Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar

Benih Cinta 13 Hari Di Stadion Qatar
Bab 20 : SYARAT HUBUNGAN DAVID LENA


__ADS_3

"Mengapa kau sebut aku maling?" Lena kecewa pada kata-kata David, dan wajah pria itu masih saja memasang aura mendominasi. Namun, Lena tidak takut karena sedang berjauhan. Jadi, dia memilih untuk mengabaikan rasa takutnya pada aura David.


"Aku akan share lokasi. Tenang saja di sana sepi, Tuan David. Jika kamu tak datang, aku takkan mau berbicara lagi. Aku matikan telepon ini," tegas Lena dengan suara dingin, lalu mematikan video call. Dia masih ingat pada tatapan David terakhir yang tidak terima seakan tidak mau telepon itu dimatikan.


"Bapak Izam, saya minta maaf karena merepotkan Bapak," suara Lena berubah sopan dan penuh kehangatan. " Terimakasih untuk pinjaman ponselnya, Semoga Tuhan membalas kebaikan Bapak."


Lena tersenyum dengan sungkan karena Pak Izam sampai lari-lari dan masih ngos-ngosan. Dia mengembalikan ponsel ke Pak Izam dengan penuh tanya. Mengapa bisa Axel bisa memiliki nomer telepon keamanan di sini.


"Aamiin. Santai saja, Nona Lena. Ngomong-ngomong, perempuan tadi sudah saya minta agar dia pergi. Setelah meyakinkannya dengan kesulitan. Padahal saya bilang berkali-kali bahwa ini mess perempuan. Dia masih tidak percaya, bahwa yang dicarinya tidak ada di sini."


Lena pun masih sungkan sampai kepergian Pak Izam. Dia sudah mendapat peringatan Kak Tita juga. Perasaan Lena sangat tidak nyaman karena menjadi penyebab timbulnya keributan. Kemudian Lena mengambil tas di kamar dan mengambil satu kotak makanan dari lemari khusus.


"Ika, aku pergi dulu," seru Lena ke dekat pintu kamar Ika.


"Ya Len, hati-hati. Aku juga mau pergi dengan Rafa," balas Ika dari dalam kamar.



Sesampai di Giant Dugong, David menelpon Lena agar masuk ke dalam mobil. Wanita yang mengenakan kaos merah dan celana panjang putih itu pun berlari. Bahkan Lena tak membawa jaket dan kepanasan.


Mobil sedan BMW hitam mulai melaju dengan kecepatan sedang. Lena dan David bertemu pandang, kemudian menghindar bersamaan. Dalam hati mereka dipenuhi kecanggungan yang tak tertahankan.


David gereget dan melirik Lena lagi. Mata deepblue itu membesar dan terkesiap pada rambut digelung. Pena tertanam di dalam gelungan, yang membuat lelaki itu bingung. Lena lupa menaruh pena di kepala, ya?


"Kita mau kemana?" Lena menoleh sebentar karena tatapan berbinar David pada lehernya. "Apa ada yang salah dengan rambutku?"


"Kita ke tempat papa. Rambutmu bagus seperti itu," kata David kegirangan seperti anak kecil yang mendapat permen.


"Tempat papamu? Bukankah mereka akan marah? Kan aku bilang hari ini mau istirahat." Lena berusaha tenang, entah kenapa dia sedang tidak senang pada David.


"Rumah itu kosong dan sudah lama tak kudatangi. Kamu bisa istirahat di sana. Bila kamu mau, kamu juga bisa tidur seharian. 24 jam." David menikmati lekukan tengkuk mungil dan leher yang yang indah. Seolah cerukan itu memiliki magnet yang menyedot seluruh perhatiannya.


Lena menghela nafas panjang, kesal. Niat awalnya bukan seperti ini. Lagi-lagi David memaksanya. Dia menjadi risih pada tatapan David pada area rambutnya. Pena itu ditarik dari rambutnya, sepertinya benar kata Niko jangan menguncir rambut di luar karena banyak orang jahat.


Kemana Niko? Kenapa Marsha mencari ke tempatku. Kenapa Marsha lagi-lagi memanggilku kucing kampung. Ngeselin banged. Memang sejak kapan mereka berhubungan, kenapa aku kemarin mencari di jurnal milik David tidak ada?


Lamunan panjang Lena buyar karena deheman David. Mobil sedan hitam memasuki pelataran rumah khas timur tangah yang berdinding tanah di bagian luar. Lena ikut masuk ke dalam rumah bernuansa krem dengan aroma khas bunga Kasturi dan begitu terawat.


Mereka naik ke lantai dua, lalu berhenti di ruangan terbuka. Angin lembut datang menerpa tubuh dengan kesejukan. Lantai marmer putih terus diamati Lena."David, kenapa tempat ini bersih? Katamu sudah lama kosong."


