong jangan bahas lagi. Aku takkan melakukannya. Kan kamu juga yang paling mempesona untukku. " Bibir Lena saling memelintir. Kamu ini yang membuat aku deg-degan dan aku jadi malu. Kenapa kamu cemburu?


Para pengunjung perkemahan sibuk sendiri, mereka duduk di alas yang mengelilingi api unggun. Sementara Marcho masih tertegun melihat telapak tangannya sendiri. Dia mencoba mengingat-ingat perbedaan ukuran pinggang Lena yang berbeda.


"Kok bisa beda ya?" Marcho menekuk telapak tangan. Ukuran cengkeraman di pinggang Lena kala berfoto bersama Messi, LEBIH LEBAR. Berbeda dari terakhir kali, yang Marcho rasakan saat malam panas yang ukuran itu KECIL seperti layaknya perut para model. "Apa dia tadi belum pup beberapa hari?"


Bikin iri saja ! Marcho menghabiskan kopinya dan terus mengamati David yang tiduran di paha Lena. Sayangnya Anna sudah tidur, kalaupun masih terjaga, Anna tidak mau melakukan seperti itu. Seumur-umur Marcho juga belum pernah tiduran di paha perempuan dan bersikap manja seperti adiknya. Pandangan dua orang itu membuatnya risih. Sok-sokan saling sayang segala.



Kemah tenda berwarna putih, dengan di dalamnya terdapat fasilitas lengkap ala hotel. Ada AC yang juga bisa diatur pada suhu hangat, dan sebuah tempat tidur king size. Kenyamanan itu membuat pengunjung nya bisa tidur dengan berkualitas, seperti halnya Lena yang sudah terkubur di alam mimpi.


Malam itu, David memasuki tenda 4x4 meter milik Lena. Dia naik ke tempat tidur dengan perlahan dan memeluk kehangatan tubuh mungil. Gadis itu tertidur dalam posisi miring dengan nafas teratur. Niat awalnya David hanya ingin memeluk Lena, tetapi pria itu justru tertidur cukup lama.


Marcho keluar dari tenda untuk buang air kecil, tetapi diurungkan niatnya karena melihat tenda Lena yang tanpa ada penjagaan. Pria itu masuk ke dalam kamar yang gelap dan mendapati siluet seorang pria. Niat hati akan mengerjai Lena, tetapi hal mengejutkan justru ditemui nya.


David yang terbiasa memiliki insting tajam walau tidur, refleks membuka kelopak matanya yang terasa berat dan sangat lengket. "Siapa?"


Marcho semakin membeku, saat siluet dari suara pria yang familiar tengah menggosok mata. Beruntung Marcho bisa langsung keluar dan bersembunyi di belakang tenda milik salah satu pengunjung. Namun, debaran jantungnya makin menjadi, seperti sudah tertangkap basah.


"Kenapa mereka tidur bersama?" gumam Marcho sembari cuci tangan di westafel setelah buang air seni. Tak lama setelah itu adiknya masuk dengan mata menyipit, seolah tengah memperhatikannya. Jadi benar tadi adalah suara adiknya di tempat tidur Lena. Apakah kebiasaan David seperti itu. Namun, Lena bilang bahwa aku yang merebut kesucian miliknya.


"Marcho, pas kamu kemari, apakah kamu melihat orang yang mencurigakan? misalnya 'seorang pria' yang lewat di sekitar tenda milik Lena?"


"Enggak. Kenapa memang?" Marcho tergagap dan menaikan satu alis dengan cepat. Jantungnya kembali berdebar karena mengira David tahu bahwa dia pelakunya.


"Tidak apa-apa." David menahan napas, lalu memilih diam sampai kepergian Marcho. David menatap cermin dan membasuh wajah dengan air hangat berkali-kali.


Jelas David teringat matanya mengenali siluet tubuh tinggi. Dua orang di sekitar sini yang tinggi seperti itu hanya dia dan Marcho. Hatinya menjadi was-was. Kenapa kamu tidak jujur. Apa yang kamu lakukan atau hanya salah masuk tenda ?!



"Katakan caramu pergi dan seperti apa mekanismenya? Kuberi waktu kamu tiga hari saja. Jika lebih dari itu, maka aku sendiri yang akan mempermalukanmu di depan keluargaku.


"Aku juga bisa memanipulasi apapun agar kamu tidak menyeretku ke dalam masalah malam panas itu. Soal kesucian mu itu, tenang saja aku akan ganti rugi," ujar Marcho yang baru duduk di meja. Si4lnya sinar matahari pagi yang hangat membuat gadis itu semakin mempesona.

__ADS_1


" .... " Lena terdiam sesaat dan mata hazel merekam lautan biru di samping kanannya. Kemudian dia menoleh ke kiri di kejauhan ke arah -David dan Anna- yang mengambil sarapan pada meja plasmanan.


Lena menarik nafas dalam-dalam dan mencoba menahan hatinya yang terus berkecamuk setiap mendapati tatapan dari Marcho. Sumpah demi apa sesungguhnya di dalam dirinya begitu 'gedek' . Jengkelnya pada level tertinggi sampai tubuh ini terasa panas. "Kamu tidak perlu khawatir, Kak Marcho."


"Tidak perlu khawatir?" Marcho mengulangi pertanyaan Lena, yangmana suara gadis itu tampak tenang.


"Kau sudah mulai merubah panggilamu. Apa kamu mau menyerah pada setiap permintaan ku? Sikapmu ini membuatku semakin 'GERAH' apa kau merindukan sentuhan ku, SAYANG' ? " Marcho dengan nada menggoda.


Netra coklat berkedut pada daging domba yang masih mengepul. Daging berwarna cokelat dan sangat harum memenuhi dua piring di atas meja, tepat di depan Lena. Marcho tidak suka karena David menjadikan Lena seperti ratu.


Bagaimana adiknya yang selalu bersikap seperti seorang RAJA , kini melarang pelayan untuk melayani, dan justru adiknya itu menawarkan diri menjadi tukang ambil makana. Itu hanya untuk seorang gadis yang menurut Marcho, tak layak. Tentu saja sebagai lelaki yang dibesarkan dengan banyak aturan, Marcho merasa harga diri keluarganya sudah diremehkan.


Lena berkedip pelan, dia bahkan tak bersemangat untuk sekadar menanggapi perkataan Marcho. Secangkir Chamomile panas terus diseruput tanpa menjawab kalimat-kalimat m3l3cehkan itu. "Anjing menggonggong Kafilah berlalu."


"Manis, Lagi-lagi kau berbicara dengan bahasa yang tidak ku ketahui. Jawab, kapan pastinya kamu akan pulang ke negara mu? kamu harus pulang tanpa memberitahu David.


"Aku tahu adikku akan menyusul mu, jadi mari kita buat mudah. Katakan kalimat menyakitkan untuknya. Buat dia tak percaya padamu dan jangan lupa jatuhkan kegembiraan nya dengan hal-hal paling menyakitkan."


"Awwwh!" Lena mengadu sembari berdiri, lalu mendorong kursinya. Tangan mungil mengibas-ngibas air panas yang baru membasahi celana.


Pernyataan Marcho membuatnya terkejut. Lena tak mempercayai seorang kakak bisa mengatakan hal itu dan tega untuk membuat adiknya sendiri tersakiti. Lena bahkan tidak pernah berpikiran, apalagi berniat untuk berani menyakiti David.


"Hentikan aktingmu!" Marcho melihat cangkir yang barusan terlepas dari tangan mungil, dan teronggok di atas pasir putih. Wajah Lena merah. Ringisan kesakitan itu membuat Marcho kebingungan. Jadi, dia ikut mengipasi menggunakan tangan kekar itu ke paha Lena.