"Kan, ada pembantu." David menggelung lengan kemeja setelah melepas jas. Dia tersenyum dengan cara menawan saat Axel membawa sebuah papan kayu dan digelar di depan Lena. Perempuan itu duduk di alas yang empuk dan lebar untuk lesehan. Pemandangan lantai dua itu sangat indah karena birunya laut dan pasir putih yang bersih. Jika, sudah begini, Lena yakin sebentar lagi dia justru tertidur.


Lena pun bersandar panda sandaran sofa mini itu seraya mengamati Axel. Pria itu menata papan bidak yang berisi koin dengan tiga warna berbeda. "Karambol?"


"Ya betul, Nona. Ini kesukaan Tuan David. Sejak muda, setiap menginap di sini, pasti tuan dan teman-temannya tidak absen dari permainan ini." Axel lalu tersenyum pada Lena yang mangut-mangut.


"Apa temannya itu termasuk Almarhum Kak Wazir?" bisik Lena, tetapi sepertinya David yang berjalan kemari, bisa mendengarnya, hingga mata Deepblue membesar.


"Ya benar. Termasuk Tuan Wazir." Axel selesai mengatur posisi koin karambol. Koin berwarna merah yang cuma satu dengan fungsi ratu, terletak di tengah papan. Bidak ratu dikelilingi koin hitam dan putih yang letaknya selang-seling koin merah-putih. Pada lingkaran pertama yang mengitari ratu terdapat 6 koin, dan lingkaran ke 2 terdapat 12 koin. Karena koin merah berjumlah 9 dan koin hitam juga 9.



"David, aku tidak tahu cara main ini." Lena hampir melupakan pada tujuannya menemui David. Pria itu duduk berhadapan sambil membuka stoples keripik. Sementara Axel baru pergi menuruni tangga.

__ADS_1


Mata perempuan itu membulat, baru tahu David juga bisa makan makanan ringan. Sebelumnya dia pikir David itu robot dan kaku. Tak cocok dengan penampilan di luar yang dingin, karena ini begitu kekanak-kanakan. Makan keripik saja sampai belepotan dan remahannya berjatuhan, membuat Lena risih.


"Aku akan mengajarimu." David dengan serius sambil menjilat jemarinya. "Kenapa melihatku? Terpanah, ya."


"Idih, enggak tuh!" Lena memandangi sekitar dan berjalan ke lemari mini di kejauhan. Dia kembali membawa kotak tisu dan duduk di samping David, lalu mengelap ke ujung mulut David yang terkena remahan. "Kenapa harus belepotan?"


David mengernyitkan kening karena sentuhan jari mungil di pipinya yang terasa hangat. Dia mengambil keripik dan melahap, setelah sengaja mengenai ujung bibirnya. Perempuan itu mengusap mulutnya lagi dengan wajah mungil kesal, membuat semakin lucu Dimata David. Hati David menghangat, dia menikmati rasanya diperhatikan. "Len?"


"Hm?" Lena duduk dan mengibaskan remahan dipaha David dengan menggunakan tisu. "Kamu bisa digigit semut."


"Kalau gitu suapin." David merasakan kehangatan di wajahnya akibat ulah Lena yang membuatnya malu tanpa alasan. Untuk apa juga tangan mungil itu menyentuh pahanya.


"Kamu punya tangan kan, makan sendiri." Lena kesal karena celana David terus kena remahan keripik. Perempuan itu merebut toples dan menutupnya. "Sudah! nggak usah makan lagi."


"Huh!" David menggigit bibir bawah. Dia menatap tak rela pada keripik jagung kesukaannya yang ditahan Lena. "Terus kalau nggak boleh makan, aku suruh makan kamu, gitu?"


"Rese kamu." Lena dengan sewot mengumpulkan remahan di lantai, yang berada diantara paha David. Dia memindahkan remahan kasar ke atas tisu.


Hal itu membuat David salah tangkap, karena pikirannya melalang buana. Apalagi angin sepoi-sepoi membawa keharuman bunga kenanga. Kulit tengkuk putih berbulu tipis itu mengintip dari belahan rambut panjang, membuat David menggerakkan tangan ke depan untuk memeluk Lena, tetapi diurungkan dan ditarik kembali karena Lena tiba-tiba menatapnya dengan tajam saat merem4s tisu.


"Kenapa kamu menyebutku maling?" Lena baru ingat tujuannya kemari. Dia mendapati wajah David memerah dan netra deep blue membesar.


"Karena kamu mengambil sesuatu," cicit David dengan nafas memburu. Hastrat dari dalam diri itu lalu luntur, tatapan galak dari netra hazel membuatnya diliputi rasa bersalah. Dia tidak menyangka akan membuat Lena tersinggung.


"Sesuatu apa?" Lena menarik tas dari seberang meja, lalu mengeluarkan amplop dan diletakan di atas papan karambol. "Ini sesuatu?"


"Bukan!" Mata David membesar, karena uang dalam amplop dibawa Lena kemari. "Jangan salah paham dulu. Itu memang buat kamu. Tapi kamu mengambil sesuatu di ruang rahasiaku." David makin merasa bersalah dan menjadi tak nyaman, dia tak menyukai tatapan sayu itu.


David berkedip pelan, wajahnya langsung muram saat melihat nama Niko di kertas yang di sobek dari buku catatan David. Dia membaca di dalam hati dengan wajah lesu karena Lena menulis informasi tentang Niko. "Kenapa kamu mencatat nomer telepon, ig, dan Alamat rumah Marsha. Juga untuk apa alamat orang tua Niko, nomer telepon dan nama lengkap orang tua Niko?"


Lena tertunduk dan merem4s tasnya. "Bukan urusanmu. Seharusnya aku yang tanya, untuk apa kamu memiliki data mereka. Darimana coba dapat seperti itu."


"Bukannya kalau kamu berniat putus, tak perlu mencatat ini?" David mulai geram dan ketel dalam dirinya mulai mendidih. "Kamu mau bertanya pada orang tua Niko, soal pernikahan mereka yang empat bulan lagi?"


Lena menggelengkan kepala dengan lemah. Dia langsung menahan tangan David yang menguwes-nguwes kertas itu. "Jangan, kumohon," serak Lena dengan mata memanas.


"Katakan untuk apa, Lena? Aku di sini berusaha mengibur dan membantumu melupakan dia. Tapi kenapa kamu mencari data tentang dia?"


"Kamu juga sama, kan? Apa yang aku lakukan tak ada bedanya seperti kamu yang sibuk balas dendam kepada keluarga Shinta?"


"Itu beda! Kenapa kamu jadi membawa-bawa nama dia?" Teriak David. "Kau mengharapkan Niko kembali dan aku tidak mengharapkan Shinta! Aku mengharapkan kamu membuka matamu untukku, Lena!"


Dada Lena pun terguncang. Air mata mendesak ke sudut matanya dan mengalir hangat di pipi. Dia juga tidak mengerti kenapa yang ditulis itu dianggap penting olehnya. Dia tidak mengerti apa dia memang akan menghubungi orang tua Niko yang belum pernah diketahuinya.


"Aku mengharapkanmu kau dengar," gumam David dengan pelan dan tetap penuh penekanan dari suara perut.


"Ayo, kita buka lembaran baru, Sayang," bisik David. "Lupakan mereka, kau dengar. Ayo, kita jalani yang serius. Tidak ada main-main dalam kamusku, aku bersungguh-sungguh padamu, kau sekarang tahu ini. Aku siap akan mengantarmu ke rumah, menemui orang tuamu. Ayo, kita hanya perlu komitmen. Omong kosong dengan cinta, kita tak perlu itu sekarang. Kita akan membangunnya mulai dengan perlahan."


Air mata kebingungan terus meluncur di pipi Lena. Semua perkataan David hanya seperti omong kosong. Manis dan mungkin kosong. Bagaimana bisa dia mempercayai laki-laki setelah dibohongi Niko.


"Renungkan, Len. Semua yang kulakukan dari awal, tidak ada kepura-puraan. Aku membutuhkan pijakan, aku butuh berteduh di hati seseorang perempuan. Aku terluka Lena, aku mencari pengobat hati. Apa aku salah memilihmu? Apa aku tak boleh berusaha memilikimu. Satu minggu lagi sangatlah pendek, lalu bagaimana aku setelah kamu pulang?"


"Sudah! Itu! kamu sudah menjawabnya sendiri." Lena menatap David dalam-dalam. Pandangannya silau akibat terkena sinar lampu dari langit-langit ruangan. "Indonesia-Italia jauh. Tidak mungkin ada harapan jika memang semua perkataanmu serius."

__ADS_1


"Jarak bukanlah masalah," tegas David penuh keyakinan. "Yang jadi masalah, apa kamu siap memalingkan hatimu? siap memberikan itu padaku .... "


"Atau kau juga membuatku patah hati? kenapa karma tak berlaku padaku? Aku mencintai seseorang dan seseorang tak mencintaiku? Aku menyukai kamu dan kamu tak menyukaiku?"


Jeda keheningan membuat mereka berpikir dalam. Bibir mereka bergetar dan sama-sama mengambil nafas dalam. Tatapan mereka melempar dengan penuh pengharapan pada sebuah jalan keluar yang sedang mereka cari.


Bibir Lena gemetar dan mulai mewek. "Aku suka. Siapa yang bilang tidak suka?"