"Aku tidak tahu." Marcho menggelengkan kepala karena Anna yang baru datang bertanya padanya . Tangannya terkepal begitu David langsung menggendong Lena di depan dada dan membawa ke dalam tenda.


Kesabaran Marcho terasa habis. Dia merasa tak nyaman karena Lena menempel di dada pria lain, walau itu adiknya. Kepalanya lagi-lagi menggeleng dengan kuat pada hal-hal yang sulit dikendalikan nya.


Kenapa aku tidak suka? David adalah pacar Lena. Menggendong adalah hal normal. Ayolah Marcho? suara pikiran Marcho yang normal.


Kamu sudah denganku masih saja menempel-nempel dengan adiku? Tahu malu sedikit! Kalau cuma menggendong, aku juga bisa menggendong. Suara pikiran Marcho yang lain, yang terus menyerang akal sehatnya. Aku hanya tidak terima. Kamu kan sudah menghabiskan malam denganku. Pergilah dari David! Lalu kamu bisa masih menemuiku! Atau aku yang menemuimu !


Di dalam tenda, Lena masih mengipas -ngipas celana training dengan kedua tangan mungil. Dia mendorong tangan kekar yang akan meraih celana di area pinggang. "Pergilah! aku akan tangani sendiri."


"Sudah cepat lepas, kita akan menikah loh? aku mau lihat itu melepuh atau tidak. Kamu bisa menutupi pinggulmu menggunakan selimut dan aku takkan mencuri kesempatan untuk berpikir m3sum." David dengan gemas berusaha meraih pinggang Lena.


"Nggak boleh, kamu keluar!"


"Cepat lepas sendiri dan tutupi itu. Aku mau lihat lukanya, Sayang! Kumohon mengerti? Kau huh membuatku cemas."


"Iyaudah, kamu balik ke sana. Jangan seperti dulu, menoleh tanpa bilang-bilang!"


"Sudah cepat," tegas David sambil berjalan ke arah pintu kain, karena suara Axel. Kepala pria itu melongok keluar dan menarik salep krim, tetapi matanya berkedut karena keberadaan Marcho di belakang Axel.


"Aku mau melihatnya." Marcho bersikap tenang walau di dalam dada, dipenuhi kekhawatiran.


"Melihat apa?" David mengerutkan kening dan menahan kain pintu, agar tidak tersingkap.


"Melihat adik iparku."


"Tidak perlu," tegas David tanpa berpikir macam-macam. Gila apa, Lena mungkin hanya pakai celana mini di dalam tenda. "Tenang, aman terkendali. Aku akan memeriksanya."


Mata Marcho berkedut karena nada 'mengklaim' adiknya yang baru ditegaskan. "Memeriksa apa?"


"Memeriksa luka di paha nona," jawab Axel saat tuannya menarik resleting pintu ke bawah.


Axel berpaling ke Marcho. "Apa ada masalah Tuan Marcho?"


"Apa?" Marcho melihat ke atas dan berpikir soal 'paha' lalu mencoba membayangkan apa yang dilakukan David. Marcho tak berpikir bahwa itu sampai akan membuka celana Lena karena otaknya sedang tidak beres. Dia murni tidak suka karena tidak rela bila Lena hanya berduaan dengan David di kamar. "Apa salah jika aku melihatnya?"


"Tuan, itu kan **** *****. Budaya timur terkenal sopan, tidak seperti kita yang bebas dengan para perempuan yang berbikini. Di daerah nona sendiri itu adalah hal yang dianggap tidak lazim."


Marcho berbalik menuju tendanya dengan kesal dan meninggalkan Axel yang berdiri terheran-heran.


Sejak kapan orang itu sok peduli. Apa itu triknya agar Tuan David mau menyerahkan hotelnya. Pasti karena itu! (Axel)

__ADS_1



__ADS_2