David tersenyum penuh arti, walau mata deepblue berkaca-kaca. Mata hazel tampak begitu penuh luka di bawahnya. "Aku itu sayang kamu, Lena. Mengapa bisa aku menyayangimu, pasti karena kamu nyebelin!"


Hati Lena begitu getir dan perih. Dia memilah-memilih rasa sakit di dalam. Bukan hanya karena Niko, karena dia pun melihat masa depan yang gelap bersama David.


Hubungan serius katamu? aku tak sebodoh itu, Dav. Kau menyembunyikan ku mati-matian dari Kakekmu. Jelas bukan, tidak akan ada harapan di sana. Kau hanya main-main denganku. Aku tak mempercayai perkataanmu. Bila aku percaya padamu, aku hanya akan semakin merana setelah seminggu dari sekarang.


David melempar dengan penuh tenaga, kertas remasan yang sudah menghalangi jalannya dengan Lena, ke arah luar balkon dan tampak itu jatuh ke bawah. Wajah Lena makin suram, netra Hazel menatap kosong pada balkon dan kilasan terlemparnya kertas putih dan hatinya bergetar. Perempuan itu seperti kehilangan harapan terakhirnya pada Niko, seperti kertas itu yang hilang. Mungkin juga begitu Niko, hilang dari hidupnya.


"Jadilah kekasihku, Lena. Aku tidak berjanji karena takut membuat mu kecewa. Namun, aku pasti berjuang demi semua kebahagiaanmu dan kebahagiaanku. Aku sangat meninginkanmu Lena. Aku butuh kamu untuk mengisi kekosongan hatiku kini."


Lena memalingkan kepala dari balkon. Dia menatap penuh tanya pada David. Alisnya terangkat satu, mencari setitik kesungguhan di mata deep blue.


"Lalu untuk apa kamu berniat mencelakai Shinta. Dave, kamu masih mencintai dia, dan itu akan membuat usahaku percuma dan sedikit tentangku takkan masuk ke dalam kepalamu. Karena aku yakin di dalam pikiranmu hanya ada Shinta, semua di kepalamu hanya ada Shinta, tak peduli bila itu hanya berisi seputar kebencianmu.


"Aku tidak mau jadi nomer dua dalam pikiran kekasihku, itu sangat menyakitiku, David. Hubungan sederhana lebih berarti untukku, dari pada seseorang yang kucintai masih sibuk memikirkan orang lain. Maaf, aku tidak cocok untuk menjadi kekasihmu.


Aku tak sebaik itu, aku egois dan serakah yang menginginkan jiwa pikiran kekasihku, lebih memprioritaskan aku, tentunya setelah keluarganya. Aku ingin kebahagiaan bukan berbagi kekasih. Apa kau pikir aku percaya bahwa kamu akan bisa meninggalkan Shinta?"


David menarik nafas dalam-dalam. Semua perkataanya sia-sia. Lena menolaknya dan dia merana dalam kepahitan hatinya.


"Kecuali .... "


David memajukan kepala karena mendengar harapan baru. "Kecuali apa?"


"Kecuali, sekarang kamu membeli tiket penerbangan ke Bali, untukmu. Di tanggal dimana aku pulang dan bertemu kedua orangtuaku."


"Aku mau Lena." David menjawab penuh haru. Dia melirik Axel yang baru datang dan sepertinya mendengarnya. "Kau dengar, Xel? Cepat pesan sekarang!"


"Aku mau kamu memesannya sendiri." Lena memandangi David yang langsung terdiam. Dia beralih ke Axel yang kebingungan.


"Aku akan memesannya, Sayang." David dengan suara serius. Dia mengulurkan tangan ke atas dan Axel berlari mengambil ponsel Apple dari meja.


David langsung mengotak-ngatik ponsel yang baru di berikan Axel. "Dimana memesannya?" tanya David bingung karena tak pernah memesan ini sendiri, semua dilakukan Axel.


"Anda download aplikasi atau di hp saya saja, ini sudah ada." Axel memberikan ponsel miliknya, tetapi langsung di dorong Lena. "Nona, Tuan tidak pernah melakukan itu sendiri, dia sama sekali tidak tahu caranya."


"Tuan Axel, bisakah anda berikan waktu untuk kami berdua saja?" tanya Lena dengan nada rendah dan Axel mengangguk langsung menyerah, lalu meninggalkan ponsel di dekat paha tuannya.


Nona, keterlaluan. (Axel)


Lena menatap kepergian Axel yang jelas terlihat marah seolah sedang mengutuknya. Lena lalu terpaku, pada wajah serius David yang sedang membuka google dan mencari cara untuk memesan tiket pesawat. Jadi, dia betulan serius?


...----------------...


__ADS_1


__ADS_2